Made Kondang diam saja ketika Klian Banjar memberi perintah. Ada pertanyaan dalam hatinya tetapi tidak diungkapkannya karena alasan etika. Tidak elok mempertanyakan, apalagi membantah perintah Klian Banjar.
“Pastikan semua petani yang membajak sawah, mulai hari ini, tidak menggunakan sapi betina.” Klian Banjar mengulangi sekali lagi perintah yang sebenarnya sudah cukup jelas bagi Kondang.
“Ya, Pak Klian” jawab Kondang lirih.
“Saya tidak mau lagi melihat ada yang menggunakan sapi betina seperti yang sudah-sudah. Sangat tidak elok!” sambung Pak Klian seperti gusar.
Belakangan ini saya sering belajar di sebuah ruangan di UNSW sejak tinggal di Sydney. Di ruangan itu ada dapur tempat para mahasiswa makan siang atau sekedar istirahat menikmati teh. Di dapur itu ada lap/tisu kertas gulung yang menempel di tembok. Tisu itu kadang saya ambil untuk membersihkan meja dari tetesan air, melapisi tangan saat memegang gelas berisi kopi panas atau untuk membersihkan piring dari remah-remah makanan. Setiap kali selesai mencuci perabotan, saya juga memanfaatkan tisu itu untuk membersihkan tangan.
Berbeda dengan tisu toilet yang mudah dipotong karena sudah ditentukan penggalan-penggalan untuk memotong, tisu gulung itu harus dipotong dengan pemotong bergerigi yang sudah ada pada wadahnya. Tisu itu juga kuat, jauh lebih kuat dari tisu toilet sehingga harus ditarik dengan tenaga secukupnya agar terpotong. Singkat kata, memotong tisu gulung itu perlu sedikit keterampilan dan juga tenaga.
Bulan Maret lalu, saya mengunjungi sebuah negara, sekitar 5000 kilometer dari tempat tinggal saya. Negara ini sudah lama saya kenal namanya tetapi rupanya saya tidak akrab dengan data obyektif tentangnya selama ini. Di penghujung 1990an silam, negara ini berhasil membebaskan diri dari tirani kekuasaan rejim otoriter karena rakyatnya bersatu padu. Mahasiswa satu suara dan para pekerja memberi dukungan sehingga perubahan terjadi. Dalam kesibukan berbenah untuk peralihan kekuasaan, banyak hal yang terjadi. Ada tiga orang presiden yang menjabat selama lima tahun sebelum akhirnya berhasil menjadi sebuah demokrasi. Untuk pertama kalinya, presiden dipilih langsung oleh rakyat pada tahun 2004.
Ketika saya mengunjungi negara itu, dia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. Kebebasan pers kini terjamin, setiap orang bebas bersuara menyampaikan gagasannya. Presiden bisa dijadikan bahan debat tidak saja di kedai-kedai kopi tetapi juga di forum ilmiah yang serius. Demokrasi memberi ruang ekspresi politik sehingga partai tumbuh subur, memberi ruang yang lebih luas bagi partisipasi publik.
Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa ini, presiden menghakhiri masa jabatannya dengan wajar. Presiden pertama yang dipilih secara demokratis ini memulai dan menghakhiri masa jabatannya sesuai dengan ketentuan hukum. Hal ini berbeda dengan presiden sebelumnya yang dikudeta, diturunkan oleh rakyat, diangkat di tengah jalan untuk menggantikan presiden sah, atau diturunkan oleh lembaga legislatif. Bangsa ini layak tersenyum dengan kemajuan politik itu.
Saya akan menjadi layaknya komentator sepak bola yang bisa memuji maupun mengkritik tetapi belum tentu (atau pasti tidak) bisa melakukan. Komentator sepak bola yang canggih umumnya tidak bisa main sepak bola. Jika saya punya kemampuan untuk memperbaiki presentasi saya maka ada hal-hal yang ingin saya perbaiki bercermin pada presentasi Agus Yudhoyono seperti yang ada di video berikut:
Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash. Klik untuk melihat.
Salah satu kemewahan sekolah S3 di negara maju adalah kesempatan untuk menjalankan peran-peran professor/pembimbing. Salah satu kesempatan itu adalah mengajar. Tidak jarang mahasiswa S3 diberi kesempatan mengajar S1 atau bahkan S2 oleh supervisornya. Ini kesempatan baik dan bisa mendatangkan uang. Saya punya beberapa pengalaman serupa tetapi yang saya ceritakan kali ini agak berbeda.
Hotel Le Meridien, 10 Maret 2010
Aku menghempaskan tubuhku di sebuah sofa. Lelah sekali rasanya setelah seharian bergerak tiada henti. Kantuk menyerang tanpa ampun padahal hari belum gelap. Dalam pandangan yang samar aku melihat keranjang kecil yang cantik di atas meja berisi buah-buahan segar yang diselimuti plastik transparan. Pada selimut itu menempel secarik kertas bertuliskan “Kamar Presiden”. Aku tidak begitu mengerti mengapa keranjang buah itu belum dibawa ke kamar presiden padahal keranjang buah lain sudah lenyap.
Ruang sekretariat nampak sepi, hanya ada aku yang terduduk lesu. Cukup melelahkan mengikuti gerakan seorang Djoko Suyanto yang sigap. Pak Dadang, asisten pribadi yang mendampinginya dari Jakarta, juga kerepotan mengimbangi kesigapannya. Kunjungan Presiden SBY ke Sydney kali ini memang dipenuhi berbagai jadwal. Aku dan para relawan lain yang bertugas mendampingi rombongan selama di Sydney dibuat jugkir balik dengan jadwal padat para menteri.
Genjo tekun memotong semangka yang baru dibelinya dari sebuah toko buah pagi tadi. Sore ini akan ada diskusi mahasiswa Indonesia di luar negeri, tempat Genjo dan kawan-kawannya menuntut ilmu. Samar-samar didengarnya Budiman sedang berkomat kamit di kamar. Rupanya dia sedang melatih presentasinya untuk acara sore nanti. Budiman seorang aktivis, profil mahasiswa Indonesia yang ideal. Dia aktif berorganisasi, pintar di kampus dan peduli pada urusan bangsa.
Sementar itu Genjo selalu menjadi pelengkap. Otaknyanya tidak cukup canggih untuk berbicara persoalan bangsa. Dia hanya bisa mendukung dengan menyiapkan konsumsi atau sekali-sekali memasang kabel untuk audio visual diskusi. Genjo mantap dengan perannya: sebagai penggembira.
Belakangan ini saya mendapat beberapa email dan komentar di blog soal cara mendapatkan dana untuk konferensi. Sebelumnya saya pernah menulis soal konferensi di blog ini dan menegaskan bahwa konferensi terkait erat dengan menghabiskan uang, bukan mendapatkan uang. Makanya, jika ada peneliti yang sering konferensi, umumnya peneliti ini tidak akan bertambah kaya, jika tidak menjadi lebih miskin.Untuk bisa berpartisipasi di sebuah konferensi ilmiah, seorang peserta harus menyerahkan karya tulisnya yang biasanya didahului dengan menyerahkan abstrak atau intisari penelitian. Bagi yang masih awam, saya jelaskan, abstrak atau intisari adalah ringkasan penelitian dalam beberapa ratus kata (lihat persyaratan dari panitia konferensi) yang menggambarkan keseluruhan isi penelitian. Jika abstrak ini diterima, calon peserta akan diminta menyerahkan makalah lengkap (full paper) utuk seterusnya diundang melakukan presentasi. Selengkapnya bisa dilihat di diagram alir berikut. Continue reading “Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant”
Saya betemu dengan banyak diplomat selama berada di luar negeri. Ada satu hal penting dari mereka yang saya anggap baik yaitu sikap “tidak mengancam”. Saya mendengar, untuk bisa menjadi diplomat, seseorang haruslah sangat bagus. Seleksinya luar biasa ketat. Tidak diragukan lagi, diplomat itu adalah kelompok orang-orang terbaik di Indonesia pada bidangnya. Mereka, dalam bahasa sederhana, adalah orang-orang pintar. Satu hal yang sama dari beberapa diplomat baik yang saya temui adalah kehadiran mereka yang tidak mengancam.
Sangat mudah untuk merasa kecil, merasa tidak berguna dan bahkan merasa bodoh jika kita bertemu dengan seseorang yang pintar dan hebat. Diplomat yang baik mampu hadir sebagai orang yang tidak mengancam dan memberi ruang yang cukup bagi orang lain untuk berkembang leluasa dan menunjukkan dirinya dengan baik. Diplomat yang baik lebih banyak mendengar dan royal dalam memuji dan mengapresiasi. Namun saya paham betul, di dalam diri diplomat yang penuh puja puji itu bersemayam kecerdasan dan pengetahuan yang luas. Saya juga kenal dengan beberapa diplomat dan paham bagaimana cadasnya jalan mereka jadi diplomat.
Mungkin berlebihan jika saya katakan Indonesia heboh karena Presiden SBY memilik akun Twitter baru karena memang ada banyak sekali orang Indonesia yang bahkan tidak tahu apa itu Twitter. Bagi pengguna Twitter, mungkin setuju bahwa Indonesia memang heboh karena akun Twitter Pak SBY ini. Memang tidak jadi soal apakah kita tahu Twitter atau tidak. Paham atau tidak paham, Twitter tidak akan membuat kita berhenti bergerak, tidak membuat kita berhenti bermanfaat.
Suka atau tidak, pak presiden kini punya akun Twitter. Mengapa Twitter dianggap penting oleh presiden? Dugaan saya adalah karena pengguna Twitter di Indonesia banyak sekali. Sebuah artikel yang dilansir Forbes akhir tahun lalu menobatkan Jakarta sebagai kota dengan pengguna Twitter paling aktif di jagat raya. Indonesia sebagai negara, menempati posisi kelima di seluruh dunia. Sederhananya, pengguna Twitter di Indonesia banyak sekali. Tidak berlebihan jika Presiden SBY menggunakan Twitter untuk berkomunikasi dengan rakyatnya.