Laut di antara Pulau-pulau Indonesia Milik Siapa?

IndonesiaBayangkan peta Indonesia. Negara kita terdiri dari ribuan pulau. Data menunjukkan kita terdiri dari 17.508 pulau, ada juga yang menyebutkan angka 13 ribu sekian. Bayangkan, saking banyaknya, perbedaan data saja bisa 4000 an pulau. Kebayang nggak sih, jawaban teman-teman kita di negara lain ketika ditanya jumlah pulau. Ngga mungkin mereka jawab “hmm, tujuh apa Sembilan ya, lupa!” 😀

Di antara ribuan pulau itu, ada laut yang luas. Laut di antara pulau-pulau Indonesia itu milik siapa? Tentu saja milik kita, Bangsa Indonesia. Ya, sekarang jadi milik kita. Dulu tidak demikian ceritanya. Mari kita simak.

Continue reading “Laut di antara Pulau-pulau Indonesia Milik Siapa?”

Pahlawan

Kisanak, jujur saja padaku. Coba Kisanak menjawab pertanyaan ini dengan cara membayang-bayangkan menggunakan akal sehat yang wajar. Apakah semua orang di Indonesia berhati baik dan mulia ketika bangsa ini berjuang di tahun 1940an? Apakah semua orang di saat itu berkarakter emas seperti yang kita baca di buku-buku sejarah saat ini? Betulkah ketika bangsa ini mengusir penjajah semua orang bersatu padu rela berkorban demi bangsa dan negara? Kita semua tabu jawabannya. TIDAK! Tidak semua orang ketika itu berjiwa pahlawan seperti yang mungkin dibayangkan kebanyakan dari kita. Tidak semua orang layak mendapat doa dalam hening cipta kita tiap hari Senin.

Continue reading “Pahlawan”

Menjadi ayah yang lebai

Saya dibesarkan di sebuah desa yang perilaku warganya tidak penuh drama. Hari pertama sekolah tak ubahnya hari lain, tak ada yang istimewa. Para ayah tidak merasa wajib menemani anaknya untuk datang ke sekolah, tak juga menganggap kehadirannya akan berkesan dan berpengaruh pada masa depan anaknya. Mereka tidak gemar mendramatisir bahwa kehadiran orang tua di sekolah di hari pertama masuk sekolah adalah dukungan moral yang hebat untuk memberi energi kepada anak anak mereka.

Mereka juga tidak menggunakan istilah-istilah yang lebai seperti “anak SD adalah calon pemimpin bangsa” atau “anak adalah pewaris peradaban yang harus disiapkan untuk bertahta pada saatnya nanti”. Huh, pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa apa? Anak anak itu tak lebih dari gerombolan bromocorah yang gemar mencuri rumput Pan Koplar untuk sapi sapi mereka. Sebagian lain tak lebih dari sekumpulan anak nakal yang membuat pohon nangka di belakang rumah Nang Kocong, rusak binasa karena getahnya dipanen tanpa izin. Pewaris peradaban apa!?

Continue reading “Menjadi ayah yang lebai”

Galungan di Tegaljadi

image1Kisanak, mampirlah ke Tegaljadi tepat saat Rabu Kliwon Dungulan dan saksikanlah geliat Galungan yang disambut suka cita kerabat kami. Kisanak akan tahu, kami punya seniman tak terbilang jumlahnya. Tak hanya sanggah kemulan dan candi bentar, jalanpun mereka ukir rupa-rupanya. Atau ini hanya pertanda tiada peduli Ibu Bupati, kisanak mungkin bisa meneliti.

Laluilah jalanan desa kami yang bersahabat dan tak merelakan para mengendari kuda besi bergerak cepat. Dan rasakanlah sapaan penjor yang berhias meriah. Lengkungannya menjuntai dengan pernak pernik yang melambai. Lontar itu, yang mendekap sebatang bambu, telah menggeser ambu, daun enau putih yang aromanya memikat kalbu. Aku masih mengingatnya, persis seperti yang kusimak dua dasawarsa silam. Kini berbeda. Penjor lebih genit, sumringah dan bertingkah menggoda. Penjor kini mentereng, hebat dan mungkin juga mahal. Nang Kocong tak lagi merangkai bakang-bakang dengan tangannya sendiri. Bakang-bakang penghias penjor kini gampang datang karena ditukar uang.

Continue reading “Galungan di Tegaljadi”

Sakit

Tahun 1999 saya pernah dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Kala itu masih mahasiswa dan demam berdarah telah menundukkan saya. Ketika ditanya oleh Ibu saya, Asti, yang ketika itu masih jadi pacar, berkata setengah berkelakar “Bli Andi cuma perlu istirahat, Me’. Kalau tidak sakit, dia tidak akan istirahat”. Kata-kata itu saya ingat terus. Candaan itu sederhana tetapi rupanya benar berlaku pada saya. Sakit membuat saya berhenti. Tidak saja istirahat tetapi juga berpikir dan terutama merenung.

Continue reading “Sakit”

Daftar Kegagalan

Mari kita cerita soal pelajaran paling berharga: kegagalan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan dan kelakar beberapa kawan yang mengatakan “hidupmu sepertinya ga pernah gagal deh”.

  1. Semester V, IP saya 1,2. Ya, satu koma dua 🙂 Tidak bangga tapi bersyukur pernah merasakan itu. Lebih maklum dengan mahasiswa sekarang 🙂
  2. Di transkrip S1 ada nilai D! Sampai sekarang 🙂
  3. Beasiswa Stuned tahun 2003, gagal di tahap akhir. Impian belajar ke Eropa luluh lantak! Syukur bisa bangkit dan ‘menerima’ Aussie
  4. Gagal mengenaskan di tahap wawancara beasiswa Chevening tahun 2003. Gagal ke UK, sempat mutung, patah arang.
  5. Sempat melamar beasiswa DAAD, bahkan tidak ada kabar berita. Pastilah lamaran saya terlalu buruk untuk diperhitungkan 😦
  6. Lamaran saya untuk fulbright sepertinya bahkan tidak dilihat. Tidak ada kabar diterima atau ditolak. Kenyang makan PHP 🙂
  7. Saat kerja di perusahaan besar di Jakarta, secara tidak sengaja menghapus data super pernting yang membuat orang sekantor meriang seminggu lebih 😦
  8. Lomba menulis karangan Bahasa Inggris semester 4. Tidak masuk 50 besar sekalipun 😦 Teman bilang “artinya tulisanmu jelek banget Ndi” Sampai kini tidak terlupakan 🙂
  9. Jumlah tulisan yang ditolak Kompas 10 kali lipat dibandingkan yang dimuat. Ini yang pembaca tidak tahu 😦
  10. Setelah konferensi di 5 benua, beberapa minggu lalu ditolak oleh sebuah konferensi di Makassar.
  11. Pernah ujian akhir datang terlambat gara-gara salah lihat jadwal. Nilai E! Dosen tidak mau mengampuni 🙂
  12. Semangat melamar S3 di Jerman, ditolak beberapa menit setalah kirim lamaran 😦 itu tahun 2006!
  13. Pacaran pertama, bertahan cuma 3 bulan gara-gara gagal memahami perempuan 😦 Tidak menyesal tapi banyak belajar 🙂
  14. Nembak cewek di SMA, tidak jelas, tidak pede, daaaaaan tidak diterima! 😦 itu tahun 1994
  15. Saat kerja di Unilever pernah disuruh push up pakai dasi di depan banyak orang gara-gara sok tahu dan salah jawab.
  16. Pernah melamar jadi asisten kuliah Bahasa Inggris di Geodesi UGM dan ditolak. Dosennya masih ada sekarang 🙂
  17. Kirim abstrak ke konferensi lokal, ditolak. Yang diterima malah karya kawan junior 🙂 Itu tahun 2007.
  18. Kirim karya ke @ubudwritersfest berharap menang, ternyata dapat email penolakan 😦 Merasa jadi penulis kacangan 🙂
  19. Cerdas cermat saat SMA, mati kutu kalah telak oleh tim lawan yang maju tanpa persiapan karena gantikan tim utamanya yang berhalangan.
  20. Saat S1, tes di Astra dan gagal di tahap psikotest gara-gara tidak bisa menggambar. Itu tahun 2000 sebelum lulus.
  21. Pernah tes di Schulmberger, sudah sok aktif, sok banyak omong, bahkan tidak lolos saringan awal 😦
  22. Jadi ketua KMHD UGM tahun 1998, tidak didukung oleh teman-teman seangkatan karena dinilai tidak becus. Lelah-lelah harus konsolidasi. Pelajaran manis yang terasa pahit.
  23. Cerdas cermat matematika tahun 1995, kalau telak oleh team SMA ‘kemarin sore’ di penyisihan 😦 Gagal itu pahit, Kawan!
  24. Pernah melamar acara summer program di Eropa. Yakin dapat karena direkomendasikan oleh tokoh sakti, tahu-tahu hanya dapat ucapan terima kasih.
  25. Pernah melamar magang di lembaga peradilan internasional. Ada sinyal positif sehingga jadi GR, tahu-tahu ditolak dengan tega. Kenyang makan PHP.

Percayalah, daftar ini sebenarnya sangat amat panjang. Catatan kegagalan saya jauh lebih banyak dari rekamanan keberhasilan. Kalau meminjam kata-kata Mas Iwan Setiawan, hidup itu sudah lengkap jadi motivasi buat kamu, tidak perlu mencari motivasi di luar diri. Kegagalan saya yang banyak itu sudah cukup mengajarkan kepada saya sakit dan perihnya kegagalan maka saya merasa cukup motivasi untuk berusa keras menghindarkan diri dari kegagalan. Seperti kata orang bijak, bukan soal seberapa sering kamu jatuh tetapi seberapa sering kamu berusaha bangkit lagi.

Memberi Jalan

Saat turun dari pesawat, saya sering mengamati penumpang lain. Umumnya -sekali lagi umumnya dan artinya tidak semua dan tidak selalu- penumpang tidak sabar untuk segera turun. Biasanya mereka berdiri di gang atau di kursi mereka dan menunggu dengan wajah tidak sabar. Faktanya, entah apa penyebabnya, waktu tunggu sampai akhirnya pintu pesawat dibuka memang selalu terasa lebih lama dibandingkan yang dibayangkan. Maka wajah-wajah tidak sabar dan cenderung gelisah mudah dijumpai pada pesawat yang baru saja mendarat.

Continue reading “Memberi Jalan”

Spaghetti tahun 1995

Kuta Bali, tahun 1995
“Ini to Ketua OSISnya? Kok Kecil?” kata lelaki usia empat puluhan tahun itu berkelakar. Dua kawanku tersenyum saja. Aku tidak menjawab, hanya menyalami dengan senyum sopan. Lelaki itu, kalau tidak salah, adalah seorang manajer di hotel ini. Hotel besar yang terkenal di Bali. Aku hanya bisa kagum. Betapa hebatnya lelaki ini, menjadi orang penting di sebuah hotel berbintang. Penampilannya nampak perlente, professional dan elegan. Sementara itu aku gugup luar biasa, tak terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Aku Ketua OSIS, terbiasa memimpin pasukan di lapangan atau memimpin rapat dengan sesama pengurus OSIS tetap tidak pernah dilatih berinteraksi dengan seorang professional sekelas manajer hotel dalam suasana yang mewah dan mentereng. Nyaliku ciut.

Continue reading “Spaghetti tahun 1995”

Harvard

harvard
Harvard

Mejanya terlihat biasa saja. Di atas meja itu tergeletak sebuah piring kertas yang padanya terkapar pisau dan sendok plastik berlumuran saos. Kotor, tidak rapi dan mengenaskan. Di sebelahnya terhampar selembar kertas tisu, melambai-lambai terpapar desiran angin yang halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh selidit. Barang-barang itu tentu tidak istimewa.

Mataku menerawang, melihat lelaki dan perempuan muda yang bergerak cekatan, lincah dan trengginas. Beberapa dari mereka nampak berjingkat bergegas, sementara yang lainnya memegang segepok makanan dan menggigitnya sambil berlalu tergesa. Aku menyaksikannya saja. Di pojok yang agak jauh, ada sekelompok lelaki dan perempuan, membuka kotak pizza dengan antusias dan menyantapnya dengan penuh semangat. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki yang tubuhnya ada di sana tetapi jiwanya entah ke mana. Sepotong sandwich yang digenggamnya, lenyap potong demi potong menyelinap ke dalam mulutnya bahkan mungkin tanpa dia sadari. Jiwanya sedang tenggelam bersama bacaannya yang memendarkan cahaya redup dari sebuah tablet yang nangkring di atas meja. Mungkin pikirannya telah tersandera kisah misteri cerdas sekelas karya John Grisham, atau melayang-layang bersama percikan rumus-rumus Kimia atau Fisika yang seakan beterbangan di sekitar kepalanya, atau hanyut bersama kasus-kasus hukum internasional yang diputuskan di gedung mentereng Mahkamah Internasional di The Hague. Entahlah, apa isi bacaan lelaki itu. Dia tenggelam sempurna dan tidak terusik oleh apa yang terjadi di sekitarnya.

Continue reading “Harvard”

Tips beasiswa: Melampaui Syarat

Banyak sekali yang ingin mendapatkan beasiswa sekolah ke luar negeri, termasuk mereka yang tidak memenuhi syarat atau hampir memenuhi syarat. Sering sekali saya mendapat pertanyaan dari para pejuang beasiswa semacam ini. Kepada mereka, saya menaruh hormat dan salut. Mereka ini pejuang yang gigih.

Suatu hari ada yang mengatakan bahwa IPnya bagus, prestasinya banyak, penelitiannya hebat tetapi TOEFL atau IELTSnya masih sedikit di bawah persyaratan. Dia ingin tahu apakah mungkin dia diterima atau mungkinkah penyeleksi mengabaikan persyaratan IELTS atau TOEFL pada kasus dia. Jawaban normatif saya, “mungkin saja”. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini kan, kata orang yang gemar membaca buku motivasi.

Continue reading “Tips beasiswa: Melampaui Syarat”