Ketika Lita naik pesawat sendiri

http://superiorpics.com/

Lita, anak saya, mungkin tidak paham betul istilah ‘mandiri’ tapi orang-orang dewasa mungkin ‘menuduhnya’ demikian. Pasalnya, Lita berani pergi sendiri ke Bali dari Jogja naik pesawat saat usianya belum genap 7 tahun. Saat pertama kali melakukan itu, Lita berusia 7 tahun kurang satu bulan, tepatnya tanggal 12 Agustus 2012 dengan Garuda Indonesia. Banyak yang bertanya bagaimana Lita bisa melakukan itu. Saya akan berbagi kisah ini, semata-mata untuk memberi gambaran kepada para orang tua.

Sebenarnya, mengizinkan anak kecil naik pesawat sendirian masih tetap menjadi perdebatan bahkan sampai sekarang. Seorang teman baik saya bahkan tetap gigih mengingatkan saya agar ‘meninjau kembali’ keputusan untuk mengizinkan Lita terbang sendiri semalam sebelum jadwal terbangnya. Saya yakin ketulusannya dan menyadari hal itu dilakukannya semata-mata karena peduli dan menyayangi keluarga kami. Di saat seperti itulah, keberanian (atau kenekatan?) saya dipertanyakan. Jika kepedulian yang tulus dari teman saya itu berkuasa lebih dari kenekatan saya maka mungkin ceritanya akan lain. Entah apa yang membisiki saya ketika itu, saya tetap teguh pada keputusan semula. Ahhasil, Lita terbang untuk pertama kalinya ke Bali dari Jogja. Menariknya, bahkan setelah kejadian itupun masih banyak teman yang memberi komentar pesimis. Meskipun halus, saya merasa tidak sedikit yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kami mengizinkan Lita terbang sendiri. Kepada mereka semua, saya berterima kasih dan menempatkan kepedulian itu di ubun-ubun, di tempat yang terhormat. Hanya saja, untuk hal ini kita bersepakat untuk berbeda pendapat.

Continue reading “Ketika Lita naik pesawat sendiri”

Diplomasi Sopir Taxi

Saya memesan taxi untuk berangkat dari Orchard Hotel di Singapura menuju penginapan lain tidak jauh dari Bandara Changi. Sadar tidak paham lingkungan di Singapura, saya menggunakan Google Maps untuk penunjuk arah. Meskipun naik taxi, saya ingin tahu waktu tempuh dan rute perjalanan. Ketika memasuki taxi, saya jelaskan tujuan saya dengan alamat dilengkapi nama dan nomor jalan. Pak sopir lalu menanyakan daerah yang ingin saya tuju. Saya paham, bagi orang lokal, akan lebih baik diberitahu nama daerah atau kawasan, tidak sekedar nama jalan dan nomornya. Dengan Google Maps yang sudah disimpan sebelumnya saya memberitahu sang sopir. Kamipun melaju.

Di tengah jalan beberapa kali pak sopir bertanya rute yang ingin saya lewati. Di satu persimpangan, misalnya, dia bertanya apakah saya ingin lurus atau lewat kiri dengan memberi pertimbangan untung ruginya. Saya kira ini sikap yang baik. Saya pun manut saja, yang penting cepat. Meski demikian, saya tetap melihat peta navigasi di iPad.

Semua berjalan baik-baik saja hingga kami tiba di satu persimpangan. Saya lihat peta di iPad menyarankan belok kiri tetapi rupanya pak sopir hendak lurus. Saya dengan santai bilang “according to the map, we can turn left here”. Dia langsung menjawab, kalau ke kiri akan macet dan justru lebih lama. Mendengar itu, saya paham dan tidak memaksa “Oh okay, no problem” kata saya dengan santai. Dia berusaha menjelaskan situasi lalu lintas di Singapura dan saya tentu paham. Tiba-tiba dengan nada yang tidak seramah tadi, dia tanya “do you want to turn left?” Saya segera jawab “no, I am just saying. Please continue. No problem.” Entah bagaimana ceritanya, dia tidak berhenti di situ dan tetap berbicara yang menurut saya terdengar seperti membela diri secara berlebihan. Saya duga, dia mengira saya memaksa dia lewat kiri sementara dia sudah terlanjur memilih jalur lurus. Lebih jauh lagi, suaranya tiba-tiba agak naik, mengatakan bahwa kalau saya ingin belok kiri, harusnya saya mengatakan dari awal, tidak tiba-tiba di persimpangan. Untuk kalimat yang terakhir ini saya maklum, rupanya dia salah paham dengan pernyataan saya. Sadar akan hal ini saya hanya bilang “oh okay, no worries”. Saya ingin menenangkan suasana dan menghindari perdebatan yang tidak penting.

Di luar dugaan, sopir ini tidak menyudahi di situ, dia tetap berbicara banyak, menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dan tidak ingin saya ketahui. Yang lebih menyedihkan, nada bicaranya tinggi dan cenderung menyalahkan. Ada kesan bahwa dia yang tahu Singapura dan saya tidak begitu paham. Tentu saja itu benar karena dia seorang sopir taxi di Singapura dan saya hanyalah penumpang asing. Saya memilih untuk diam saja, menahan emosi yang mulai naik juga. Tidak elok berdiplomasi dengan seorang sopir taxi untuk hal-hal yang tidak akan membuat perjalanan saya jadi lebih cepat. Kamipun terdiam agak lama.

Saya berusaha mencairkan suasana dengan bertanya hal-hal lain. Saya tanyakan populasi Singapura untuk sekedar berbasa-basi. Saya terkejut bukan kepalang ketika dijawab dengan ketus nada tinggi “six millions”. Dalam hati saya tersenyum geli melihat polah sopir taxi ini tapi saya hanya mengiyakan. Saya tidak paham mengapa hal kecil itu bisa membuat dia sedemikian emosi begitu lama. Lebih parah lagi, dia mulai melaju kencang dan kasar karena sering harus ngerem mendadak di jalanan Singapura yang tidak lengang. Saya mulai tidak nyaman tetapi berusaha menahan diri agar tidak terjadi interaksi yang lebih tegang.

Suatu ketika, saya mendengar ada peringatan dari GPSnya bahwa taxi itu melaju terlalu cepat, melebihi kecepatan yang diizinkan. Saya mulai merasa tidak nyaman dan khawatir dengan keselamatan. Gerakan mobil itu terasa kasar dan grasa grusu. Saya masih diam sambil menyiapkan strategi komunikasi terbaik. Belum sampat saya berkata apa-apa, peringatan yang sama terdengar lagi dari GPS. Dengan spontan saya berkata “I think you are too fast” dan disambut dengan suara tinggi oleh pak sopir “you think 60 is too fast? What do you want? 40? It will be very slow. When will we arrive there?” Jawaban itu terus terang membuat emosi saya naik drastis. “I don’t know the rule here, Man but the GPS said that we are too fast. That’s it!” Tidak mau kalah, dia lalu bilang “there is something wrong with the GPS. The speed is only 60. It is not too fast. What do you want? 40?” lagi-lagi dia mengulang ucapannya. “Sorry I don’t know that your GPS is broken. That is what I heard and I can feel that you are too fast. Slow down a little bit” kata saya masih berusaha tenang meskipun suara saya pastilah mulai bergetar. “No, the GPS is broken” katanya masih dengan nada tinggi.

Belum lagi kami selesai berargumen, GPS mengeluarkan peringatan yang sama bahwa kami melebihi kecepatan yang diizinkan. Di situlah saya mulai kehilangan kendali kesabaran dan saya pun berteriak. “Hey, Man! You are too fast and I know that. I am not stupid. Slow down!” mendengar saya berteriak rupanya dia sedikit terkejut karena tidak menduga saya berani melakukan itu. Tapi karena terlanjur merasa di atas dari tadi, dia tidak berubah sikap. Dia tetap membela diri bahwa itu tidak terlalu cepat. Saya sudah lupa dengan segala sopan santun dan berteriak “Hey, you shut up!” tapi dia masih berucap walaupun kini dengan nada suara yang sudah agak turun. Tanpa ampun saya mengulang lagi, kali ini lebih keras dan kasar “You ******* shut up!” sambil menunjuk wajahnya dari belakang. Seketika dia tercekat dan diam. Saya melanjutkan dengan emosi yang masih menyala “I am a customer here and you are providing me with service. You know that! My concern is my safety. I don’t care your GPS is broken or not, when I say slow down you ******* slow down, OK! Who do you think you are man?! I have been very patient to listen to your lecture along the way. I could feel that you underestimated me, right?! You are wrong, Man! I know I am not from here. I am from Indonesia but I know the law and you don’t play with me, Man!” Saya bicara dengan nada sangat tinggi dan itu membuatnya terkejut luar biasa. Dengan spontan dia bilang “sorry Sir” sambil gemetar, meskipun terdengar tidak ikhlas. “What is your name?” kata saya dengan nada mengancam. Diapun menyebut satu kata dan saya tidak puas dengan itu “tell me your full name!!!” dan diapun menyebutkan nama lengkapnya. Dengan nada khawatir dia bertanya “what for Sir?” Kali ini saya ingin memberinya pelajaran kecil “you know what for. I can call your company and you don’t have to wait until tomorrow, you will lose your job tonight!” Saya bisa melihat wajahnya pucat dan kemudian berkali-kali minta maaf “I am really sorry Sir” katanya berulang-ulang, kali ini dengan nada yang memelas.

Diam-diam saya mulai kasihan pada lelaki malang itu. Meski demikian emosi saya belum reda dalam waktu yang sesingkat itu. Giliran saya memberi kuliah padanya. Saya ungkapkan semua kejadian tadi dan saya sadar betapa angkuhnya dia menanggapi saya. Saya juga tahu dia telah meremehkan saya. Saya tanya “is it because you know that I am a foreigner so you treat me that way? If this is the case and this can be very long because I will not stop it here!” Mendengar itu dia semakin takut “no Sir. I didn’t mean that. I am really sorry Sir. It was my mistake. I apologise, really!” kata-katanya memelas, sirna sudah keangkuhan yang tadi dipamerkannya. Mendengar itu, amarah saya mereda. Pelan-pelan saya menyadari situasi dan berusaha mengusir emosi. “You know what ***?!” kata saya dengan nada lebih tenang. “Yes Sir?” jawabnya santun. “I like this country because you provide friendly environment and respect foreigners like me. And what you just did does not at all reflect that. That is why I was so upset. I hope you understand that.” “Yes Sir, once again I am sorry Sir” katanya dengan nada halus dan santun. Sayapun memilih untuk diam menenangkan diri.

Mendekati tujuan, dia bertanya dengan sopan dan takut-takut karena dia ternyata tidak tahu persis alamat yang kami tuju. Memang tidak mudah menemukan nomor gedung di saat gelap seperti itu. Saya hanya bilang “just go straight, I will tell you.” Saya memang aktifkan Google Maps Navigation sehingga bisa tahu persis tujuan saya. Kamipun sampai di tempat yang saya tuju. Pak sopir kembali minta maaf dengan tulus dan kali ini saya tanggapi dengan tulus juga “that’s Ok, no worries. No problem between us, ***” Tidak berhenti di sana, saya merasa tidak tega membuat hatinya gundah gulana. Dia pasti masih sangat khawatir kalau-kalau saya akan menelpon perusahaannya atau melakukan tindakan hukum. Saya berkata “I know that I was also angry and impolite yelling at you but you know the reason.” “Yes, Sir, I understand” katanya. Saya lanjutkan, “I will not prolong this case, don’t worry. I also apologise for what I have said to you. I realise it was not appropriate”. Mendengar itu dia berkata “no, Sir, that’s fine. I am sorry once again.” Saya menjabat tangannya saat keluar dari taxi.

Saat taxi itu melaju saya dihinggapi rasa lega. Lega karena telah menggagalkan sebuah penindasan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya. Terlebih lagi, lega karena saya telah meminta maaf dengan tulus kepada seorang asing yang perasaannya mungkin saya lukai.

PS. Kejadian di atas murni insiden antara sopir taxi dan penumpangnya, tidak terkait hubungan antarnegara, apalagi nasionalisme 🙂 Komentar sebaiknya fokus pada insiden tanpa membawa-bawa nama negara 😉

Perlukah Minta Maaf?

Dato’ Noor Azis Yunan, Direktur Jenderal Maritime Institute of Malaysia (MIMA) membuka acara konferensi MIMA tentang Selat Malaka dengan mengucap kata maaf. Maaf ini disampaikan dengan nada yang begitu tulus kepada para peserta konferensi, khususnya yang berasal dari luar Malaysia. Permohonan maaf ini terkait dengan situasi Kuala Lumpur yang sedang berkabut dan berasap. Pada tanggal 24 Juni lalu, Kuala Lumpur memang tidak seramah semestinya karena kabut yang menyelimuti. Dengan Bahasa Inggris yang santun, Dato’ Yunan memohon agar para peserta memahami situasi ini dan dengan rendah hati mohon maaf jika peserta merasa teraganggu. Dato’ Yunan juga menyampaikan bahwa tahun ini asap muncul agak lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya dan ini di luar antisipasi panitia. Yang menarik perhatian saya, Dato’ Yunan sama sekali tidak meyinggung asal usul asap ini yang sesungguhnya dari Indonesia. Ucapan permohonan maaf yang tulus ini begitu berkesan bagi saya.

Di kesempatan lain, Duta Besar Tommy Koh, presiden United Nations Conference on the Law of the Sea (UNCLOS) III juga menyampaikan maaf dalam acara diskusi meja bundar di Singapura tanggal 28 Juni 2013. Kami memang merasakan ketegangan di ruangan itu sejak sehari sebelumnya. Diskusi meja bundar itu memang membahas sengketa Laut China Selatan yang kian memanas belakangan ini. Meskipun panitia berusaha keras memastikan diskusi berjalan dengan suasana akademik dan netral, ketegangan tetap tidak bisa dihindari karena yang hadir adalah para akademisi dari negara-negara yang bersengketa seperti China, Filipina, Taiwan, Malaysia, Vietnam. Prof. Koh memohon maaf bukan atas kesalahannya tetapi atas kelakar yang dibuat rekannya, Robert Beckman, yang mengatakan “infamous nine-dashed line map”. Kelakar itu memang membuat akademisi China yang hadir di sana sedikit terusik. Berbeda dengan Beckman yang menanggapi respon akademisi China dengan dingin, Prof. Koh mengambil inisiatif untuk memohon maaf dan mengharapkan akademisi China itu tidak memasukkan ke dalam hati. Yang mempelajari hukum laut akan tahu betapa besar nama Prof. Koh. Permohonan maaf untuk perihal kecil yang keluar dari mulutnya terdengar begitu istimewa. Beliau bahkan memohon maaf untuk kelakar kecil yang dibuat oleh temannya. Sungguh menarik.

Di lain kesempatan, saya juga membaca berbagai komentar negatif saat Presiden SBY mohon maaf terkait asap yang menggangu Malaysia dan Singapura. Agak berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Dato’ Yunan dan Prof. Koh, banyak orang di Indonesia yang melihat ucapan maaf yang disampaikan oleh Presiden SBY sebagai tindakan lemah. Benarkah demikian? Saya tidak paham politik luar negeri. Yang saya pahami adalah maaf diucapkan seseorang yang telah mengganggu orang lain dan maaf hanya bisa disampaikan oleh mereka yang besar hatinya. Maaf ini tentu saja berbeda dengan maaf-nya mpok Minah di Bajai Bajuri yang bahkan tidak dihayatinya. Maaf adalah pertanda adab, penciri kebesaran dan kemampuan menangani satu perkara dengan bijaksana.

Dalam percakapan saya dengan teman-teman di Malaysia dan Singapura, semua orang mengagumi sikap Presiden SBY. Di sisi lain, mereka juga sadar sesadar-sadarnya bahwa beberapa perusahaan yang terlibat dalam kebakaran atau pembakaran lahan di Indonesia berasal dari Malaysia dan Singapura. Mereka tahu bahwa kedua negara itu tidak bebas dari ‘dosa’ yang mengakibatkan tragedi lingkungan itu. Setiap kali saya sampaikan “I am sorry that the haze brings you troubles”, mereka dengan cepat menjawab “we know this is our problem and Malaysia [or Singapore] is also involved”. Mungkin mereka tidak mewakili keseluruhan bangsa mereka tetapi cukup melegakan mengetahui kesadaran itu ada pada sebagian orangMalaysia dan Singapura yang saya jumpai.

Perlukah kita mohon maaf? Tidak perlu jika kita tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Tidak perlu jika kita merasa bahwa maaf yang tulus itu akan merendahkan sang peminta maaf. Tidak perlu jika kita tidak paham bahwa maaf itu hanya bisa disampaikan dengan tulus oleh mereka yang tidak tertindas harga dirinya dan sadar bahwa perbaikan harus dilakukan. Lepas dari perlu tidaknya mohon maaf, yang penting adalah memastikan adanya perbaikan. Indonesia adalah bangsa besar yang tidak boleh takut pada bangsa apapun di muka bumi tanpa alasan yang jelas. Meski demikian, Indonesia juga bukan bangsa rendah diri yang melihat permohonan maaf sebagai pertanda kelemahan. Maafkan jika tulisan ini memuat gagasan yang berbeda dengan yang Anda yakini.

Subyektif

Jika Anda menggunakan Gmail, Anda pasti tahu kalau email dengan topik/subyek yang sama akan disusun menjadi percakapan. Topik yang dibicarakan pada suatu mailing list, misalnya, akan dikumpulkan menjadi satu percakapan dengan satu subyek. Positifnya, kita tidak akan kehilangan konteks percakakapan karena bisa melihat urutan komentar dalam satu percakapan panjang. Hal ini berbeda dengan email lain yang punya prinsip satu baris email untuk satu pengirim sehingga akan ada banyak email dengan subyek sama. Maka tidak jarang kita lihat ada orang yang tiba-tiba berkomentar di mailing list tentang suatu isu yang sebenarnya sudah selesai dibicarakan. Pada emailnya, topik pembicaraan tidak muncul sebagai percakapan seperti halnya di Gmail tetapi muncul sebagai email yang terpisah-pisah. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal demikian, terutama di mailing list yang rame.

Fitur Gmail yang seperti ini juga bisa menimbulkan kesalahan. Karena disusun dalam bentuk percakapan, pernah sekali waktu saya membaca komentar dari A lalu diteruskan membaca komentar lain dari B. Karena kurang perhatian, saya masih merasa membaca komentar A ketika membaca komentar B itu. Mengingat A adalah orang yang cenderung saya sukai maka pendapat B yang saya baca juga terasa positif karena secara psikologis saya merasa sedang membaca komentar A. Pada selang waktu berikutnya, saya baru sadar bahwa itu adalah pendapat dari B yang selama ini cenderung tidak saya setujui pemikirannya. Ketika dibaca ulang, tiba-tiba hal positif yang saya rasakan ketika membaca pertama kali tadi, hilang entah ke mana. Gmail itu mengajarkan saya satu hal bawa saya tidak bisa lepas dari sifat subyektif.

Saya duga, semua orang subyektif dalam kadar tertentu, dan setiap orang pasti bias dalam melihat sesuatu. Karena demikian halnya maka yang membedakan orang adalah caranya dalam mengekspresikan kesubyektifan dan kebiasan itu. Yang terbaik tentu saja adalah yang sedapat mungkin tidak merusak. Karena semua orang pasti bias, maka saya ingin memilih untuk dibiaskan oleh banyak perpektif, bukan kebenaran tunggal, apalagi yang dipaksakan.

Sekelumit Ilmu untuk Papua

Vivi, seorang kawan yang sedang kuliah di Russia dan penggiat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), mengirimkan pesan pada saya lewat Facebook. Pada pesan itu dia mengenalkan saya dengan seorang akademisi di Sorong, Papua Barat bernama Dr. Kadarusman. Vivi menawarkan apakah saya bersedia memberi kuliah umum secara online untuk mahasiswa dan kolega Dr. Kadarusman di Akademi Perikanan Sorong (Apsor). Urusannya tentu tentang laut dan sekitarnya. Tanpa menunggu lama, saya menyampaikan kesediaan.

Continue reading “Sekelumit Ilmu untuk Papua”

Air

http://lashaunahinton.wordpress.com/

Belakangan ini saya sering belajar di sebuah ruangan di UNSW sejak tinggal di Sydney. Di ruangan itu ada dapur tempat para mahasiswa makan siang atau sekedar istirahat menikmati teh. Di dapur itu ada lap/tisu kertas gulung yang menempel di tembok. Tisu itu kadang saya ambil untuk membersihkan meja dari tetesan air, melapisi tangan saat memegang gelas berisi kopi panas atau untuk membersihkan piring dari remah-remah makanan. Setiap kali selesai mencuci perabotan, saya juga memanfaatkan tisu itu untuk membersihkan tangan.

Berbeda dengan tisu toilet yang mudah dipotong karena sudah ditentukan penggalan-penggalan untuk memotong, tisu gulung itu harus dipotong dengan pemotong bergerigi yang sudah ada pada wadahnya.  Tisu itu juga kuat, jauh lebih kuat dari tisu toilet sehingga harus ditarik dengan tenaga secukupnya agar terpotong. Singkat kata, memotong tisu gulung itu perlu sedikit keterampilan dan juga tenaga.

Continue reading “Air”

Bangkit

http://generusindonesia.wordpress.com/

Bulan Maret lalu, saya mengunjungi sebuah negara, sekitar 5000 kilometer dari tempat tinggal saya. Negara ini sudah lama saya kenal namanya tetapi rupanya saya tidak akrab dengan data obyektif tentangnya selama ini. Di penghujung 1990an silam, negara ini berhasil membebaskan diri dari tirani kekuasaan rejim otoriter karena rakyatnya bersatu padu. Mahasiswa satu suara dan para pekerja memberi dukungan sehingga perubahan terjadi. Dalam kesibukan berbenah untuk peralihan kekuasaan, banyak hal yang terjadi. Ada tiga orang presiden yang menjabat selama lima tahun sebelum akhirnya berhasil menjadi sebuah demokrasi. Untuk pertama kalinya, presiden dipilih langsung oleh rakyat pada tahun 2004.

Ketika saya mengunjungi negara itu, dia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. Kebebasan pers kini terjamin, setiap orang bebas bersuara menyampaikan gagasannya. Presiden bisa dijadikan bahan debat tidak saja di kedai-kedai kopi tetapi juga di forum ilmiah yang serius. Demokrasi memberi ruang ekspresi politik sehingga partai tumbuh subur, memberi ruang yang lebih luas bagi partisipasi publik.

Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa ini, presiden menghakhiri masa jabatannya dengan wajar. Presiden pertama yang dipilih secara demokratis ini memulai dan menghakhiri masa jabatannya sesuai dengan ketentuan hukum. Hal ini berbeda dengan presiden sebelumnya yang dikudeta, diturunkan oleh rakyat, diangkat di tengah jalan untuk menggantikan presiden sah, atau diturunkan oleh lembaga legislatif. Bangsa ini layak tersenyum dengan kemajuan politik itu.

Continue reading “Bangkit”

Mahasiswa Baru Perlu Diplonco!

Begini cara saya melakukannya 🙂

http://www.classroomoven.com/
  1. #MhsBaru, bayangkan apa yg terjadi 4 tahun lagi. Bayangkan seberapa cantik CV kamu saat itu. Seberapa menjual?
  2. #MhsBaru, 4 thn lg kalian tdk ingin bilang “IP saya pas2an, ga aktif organisasi, prestasi biasa2 saja. Gmn caranya jual diri?”
  3. #MhsBaru, secantik apa lamaran kerja yg kalian inginkan 4 thn lagi? Rancang dr sekarang krn msh ada waktu tapi wkt tdk berlebih.
  4. #MhsBaru, kalian tdk ingin menyesal ga bisa melamar kerja krn IP ga cukup pdhl masih ada 3thn untuk bersiap2 🙂
  5. #MhsBaru, kalian ga ingin nyesel ga bisa lamar beasiswa S2 ke LN krn TOEFL ga cukup padahal 3 thn ini habis buat twitteran 🙂
  6. #MhsBaru, kalian tdk ingin jadi orang hilang saat wawancara kerja 4 thn lagi, pdhl kesempatan berlatih di organisasi banyak sekali.
  7. #MhsBaru, kalian tdk ingin nyesel ga lolos kerja 4thn lagi krn ga bisa software pdhl punya laptop, Internet kenceng, banyak temen.
  8. #MhsBaru, kalian ga mau nyesel 4 thn lagi krn ga bljr bhs Ingris dr sekarang pdhl belajar saat sdh kerja itu sulit banget 😦
  9. #MhsBaru, bayangkan menulis email 4thn lagi ke sebuah perusahaan, apa yg akan kalian ceritakan tentang ‘kehebatan’ kalian?
  10. #MhsBaru, lihat teman2mu skrg. 4 thn lagi mungkin bersaing lamar kerja. Kenapa kamu yg berhak diterima jika yg dicari hanya 1?
    Continue reading “Mahasiswa Baru Perlu Diplonco!”

Celana Kartini

kartinilitaPak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.

Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.

Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?

Continue reading “Celana Kartini”

Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru

Berguru ke Negeri Kangguru
Berguru ke Negeri Kangguru – Pesan: di sini

Pesan buku ini di sini 🙂

Tulisan ini adalah cerita tentang sebuah buku. Ini buku terbaru saya yang membahas tips dan tricks mendapatkan beasiswa ke Australia, terutama Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS). Apakah tulisan ini adalah promosi buku? Tentu saja demikian, tetapi ini tentu saja iklan tanpa bayaran 🙂

Saya mulai menulis di blog ini terkait beasiswa sejak tahun 2005 atau bahkan sebelumnya. Tanpa direncanakan, ternyata sudah ada seratusan artikel terkait beasiswa Australia di blog ini dan rupanya menjadi salah satu sebab teman-teman pembaca ‘tergelincir’ atau ‘tersesat’ di blog saya. Seiring berjalan waktu, ada banyak usulan untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut. Tadinya saya tidak tertarik karena alasan utama menulis adalah memberikan akses bebas kepada siapa saja tanpa perlu membeli buku. Siapa saja yang memiliki akses internet harus bisa mengakses informasi yang saya tulis kapan saja dan dari mana saja. Idealnya demikian.

Ada juga penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya jadi buku tetapi mengharapkan tulisan di blog dihilangkan. Dalam konteks bisnis, hal ini tentu bisa dipahami. Meski demikian, ini tidak sejalan dengan semangat saya berbagi maka dengan berat hati tidak bisa saya penuhi. Akhirnya ada satu penerbit, Pandu Aksara, memberi penawaran yang baik. Baik, dalam konteks ini tentu saja tidak terkait materi atau finansial. Pandu Aksara membebaskan saya tetap memelihara tulisan yang akan diterbitkan jadi buku di blog ini. Tawaran yang menarik.

Continue reading “Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru”