Saya akan menjadi layaknya komentator sepak bola yang bisa memuji maupun mengkritik tetapi belum tentu (atau pasti tidak) bisa melakukan. Komentator sepak bola yang canggih umumnya tidak bisa main sepak bola. Jika saya punya kemampuan untuk memperbaiki presentasi saya maka ada hal-hal yang ingin saya perbaiki bercermin pada presentasi Agus Yudhoyono seperti yang ada di video berikut:
Category: Geodesi UGM
Video Pengisian Formulir Australia Awards Scholarship (AAS)
Tahun lalu saya membuat beberapa video tips pengisian formulir beasiswa Australia Development Scholarship (ADS). Tahun ini, nama beasiswanya berubah menjadi Australia Award Scholarship (AAS) dan formulirnyapun mengalami sedikit perubahan. Meski demikian, pada prinsipnya masih sama sehingga video ini saya rasa masih relevan. Silakan disimak untuk mendapatkan bahan perbandingan. Semoga lamaran Anda tahun ini berhasil dengan baik. Selamat menyaksikan.
Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5
Bagian 6
Bagian 7
Bagian 8
Bagaimana Menentukan Batas Maritim Antarnegara?
How to define maritime limits and boundaries? This is a video of me giving a lecturer at RSIS, NTU in Singapore on 14 March 2013. Please enjoy 🙂
Sentuhan Pribadi
Di tangah malam itu, tiba-tiba Asti, isteri saya, keluar dari kamar, menemui saya yang masih di depan komputer. Di tangannya ada iPad yang pada layarnya ada Lita yang sedang bicara lewat Skype. Menyusul di belakangnya ada Mbak Dyah dan Sita, dua teman serumah, sesama pejuang Indonesia di Australia. Ada kue cantik dan tiga lilin yang menyala. Terharu sekali, kejutan kecil itu begitu menyentuh. Memang bukan pesta mewah atau kue mahal dan hingar bingar perayaan. Malam itu istimewa karena penuh dengan sentuhan pribadi.
Lita turut menyanyi lewat Skype dan membantu saya meniup lilin ketika lagu ulang tahun selesai dikumandangkan. Saya masih ternyanyut dalam haru. Adalah perayaan kecil sederhana yang dibalut dengan sentuhan pribadi ini yang membuat ulang tahun saya yang ke-35 jadi istimewa. Semua mengulurkan tangan. Sita dengan sigap mengabadikan gambar dan seperti biasa mengupload foto lebih cepat dari saya memotong kue. Sementara itu Mbak Dyah sibuk di dapur membuat cocktail yang istimewa. Di tengah malam itu kami membuat satu pesta kecil yang begitu berkesan.
Mengajar di UNSW: Tentang Meraih Kesempatan

Salah satu kemewahan sekolah S3 di negara maju adalah kesempatan untuk menjalankan peran-peran professor/pembimbing. Salah satu kesempatan itu adalah mengajar. Tidak jarang mahasiswa S3 diberi kesempatan mengajar S1 atau bahkan S2 oleh supervisornya. Ini kesempatan baik dan bisa mendatangkan uang. Saya punya beberapa pengalaman serupa tetapi yang saya ceritakan kali ini agak berbeda.
Continue reading “Mengajar di UNSW: Tentang Meraih Kesempatan”
Membuat Radio online itu Mudah dan Gratis
Ingin punya radio dan bisa didengarkan di seluruh dunia? Gampang. Luangkan waktu satu jam maka Anda sudah akan punya radio online dan siap siaran dari mana saja sepanjang ada koneksi internet. Saya sudah membuat beberapa radio online dalam waktu sebulan terakhir. Berikut langkahnya.
Continue reading “Membuat Radio online itu Mudah dan Gratis”
A new way to tour the White House
Do you still remember Google Art Project by which we can ‘visit’ a museum or art gallery without leaving our home? Now we can do just the same for the White House. I understand that the experience of touching an historic paint or an antiquate ceramic plate will never be replaced by exploring things through the screen of your computer. However, the feeling of being able to see things from a very short distance even though without touching them is a stimulating experience too. Imagine this. You have not even yet visited the United States of America for financial reason, for example, but you can have the feeling of doing a White House tour. No queue, no security check, no passport or other ID required, no payment, no other visitors so you can enjoy every shingle object without distraction. The most important thing is you can do it anytime you like. No visiting hours applicable. You can do this now, thanks to the Google Art Project. Thanks to the marriage of Geospatial technology and art. Enjoy the White House 🙂
Korupsi Semangka

Genjo tekun memotong semangka yang baru dibelinya dari sebuah toko buah pagi tadi. Sore ini akan ada diskusi mahasiswa Indonesia di luar negeri, tempat Genjo dan kawan-kawannya menuntut ilmu. Samar-samar didengarnya Budiman sedang berkomat kamit di kamar. Rupanya dia sedang melatih presentasinya untuk acara sore nanti. Budiman seorang aktivis, profil mahasiswa Indonesia yang ideal. Dia aktif berorganisasi, pintar di kampus dan peduli pada urusan bangsa.
Sementar itu Genjo selalu menjadi pelengkap. Otaknyanya tidak cukup canggih untuk berbicara persoalan bangsa. Dia hanya bisa mendukung dengan menyiapkan konsumsi atau sekali-sekali memasang kabel untuk audio visual diskusi. Genjo mantap dengan perannya: sebagai penggembira.
Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant
Sebuah konferensi di TaiwanBelakangan ini saya mendapat beberapa email dan komentar di blog soal cara mendapatkan dana untuk konferensi. Sebelumnya saya pernah menulis soal konferensi di blog ini dan menegaskan bahwa konferensi terkait erat dengan menghabiskan uang, bukan mendapatkan uang. Makanya, jika ada peneliti yang sering konferensi, umumnya peneliti ini tidak akan bertambah kaya, jika tidak menjadi lebih miskin.Untuk bisa berpartisipasi di sebuah konferensi ilmiah, seorang peserta harus menyerahkan karya tulisnya yang biasanya didahului dengan menyerahkan abstrak atau intisari penelitian. Bagi yang masih awam, saya jelaskan, abstrak atau intisari adalah ringkasan penelitian dalam beberapa ratus kata (lihat persyaratan dari panitia konferensi) yang menggambarkan keseluruhan isi penelitian. Jika abstrak ini diterima, calon peserta akan diminta menyerahkan makalah lengkap (full paper) utuk seterusnya diundang melakukan presentasi. Selengkapnya bisa dilihat di diagram alir berikut. Continue reading “Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant”
Celana Kartini
Pak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.
Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.
Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?
