Penjor Galungan

galungan

Pak Wayan Sukantra, guru Agama Hindu kami saat SD, pernah bercerita. Jangan memperlakukan orang seperti penjor, katanya. Penjor itu, bagian lurusnya kita tanam tenggelamkan, bagian bengkoknya kita umbar pamerkan. Katanya, itu artinya kita lebih memerhatikan keburukan orang lain dan cenderung mengabaikan kebaikannya. Saya masih SD, usia belum genap duabelas tahun sehingga belum mampu memahami apa yang dimaksud Pak Wayan Sukantra. Bagi saya, cerita itu mengganggu karena selama ini penjor menjadi simbol kemeriahan hari raya. Penjor selalu ditemukan di jalanan di Bali ketika hari raya, terutama saat Galungan dan Kuningan. Ingatan di masa kecil tentang penjor salah satu yang membuat saya selalu rindu pulang.

Continue reading “Penjor Galungan”

Herlina, malaikat [tak] bersayap

Lina dan Lita
Lina dan Lita

Dewi Lestari bisa jadi benar, terkadang malaikat tidak selalu hadir bersayap. Saya melihat sosok malaikat pada Putri Herlina yang belakangan sempat membuat sebagian penduduk dunia maya tertegun terpesona penuh haru. Putri Herlina, yang saya panggil Lina, adalah seorang perempuan cantik tanpa tangan yang baru saja menikah dengan seorang lelaki baik hati bernama Reza. Yang membuat haru, Reza adalah seorang pemuda tampan yang normal secara fisik dan berasal dari keluarga berada dan terhormat sementara Lina adalah seorang gadis yang tinggal di panti asuhan. Bukan. Ini bukan sebuah dongeng dari negeri antah berantah. Ini adalah sebuah kisah nyata yang mengingatkan kita bahwa keajaiban itu masih terjadi.

8 Juli 2000
Teriakan anak-anak panti asuhan cacat ganda Sayap Ibu membahana menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Wajah-wajah mereka sumringah. Nampak keceriaan dan rasa senang karena sebentar lagi mereka akan menikmati kue. Sementara itu di dekat lilin yang masih menyala tersenyum simpul seorang gadis dua puluhan tahun, menunggu saatnya meniup Lilin. Gadis itu adalah Asti, pacar saya, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Setelah sekitar dua tahun melakukan kunjungan rutin ke Panti Asuhan Sayap Ibu, Asti ingin merayakan ulang tahunnya bersama anak-anak penghuni sayap ibu. Memang tidak begitu lazim. Teman-teman saya waktu itu bahkan kadang berkelakar mengejek “pacaran kok di panti asuhan”.

Continue reading “Herlina, malaikat [tak] bersayap”

Pengalaman LDR – Long Distance Relationship

Memadukan Skype dan kartu pos :)
Memadukan Skype dan kartu pos 🙂

Saya tidak akan membicarakan hubungan pacaran jarak jauh tetapi hubungan antaranggota keluarga yang terpisah Jarak jauh. Tidak semua orang beruntung bisa selalu bersama-sama keluarga ketika harus menempuh studi atau bekerja dan kami adalah salah satu yang kurang beruntung itu. Karena berbagai alasan, kami hidup terpisah. Saya dan Asti, isteri, di Sydney, Lita, anak kami di Jogja. Ini bukan model keluarga ideal dan tidak direkomendasikan untuk siapapun. Namun, jika harus mengalaminya, toh kita harus tetap bertahan. Saya ingin berbagi pengalaman sederhana bagi yang sedang atau akan mengalami hal yang sama.

  1. Selamatkan komunikasi dengan teknologi.
    Dewasa ini, cara pandang kita terhadap jarak dan waktu jauh berbeda dengan dua dekade lalu. Saya masih ingat, pernah berdebar-debar menunggu surat dari sahabat pena selama sebulan lebih di awal tahun 1990an. Sekarang, whatsapp yang tidak dibalas lebih dari dua menit sudah terasa lama dan bisa menjadi alasan untuk marah. Teknologi membuat jarak menjadi pendek dan ini yang sebaiknya dimanfaatkan. Lita, anak saya, sudah kami ajari cara berkomunikasi dengan email dan Skype ketika berumur lima tahun. Waktu itu dia belum lancar menulis tetapi sudah mulai memahami cara berkomunikasi. Saya kadang mengirimkan gambar lewat email ketika kami bercakap-cakap dengan Skype sehingga saya bisa mengajari dia cara membuka gambar dari email. Ini adalah komunikasi multimedia dalam satu waktu.
  2. Menggunakan teknologi untuk pemantauan.
    Kita tahu, teknologi tidak selalu bagus untuk kita. Untuk meminimalisir efek buruk teknolgi, kami memasang alat pemantau di komputer Lita di Jogja agar kami tahu jika dia sedang online. Hal paling sederhana adalah dengan memastikan Skype akan online otomatis jika komputer dinyalakan sehingga kami akan tahu dia sedang di depan komputer. Hal lain adalah memasang alat pemantau seperti Team Viewer sehingga saya bisa melihat layar komputer di Jogja dari Sydney. Ini tentu tidak akan menghilangkan semua dampak buruk tetapi tentu bisa meminimalkannya.
    Continue reading “Pengalaman LDR – Long Distance Relationship”

Selamat Ulang Tahun, Lita

ultahlita8Lita, kami ingin mencertikatan sesuatu kepadamu. Di usiamu yang genap sewindu ini, banyak hal yang terjadi dan tidak sedikit yang tidak terjadi. Kami ingin minta maaf untuk yang tidak terjadi. Untuk ketidakbersamaan keluarga yang cukup lama dan untuk ketidakberhasilan kami menjadikan Jarak dan waktu sebagai sesuatu yang biasa seperti layaknya keluarga. Untuk keterceraiberaian, untuk waktu yang tidak dihabiskan dengan minum teh bersama di sore hari dan untuk sentuhan yang lebih sering tiada dari waktu ke waktu. Kami menginginkan semua itu. Pecayalah.

Continue reading “Selamat Ulang Tahun, Lita”

Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang

Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang menemuimu lagi seperti tahun lalu. Alasanku hanya satu: aku rindu. Aku merindukan aroma pagi yang basah oleh embun dan tunduk oleh dingin kabut saat subuh. Aku merindukan teriakanmu yang dulu salah kupahami ketika menarik selimutku dan mengancamku untuk bersujud pada Sang Khaliq. Aku rindu gigil pagi saat dingin air tanah menampar wajahku yang ragu-ragu berbasuh wudhu. Aku rindu Ibu.

mubarak

Puasaku tahun ini aku niatkan untuk berserah diri tapi sejatinya ada pintaku. Aku ingin lewatkan Ramadhan untuk bersegera menemuimu. Padamu aku menemukan kasih Tuhan yang mengejawantah dalam pikir, kata dan laku. Aku tak pintar mencerna ayat-ayat suci, engkau tahu itu tapi aku tak pernah dirundung ragu akan keEsaan-Nya. Ada penegasan tentang Sang Keberadaan, tidak saja dari sentuhan hangatmu, tetapi juga dari kepedulian yang kau sembunyikan dalam kemarahanmu. Aku merindukan kemarahanmu, seperti ketika aku kecil saat menduga bahwa merafalkan ayat-ayat suci adalah siksaan di fajar buta. Aku terlambat Ibu, tapi aku menyadarinya kini.

Continue reading “Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang”

Ketika Lita naik pesawat sendiri

http://superiorpics.com/

Lita, anak saya, mungkin tidak paham betul istilah ‘mandiri’ tapi orang-orang dewasa mungkin ‘menuduhnya’ demikian. Pasalnya, Lita berani pergi sendiri ke Bali dari Jogja naik pesawat saat usianya belum genap 7 tahun. Saat pertama kali melakukan itu, Lita berusia 7 tahun kurang satu bulan, tepatnya tanggal 12 Agustus 2012 dengan Garuda Indonesia. Banyak yang bertanya bagaimana Lita bisa melakukan itu. Saya akan berbagi kisah ini, semata-mata untuk memberi gambaran kepada para orang tua.

Sebenarnya, mengizinkan anak kecil naik pesawat sendirian masih tetap menjadi perdebatan bahkan sampai sekarang. Seorang teman baik saya bahkan tetap gigih mengingatkan saya agar ‘meninjau kembali’ keputusan untuk mengizinkan Lita terbang sendiri semalam sebelum jadwal terbangnya. Saya yakin ketulusannya dan menyadari hal itu dilakukannya semata-mata karena peduli dan menyayangi keluarga kami. Di saat seperti itulah, keberanian (atau kenekatan?) saya dipertanyakan. Jika kepedulian yang tulus dari teman saya itu berkuasa lebih dari kenekatan saya maka mungkin ceritanya akan lain. Entah apa yang membisiki saya ketika itu, saya tetap teguh pada keputusan semula. Ahhasil, Lita terbang untuk pertama kalinya ke Bali dari Jogja. Menariknya, bahkan setelah kejadian itupun masih banyak teman yang memberi komentar pesimis. Meskipun halus, saya merasa tidak sedikit yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kami mengizinkan Lita terbang sendiri. Kepada mereka semua, saya berterima kasih dan menempatkan kepedulian itu di ubun-ubun, di tempat yang terhormat. Hanya saja, untuk hal ini kita bersepakat untuk berbeda pendapat.

Continue reading “Ketika Lita naik pesawat sendiri”

Not to be raped or not to rape?

By Nur Hasyim

http://preetysocial.wordpress.com/

Once again, the news on a brutal rape case in Tasikmalaya, West Java has been shaking the nation. An eight-year-old girl was sexually abused by her boy friend and experienced serious injury on her reproductive organ. The news also reported that the Manonjaya resident found her around rail way track in a very critical condition in which her entire body was covered by blood. Luckily, she was rescued and taken to local hospital for a medical intervention (detiknews 21/5/2013).

Whenever rape case happens, the immediate question coming across our mind is why does it happen? Is it merely about inability of perpetrators, who are mostly men, to control their sexual desire? Or are there any other factors on which the criminal act is based? It also naturally begs a question: why is the sexual violence so prevalent in Indonesia, which is considered as a religious nation, and more likely to become everlasting tragedy for girls and women in the country? We also start questioning our legal system, does it effectively protect the rights of women as a human being? More importantly, do we belong to the nation where people perceive rape as normal?

Continue reading “Not to be raped or not to rape?”

Sentuhan Pribadi

ultah

Di tangah malam itu, tiba-tiba Asti, isteri saya, keluar dari kamar, menemui saya yang masih di depan komputer. Di tangannya ada iPad yang pada layarnya ada Lita yang sedang bicara lewat Skype. Menyusul di belakangnya ada Mbak Dyah dan Sita, dua teman serumah, sesama pejuang Indonesia di Australia. Ada kue cantik dan tiga lilin yang menyala. Terharu sekali, kejutan kecil itu begitu menyentuh. Memang bukan pesta mewah atau kue mahal dan hingar bingar perayaan. Malam itu istimewa karena penuh dengan sentuhan pribadi.

Lita turut menyanyi lewat Skype dan membantu saya meniup lilin ketika lagu ulang tahun selesai dikumandangkan. Saya masih ternyanyut dalam haru. Adalah perayaan kecil sederhana yang dibalut dengan sentuhan pribadi ini yang membuat ulang tahun saya yang ke-35 jadi istimewa. Semua mengulurkan tangan. Sita dengan sigap mengabadikan gambar dan seperti biasa mengupload foto lebih cepat dari saya memotong kue. Sementara itu Mbak Dyah sibuk di dapur membuat cocktail yang istimewa. Di tengah malam itu kami membuat satu pesta kecil yang begitu berkesan.

Continue reading “Sentuhan Pribadi”

Celana Kartini

kartinilitaPak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.

Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.

Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?

Continue reading “Celana Kartini”

River’s Note: Cinta seorang ayah kepada anaknya

http://sekolahpesisir.wordpress.com/

Sahabat saya, Sony Kusumasondjaja, tiba-tiba menyapa saya di twitter ketika saya berada di tanah air untuk beberapa lama bulan Maret lalu. Sony, katanya, akan mengirimkan sesuatu untuk saya. Sesuatu itu ternyata adalah sebuah buku berjudul River’s Note. Dari judulnya, sekilas terdengar seperti sebuah novel roman. Itu juga yang diduga oleh seorang kawan saya di Sydney ketika melihat novel itu tergeletak di meja.

River’s Note tidak bergenre roman. Mungkin tidak bisa juga dikatakan sebuah novel. Seperti namanya, River’s Note adalah kumpulan catatan. Ini adalah catatan seorang bapak kepada anaknya. River adalah nama anak yang dibicarakan atau menjadi penerima pesan itu. Itulah rupanya yang menjadi alasan pemilihan judul itu. River’s note adalah sebuah buku non fiksi, tulisan seorang ayah atau calon ayah yang merupakan pesan cinta kepada anak atau calon anaknya.

Saya menerima buku itu di rumah di Jogja, disaksikan oleh Lita, anak saya. Rasa ingin tahunya tentu saja tidak terbendung. Lita membuka buku itu bahkan sebelum saya. “Lita pernah membaca buku ini Yah” katanya, “tapi belum selesai” sambil mencari-cari halaman terakhir yang dia baca. Lita baru kelas dua SD dan tidak memiliki kegemaran membaca, saya tahu itu. Bisa jadi yang dikatakannya benar, tapi saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan ketika bertanya tentang apa buku itu. Dia sibuk membolak balik halaman buku lalu menyampaikan informasi yang berubah-ubah terkait halaman terakhir yang dibacanya. Sungguh tidak meyakinkan.

Continue reading “River’s Note: Cinta seorang ayah kepada anaknya”