Karena berbagai alasan, saya sering berbicara di berbagai forum. Konferensi adalah yang paling sering karena pekerjaan saya sebagai seorang peneliti dan mahasiswa S3. Sebagian besar dari semua itu harus saya sampaikan dalam Bahasa Inggris. Syukurlah, hingga sekarang saya melakukannya dengan cukup baik. Biasanya saya merasa puas setelah menyampaikan pemikiran saya, sebagai tanda keberhasilan. Penilaian ini tentulah subyektif.
Sebagian besar orang mendapat karunia yang mereka terima dan syukuri. Sebagian orang lain tidak mendapatkannya. Yang tidak mendapatkannya bisa memilih untuk kecewa atau malah bersyukur karena itu berarti mereka bisa membuatnya sesuai dengan keinginannya sendiri dan akhirnya memiliki banyak pilihan. Aimee Mullins, seorang atlit paralimpik, telah menunjukkan keteladanan ini. Dia memangdang bahwa dengan tidak memiliki kaki dia justru bisa membuat beragam pasang kaki sesuai seleranya. Dia bahkan bisa menambah tinggi tubuhnya sesuai keinginannya. Tentu sangat menyenangkan jika seseorang bangun di pagi hari dan bisa memilih dan memutuskan tinggi tubuh yang dia inginkan hari ini.
If you are not granted with something that most of the people have, you can see it in two different ways. First you may see this as a deficiency and weakness that you think you can be sad about. Or second, you are grateful since you see this as an opportunity to build your own in such a design that we like. The choice is yours.
Inspired by someone you know or a writing that you have read? That is nothing new. We all have the experience in one way or another. We often say or do things in a particular way because of what others have done. Put simply, were are inspired by something that exists. Now, the question: can we be inspired by something that has yet to exist? Can non-existence be a reason for us to do things in a certain way? I have a story to share.
One day I was driving in a reasonably quiet city of Wollongong, Australia. It was my unlucky day since a car passing close by was misbehaving. The car suddenly overtook me and cut my line just before stopping due to a red light. Of course I was surprised and shocked since it was not something one experiences every day in Wollongong. I was about to hit the horn and yell. However, at the very critical moment there was something in me whispering “don’t do that” and I followed it. I was thinking for a while and then decided to smile, instead of cursing. I smiled to the car in front of me and I could see the driver’s face from his mirror. Having noticed me smiling, he raised his hand and smiled too. The difference was that he did it with a feeling of guilty which was noticeable from his eyes and face. I vaguely saw his lips saying “sorry”. It was not bad at all. If I did not decide to prevent myself from yelling, the story might have been different.
Berjalanlah dengan tenang di tengah kebisingan dan ketergesaan, dan ingatlah kedamaian itu bertumbuh dalam kebisuan yang tenang. Sedapat mungkin, jagalah kisah baik dengan semua orang, tanpa harus menyerah dan menjadi tumbal. Nyatakanlah kebenaran hatimu dengan lirih dan jernih; dan dengarkanlah orang di sekitarmu, betapapun mereka membosankan dan tidak peduli; merekapun memiliki cerita yang layak didengar.
Hindarilah mereka yang gaduh dan agresif, mereka adalah orang-orang yang menebarkan kekhawatiran bagi jiwamu. Jika engkau membandingkan dirimu dengan yang lain, engkau mungkin merasa tiada berguna dan getir; karena sesungguhnya selalu ada orang yang lebih hebat atau lebih lemah dari dirimu.
Nikmatilah pencapaian dan juga rencana-renana hidupmu. Berusahala untuk tetap tertarik dengan pilihan pekerjaanmu, betapapun sederhananya.; itulah milikmu yang sesungguhnya melewati masa dengan keberuntungan yang senantiasa berubah tidak terduga.
Kata ‘maaf’ ini paling mudah diasosiasikan, salah satunya, dengan Mpok Minah di Bajaj Bajuri. Sudah lama aku percaya bahwa minta maaf adalah salah satu dari beberapa hal yang tidak mudah dilakukan. Anggapan ini berubah setelah aku berkenalan dengan Mpok Minah. Mudah sekali untuk minta maaf ternyata. Jangankan setelah melakukan kesalahan, sebelum melakukan apa-apa pun ternyata kita bisa minta maaf. Maaf ya, bagi yang tidak paham, silakan nonton dulu. Bagi yang punya hobi ilmiah, jangan terkejut kalau maaf-nya Mpok Minah sudah jadi skripsi/tesis. 🙂
Maaf yang dimaksud di tulisan ini tentunya bukan maaf-nya Mpok Minah. Bukan juga maaf yang tertempel di pintu kelurahan yang diteruskan dengan kalimat “tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun” karena maaf yang demikian sesungguhnya diilhami oleh penolakan bukan pengampunan. Maaf ini juga tak seperti maaf-nya Ungu, walaupun tanpa kausadari, aku kadang menduakan cintamu 🙂 Maaf ini seperti maaf-nya Iwan Fals kepada ibunya. Maaf yang mendalam, yang disesali dan berharap tak mengulangi kesalahan, meski berharap akan berjumpa Ramadhan di tahun mendatang.
Semoga maaf ini tak seperti maaf-nya Si Malin Kundang yang tak sempat diucapkannya hingga terbujur kaku menjadi batu. Selamat Idul Fitri 1433 H untuk kawan-kawan yang merayakan. Mari saling memaafkan atas segala kesalahan.
Warm greeting from Canberra (in the midst of cold winter), Alhamdulillah. The English Writing Competition for the commemoration of the 2012 National Education Day has eventually reached its final stage.
Board of judges, consisting of Prof Aris Junaidi (Educational and Cultural Attaché of the Indonesian Embassy in Canberra) and A’an Suryana (PhD Candidate/former journalist at the Jakarta Post), have decided three winners as follows:
Di sebuah milis yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi menarik soal nasionalisme. Beberapa ilmuwan Indonesia memilih untuk tidak pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya. Tentu banyak yang prihatin akan hal ini. Saya memiliki satu pandangan.
Dimensi geografis di masa lalu tentu sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Teknologi saat ini membuat dunia jadi ‘lebih kecil’ secara signifikan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kita bisa tahu apa yg dilakukan seorang kawan di Finlandia dan dua detik kemudian bertegur sapa dengan kolega di Afrika Selatan. Ini tidak bisa dilakukan di tahun 80an. Saat ini ‘negara’ dengan jumlah pendudukan terbesar ketiga bernama Facebook, taman bermain paling besar bernama Google Earth dan tempat ngerumpi paling asyik mungkin saja Twitter.
UPDATE: Saya tidak berhasil jadi juara dalam lomba ini 🙂 Terima kasih atas dukungan teman-teman semua.
Rasanya memang maksa banget kalau saya harus katakan “sukailah saya!” Namun memang demikianlah kompetisi dewasa ini. Pemenang ditentukan oleh seberapa banyak yang menyukai sesuatu. Dalam bahasa Facebook: “like”.
Saya ikut lomba menulis Telkom Solution dan ternyata tulisan saya masuk final. Pemenang akan ditentukan berdasarkan jumlah “likes” yang diperoleh oleh masing-masing tulisan. Jika teman-teman merasa tulisan saya layak untuk jadi pemenang, silakan klik “like” di link ini: https://www.facebook.com/TelkomSolutionID. Saya adalah finalis #4 dengan judul tulisan “Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani”. Kalaupun bukan untuk menyukainya, silakan membaca tulisan tersebut, semoga berguna.
Jadi, istilahnya mungkin bukan “sukailah saya” tetapi, “berikanlah apresiasi teman-teman jika memang tulisan saya layak disukai”. Terima kasih 🙂
Saya menerima berbagai pertanyaan yang sama lewat komentar di blog ini. Pertanyaan itu biasanya seputar beasiswa. Menariknya, komentar/pertanyaan yang sama itu disampaikan pada tulisan yang sama. Artinya si penanya berikutnya tidak membaca dengan seksama komentar/pertanyaan/jawaban sebelumnya, meskipun sudah saya anjurkan pada tulisan. Kalau hanya dua atau tiga, mungkin tidak jadi soal tapi kalau sudah belasan atau puluhan, ada perasaan yang tidak nyaman. Kadang ada saja godaan untuk menanggapi pertanyaan yang sama dengan cara yang agak emosi sambil memberi “kuliah”. Perlu perjuangan keras untuk tetap terdengar sabar dan bijaksana.
Yang bertanya tentu tidak bisa memahami perasaan saya. Suasana psikoligis kami berbeda. Si penanya merasa mengajukan satu pertanyaan yang wajar, sementara saya merasa mendapat dan sudah menjawab pertanyaan yang sama puluhan kali. Saya kira pembaca memahami situasi ini. Bagaimana saya merespon pertanyaan yang sama seperti ini? Sebenarnya saya merasa punya alasan untuk menjawab pertanyaan ke-20 dengan emosi karena merasa sudah cukup sabar menjawab 19 pertanyaan serupa sebelumnya. Tentu saja saya akan terlihat sangat tidak bijaksana bagi si penanya ke-20 yang tidak tahu duduk perkaranya. Tentu kasihan sekali dia. Dilema ini tidak serius tetapi cukup mengganggu.
Apakah Anda salah satu dari 5-6000an orang hebat Indonesia yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)? Mudah-mudahan Anda tidak tergoda membaca tulisan ini gara-gara judulnya demikian. Silakan kecewa karena tidak ada yang bisa menjamin Anda diterima beasiswa luar negeri.
Saya sering mendapatkan pertanyaan atau curhat terkait beasiswa luar negeri, terutama ADS. Ada yang bertanya “seberapa besar peluangnya?” Ada yang ingin tahu “layakkah saya?” Tidak sedikit yang bahkan pesimis, merasa tidak mungkin diterima. Membayangkan ada 5000an orang yang mendaftar untuk kuota yang hanya 400, kita mudah sekali tergoda untuk merasa tidak mampu bersaing. Mudah sekali untuk berpikir “saya pastilah bukan salah satu dari 400 orang terbaik dari 5-6000an orang itu. Saya bukan siapa-siapa.”
Tulisan ini bukan motivasi yang membuat Anda tiba-tiba berubah jadi semangat lalu berdiri tegak siap menghadapi air bah dan menjadi tidak realistis. Bukan! Saya tidak punya kapasitas itu dan saya memang tidak bisa menjamin seseorang bisa diterima beasiswa. Saya hanya ingin ingatkan bahwa syarat beasiswa ADS itu adalah TOEFL 500 dan IP di atas 2,9. Jika tidak ada yang bisa bisa menjamin seseorang lolos beasiswa maka tidak boleh ada satu orang pun di muka bumi ini yang berhak mendikte “kamu pasti tidak lolos” jika memang Anda memenuhi syarat.
Kita adalah para pejuang. Tugas kita hanya satu: berusaha dengan segenap upaya. Tugas kita bukan menghakimi, apalagi menghakimi diri sendiri. Bahwa IMPOSSIBLE bisa jadi adalah I’M POSSIBLE yang kita baca secara salah. Selamat berjuang, kawan!