Pendaftaran Australia Awards Scholarship 2016 telah dibuka!

STOP!

Mungkin Anda sedang mencari informasi pendaftaran Beasiswa Australia Awards tahun 2017. Informasi di bawah ini adalah untuk tahun 2016 dan sudah ditutup. Untuk periode 2017, beasiswa ini akan dibuka tanggal 1 Februari 2016. Silakan baca tulisan ini.

Penjelasan singkat
Australia Awards Scholarship alias AAS adalah beasiswa penuh bagi masyarakat Indonesia yang memenuhi syarat untuk studi S2 atau S3 di perguruan tinggi Australia. Jika Anda sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan berusia di bawah 42 tahun, Anda berkesempatan untuk mendaftar. Berikut ini hal-hal penting yang mungkin membantu Anda.

Continue reading “Pendaftaran Australia Awards Scholarship 2016 telah dibuka!”

Saya Jadi Kepala KUA

Saya mendapat tugas sebagai Kepala Kantor Urusan Internasional alias Office of International Affairs UGM sejak pertengahan tahun lalu. Sebagian teman saya menganggap ini musibah, sebagian lain menyelamati sebagai pencapaian. Saya sendiri menganggap ini kesempatan belajar yang kadang membawa musibah mendewasakan. Tapi tulisan ini bukan tentang pencapaian atau musibah.

Meskipun saya merasa peran kantor ini sangat penting dalam konteks internasionalisasi pendidikan di UGM, ternyata kantor ini, yang disingkat KUI atau OIA, tidak dikenal oleh semua orang UGM sekalipun. KUI? Opo kui? tanya banyak orang dengan logat Jogja yang enak didengar.

Continue reading “Saya Jadi Kepala KUA”

UNSW, setelah 11 tahun

Sydney, 14 Januari 2004

Hari sudah terang, pagi tak lagi muda karena matahari menghadirkan benderang yang cerah. Sydney kulihat pertama kali dari balik jendela pesawat yang baru saja menyentuhkan roda-rodanya di landasan Bandara Kingsford Smith. Inikah negeri Kangguru yang telah lama kusimpan dalam rasa penasaranku? Aku nyaris tidak percaya, hari itu datang juga. Sebentar lagi, pikirku, Negeri Kangguru tak lagi asing di mata dan terutama hatiku.

Kulihat dua lelaki bekerja giat di landasan Bandara. Keduanya mengenakan helm dan baju dengan rompi yang memendarkan sinar. Sepatunya nampak khusus untuk bekerja di lapangan dengan warna cokelat gelap. Yang menarik, keduanya mengenakan celana pendek, bukan sesuatu yang aku lihat setiap hari. Pekerja lapangan dengan sepatu berujung baja dan berhelm proyek yang berstandar, rasanya tidak cocok mengenakan celana pendek. Itulah Sydney dalam kesan pertamaku.

Yang paling aneh dari segala yang aneh, keduanya bule. Bukankah bule seharusnya bersenang-senang di Pantai Kuta sambil minum bir dan menikmati pijatan penjaja jasa keliling di atas pasir? Bukankah seorang bule seharusnya berselancar melawan deru ombak di pantai eksotis di Bali Utara dan bukan bekerja mengangkat kopor atau barang berat lainnya di sebuah bandara yang benderang? Pikiran konyol orang Bali yang hanya tahu Alas Kedaton, Kuta dan Tanah Lot, tidak bisa disembunyikan di saat begitu. Aku terheran-heran melihat bule bekerja karena kusangka selama ini tugas hidup mereka hanya melancong. Bule itu turis, kata tetua di kampungku.

Aku bergerak mengikuti antrian yang mengular. Perjalanan masih panjang meskipun aku sudah keluar dari pesawat. Kini antrian di bagian imigrasi dan bea cukai menunggu. Di tanganku ada pasporku dan sebuah kartu kedatangan yang sudah aku isi di pesawat tadi. Saat mengisi, penuh ketegangan, takut salah dan takut dimarahi. Yang paling menyeramkan, kalau-kalau kartunya salah aku isi dan diminta merevisi. Kartu kedatangan memang bukan skripsi tetapi apapun bisa terjadi, pikirku.

Tidak seserem yang aku duga, aku terbebas dan diizinkan memasuki Sydney. Dalam hati aku berteriak girang “Australia, here I am”. Tentu saja tidak dengan logat Aussie yang malas dan terseret-seret. Betul, bicara dalam hatipun tentu ada logatnya. Kupandangi sekitar, koperku sudah terlihat berkeliling di conveyor belt, entah untuk keberapa kalinya. Kugamit pegangannya dan dalam sekejap aku sudah siap melanjutkan perjalan keluar dari bandara. Tentu saja harus melewati custom yang super ketat. Tidak boleh ada buah, tidak boleh ini tidak boleh itu. Singkat cerita, aku terbebas dengan mudah. Tentu saja. Tidak ada gunanya belajar cross culture understanding selama delapan minggu di IALF Jakarta jika aku masih belum paham apa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat datang ke Australia.

Aku melihat wajah-wajah yang sumringah penuh senyum menyambutku. Ternyata mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sudah belajar di University of New South Wales (UNSW) terlebih dahulu. Kini aku menjadi junior mereka, siap menjadi adik kelas yang baik. Mereka adalah orang-orag baik hati. Satu per satu menyalami kami dan ternyata lebih banyak penjemput dibandingkan yang dijemput. Orang-orang baik yang pintar itu merelakan dirinya menjadi penjemput kami. Tidak saja itu, mereka menemani kami di kendaraan yang membawa kami ke Sydney sambil membicarakan hal-hal menarik yang menambah semangat. Ada banyak nama yang kuingat dan tidak akan aku lupakan.

Aku diantar ke sebuah rumah tinggal. Aku dititipkan di sebuah keluarga Indonesia yang istrinya sedang sekolah di UNSW. Aku memang tidak siap sebelumnya dan tidak mendapatkan akomodasi sebelum berangkat ke Sydney. Untunglah para senior menyediakan semua fasilitas itu dengan kerelaan hati. Aku membayar tentu saja. Kami semua mendapat beasiswa yang sama, tak ada alasan bagi yang satu untuk menghamba secara finansial kepada yang lain.

Menjelang siang, kami diantar ke International Students Service alias ISS alias Kantor Urusan Internasional UNSW. Tempat itu surga bagi mahasiswa asing. Ada komputer untuk dipakai mahasiswa asing, terutama yang baru bergabung seperti aku. Ada penganan kecil yang tersedia untuk para mahasiswa asing yang baru, ada lembaran-lembaran informasi akomodasi yang tersedia, ada berbagai brosur kegiatan mahasiswa di UNSW, ada konsultan yang siap sedia memberikan informasi dan banyak lagi.

Di berbagai pojok kulihat petugas yang tidak pernah berhenti mengumbar senyum seraya memberi penjelasan kepada mahasiswa asing yang baru saja tiba. Aku menunggu giliranku, sambil mencoba mengirimkan email kepada teman dan sanak famili di Jogja ketika itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku mendapat giliran. Seorang perempuan muda yang ramah dan menarik hati menyapaku. “Good morning, thank you for waiting. How can I help you?”. Aku yang belum terbiasa mendengar Bahasa Inggris logat Australia sejenak tertegun, tidak begitu paham apa yang ditanyakan gadis itu. “Pardon me” ada frase yang paling sering aku ulang. Syukurlah, pada akhirnya semua baik-baik saja. Memulai dengan senyum, gadis itu mengakhiri juga dengan senyum. Professional dan hangat. Tiba-tiba aku merasa di rumah sendiri. Aman, nyaman dan sangat diperhatikan. Itulah kesan pertama tetang kantor urusan internasional UNSW pada pagi itu.

Kutengok di sekelilingku, ada yang sedang konsultasi perihal memperoleh akomodasi. Ada yang curhat karena kopornya lenyap di pesawat atau bandara, ada yang sedang diajari cara menggunakan perangkat lunak tertentu. Ada juga seorang gadis lain yang khusus berkeliling memberikan penganan kecil. Aku dilayani begitu rupa, membuatku merasa di atas angin seperti raja. Sentuhan pertama office of international affairs UNSW itu memberikan kesan mendalam. Sentuhan personal dalam konteks professional menjadi kunci yang menyentuh hati. Dalam sekajap, aku sudah merasa jatuh cinta pada kampus UNSW ini. Terkesima oleh layanan yang memanusiakan.

Yogyakarta, 14 Januari 2015
Aku menatap wajah perempuan itu. Air mukanya tenang, sorot mata birunya tajam tapi tak mengancam. Dia menatapku dan berkata “So, Pak Andi, thank you for making the time. We are so pleased to finally meet you. With your position as the Head of the Office of International Affairs at UGM, I am sure we can strengthen our relationship.

Sambil mengangguk mantap, kulirik lagi kartu nama berwarna kuning yang baru saja diserahkannya. Kartu nama itu tiba-tiba seakan berubah menjadi layar TV yang memutar ulang peristiwa lama. Berkelebat wajah-wajah para senior yang menjemputku di Bandara Sydney 11 tahun silam, tersungging senyum yang hangat para pelayan mahasiswa baru, tercium aroma nasi goreng halal di Taste of Thai, Randwick, dan terngiang logat Bahasa Inggris Yew Kong Tam, petinggi kantor urusan internasional , yang tak lazim. Kusimak dengan seksama, pada sisi kiri kartu nama itu terukir logo yang aku kenal baik dan dibawahnya bertuliskan singkatan yang tidak asing lagi: UNSW. “Pleasure is mine!” kataku mantap!

Tips Wawancara Beasiswa AAS 2015

Tiba waktunya untuk wawancara bagi yang lolos tahap seleksi beasiswa Australia Award Scholarship alias AAS tahap 1. Tips ini sudah pernah saya twit dan saya kumpulkan di sini agar lebih mudah diarsipkan. Selamat berjuang Kawan!

  1. Tidak ada jalan pintas tidak ada simsalabim dalam #WawancaraAAS. Intinya: PERSIAPAN yg matang dan mantap.
  2. Baca kembali dg seksama berkas aplikasi #BeasiswaAAS yg dulu dikirimkan, pahami dengan sangat baik untuk #WawancaraAAS
  3. Target: memahami (bila perlu menghafal) 100% jawaban yg pernah ditulis di formulir beasiswa. #WawancaraAAS
  4. Cari info lbh rinci ttg #BeasiswaAAS lewat website, alumni, @PPIAustralia, kenalan yg sdg kuliah di Australia #WawancaraAAS
  5. Info yg perlu dikuasai: sejarah beasiswa, tujuan, skema, besarnya allowance, fasilitas, dll #WawancaraAAS
  6. Kontak perhimpunann mahasiswa INA di Australia @PPIAustralia, tanya sebanyak2nya dengan sopan #WawancaraAAS
  7. Bagaimana cara kontak mhs INA di Aus? Lihat website ppi-australia.org, lihat twitternya dan FB pagenya #WawancaraAAS
  8. #WawancaraAAS bukanlah proses pengadilan, wawancara adalah proses penegasan. Mereka tahu Anda punya potensi besar.
  9. Kuasai rencana penelitian untuk #WawancaraAAS. Siapkan pemaparan dg bahasa yg mudah dimengerti. Pewawancara blm tentu ahli
  10. Kaitkan penelitian dg isu umum (KetahananPangan, ClimateChange, pemilu, kemiskinan, demokrasi, terorisme) #WawancaraAAS
  11. Saat #WawancaraAAS, sampaikan salam hangat, tatap mata orang ketika menyapa misal “good morning, how are you?” senyum wajar
  12. Jika dia bilang ‘thank u 4 coming’, jawab dg elegan sambil senyum “happy to be here” atau “my pleasure” #WawancaraAAS
  13. Saat ditanya, mainkan mimik wajar. Kombinasikan anggukan, gerakan alis dan senyum untuk menunjukkan antusiasme #WawancaraAAS
  14. Jangan bicara cepat. Yang penting adalah tertata, meskipun pelan. Lbh baik menjawab dg struktur 1, 2, 3 #WawancaraAAS
  15. Saat menjawab terkait riset, bagus jika bisa mengutip informasi spesifik seperti angka, tahun, nama orang #WawancaraAAS
  16. Coba kaitkan jawaban dg apa yg sudah/akan Anda lakukan “Based on my recent research..”, “Having observed..” #WawancaraAAS
  17. Jangan terpaku dg informasi spesifik/teknis, pastikan menggunakan bahasa umum yg mudah dimengerti #WawancaraAAS
  18. Pastikan Anda mengetahui peran riset Anda untuk Indonesia dan kaitannya dg negara yg dituju #WawancaraAAS
  19. Misal: riset ini penting untuk mengatasi masalah X di Ina & sejalan dengan Priority Dev Area Y oleh AusAID #WawancaraAAS
  20. Pastikan memiliki rencana yg cukup jelas tentang apa yg akan dilakukan di masa depan setelah sekolah #WawancaraAAS
  21. Jika ambil master by research atau PhD, pastikan punya rencana riset yg jelas, termasuk adanya fieldwork #WawancaraAAS
  22. Misal: Topiknya a, data yg diperlukan x dan y, saya akan fieldwork ke Ina melibatkan instansi p dan q #WawancaraAAS
  23. Tekankan jg pada rencana membangun jejaring internasional dan bagaimana memanfaatkannya setelah lulus #WawancaraAAS
  24. Jejaring dg teman sebangsa, teman kuliah internasional, dosen/supervisor, para ahli terkait, industri #WawancaraAAS
  25. Jejaring dibangun dg interaksi personal, kolaborasi penelitian, pertemuan ilmiah (konferensi), komunitas maya #WawancaraAAS
  26. Pastikan Anda tahu perbedaan belajar di LN dan di INA dan sudah melakukan persiapan untuk itu. #WawancaraAAS
  27. Belajar di Aus menuntut kemandirian tinggi. Pastikan Anda paham itu dan siap belajar dg supervisi minimal #WawancaraAAS
  28. Pastikan Anda tahu potensi kendala: bahasa, budaya, suasana akademik, iklim alam, dan persiapan mengatasinya #WawancaraAAS
  29. Tunjukkan kesan bahwa Anda sudah berusaha maksimal: baca buku, website, tanya @PPIAustralia, kontak Univ, dll #WawancaraAAS
  30. Siapkan pertanyaan, kalau2 diberi kesempatan. Sebaiknya tidak fokus pada benefit tetapi pengembangan diri. #WawancaraAAS
  31. Contoh pertanyaan: bagaimana peluang berinteraksi/kolaborasi dg penerima #BeasiswaAAS dari negara lain #WawancaraAAS
  32. Jangan tanya: berapa allowance, apakah bisa nabung, bisa kerja, boleh tetap stay di Aus setelah lulus #WawancaraAAS
  33. Siapkan prestasi yg relevan dg rencana penelitian. Menang lomba, nulis jurnal, nulis buku, konferensi dll #WawancaraAAS
  34. Tutup dengan ucapan terima kasih yg elegan dan sopan. Thank you very much, I really appreciate the opportunity #WawancaraAAS
  35. Artikel lengkap #WawancaraAAS http://tinyurl.com/cbomacv, http://tinyurl.com/787rld7 n http://tinyurl.com/q5vntzg
  36. Contoh prediksi pertanyaan dan jawaban #WawancaraAAS ada di http://tinyurl.com/pchu75k
  37. Kandidat PhD dan Master by Research perlu presentasi proposal saat #WawancaraAAS. Lihat http://tinyurl.com/ox86hxt
  38. Masih bingung apa yang harus dilakukan setelah lolos tahap 1 AAS? Lihat http://tinyurl.com/nzgth67 #WawancaraAAS
  39. Tulisan saya mengantarkan Asti meraih #beasiswaAAS stlh gagal beberapa kali http://tinyurl.com/qz2rxkn #WawancaraAAS
  40. Sekian tips terkait #WawancaraAAS. Silakan RT, semoga bermanfaat bagi yang wawancara bulan depan. Tanya? Mention aja 🙂

Langkah Penting Meraih Beasiswa Luar Negeri

Anda mungkin satu dari sekian banyak orang yang bermimpi sekolah di negara maju tetapi tidak memiliki dukungan finansial yang memadai. Impian Anda tidak harus kandas karena ada beasiswa. Beasiswa ini umumnya untuk S2 atau S3 meskipun ada juga untuk S1. Tulisan ini tentu saja bukan satu-satunya pedoman untuk meraih beasiswa luar negeri. Rajin membaca sebanyak mungkin sumber informasi adalah kunci keberhasilan. Silakan simak diagram berikut dan penjelasannya.

Langka meraih pertama
Langka meraih beasiswa luar negeri

Continue reading “Langkah Penting Meraih Beasiswa Luar Negeri”

Menemani Pasangan Sekolah di Luar Negeri

Ada banyak orang yang bertanya terkait keikutsertaannya untuk berangkat ke luar negeri bersama pasangannya yang sekolah S2 atau S3. Pertanyaan itu umumnya berisi kebingungan dan keraguan apakah itu merupakan keputusan tepat. Saya bisa memahami keraguan ini, terutama jika yang sekolah adalah sang istri dan suaminya harus menemani. Meski demikian, kegalauan serupa juga bisa saja terjadi untuk kasus sebaliknya. Berikut ini hal-hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan:

Continue reading “Menemani Pasangan Sekolah di Luar Negeri”

Tips Wawancara: Membangun Empati

dari: brantar.blogspot.com

Ada seorang perempuan muda masuk ruangan dan saya sudah menunggu dengan siap. Saya bertugas mewawancarai gadis itu untuk seleksi beasiswa di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Saya mengamati dia berjalan agak cepat ke arah saya dan langsung duduk di sebuah kursi, tepat di depan meja. Kami berhadap-hadapan dan siap melakukan peran masing-masing.

Berbeda dengan peserta wawancara lainnya, perempuan muda ini memberi kesan yang tidak biasa. Jika yang lainnya cenderung hormat, sopan dan sangat menjaga sikap, perempuan ini terkesan agoran. Ada hal yang melampaui percaya diri sehingga yang muncul adalah kesombongan. Setidaknya itu kesan yang saya tangkap. Cara dia memandang, cara dia tersenyum dan caranya duduk menggambarkan bahwa dengan sengaja dia memancarkan energi yang besar dan kuat bahwa dia ada di sana dengan niat untuk mengalahkan. Continue reading “Tips Wawancara: Membangun Empati”

Di sebuah toilet di Perancis

Brest, Prancis, 4 Juni 2o14,

Dingin menyengat meskipun bukan winter. Kota Brest sudah sepi karena malam telah larut. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di depan hotel. Saya berdiri gelisah, menunggu penjemput yang tak kunjung datang. Saya lirik jam tangan, hampir jam 12 malam. Berdiri sendiri di depan sebuah hotel yang sepi di Kota Brest saat subuh menjelang dan dingin yang menyengat bukan hal yang saya cita citakan. Apa daya, rencana tidak semulus yang saya kira. Penjemput tidak kunjung datang. Roaming HP tidak saya aktifkan, sinyal wifi tidak ada. Lengkap.

Di tengah kekalutan itu saya merasa ada gangguan pada perut. Rupanya hidangan makan malam yang baru saja saya nikmati bersama delegasi Conferensi CARIS 2O14 di Oceanopilis mulai menunjukkan reasinya. Perut kampung, tak selalu mudah menerima hidangan ala barat. Saya tersiksa dan harus menemukan toilet. Tanpa berpikir lama saya buka pintu hotel yang terbuat dari kaca besar. Di dalamnya tidak ada banyak orang karena sudah malam. Bergegas saya mencari toilet di bangunan yang sudah cukup tua itu. Tak lama saya menemukannya dan segera masuk untuk menunaikan segala yang harus ditunaikan.

Gelisah tak kunjung pergi, sepi mencekam dan saya berada sekitar sepuluh ribu kilometer dari tanah air. Sambil berpikir saya diam tak bergerak sedikitpun, terpengaruh oleh suasana gedung yang mencekam dan sepi. Saya mereka reka rencana, memutar otak mencari solusi dalam keterdiaman. Tiba tiba lampu mati. Gelap dan saya  masih di ruangan kecil itu. Terjebak. Bersambung di Buku Anak Dusun Keliling Dunia 2.O

Sepuluh Tips Jitu Pasti Lolos Beasiswa Luar Negeri

Saya menerima komentar atau email setiap hari terkait beasiswa luar negeri. Secara umum mereka bertanya tips untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Hasil dari berinteraksi dengan banyak orang itu, saya sudah punya sepuluh tips jitu yang menjamin Anda mendapatkan beasiswa luar negeri. Silakan disimak ya.

buku

  1. Anda tidak perlu pintar, tidak perlu IP tinggi, tidak perlu aktif organisasi, tidak perlu kreatif, karena basiswa luar negeri itu untuk orang orang biasa yang tidak istimewa. Semua pendaftar yang jumlahnya ribuan itu pasti diterima karena negara pemberi beasiswa tidak punya perhitungan strategis soal jumlah dana beasiswa yang mereka keluarkan. Jangan khawatir.
  2. Anda tidak perlu pintar berbahasa asing karena di luar negeri Anda akan menggunakan Bahasa Indonesia. Semua tugas makalah yang menumpuk, presentasi yang tiada henti dan pergaulan sehari hari menggunakan Bahasa Indonesia. Belanja di toko ikan juga menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak perlu sibuk belajar Bahasa Inggris. Lebih baik Anda gunakan uang saku untuk beli HP baru, bukan kursus Bahasa Inggris, karena itu jauh lebih penting.
  3. Anda tidak perlu bisa menulis yang baik. Cukup tekun saja menulis di Twitter atau Facebook karena persyaratan essay untuk bisa diterima di perguruan tinggi luar negeri itu cukup 14O karakter saja kok. Tidak perlu belajar menulis yang komprehensif hingga ribuan kata dan mengartikulasikan dengan baik gagasan Anda tetang hal hal baru. Kadang cukup dengan hashtag #eaaa atau twit nyinyir, essay Anda akan diterima dan dianggap luar biasa.
  4. Anda tidak perlu mencari sendiri tentang jurusan dan universitas yang tepat karena informasi itu akan datang sendiri ke inbox Facebook Anda lengkap dengan persyaratan masuk dan rincian proses seleksi. Kadang kadang Anda cukup mention seseorang di twitter lalu tanya persyaratan masuk sebuah perguruan tinggi maka orang itu akan berbaik hati menunda pekerjaannya lalu begadang berjam jam untuk membantu Anda mengumpulkan informasi dengan membaca berlembar lembar petunjuk di website resmi sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Tidak usah khawatir, pekerjaan dia memang seperti itu. Anda tinggal menikmati saja. Tidak usah repot repot.
  5. Ada tidak perlu belajar membuat CV yang bagus dan kreatif karena format CV bisa diperoleh dengan mudah di internet dan Anda tinggal tiru saja dengan mengganti nama. Petugas seleksi beasiswa tidak akan tahu kalau anda menyontek format dan model CV karena mereka tidak paham caranya menggunakan Google untuk mengecek keberadaan dokumen di internet. Anda juga tidak perlu berprestasi dalam hidup karena CV itu bisa dibuat buat seolah olah Anda berprestasi. Tidak akan ada yang tahu, tidak usah terlalu peduli.
  6. Tidak usah membeli buku untuk latihan TOEFL dan IELTS karena Bahasa Inggris Anda bisa tiba tiba bagus hanya dengan menghabiskan waktu bermain game online Berbahasa Inggris. Semua soal TOEFL dan IELTS nanti terkait dengan game online, tidak perlu belajar khusus. Listening dan Reading juga gampang. Tidak ada bacaan panjang yang perlu pemahaman komprehensif, semuanya seperti twit yang pendek pendek dan random.
  7. Beasiswa luar ngeri itu sama dengan uang gratis untuk Anda dan artinya Anda tidak akan perlu keluar uang. Jadi tidak usah menabung. Kursus TOEFL tidak perlu, biaya menerjemahkan dokumen tidak perlu, biaya transportasi untuk mengurus administrasi tidak perlu, pengiriman berkas juga tidak perlu biaya sama sekali. Sebaiknya gunakan uang untuk membeli pulsa karena tanpa itu Anda tidak bisa upload foto di Path. Tidak ada yang lebih penting dari itu.
  8. Jangan habiskan waktu membaca buku petunjuk beasiswa yang tebalnya puluhan atau ratusan halaman. Jika bingung tentang sesuatu, langsung saja email seseorang atau tanya di Twitter. Biarkan orang yang Anda tanya itu yang pusing membaca buku yang tebal itu dan sebentar kemudian dia akan berbaik hati meringkasnya untuk Anda dalam 14O karakter. Tentu saja orang itu akan melakukannya dengan senang hati karena dia pengangguran dan tidak punya kesibukan lain. Dia bahkan bersyukur mendapat kepercayaan Anda.
  9. Usahakan lebih percaya pada orang dibandingkan website atau buku informasi resmi. Jadi silakan ajukan pertanyaan kepada orang lain seperti “syarat TOEFL berapa”, “apakah ijazah perlu dilegalisir”, “formulir didapat di mana”, “berkas dikirim ke mana”, “dokumen yang dibutuhkan apa saja”. Website resmi pasti tidak memuat informasi seperti ini karena ini termasuk informasi rahasia yang tidak boleh ditulis di website resmi. Tanyakan kepada orang yang memiliki kemampuan seperti dukun.
  10. Percayalah pada informasi tentang beasiswa yang tertulis di blog atau di forum forum diskusi atau broadcast BBM karena informasi itu pasti benar. Anda tidak perlu melakukan verifikasi atau pengecekan dengan membaca website resmi atau menelpon ke penyelenggara beasiswa.

Selamat menerapkan sepuluh tips di atas dan saya jamin Anda akan mendapatkan beasiswa luar negeri besok sore. Percayalah.

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂