Prediksi Pertanyaan dan Jawaban Wawancara JST Beasiswa ADS 2013

Kemungkinan besar tulisan yang Anda cari bukan yang sedang Anda baca sekarang. Jika demikian, maafkan karena mungkin Anda kecewa. Sebelumnya saya memang membuat tulisan tentang prediksi pertanyaan dalam wawacara beasiswa AAS (atau yang dulu dikenal dengan  nama ADS). Tidak hanya prediksi pertanyaan, saya juga mencoba membuat prediksi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Tentu saja itu bukan ‘kunci jawaban’ tetapi merupakan pandangan saya pribadi yang belum tentu benar. Saya juga telah sampaikan di tulisan tersebut.

Seiring perkembangan waktu, saya mendapat respon yang umumnya positif dan berterima kasih terhadap tulisan itu. Saya gembira bisa membantu. Meski demikian, suatu hari saya mendapat email dari seseorang yang yang posisinya terkait AAS Indonesia. Beliau menyampaikan pandangan berbeda. Intinya, memberikan kisi-kisi pertanyaan wawancara adalah suatu hal yang bisa dilakukan untuk memantik semangat perjuangan tetapi menyediakan jawaban atas pertanyan-pertanyaan itu bisa saja disalahartikan. Lebih lanjut dikatakan bahwa apa yang saya lakukan justru bisa menguatkan kebiasan belajar yang berbasiskan hafalan. Ini tentunya tidak baik bagi proses seleksi AAS dan bukan itu pula tujuan saya membuat tulisan itu.

Setelah mempertimbangkan dengan baik dan diskusi dengan beberapa pihak yang saya anggap paham, saya memutuskan untuk menarik tulisan itu dari blog ini. Meski demikian, semangat saya untuk membantu teman-teman pejuang beasiswa AAS tidak pernah surut. Kita bisa diskusi lebih lanjut dalam media-media berbeda online maupun offline. Saya sendiri telah kembali ke Indonesia dan tinggal di Jogja sehingga mungkin lebih banyak kesempatan untuk bertatap muka. Saya yakin ada banyak hal yang bisa didiskusikan untuk saling membantu. Semoga ditariknya tulisan ini juga tidak menyurutkan semangat teman-teman yang sedang berjuang.

Silakan tetap baca tulisan lain yg bermanfaat.

  1. Tips presentasi proposal untuk wawancara beasiswa ADS
  2. Tips wawancara beasiswa
  3. Tips wawancara Beasiswa ADS
  4. Prediksi pertanyaan Wawancara ADS
  5. Pengalaman wawancara Beasiswa ALA

Mengingat 2012

2012

Ada satu kegagalan utama saya di tahun 2012 yaitu belum menyelesaikan sekolah S3 saya, tidak sesuai dengan yang seharusnya saya lakukan. Kata orang bijaksana, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada kemauan biasanya banyak alasan. Maka saya bisa menyampaikan 1001 alasan untuk membenarkan mengapa saya harus menunda penyelesaian studi S3 saya hingga tahun 2013 nanti. Meski demikian, di balik semua itu ada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah: semua itu terjadi karena kelemahan saya sendiri. Maka resolusi paling utama saya untuk tahun 2013 adalah menyelesaikan S3. Semoga alam semesta bersekongkol membantu saya mewujudkan resolusi ini.

Dengan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan motivasi, saya ingin mengenang sejenak apa yang terjadi tahun 2012 lalu. Dari berbagai kegagalan, ada juga keberhasilan. Dari sekian banyak hal yang tidak membanggakan, ada hal-hal yang menumbuhkan semangat. Tahun 2012 saya lewati dengan suka dan duka, seperti halnya tahun-tahun lainnya.

Continue reading “Mengingat 2012”

Tips presentasi proposal untuk Wawancara Beasiswa ADS

ialf
Bersama penerima ADS di IALDF Jakarta – September 2012

Mulai tahun 2013, proses wawancara kandidat beasiswa ADS untuk PhD berbeda dengan sebelumnya. Dugaan saya, hal ini juga berlaku sama bagi kandidat Master by Research (saya belum dapat informasi resminya). Kali ini akan ada presentasi proposal selama 10 menit. Semua kandidat PhD akan diundang ke Jakarta dengan dana dari ADS untuk memresentasikan proposal penelitiannya. Dugaan saya, ini dilakukan untuk memastikan bahwa kandidat terpilih telah benar-benar siap dengan penelitiannya. Meski demikian, tidak perlu terlalu khawatir jika proposal penelitian Anda belum begitu jelas arah dan ujungnya. Einstein pernah berkelakar “if you know what you are doing, then it is not research.” Katanya, jika seseorang tahu persis apa yang dilakukan, ke mana arahnya dan apa hasilnya, maka itu bukanlah sebuah penelitian. Penelitian memang mengandung unsur ketidakpastian di awal. Ada misteri di situ. Yang terpenting adalah seorang peneliti cukup memahami dan menyiapkan strategi untuk mengungkap misteri itu.

Continue reading “Tips presentasi proposal untuk Wawancara Beasiswa ADS”

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 320,000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 6 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

Click here to see the complete report.

Ucapan Natal yang salah alamat?

http://pujo.web.id/

Sore tadi, saya menerima telepon dari seorang sahabat baik. Kami berbicara banyak hal yang penting dan tidak begitu penting. Selalu menyenangan berbicara dengan sahabat baik, apapun topiknya. Di ujung percakapan dia mengucapan “Selamat Natal” dengan sangat ringan tanpa beban. Sambil tertawa renyah sayapun membalas tidak kalah santainya “Selamat Natal juga”. Jika tidak dipikir serius, ucapan ini biasa saja. Dia jadi tidak biasa karena yang mengucapkan adalah seorag Muslim dan diucapan kepada seorang pemeluk Hindu. Tidak satupun dari kami merayakan Natal dalam konteks agama. Meski demikian kami tentu saja menikmati libur natal dan akhir tahun karena sama-sama berada di Australia.

Continue reading “Ucapan Natal yang salah alamat?”

Selamat Hari Ibu

meme
Saya dan ibu (1995)

Dalam sebuah lokakarya kepemimpinan yang diselenggarakan di Kangaroo Valley, New South Wales, Australia setiap peserta diminta mempresentasikan seorang pemimpin yang menginspirasi hidupnya. Lokakarya itu diikuti oleh pemimpin dan calon pemimpin di Asia Pasifik. Kala itu pertengahan 2009, Obama sedang naik daun. Ada pikiran untuk mempresentasikan Obama karena memang menginspirasi hidup saya. Meski begitu saya urungkan karena saya duga akan ada terlalu banyak orang yang menjadikannya idola. Saya berpikir lama dan akhirnya menemukan tokoh yang saya yakin tepat mewakili seorang pemimpin yang menginspirasi hidup saya.

Di depan para peserta dari Asia Pasifik itu saya berdiri. Saya memegang sebuah poster ukuran sedang dengan gambar seorang perempuan berbusana sederhana. Dengan menatap para hadirin saya memulai presentasi itu dalam Bahasa Inggris.

“Pemimpin ini adalah seorang perempuan. Perempuan ini bukanlah siapa-siapa. Dia dilahirkan di sebuah tempat di pelosok dunia yang mungkin tak ketetahui oleh peradaban. Dia bukanlah seorang politikus, bukan pula tokoh masyarakat. Dia juga tidak terkenal. Dia adalah perempuan biasa tetapi dia menjadi batu karang yang menjaga ketegaran keluarganya. Dia adalah perempuan yang perkasa. Dia kuat dalam makna sebenarnya. Di tahun ‘70an dan awal 80an, dia bekerja di sebuah penambangan batu padas tradisional, di sebuah tempat yang mungkin bahkan tidak terlihat pada Google Earth edisi premium.

Continue reading “Selamat Hari Ibu”

New York 2012: Kebaikan-kebaikan kecil

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Saya sedang berada di antrian panjang imigrasi saat akan meninggalkan Sydney menuju LA dalam perjalanan ke New York. Antriannya sangat panjang, lebih panjang dari yang pernah saya lihat. Di depan saya terlihat puluhan anak muda berseragam dengan tulisan “Las Vegas Tour 2012”. Rupanya beberapa anak sekolah Australia akan bersenang-senang di Las Vegas. Ini yang membuat antrian jadi lebih panjang.

Continue reading “New York 2012: Kebaikan-kebaikan kecil”

New York 2012: Pertemuan Alumni UN Nippon Foundation Fellowship

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The Alumni

Agenda utama kunjungan saya ke New York adalah untuk menghadiri pertemuan alumni UN-Nippon Foundation Felloswhip yang dilangsungkan bersamaan dengan peringatan 30 tahun UNCLOS. Saya diundang sebagai mantan representatif (presiden) alumni dan sebagai pengelola media jejaring terutama website alumni.

Continue reading “New York 2012: Pertemuan Alumni UN Nippon Foundation Fellowship”

New York 2012: Tiga Dekade UNCLOS

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Sidang Umum PBB
Sidang Umum PBB

Jam 9 pagi tanggal 10 Desember 2012 saya sudah berada di depan Gedung 2 UN Plaza di 44th Street di Manhattan. Di Gedung inilah berkantor United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (DOALOS). Lima tahun lalu saya berkantor di gedung ini selama tiga bulan saat menyelesaikan penelitian tentang landas kontinen Indonesia. Kini saya kembali sebagai alumni. Rasanya luar biasa.

Beberapa saat kemudian delegasi dari berbagai negara berdatangan. Saya melihat Andrei, seorang alumni lain dari Brazil, mendekat. “You must be Andi!” katanya dan saya sambut dengan ramah dengan mengataan “I am sure you are Andrei!” Beberapa alumni lain juga datang satu per satu termasuk petinggi DOALOS dan beberapa professor dari berbagai institusi di Amerika dan Eropa. Alumni UN-Nippon Foundation Fellowship yang diundang untuk menghadiri peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 di New York adalah Andrei (Brazil), Abbas (Djibouti), Sampan (Thailand), Andi (Indonesia), Muhiuddin (Bangladesh), Mustaffa (Oman), Anama (Samoa), Me Chinho (Sao Tome and Principe), Lilian (Guatemala), Ansy (India), Gloria (Tanzania), dan Cecilia (Chile). Sementara itu di New York sedang ada beberapa orang yang sedang melakukan kegiatan fellowship seperti yang saya lakukan lima tahun lalu. Mereka adalah Joy (Fiji), Cecilia (Brazil), Nicole (Barbados), Jean (Madagascar) Godwin (Ghana), Fiona (Solomon Island), Senia (Indonesia) dan Mahdi (Comoros).

Jam 9.50 kami segera bergerak dari 2 UN Plaza menuju UN Secretariat yang ada di 1st Avenue tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Dingin tidak terasa karena kehangatan mulai tercipta dari percakapan yang sangat akrab. Saya bertemu lagi dengan beberapa teman yang sudah saya temui di berbagai tempat sebelumnya sehingga percakapan jadi hidup. Memasuki Sekretariat PBB bukan perkara mudah, pemeriksaan sangat ketat. Kami melewati sebuah bangunan khusus untuk pemeriksaan barang bawaan layaknya masuk pesawat. Laptop dikeluarkan, ikat pinggang dilepas, segala elektronik lain dan logam dikeluarkan dari tempatnya, dan sepatupun dilepas jika perlu. Setelah itu kami memasuki ruang Sidang Umum PBB guna memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30.

Ruangan begitu besar dan berwibawa, delegasi berbagai negara telah menempati meja masing-masing dengan tanda delegasi negara. Kami para alumni duduk di tribun atas sehingga leluasa menikmati semuanya. Tepat di depan saya adalah panggung dan podium dengan latar belakang logo PBB di belakangnya yang terpampang besar. Suasana begitu berwibawa, sesuatu yang sudah saya nikmati lima tahun lalu tetapi baru kali ini saya perhatikan dengan seksama. Sorot lampu yang sedemikian rupa menciptakan suasana yang serius dan anggun di ruangan itu, semua orang hening. Sementara itu kami para alumni yang duduk di tribun masih asik bercakap-cakap bernostalgia.

Peringatanpun dibuka oleh pembawa acara yang kemudian menyerahkan waktu kepada Sekretaris Jendral PBB, Ban-Ki Moon untuk memberikan pidato. Sejujurnya, tidak mudah mendengarkan pidato inspiratif dalam acara-acara formal PBB semacam ini. Waktunya singkat, kata-katanya formal dan acaranya telah diatur dengan kaku. Selain itu, harus diakui, Ban-Ki Moon bukanlah seorang orator ulung. Dia adalah pemimpin yang baik tanpa kualitas orasi yang menggetarkan hati. Ban-Ki Moon bukan Obama, itu pasti. Isi pidatonya tidak begitu baru tetapi jelas tegas menguatkan harapannya akan kepedulian terhadap isu kelautan di masa depan serta apresiasinya terhadap UNCLOS.

Tommy Koh berbicara setelah Ban-Ki Moon. Pidatonya lebih inspiratif. Tommy adalah presiden konferensi yang mewujudkan UNCLOS 30 tahun silam. Lelaki inilah yang menyebut UNCLOS dengan istilah “Constitution of the Oceans” yang menandakan bahwa konvensi ini adalah aturan hukum paling komprehensif yang mengatur isu kelautan dan hukum laut. Salah satu yang menarik adalah dia mendorong secara tegas agar Amerika Serikat sebagai tuan rumah peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 segera meratifikasi UNCLOS. Seperti yang diketahui banyak orang, Amerika sampai asat ini belum menjadikan UNCLOS sebagai bagian dari hukum nasionalnya karena belum melakukan ratifikasi. Di kesempatan lain, ajakan Tommy Koh ini disambut oleh delegasi dari Amerika dengan mengatakan bahwa Presiden Obama da Sekretaris Clinton mendukung ratifikasi tersebut dan kini Amerika sedang berproses. Meski demikian, semua orang tahu bahwa proses itu tentu tidak akan berjalan cepat.

Berbagai delegasi dari Asia, Pasifik, Afrika, Latin Amerika, Eropa dan lain-lain berbicara satu per satu. Semua mengungkapkan keberhasilan UNCLOS dalam tiga dekade ini dan harapannya ke depan. Selain memuji UNCLOS, masing-masing menyampaian apresiasi terhadap tokoh-tokoh yang telah menyumbangkan pemikiran, waktu dan tenaganya untuk mewujudkan UNCLOS menjadi seperti sekarang.

Salah satu yang menjadi bahasan menarik adalah penambangan di laut dalam atau deep seabed mining yang umumnya berada di luar kewenangan (yurisdiksi) suatu negara. Penambangan di lokasi seperti ini dimungkinkan dengan pengawasan dari International Seabed Authority (ISA). Intinya, penambangan semacam ini bisa dilakukan oleh suatu negara dengan konsekuensi harus berbagi hasil sedemikian rupa yang kemudian didistribusikan kepada negara-negara di dunia, termasuk yang tidak memiliki pantai/laut (land-locked states). Penambangan di laut dalam ini memerlukan perhatian yang lebih karena kini teknologi penambangan sudah memungkinkan aktivitas semakin jauh dari daratan.

Sementara itu saya menyimak dengan takzim. Apa yang dikatakan oleh para pembicara itu tentu tidak lebih hebat dari apa yang bisa dibaca di buku dan jurnal tentang UNCLOS tetapi menjadi istimewa karena semua itu disampaikan langsung. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan Ban-Ki Moon atau Tommy Koh sebelumnya meskipun sudah sangat mengenalnya dari media. Peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 itu menjadi semacam wadah bertemunya para pendekar senior seperti Tommy Koh dengan anak-anak bawang seperti saya. Jika generasi memang berganti maka para dewa itu tetap harus digantikan kelak. Para muda, mau tidak mau, siap tidak siap, harus menyandang peran itu suatu saat nanti. Sayapun melihat kawan-kawan saya sesama alumni UN-Nippon Foundation Fellowship dari berbagai benua yang terkesima menyimak. Mungkin dalam benak mereka ada kelebat pemikiran yang sama bahwa suatu saat mereka harus siap meneruskan tongkat estafet idealisme para penjaga samudera itu. Tiga dekade yang telah dilalui dengan baik adalah masa penting tetapi tantangan ke depan tentu jauh lebih penting. Selamat ulang tahun UNCLOS ke-30.

New York 2012: Hingar bingar Manhattan

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Tanggal 10 Desembe 2012 pukul 8.30, saya telah memasuki Grand Central Station di 42th Street New York. Pertama kali saya terkesan dengan stasiun yang besar dan megah ini adalah ketika nonton Madagascar saat berada di Sydney. Petualangan Alex, Marty, Gloria dan Melman yang melarikan diri dari Central Park Zoo mengenalkan saya pada Grand Central Station yang begitu khas. Desainnya yang mewah dan multifungsi dan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat stasiun ini hidup lebih dari sekedar tempat singgah. Lima tahun lalu saya memasuki stasiun ini dan saya takjub. Kali ini saya merasakan semangat yang sama. Semangat yang hidup dan bergairah. Gerakan orang yang cepat, suara sepatu yang bertalu dan cahaya yang membias sedemikian rupa menghadirkan semangat yang gemuruh.

Saya sempatkan menikmati suasana itu, menikmati gerakan orang yang begitu liar dan bergairah serta suara-suara yang beradu. Sementara itu, musisi jalanan menunjukkan kebolehannya. Di bagian pusat stasiun nampak ada tempat informasi dan loket-loket penjualan tiket. Jam itu masih sama. Sama dengan yang dirusak oleh Melman di film Madagascar. Cahaya yang tidak terlalu cerah menghadirkan suasana yang temaram tetapi cukup terang untuk menuntun pergerakan orang-orang yang tergesa.

Saya keluar dari Grand Central Station dan menghirup udara Manhattan yang hidup dan bergetar. Semua orang mengenakan baju tebal, sebagian besar memakai jubah panjang hitam karena dingin. Semua orang bergerak cepat dan tergesa. Di jalanan nampak mobil bergerak, bus melaju dan taxi kuning bertebaran. Dari lubang-lubang di tengah jalan mengepul asap putih tebal dari mesin pemanas yang menghangatkan musim dingin. Klakson terdengar sekali sekali menambah riuh suasana. Di depan stasiun terdengar teriakan orang-orang menjajakan koran atau bulletin yang dibagikan gratis kepada pejalan kaki. Saya melihat satu per satu pejelan kaki menggamit pemberian itu lalu mulai membaca atau memasukkannya ke dalam tas untuk dibaca di lain waktu. Ratusan orang itu berhamburan menyusuri Lexington Avenue yang melintas di sisi timur Grand Central Station. Mereka bergerak ke berbagai arah menuju kantor masing-masing. Semua cepat, semua bergegas.

Manhattan seperti pulau sendiri di New York. Dia dipisahkan oleh Hudson River dengan Queens dan Brooklyn di sebelah barat dan baratdaya. Di sebelah timurlautnya terdapat The Bronx dan Yonkers di sebelah utaranya. Di sebelah baratnya adalah Newark, New Jersey yang sudah merupakan negara bagian lain. Jika Anda belum pernah ke New York dan membayangkan New York adalah Gotham City di film Batman atau ribuan gedung tinggi tempat Spiderman bergelantungan maka itu adalah Manhattan. Manhattan adalah sebuah borough di New York.

Rancangan Kota Manhattan sangat rapi berbentuk grid yang teratur dengan keseluruhan kota yang memanjang dari utara ke selatan. Jalan-jalan yang berarah timur-barat disebut street sedangkan yang berarah utara-selatan disebut avenue. Nama jalannyapun sangat mudah diingat karena menggunakan nomor. Nama jalannya adalah 1st street, 2nd street, 3rd street, dan seterusnya yang membesar dari selatan ke utara. Begitu pula dengan avenue yang diberi nama 1st avenue, 2nd avenue, 3rd avenue yang membersar dari timur ke barat. Maka dari itu alamat sebuah gedung seperti gedung 2 UN Plaza adalah di 44th Street diantara 1st dan 2nd Avenue. Ini artinya gedung ini berada di sepanjag 44th Street di sisi timur kota Manhattan. Berbeda dengan street, penamaan avenue tidak hanya dengan angka. Ada juga yang bernama Lexington Avenue, Madison, Park dll. Antara 3rd Avenue dan 5th Avenue, misalnya, ada Lexington, Park dan Madison Avenue. Secara umum, mencari alamat di Manhattan sangatlah mudah.

Menyusuri jalan-jalan di Manhattan seperti masuk belantara pencakar langit. Jalanan terintimidasi oleh deretan gedung tinggi yang membuatnya jadi terkesan sempit. Di gedung-gedung itulah Spiderman, tokoh superhero fiktif, bergelantungan dan berlompatan, seperti juga Batman dan Robin yang menyelamatkan warga yang teraniaya penjahat. Jika berkunjung ke Times Square maka gemerlap Manhattan akan nampak jelas. Lampu berkelip 24 jam sehari, berbagai layar raksasa menampilkan tontonan yang berkelebat-kelebat. Di Times Square inilah berbagai merek dan produk berlomba mempertontonkan diri. Disney store yang ramai, Microsoft yang canggih, Apple yang mentereng, Toys R us yang riuh rendah, semuanya berpadu jadi satu. Di jalanan terlihat orang berlalu lalang tanpa henti. Bus-bus pariwisata berderet membawa berpuluh-puluh pengunjung dan wisatawan tak henti-hentinya mengabadikan gambar menambah kilatan cahaya di Times Square yang terang benderang.

Di Times Square yang tidak jauh dari Grand Central Station, bisa dijumpai banyak tokoh Disney yang melakukan atraksi di jalan. Mereka dengan cekatan menggoda para pengunjung dengan tingkah polahnya yang menggemaskan. Di sudut lain ada bus sekolah seperti pada film Spiderman yang melintas membawa anak-anak sekolah lalu tiba-tiba ada seseorang berkostum Spiderman melompat merangkak di dinding bus itu lalu naik ke atasnya. Semua seperti sungguhan dan para pengunjung berteriak histeris.

Saat menyusuri 44th Street menuju Gedung 2 UN Plaza tempat kami akan berkumpul untuk pertama kali, saya melihat kerumunan orang dari kejauhan. Saya lihat berbelas kamera dan belasan pekerja lainnya sibuk mengatur lalu lintas orang. Saya duga ini adalah sebuah proses syuting, entahlah untuk apa. Sayapun melaju tidak begitu peduli menerobos kerumunan itu. Dingin yang mencekam membuat saya tidak sempat memperhatikan terlalu lama. Saat melewati beberapa orang yang sibuk menyiapan syuting, tiba-tiba saya melihat seseorang yang sepertinya pernah saya lihat. Tubuh lelai itu tinggi dan wajahnya begitu akrab di mata saya tetapi saya tidak begitu yakin pernah bertemu orang ini. Saya melewatinya dengan penuh rasa penasaran, dia sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang duduk di deretan kursi di pinggi 44th Street. Tiba-tiba saja saya ingat, orang itu adalah Vince Vaughn, salah satu aktor Hollywood terkemuka. Saya segera menghentikan langkah mengambil kamera dan membidik wajahnya dari jauh. Sesaat kemudian datang seorang perempuan yang rupanya bekerja sebagai seorang petugas keamanan untuk proses syuting itu “I am sorry sir, but you are not allowed to take any picture.” Sayapun meringis, mengangkat tangan pertanda penerima larangan itu. Tapi dia tidak tahu, beberapa fotonya telah saya abadikan di kamera saya. Hidup di Manhattan memang seperti menjadi bagian dari film-film yang kita saksikan di bioskop tanah air.

Vince Vaughn