Bapak dan Ibu saya tidak munya banyak pilihan dalam memperlakukan dan memberi fasilitas pada anaknya. Mereka hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar di masanya sehingga tidak punya ‘network’ yang kuat. Sahabat karibnya adalah Nang Koplar tukang angon bebek, Nang Kocong petani penggarap yang tak pernah sekolah, Men Sungkrug, tukang munuh sisa panen padi dan beberapa orang lain yang profilnya tak berbeda.
Ketika saya punya cita-cita sekolah di SMA 3 Denpasar, salah satu sekolah terbaik di Bali, Bapak Ibu saya tidak bisa membantu. Saya bahkan tidak pernah diantar ke sekolah karena jika beliau mengantar saya maka dipastikan beliau akan menjadi beban tambahan. Akan ada dua orang yang tersesat. Beliau tidak paham bahwa orang desa di Kecamatan Marga di Tabanan harus menjalani proses pindah rayon dulu untuk bisa bersekolah di Denpasar. Beliau tidak tahu menahu, apalgi bisa membantu. Bapak dan Ibu saya aman sentausa hidupnya karena tak pernah khawatir akan saya. Beliau tidak tahu rumitnya administrasi bersekolah. Kata administrasipun pastilah asing di telinganya, bahkan sampai hari ini.
Istilah “tetangga” dalam pertanyaan ini adalah negara yang dengannya perlu disepakati garis batas darat atau laut. Malaysia, Papua Nugini dan Timor Leste adalah tiga negara yang berbatasan darat dengan Indonesia. Tentu saja dengan ketiganya Indonesia juga perlu berbagi laut. Sementara itu tujuh negara lain yang hanya berbatasan laut dengan Indonesia adalah India, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, dan Australia. Secara formal, Indonesia mengakui sepuluh tetangga.
Tetangga di darat jelas urusannya. Bagaimana dengan tetangga di laut? Hal pertama adalah menentukan lokasi daratan suatu negara dan hak daratan tersebut atas laut. Menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), sebuah negara berhak atas laut territorial (12 mil laut), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (ZEE, 200 mil laut) dan landas kontinen (hingga 350 mil laut atau lebih) yang diukur dari garis pangkal/pantai.
Pengantar
Merespon gonjang-ganjing di Laut Tiongkok Selatan (LTS), terutama terkait penangkapan ikan oleh nelayan Tiongkok di perairan dekat Kepulauan Natuna, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir di Natuna. Beliau dengan yakin memimpin rapat terbatas di kapal perang Imam Bonjol. Banyak spekulasi bermunculan soal ini tetapi pesan yang beliau kirim sangat jelas. Kedaulatan dan hak berdaulat NKRI adalah perkara serius, perkara nomor satu. Lepas dari dukungan saya terhadap langkah presiden itu, saya rasa masih sangat banyak yang perlu kita pahami soal silang sengkarut LTS. Tulisan ini adalah kontribusi kecil, bukan untuk menyelesaikan keruwetan itu tetapi sekedar mengurai semoga menghadirkan pemahaman yang lebih jernih.
Tulisan ini adalah iklan. Saya akan katakan sebelum Anda, para pembaca, bertanya-tanya atau menuduh. Sejak kapan saya menulis sebuah iklan di blog saya? Sejak muncul sebuah usaha komersial yang lahir dari suatu pergulatan panjang. Sejak muncul sebuah usaha yang akan menentukan arah kehidupan keluarga kami dalam waktu dekat, menengah dan panjang. Saya menulis iklan ini karena ini adalah tetang hubungan darah, tentang perjuangan, dan tentang pilihan hidup seorang adik untuk mendukung kehidupan kakaknya.
Tegaljadi, tahun 1992
Setiap jumat malam Kawan, sekitar jam sepuluh. Aku berlari kencang menembus kegelapan jalan kampung dari Warung Men Ayu menuju rumah. Gelapnya perempatan keramat yang biasanya menyeramkan, tak berdaya setiap Jumat malam. Perempatan yang konon angker itu bertekuk lutut diam tak menunjukkan perbawanya kalau aku berlari kencang melewatinya dengan perasaan bergemuruh. Aku baru saja menonton film kesayangan ku: “MacGyver”.
Aku gugah meme’ (ibu) yang tengah terlelap. Persis seperti yang terjadi minggu lalu. Beliau tentu sudah hafal dan mungkin bahkan sudah siap. Sambil mengusap-usap matanya yang terlihat lelah dan masih dikuasai kantuk, meme’ pasti tersenyum. Tanpa dikomando, bercelotehlah aku menceritakan betapa dramatisnya kisah yang baru saja aku saksikan. MacGyver selalu berhasil memukau dan memsonaku dengan segala kecemerlangan pikir dan akalnya.
“Tinggal satu detik lagi Me’” aku bercerita dengan semangat, “tinggal satu detik lagi waktu yang tersisa dan dia berhasil menjinakkan bom itu.” Aku menumpahkan segala kesenangan dan rasa puas yang tiada tara. Tanganku bergerak-gerak penuh semangat, mimik yang serius sambil sekali waktu menirukan adegan serial MacGyver yang baru saja aku tonton, dan tatapan mata berbinar yang penuh energi. Film berdurasi satu jam itu aku ceritakan dalam waktu satu jam juga karena begitu detil dan persis seperti cerita aslinya. Entah dari mana datangnya kemampuan itu, aku kadang mengutip ucapan tokoh-tokohnya, meskipun kini dalam Bahasa Indonesia. Anak SMP kelas 2 menceritakan kembali kisah sebuah film hanya dengan mengingat substitle Bahasa Indonesia yang mungkin mengenaskan kualitasnya. Entahlah.
Sementara itu, meme’ selalu mendengarkan dengan takzim. Raut mukanya selalu tertarik dan seakan ikut terbawa dalam kisah petualangan seorang pahlawan bernama MacGyver. Matanya awas, meskipun mungkin mengantuk, raut mukanya serius dan terbawa, senyum dan kesedihan silih berganti di wajahnya menyesuaikan alur dan nuansa ceritaku. Meme’ telah ikut larut dalam kisah membasmi kejahatan tanpa senjata.
Tegaljadi, Mei 2016
Aku duduk menikmati sambal bongkot (kecombrang) buatan meme’. Telah kupesankan sebelumnya, aku tidak ingin menikmati apapun selain sambal bongkot khas racikan beliau. Penerbangan dari Jogja ke Bali serta perjalanan dari Bandara ke kampung di Tegaljadi cukup melelahkan. Meski mengantuk, sambal bongkot tidak pernah gagal menyambutku dan menjadi penawar rindu akan rumah, keluarga dan suasana desa.
“Ical, sebenarnya pernah tersenggol” kata meme’ melanjutkan ceritanya soal reality show Dangdut Academy, “tapi dia masih diberi kesempatan oleh para juri. Dia gunakan kesempatan itu dengan baik dan akhirnya bisa menang.” Ketika aku Tanya apakah si pemenang itu memang yang dijagokan beliau, dengan mantap meme’ mengiyakan. “Ical bisa membuat lagu itu menjadi khas sesuai karakternya sendiri. Beda dengan Weni yang juara dua itu. Dia memang bagus dan bisa bernyanyi dengan baik tapi lagunya menjadi tidak berkembang. Lagunya sama dengan aslinya dan dia tidak bisa menampilkan ciri khasnya sendiri.” Aku tiba-tiba seperti mendengar Simon di the American Idol yang mengomentari peserta dengan kritis dan pedas. Meme’ tiba-tiba menjadi seorang ahli dan berkomentar dengan sangat fasih. Aku menyimak dengan seksama.
Raut mukanya serius. Wajahnya penuh gairah. Tangannya bergerak-gerak sibuk memeragakan berbagai hal dan suranya penuh kesungguhan. Meme’ menceritakan kesukaanya, menceritakan petualangan bersama para kontestan Dangdut Academy yang diikutinya dengan seksama. Sementar itu aku tersenyum-senyum mendengarkan sambil mencoba dengan sekuat tenaga menjiwai cerita yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatianku.
Ingatanku melayang ke tahun 1991, ketika tidak ada TV di rumah kami. Ketika Warung Men Ayu menjadi satu-satunya harapan penjaja nikmat dan kesenangan di setiap Jumat malam. Ketika gairah untuk menceritakan kembali kisah MacGyver kepada ibuku menyala terang dan mengalahkan rasa takut saat melintas di perempatan keramat. Aku merasakan gariah yang sama pada meme’. Gairah untuk bercerita dan berbagi. Bedanya, meme’ menonton dari TVnya sendiri, beliau tidak perlu menemui para kontestan Dangdut Academy dari sebuah TV berwarna di Warung Men Ayu.
Kalau saja hari ini ada MacGyver. Mungkin aku akan membiarkan MacGyver tersenggol oleh Dangdut Academy. Richard Dean Anderson, pemeran MacGyver, mungkin akan mengedipkan matanya penuh dukungan ketika aku memindahkan saluran TV untuk memberikan kesempatan kepada meme’ berpuas diri bercengkrama dengan Ical dan Weni. Maka tak mengapa ketika MacGyver tersenggol.
Malaysia Airlines dari Kuala Lumpur ke Pulau Langkawi, 30 Mei 2016
Ruangan itu besar dan nampak dipersiapkan dengan baik. Kursi-kursi berwarna biru berderet di tiga sisi lokasi dengan jumlah tidak kurang dari 500. Gedung konferensi itu berukuran besar dengan mimbar pembicara berdiri megah di bagian depan. Ukiran-ukiran di mimbar nampak mentereng, berpadu cantik dengan rangkaian taman yang dipenuhi bunga. Indah dan sejuk di mata.
Denpasar dinobatkan menjadi kota paling Islami di Indonesia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute (MI). Berita ini menggelitik saya dan ternyata juga menarik bagi banyak orang lainnya. Seorang sahabat bahkan secara khusus mention saya di Twitter terkait berita ini.
Chief Executive Office General Electric Indonesia, Dr. Handry Satriago, akan memberi kuliah umum di UGM. Saya sudah tahu agak lama. Yang merekomendasikan ini juga tidak main-main: Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Ambassador Blake. Bersiap sebagai moderator kuliah umum itu adalah orang yang tepat dan selevel: Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Dr. Hargo Utomo, seorang pakar dan praktisi bisnis mumpuni. Semua cocok dan klop. Ibarat panci ketemu tutupnya.
Aku pastilah diselimuti subyektivitas stadium tinggi saat berbicara soal film Ada Apa dengan Cinta 2. Aku seorang penggemar. Maka jangan jadikan review ini sebagai satu-satunya kiblat. Engkau mungkin tersesat.
Tas saya hilang, lenyap dicuri orang dari mobil saya pada tanggal 29 April 2016 lalu. Yang menyedihkan, itu tas baru, hadiah dari Asti, isteri saya, dan dibeli karena rasa kasihan melihat saya menggunakan tas gendong mutu rendahan pemberian panitia training.