Sepuluh Tips Berinteraksi dengan Pembimbing/Profesor

Sekali waktu ada yang bertanya bagaimana mengelola hubungan baik dengan supervisor atau pembimbing terutama ketika sekolah di luar negeri. Saya punya sepuluh tips dari pengalaman saya berinteraksi dengan Prof. Clive Schofield, pembimbing S2 dan S3 saya. Mungkin ini juga bisa diterapkan dalam menjaga hubungan baik dengan pembimbing skripsi.

Continue reading “Sepuluh Tips Berinteraksi dengan Pembimbing/Profesor”

Guru dan Murid

Jalanan di sekitar Thirroul, Wollongong sudah gelap dan udara dingin menyengat ketika saya berjalan menuju stasiun kereta. Di samping saya berjalan seorang lelaki kulit putih sambil memegang tali kendali seekor anjing yang berjalan enerjik di depannya. Anjing itu kelihatan sangat aktif sehingga lelaki itu sekali waktu harus menarik agak keras atau sekedar menahan tali kendalinya. Dari mulutnya tidak henti-hentinya keluar peringatan “Amber, slow down!” atau “Amber, no!” untuk mengendalikan anjing kesayangannya itu. Lelaki itu adalah guru saya ketika S2 dan S3. Clive Schofield namanya, seorang lelaki berkebangsaan Inggris.

Malam itu kami menikmati makan malam di rumahnya di Thirroul, tidak jauh dari kampus University of Wollongong, almamater S3 saya. Tiga hari sebelumnya, kami mengikuti sebuah kursus intensif terkait delimitasi batas maritim internasional. Kali ini, saya dan Clive adalah peserta kursus yang disajikan oleh seorang pakar dan praktisi dari Fugro, Kanada. Penat dan lelah setelah tiga hari kursus intensif akhirnya terbayar dengan sebuah makan malam yang akrab di kediamannya. Malam itu, makan malam kami hanya dihadiri empat orang: saya, Clive, Rob (trainer dari Kanada) dan Sandra (isteri Clive). Salmon panggang yang nikmat menjadi penutup yang sempurna. Selepas makan malam itulah, Clive mengantarkan saya ke stasiun kereta karena saya akan bertolak ke Sydney, menginap di rumah seorang teman.

Di sepanjang jalan, kami bercerita dan berkelakar. Saya sempatkan untuk mengingatkan dia bagaimana awalnya kami bertemu. Tiba-tiba saja ingatan saya melambung ke 12 tahun silam ketika pertama kali bertemu dengan Clive. Saya ingatkan dia pertemuan pertama kami, saya ingatkan dia soal panci dan alat dapur lain yang pernah dia berikan ke saya tahun 2004 dan segala macam hal yang kami lalui. “You were younger than I am now when you became my master degree supervisor” kata saya untuk menegaskan betapa mudanya dia dulu ketika menjadi guru saya pertama kali. Perjalanan penuh kelakar, tak terasa lagi bahwa kami adalah guru dan murid tetapi dua orang kawan yang setara. Pendidikan dan kesadaran memang menciptakan kesetaraan.

Beberapa minggu sebelumnya Clive mengirimkan email pada saya dan meminta saya datang ke Wollongong untuk mengikuti training. Dia mengatakan, semua biaya akan ditanggung dia. Tiket dan akomodasi untuk saya akan dibayarinya sampai tuntas. Saya paham, intinya cuma satu, dia ingin saya menemaninya mengikuti training itu, dengan harapan saya merekam lebih banyak pelajaran sehingga bisa ‘dimanfaatkan’ oleh dia secara positif di masa depan. Strateginya jitu, ajaklah lebih banyak orang belajar hal yang sama sehingga jika nanti ada kesulitan maka ada lebih banyak orang yang akan membantu. Bukankah ini cerdas?

Siapa yang bisa menolak tawaran ‘jalan-jalan’ ke almamater secara gratis. Saya langsung iyakan meskipun itu artinya harus menjadwal ulang beberapa kegiatan lain. Saya tidak melihatnya hanya sebagai kegiatan singkat tetapi peluang kerjasama jangka panjang. Clive adalah ‘Dewa’ di bidangnya. Bersahabat erat dan dekat dengan ‘Dewa’ bisa mendatangkan banyak peluang. Namun lebih dari semua itu, bertemu seorang sahabat yang secara tulus ingin saling mendukung tentu saja tidak pernah salah. Itulah alasan saya terbang menemui musim semi di Wollongong. Dua tahun setelah menyelesaikan S3, kembali ke Wollongong terasa seperti pulang ke rumah sendiri.

You can leave me, I am good” kata saya beberapa menit setelah Clive menemani saya di stasiun kereta. Saya pikir dia harus segera pulang mengingat dia sebenarnya sedang pemulihan dari sakit dan Sandra, isterinya, serta dua anaknya ‘tertinggal’ di rumah. “That’s okay, I will wait until your train comes” katanya menegaskan. Perhatian sederhana ini menjadi tanda hubungan yang baik.

Beberapa menit kemudian, kereta saya tiba. Dengan cepat saya bergegas masuk gerbong disaksikan oleh Clive yang masih menunggu. Dari jendela kereta saya lihat dia melambaikan tangan sambil menahan Amber, anjing kesayangannya yang mulai gelisah dan ingin segera beranjak pergi. Di kereta yang membawa saya ke Sydney, saya merenungkan sebuah hubungan yang erat. Jika ada yang bertanya apa tandanya hubungan seorang murid dan guru telah dimulai dan dibina dengan baik, maka malam ini adalah salah satu jawabannya. Hubungan antara guru dan murid yang melampui ruang-ruang ilmiah yang kadang sempit dan kaku atau sekedar sekat-sekat administrasi.

Stay tuned: Sepuluh tips berinteraksi dengan pembimbing/profesor

Ibu Tugas di Mana?

Ibu saya, karena pendidikan formalnya, seringkali malu dan minder kalau bertemu teman-teman saya. Beliau selalu merasa rendah diri karena tidak sekolah. Menyandang predikat lulus SD saja, itupun dengan ijazah yang tidak jelas di mana, membuat beliau seringkali merasa tidak pantas berada di antara teman-teman saya yang kebanyakan bersekolah tinggi. Itu pula sebabnya, ibu saya merasa cukup hanya dengan mendengar cerita saya ketika saya sekali waktu mengisi seminar, ikut konferensi atau mengisi workshop. Matanya akan berbinar-binar bahagia mendengar cerita saya soal peserta, soal diskusi di kelas dan soal apa saja yang terjadi. Ada kebahagiaan hanya dengan mendengar dan membayangkan.

Beberapa waktu lalu saya diminta mengisi acara di Politeknik Negeri Bali (PNB) terkait batas maritim dan perdagangan internasional. Materinya cukup baru sehingga saya harus menyiapkan dengan usaha ekstra. Meski begitu, saya tentu tidak akan pura-pura menjadi ahli perdagangan internasional. Saya siapkan materi batas maritim dan mengajak peserta untuk melihat implikasinya terhadap perdagangan internasional.

Yang menarik bukan materinya tetapi rencana saya mengajak ibu saya untuk mengikuti seminar itu. Saya tiba di Bandara Bali sekitar jam 12 malam karena pesawat mengalami keterlambatan. Dijemput Komang, adik saya, kami langsung menuju rumah di Tegaljadi, Tabanan. Sebelum itu, saya sudah berusaha meyakinkan ibu saya agar esok harinya beliau mau ikut mendampingi saya mengisi seminar. Tentu saja tidak mudah meyakinkan beliau untuk berada di lingkungan teman-teman saya yang menurut beliau orang-orang hebat dan bersekolah tinggi.

Dengan berbagai cara saya meyakinkan. Saya menangkap ada kesan bahwa ibu saya ragu kalau saya akan risih atau malu jika didampingi beliau. Saya kira ini perasaan yang wajar. Melihat itu, tugas saya berarti hanya satu: meyakinkan beliau bahwa saya akan senang dan bangga jika ditemani. Selanjutnya, selesai perkara dan ibu saya pun mengiyakan meskipun dengan keraguan. Saya juga berharap-harap cemas, apa yang akan terjadi esok hari dan bertanya-tanya apakah ibu saya akan berubah pikiran atau tidak.

Hampir jam dua subuh saya tiba di rumah di Tabanan dan ibu saya sudah menunggu. Masakan sambal bongkot dan sereh sudah menunggu. Meskipun sangat terlambat untuk makan malam yang normal, saya nikmati hidangan itu dengan lahapnya. Cinta ibu kepada anaknya tidak mengenal aturan makan malam, apalagi aturan diet. Tidak sama sekali.

Pagi jam enam saya dibangunkan ibu saya untuk segera berkemas. Dan dalam waktu singkat saya sudah siap. Adik saya yang akan bertugas sebagai sopir mengantar saya ke PNB. Ibu saya memantapkan hati untuk ikut meskipun saya tahu ada keraguan dan kegelisahan. Di sepanjang jalan kami berkelakar satu sama lain mengusir kekhawatiran. Perjalanan sangat menyenangkan meskipun lebih lama dari yang saya duga.
Hampir jam sembilan pagi, kami tiba di PNB dan segera di sambut panitia. Iwan, sahabat lama sejak SMA, adalah tokoh di balik kedatangan saya. Dialah yang mengundang saya hingga tiba di PNB pagi itu. Dunia memang kecil, dia sering kali dikendalikan oleh persahabatan. Selain itu ada juga Cahya, panitia lain yang selama ini saya kenal lewat email dan media sosial lainnya. Mereka dengan sigap mengarahkan kami ke ruang transit sebelum nanti pentas di acara utama. Saya lihat ibu saya canggung tetapi berusaha mematut-matutkan diri, berjalan dengan gelisah di samping saya. Saya sengaja membiarkan beliau menikmati kegelisahan dan kekhawatiran itu. Untunglah Iwan, kawan saya, melakukan langkah yang tepat. Dia paham posisi ibu saya karena tadinya saya kasih bocoran lewat WA tentang situasi ‘pengawal’ saya. Iwan berkomunikasi dengan baik sehingga membuat ibu saya jauh lebih tenang.

Semua berjalan baik hingga kami memasuki ruangan transit. Di situ telah duduk orang-orang hebat –setidaknya begitu menurut ibu saya- yang merupakan petinggi-petinggi PNB. Mereka duduk di meja melingkar dan mulai menyilakan saya duduk. Dari sekian itu ada ketua jurusan, ada kaprodi, ada moderator, ada dosen senior dan banyak lagi. Tentu saja ada juga pembicara lainnya yang sudah tiba duluan. Saya dipersilakan duduk di satu kursi kosong di dekat beberapa kursi kosong lainnya. Panitia mengarahkan agar ibu dan adik saya duduk di meja bundar itu juga tetapi saya segera mengambil langkah penyelamatan. Saya minta agar ibu saya diarahkan duduk di deretan kursi lain dekat tembok ditemani adik saya. Saya tahu persis, jika beliau harus duduk di meja bundar itu bersama ‘orang-orang hebat’ itu, tidak perlu menunggu lama untuk menyaksikan beliau berkeringat dan akhirnya pingsan. Saya tidak boleh kejam pada ibu sendiri.

Saya berbasa-basi dengan semua orang di meja itu, saling tukar kartu dan bercerita ringan tentang latar belakang pendidikan serta asal-usul. Sementara itu saya curi-curi pandang melihat ibu saya yang mulai menata diri meskipun dengan wajah yang masih tegang. Di sampingnya, adik saya nampak senyum-senyum karena merasakan kegundahan hati ibu saya berada di lingkungan yang asing dan tidak biasa bagi beliau. Ketegangan itu terasa sampai ke saya meskipun tidak saya tunjukkan.

Sejurus kemudian, acara dimulai dan pembukaan segera dilaksanakan. Saya duduk di deretan bangku depan bersama pejabat dan pembicara lain, sementara ibu saya memilih duduk di kursi agak belakang. Beliau sendirian karena adik saya harus melakukan satu hal di tempat lain. Inilah ujian sesungguhnya ketika ibu saya mungkin akan bertemu orang-orang dan harus bercakap-cakap. Pertanyaan yang paling ditakutkan adalah “Ibu tugas di mana?” karena pertanyaan itu tentu saja sulit sekali dijawab oleh seorang perempuan yang tidak tugas di mana-mana tetapi sibuk 24 jam sehari. Kekhawatiran ini sudah kami kelakarkan sejak di mobil tadi.

Waktu berjalan cepat, giliran saya presentasi pertama. Sejujurnya, ada ketegangan yang lebih besar ketika seorang anak presentasi ilmunya di depan ibunya sendiri, apapun situasnya. Si situlah saya merasa sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata. Seakan-akan presentasi saya ini khusus untuk ibu saya yang hanya lulus SD, tidak membaca Koran dan tidak melihat TV untuk berita-berita mancanegara. Sementara itu saya bicara soal batas maritim, pedadangan internasional dan konflik Laut Tiongkot Selatan. Adakah tantangan yang lebih hebat dari itu? Saya memastikan kosa kata asing seminimal mungkin. Jika pun ada, saya buru-buru menyertainya dengan istilah Bahasa Indonesia agar ibu saya mengerti. Hal ini menjadi lebih menegangkan karena ibu saya memasang wajah serius dengan perhatian seratus persen dan mimik yang berubah sesuai intensitas pembicaraan saya. Sekali waktu saya lihat ada senyum di bibirnya, kernyit dahi tanda gundah, atau anggukan tanda mengerti. Adakah yang lebih dasyat dari itu?

Singkat cerita, saya mengakhiri presentasi dengan normal dan dilanjutkan oleh dua pembiara lainnya. Sejurus kemudian ada sesi tanya jawab dan saya mendapat giliran menjawab pertama kali karena mendapat porsi pertanyaan paling banyak. Ada keseriusan, ada kelakar, ada juga emosi dalam jawaban saya. Peserta, terutama ibu saya, menyimak dengan seksama. Ruangan terasa hening dan penuh ketekunan. Saya menikmatinya.

“Pak Moderator, saya mohon izin satu menit untuk menambahkan sesuatu” kata saya setelah menjawab tiga pertanyaan. “Semalam saya pulang ke Tabanan karena kangen dengan keluarga saya dan kini saya ditemani Ibu saya di sini. Beliau baru pertama kali mengikuti seminar saya.” Ruangan jadi agak hening dan peserta mencari-cari perempuan yang saya ceritakan itu. “Saya beterima kasih pada ibu saya atas apa yang beliau lakukan dan terutama kesediaannya mendampingi saya hari ini. Ini tidak mudah bagi beliau dan juga bagi saya karena sehebat-hebatnya seorang anak, tetapi saja akan grogi berbicara di depan ibunya.” Peserta terdengar tertawa dengan lelucon itu. “Saya mohon ibu berdiri” kata saya setengah berkelakar dan diikuti gerakan ragu ibu saya, berdiri dari duduknya. Tiba-tiba terdengar gemuruh tepuk tangan hadirin menyambut momen itu. Saya bahagia tak terkatakan.

Di dalam mobil menuju banara kami berkelakar menceritakan ketegangan dan kekonyolan yang baru saya berlalu. Benar seperti apa yang ibu saya khawatirkan, ada beberapa orang yang bertanya “Ibu tugas di mana?” Konon dengan keterbataan yang diyakin-yakinkan, ibu saya bilang “saya tidak tugas di mana-mana, saya mengantar anak saya yang sedang bicara di depan itu.”

Orang Baik di Kota yang Baik

bussydney-1Pagi masih belia ketika aku tiba di Sydney. Cerah musim semi masih bersahabat erat dengan sisa musim dingin yang sepertinya belum tuntas berlalu. Bus biru nomor 400 segera membawaku dari Bandara Kingsford Smith menuju Kingsford, sebuah kawasan yang tidak jauh dari Univesity of New South Wales, amamaterku saat menempuh pendidikan S2. Kembali ke Sydney seperti melambungkan ingatan duabelas tahun silam. Semua masih terasa seperti dulu.

Continue reading “Orang Baik di Kota yang Baik”

Kembali ke Sydney

soh

Di tangga-tangga Sydney Opera House, aku duduk termenung. Sendiri dan merasa sepi di tengah keramaian. Jauh di sisi selatan, nampak gedung-gedung tinggi menjulang, angkuh berebut ruang yang dilatari langit biru, bersih tanpa noda. Sydney Tower nampak khas, mengingatkan orang-orang yang pernah gandrung dengan film animasi “Finding Nemo”. Di pelataran Sydney Opera House, orang berlalu lalang menikmati hari yang cerah dan sejuk. Meskipun matahari menikam bumi, nuansa musim dingin belum sempurna diambil alih musim semi. Bagi penduduk katulistiwa sepertiku, Musim semi masih menyisakan dingin yang menyengat. Matahari yang menikam dan hembusan angin dingin yang bersemangat adalah paduan yang menghadirkan kesejukan. Di sini, di tangga-tangga ini, aku terduduk menikmati. Memandang dan menjadi pengamat, berusaha tidak terlibat.

Continue reading “Kembali ke Sydney”

Menyingkap Misteri IP

  1. Soal IP ini sensitif, saya paham 🙂 Pesan ini bagi mereka yg blm lulus saja. Someone has to tell the truth bahwa IP penting.
  2. Pesan saya soal IP untuk mahasiswa baru agar sadar dari awal. Yg terlanjur IPnya gak sempurna, ayo berjuang dgn ‘kreatif’ untuk menutupi kekurangan.
  3. IP tinggi memang tidak menjamin kesuksesan tapi IP tinggi akan memberikan kita kesempatan yang lebih banyak. Artinya peluang suksesnya juga lebih besar 🙂
  4. IP rendah itu memang tidak hina kok cuma agak repot aja kalau 4 thn lagi mau cari kerja. Itu saja 🙂 Jadi kalau masih punya waktu untuk meningkatkan IP, kenapa tidak?!
  5. IP yg tdk sempurna bukan akhir segalanya. Jangan putus asa. Masalahnya, kita harus berjuang lewat cara yg tidak ‘umum’. Itu saja. So, be ready!
  6. Menurut saya, mending kuliah lebih lama (jika harus) untuk memperbaiki IPK daripada kehilangan banyak kesempatan gara-gara IP ga’ cukup.
  7. IP bagus tdk harus cumlaude. Tapi Ada batasan angka yg membuat kesempatan terbuka lebih lebar 🙂 Tergantung mau jadi/kerja apa.
  8. Kita ga selalu berprestasi di kampus. Kadang merasa down ga apa2. Yg penting jgn lupa bangkit.
  9. Transkrip saya ada D nya. Tentu sy tdk bangga tapi bersyukur. Jadi sy punya ‘otoritas’ kalau ngomong soal IP :))
  10. Yg paling top: lulus cepet IP tinggi tp jika ga bisa, harus kompromi. Berdamai dg diri sendiri demi kepentingan lbh besar
  11. Banyak yg pengaruhi keberhasilan. Ada yg di luar kuasa kita. Tugas kita menghindarkan kegagalan krn hal yg bs kita kendalikan. IP salah satunya.
  12. IP bukan segalanya krn yg penting adalah karakter. Tapi seringkali kita ditanya IP dulu sblm diuji karakternya 🙂
  13. IP bagus (cukup) itu perlu kalau nanti mau sekolah ke LN selain indikator lain seperti kemampuan bahasa internasional. Harus diingat oleh mahasiswa baru nih.
  14. IP tinggi tidak lebih penting dari iman yg baik. Tapi iman baik + IP bagus bukan dosa juga. Think about it 🙂
  15. Banyak yg IPnya tidak bagus jadi orang sukses tapi bukan berarti untuk sukses IP harus jelek 🙂 Lagipula jadi pengusaha sukses dg IP tinggi juga keren.
  16. Saya sering ditanya “IP saya jelek, masih bisa daftar beasiswa nggak?” Selagi blm lulus, usahakanlah skrg! Kalau terlanjur jelek, cari beasiswa yang tidak mengutamakan IP.
  17. IP jelek? Kalau memang masih ada waktu, coba perbaiki. Saya pernah kok IP 1,2 🙂 Tidak bangga, tapi tdk malu juga. Bukan soal seberapa sering jatuh, tetapi seberapa mau untuk bangkit lagi 🙂
  18. Ukuran IP bagus itu tergantung tujuannya. 3.0 blm tentu cukup untuk perusahaan/beasiswa tertentu. Check ya 🙂
  19. Ada perusahaan/beasiswa yg mensyaratkan IP min 3 ada jg 3.25 atu di atas itu. PNS ada jg yg bisa 2.75. Check ya 🙂
  20. IP tinggi tidak bikin kamu mulia tapi bikin lamaran kerja kamu 4 thn lagi kelihatan lebih menarik. Itu saja 🙂
  21. Harus IP tinggi ya? Tidak. Bill Gates aja kaya meski gak lulus. Tp bisa kaya dan lulus dg IP bagus juga keren kok 🙂
  22. IP tinggi tidak menjamin keberhasilan di masa depan. Sayangnya, IP rendah juga tidak 😉 Jadi?

Mandi Pertama

Royal Hospital for Women, Sydney, 14 September 2005

mandi1Pelan-pelan kudorong kereta bayi itu dari bangsal bayi menuju sebuah ruang besar. Di sepanjang koridor rumah sakit, kulihat tubuh mungil tergolek tenang. Matanya tertutup rapat namun sepertinya tidak tidur. Tubuhnya terbungkus rapi oleh selimut putih bergaris-garis biru dan merah vertikal. Kelopak matanya bergerak-gerak, tanda dia tak tidur. Lita, anakku, baru berumur dua hari sejak kelahirannya dengan operasi sesar Senin lalu. Sementara itu, Asti, ibunya, masih tergeletak di bangsal, menjalani masa pemulihan.

Di luar ruangan, September baru setengah umur dan musim semi mulai menampakkan diri. Bunga-bunga di sepanjang jalan High Street bermekaran, meskipun tidak banyak ragamnya. Burung-burung yang bersembunyi di sepanjang musim dingin kini bermunculan dan bermain berkelebat di sela-sela batang pepohonan. Rombongan burung penghisap sari bunga bercengkrama menikmati manisnya cairan madu yang mereka curi dari bunga-bunga yang bermekaran. Meski cerita, musim semi juga membawa serta wabah demam yang mengintip siapa saja. Spring fever, kata para perawat di rumah sakit, maka kami harus berhati-hati menjaga bayi.

Continue reading “Mandi Pertama”

Dipeluk UGM

Wajahnya lesu. Matanya berkaca-kaca dan berusaha keras menahan tangis. Dari wajahnya nampak jelas dia sedih, bingung dan kecewa. Ada ketidakpastian yang menyembul dari pandangan matanya yang gamang. Anak itu adalah bimbingan akademik saya, dia datang mengadukan apa yang terjadi padanya.

Saya memanggilnya khusus karena beberapa waktu sebelumnya saya membaca status di Facebook-nya yang mengharu biru. Anak ini merasa nasib sedang tidak berpihak padanya karena urusan beasiswa dari pemerintah daerah yang tak jelas juntrungannya. Konon dia dinyatakan menerima beasiswa dari pemerintah daerah yang sampai kini belum diterimanya. Urusannya tidak saja dengannya secara pribadi tetapi juga dengan UGM sebagai tempat kuliahnya. Kesepakatannya adalah bahwa pemerintah daerah akan membayar uang kuliah anak ini langsung kepada UGM tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Statusnya, anak ini nunggak uang kuliah kepada UGM karena pemerintah daerah yang tak menunaikan kewajiban.

Continue reading “Dipeluk UGM”

My opinion on reclamation

In a lecture that I gave at the International Week Program organised by the Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada, a participant asked me about reclamation. Here is my answer:

Continue reading “My opinion on reclamation”

Pulang ke Indonesia

Yogyakarta, Awal Agustus 1996

id16Kami bertiga, calon mahasiswa UGM itu, berjongkok di dekat pagar tembok berwarna putih kusam. Pagar itu ada di depan sebuah rumah sederhana, milik seorang lelaki tiga puluhan tahun yang kami hormati. Beliau adalah dosen UGM yang telah menjadi ‘bapak asuh’ bagi kami bertiga dalam beberapa hari ini. Kami yang baru tiba di Jogja untuk menuntut ilmu, ‘diangkat’ anak oleh beliau dan diizinkan tinggal di rumahnya.

Peringatan Hari Kemerdekaan segera tiba dan kami bersemangat mengecat pagar tembok itu dengan warna putih. Kami bertiga, beberapa orang anak kos lain dan lelaki panutan itu bekerja sambil bermain dan berkelakar. Semua cerita dan lelucoh mengalir deras, penggal demi penggal tembok kusam itu berubah putih bersih dan bercahaya. Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Mengecat tembok dengan semangat untuk peringatan hari kemerdekaan tidak saya temui di kampung saya di Bali.

Sore sudah mampir, pagar tembok sudah putih sempurna. Cahaya matahari membuatnya cerah berwibawa. Di sisi tembok itu menjulang umbul-umbul merah putih, silih berganti dengan bedera yang berkibar perlahan oleh angin sore yang mulai malas. Saya berdiri menatap, melepas penat yang segera berlalu demi menyaksikan nuansa merah putih yang berwibawa.

Wollongong, November 2013

Now, your thesis is done and you are ready to submit. Congratulation!” tiba-tiba lamunan saya buyar oleh kalimat berwibawa lelaki di depan saya. Kata-katanya mantap memberi selamat dan semangat. Wajah lelaki usia empat puluhan itu nampak serius meskipun selalu ada senyum di bibirnya. Dia duduk tenang dan santai di kursi sambil sesekali memutar tempat duduknya sehingga tubuhnya bergoyang kiri dan kanan secara wajar. Baru sadar lagi, saya memperbaiki posisi duduk di depannya, menyimak dengan seksama. Hari itu tidak biasa, kami tidak sedang membicarakan disertasi saya seperti minggu-minggu sebelumnya. Rupanya urusan disertasi sudah tidak lagi masuk dalam prioritasnya karena memang disertasi saya sudah rampung. Paripurna sudah sebuah tugas besar nan panjang. Hari itu, Prof. Clive Schofield, pembimbing saya, memanggil saya untuk urusan yang lebih dari sekedar disertasi.

Saya hanya tersenyum saja sambil berterima kasih ringan. Ada rasa tidak percaya, akhirnya proyek panjang itu terselesaikan. Pendidikan saya di Australia telah mencapai titik akhir dan saatnya untuk menyudahi perjalanan di Negeri Kangguru ini. Terbayang jelas dalam ingatan ketika saya tiba pertama kali di Sydney tanggal 14 Januari tahun 2004 dan artinya itu sudah berlalu satu dekade. Selama itu pula saya tidak pernah lepas dari Australia, mulai dari S2, penelitian atas prakarsa PBB, S3 dan bahkan Postdoc. Satu dekade ini saya telah menghabiskan waktu di Australia dengan status sebagai mahasiswa dan atau peneliti. Hari itu, saat Clive memanggil saya, drama sepuluh tahun perjuangan itu seperti diputar ulang dengan kecepatan tinggi.

What is your plan?” tanya Clive pada saya yang masih belum bisa menguasai keadaan dengan baik. Saya masih tersenyum saja, tidak berkata banyak. Saya hanya mengatakan “well…” sambil menganggukkan wajah dan tersenyum pertanda ada gejolak dalam hati yang mendesak dan tidak tuntas.

The door is always open for you, Andi” kata Clive. Dia kemudian melanjutkan bahwa jika saya berniat bekerja di University of Wollongong bersama dia maka kesempatan itu terbuka lebar. Ada berbagai topik penelitian yang bisa saya kerjakan dan Clive akan dengan senang hati bekerja dengan saya. Begitu dia menegaskan. “It is your call” katanya sambil tersenyum, menyerahkan pilihan itu kepada saya.

Mendapat tawaran dari seorang ‘Dewa’ di bidangnya untuk bekerja dan meneliti di sebuah institusi terkemuka Australia tentulah sangat menggoda. Di tengah kegalauan dan kekhawatiran untuk kembali ke tanah air karena terbayang akan terjadi perubahan drastis dalam hal budaya meneliti dan juga urusan finansial, tawaran Clive itu adalah godaan yang merangsang. Meski menawarkan itu, nampak jelas Clive mengenal saya dengan baik. Dia tidak memaksa, tidak juga ada kesan menakan.

I cannot thank you enough for everything you have done for me Clive” kata saya memulai dan dia tersenyum. “I appreciate your offer and I will treat this as an open opportunity. You know, I will go home to Indonesia” demikian saya sampaikan lalu berhenti sesaat. Wajahnya tidak terkejut meskipun saya melihat raut muka yang tidak biasa pada Clive. Entah apa itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa berkata, tanda mengerti apa yang saya sampaikan.

Clive seperti mendengar kata-kata yang tidak saya ucapkan dalam percakapan diam kami. Dia mungkin mendengar saya bergumam “Aku ingin pulang, mengecat pagar rumah yang mungkin mulai kusam. Aku ingin melihatnya putih cemerlang, di sela kibasan Sang Merah Putih yang tak tunduk oleh tikaman matahari sore yang temaram.”

Yogyakarta, 16 Agustus 2016