Sore tadi kami berenang sekeluarga. Ada Asti, Lita dan Ibu saya yang baru belajar berenang untuk terapi. Ketika kami tiba, ada beberapa orang yang berenang namun satu per satu meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian petugas mematikan mesin sehingga kolam renang menjadi tenang tanpa suara gemuruh, tanpa ada aliran air yang menyembur seperti sebelumnya. Suasana tenang, dan tiba-tiba saya baru sadar kalau hanya kami berempat yang menikmati kolam renang itu. Seorang perempuan yang duduk di suatu pojok tadi juga raib entah ke mana.
Author: Andi Arsana
Anak Muda, Menulislah!
Kamu tentu bisa katakan padaku, zaman sudah berubah dan buku bukanlah sumber ilmu utama. Maka menulis bukanlah hal utama dalam bergulatan ilmu pengetahuan. Tak kan kusangkal itu karena ada begitu banyak rekaman dan catatan selain tulisan yang bisa mengantarkan ilmu. Ada video yang merekam kesan dan impresi lebih baik dari tulisan. Ada gambar yang tiap wujudnya bahkan bisa mengantikan seribu kata, atau diam yang setara seribu bahasa. Mengapa harus menulis? Mungkin demikian kautanya.
One Should not Lose Hope: Sebuah Obituari untuk Stephen Hawking
Stephen Hawking, salah seorang ilmuwan paling berpengaruh dalam beberapa dekade terakhir, meninggal dunia di usia 76 tahun. Hawking istimewa, tidak saja karena teori yang dikemukakannya terkait fisika dan jagat raya tetapi juga karena kondisi fisiknya yang tidak biasa. Hawking mengidap apa yang disebut motor neuron disease yang menyebabkan kelumpuhan total dan suaranya lenyap. Untunglah otaknya tidak lumpuh dan dengan itulah dia kemudian menjadi ilmuwan pilih tanding.
Continue reading “One Should not Lose Hope: Sebuah Obituari untuk Stephen Hawking”
Berani Berubah
“Sekitar 60 porsi dari jam 5 sampai jam 9 malam, Pak” katanya ketika saya tanya berapa porsi nasi goreng terjual dalam semalam. Dari logatnya, lelaki itu nampaknya bukan orang Jawa, berbeda dengan pedagang makanan keliling yang biasa mampir di depan rumah. “Saya baru saja masuk kompleks sini Pak” katanya menjelaskan. Percakapan pun berlanjut.
“Saya dulu jualan di Jakarta dan sudah laris Pak tapi karena harus mengikuti istri, saya pindah ke Jogja. Istri gak mau pisah sama orang tuanya. Jadi saya mengalah saja” lelaki itu bercerita lancar. “Langsung jualan nasi goreng ketika sampai di Jogja?” tanya saya. “Ya, langsung Pak. Saya sudah yakin, rejeki saya ada di sini. Di Jakarta dulu jualan saya laris banget” katanya semangat.
Duren Mbah Surya
Bulan lalu saya ada di Bali dan teman2 dari Jogja mampir ke rumah kami di Desa Tegaljadi. Dengan semangat melayani, saya bermaksud menyuguhkan jajan khas Bali. Kebetulan, banjar kami dihuni banyak usaha kecil pengerajin jajan Bali berbagai jenis. “Beli saja di Men Surya” kata ibu saya.
Dalam beberapa menit saya sudah ada di rumah Men Surya, tetangga yang tidak terlalu jauh lokasinya. Semua menyambut hangat khas tetangga di banjar. Tidak saja Men Surya, Mbah Surya dan Pekak Surya juga ada. Beberapa orang lain juga ada di rumah itu. Mulailah percakapan hangat sangat akrab. Saya kadang diperlakukan seperti anak hilang yang kembali atau perantau yang jarang pulang. Maklum, sejak 22 tahun saya tidak pernah kembali untuk waktu lama.
Pendaftaran Beasiswa AAS 2019 sudah dibuka!
Jika kamu seorang pejuang beasiswa sesungguhnya, seharusnya judul tulisan ini tidak mengejutkan karena kamu pasti sudah tahu bahwa Beasiswa AAS 2019 memang sudah dibuka sejak 1 Februari 2018 lalu. Jika kamu pengunjung setia madeandi.com ini tetapi bukan untuk urusan beasiswa luar negeri, bisa jadi infromasi ini berisi hal baru. Jika kamu memang tertarik untuk sekolah S2 atau S3 di Australia, silakan lanjutkan membaca tulsian ini. Jika tidak, mungkin bisa beralih ke tulisan lain yang lebih cocok dengan minat/greget sendiri.
Continue reading “Pendaftaran Beasiswa AAS 2019 sudah dibuka!”
Bercermin pada [kejayusan] Dilan: Sebuah Resensi Film
Sebuah twit dari seorang public figure yang saya ikuti pemikiran dan karyanya berbunyi “Dilan is officially the new AADC”. Dalam hati saya bertanya “apa ya?” Saya pengagum AADC dan selama ini belum menemukan tandinganya, meskipun memang harus diakui bahwa film Indonesia sepertinya sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya tahu, pendapat public figure ini subyektif tetapi saya penasaran. Hanya ada satu cara untuk mengetahui kebenarannya: nonton.
Continue reading “Bercermin pada [kejayusan] Dilan: Sebuah Resensi Film”
Setidaknya Ada Kabar
“Aku kesel sekali dengan Pak Broto. Janjinya ngembalikan uang dalam sebulan, ternyata sudah tiga bulan belum ada kabar. Aku telefon nggak pernah diangkat. Dia selalu menghindar. Sebenarnya aku tidak mempersoalkan uang segitu tetapi aku tidak suka karena dia melanggar janji. Kalau tidak punya uang untuk mengembalikan, setidaknya ada kabar lah. Aku mau tahu apa yang terjadi. Jangan malah tidak mau angkat telefon. Orang-orang seperti ini yang membuat bangsa ini tidak maju-maju.”
Saat Males Ngerjain Skripsi Tiba
1. Tetap ke kampus, rasakan atmosfer kegentingan dan semangat teman-teman. Ini sanggup membuatmu resah dan gelisah. Harapannya lalu semangat kerja lagi.
2. Kalau males nulis atau ga punya ide, baca skripsi orang lain sebanyak-banyaknya. Tidak harus yang berhubungan. Banyak membaca membuat kamu bisa menulis.
3. Ketemu dosen pembimbing. Jangan hindari. Silakan curhat soal ketidakadaan kemajuan. Kalau dosenmu baik, dia akan paham. Mungkin kamu mqlah diajak makan sambil ngobrol. Ingat, jangan hindari dosen saat genting seperti ini.
4. Datang ke tempat wisuda untuk melihat temanmu wisuda. Kamu akan nangis darah lalu semangat skripsi lagi. Semoga.
5. Sering-sering baca lowongan kerja, terutama yang mensyaratkan sarjana. Apa ngga nyesel kamu ga bisa daftar karena belum punya ijazah?
6. Bergaul dengan orang-orang yang rajin dan positif tapi jangan jadi parasit buat mereka. Yang ada, malah mereka yang ikut males hehe.
7. Pasang gambar negara yang ingin kamu tuju untuk S2. Jadikan semangat!
8. Skripsi itu memang tebal, tapi ingat dia terdiri dari lembar-lembar halaman. Di skripsi itu pasti ada bagian yang mudah. Mulai dari yang mudah. Misalnya halaman persembahan. Atau ini sulit juga? Dasar jomblo 🙂
10. Ingat, orang pertama yang akan kecewa kalau kamu tidak selesai adalah ibumu. Di manapun beliau berada. Bahagiakan beliau.
Mana nomor sembilan? Dasar malas… tulis sendiri dong! Katanya mau skripsi 🙂
Demi Kepentingan yang Lebih Besar
“Seharusnya dia tidak bersikap picik seperti itu. Sebagai pejabat negara, dia harus mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Jangan hanya gara-gara tidak suka dengan seseorang, atau gara-gara orang itu tidak berasal dari partainya, maka dia tidak mau bekerja sama. Jika pejabat negara bersikap seperti itu, kapan negara ini maju?!”
Sambil telaten menyetir kendaraan, Genjo menyimak celoteh tuannya, sang akademisi, yang berbicara bersemangat. Sungguh cemerlang pandangan beliau soal mengutamakan kepenting bangsa. Di tengah percakapan searah itu, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Sang tuan menjawabnya dengan sigap.