- Baca kembali dan kuasai materi skripsimu. Jangan bertempur tanpa persiapan.
- Rancang sebuah cerita yang secara umum menggambarkan apa yang sudah ada (penelitian sebelumnya) sehingga kamu jadi tahu apa yang belum ada (permasalahan) dan selanjutnya mengisi apa yang belum ada itu (topik penelitian).
- Bagaimana kamu mengisi yang belum ada itu? Itulah metodologi penelitian. Apa yang kamu perlukan untuk mengisi yang belum ada itu? Itulah alat dan bahan penelitian.
- Selanjutnya buat presentasi sesuai dengan alur cerita yang sudah dibuat. Dalam hal ini kamu bisa membuat presentasi mengikuti alur skripsi (Pendahuluan; Metode Alat dan Bahan; Hasil dan Pembahasan; Kesimpulan) tapi dengan logika cerita di atas. Maka dari itu, yang ada lebih dahulu adalah rangkaian ceritanya, baru muncul slide presentasinya.
- Hindari membuat presentasi dengan cara copas isi skripsi apa adanya. Buat poin-poin penting. Sedapat mungkin, sertakan ilustrasi dalam bentuk peta, gambar atau animasi.
- Untuk memudahkan dalam bersiap-siap, buat naskah presentasi dengan rinci sesuai dengan urutan slide presentasi. Tulis detail yang akan kamu katakan untuk tiap slide.
- Berlatih dengan serius. Pastikan presentasi hanya berlangsung 10-15 menit saja, kecuali di kampusmu memang dibolehkan lebih lama. Kalau belum bisa tepat waktu, jangan berhenti berlatih. Saya biasa latihan puluhan kali kalau mau presentasi.
- Saat Hari H, lakukan sesuai latihan. Jangan lupa menyapa dan berterima kasih. Pembuka dan penutup harus jelas dan tegas. Jika latihannya bener, kamu pasti akan tepat waktu.
- Saat menjawab, gunakan kalimat positif, bukan bantahan. Memulai jawaban dengan frase “tapi kan” atau “bukan begitu” atau frase negative lain itu kurang tepat.
- Sampaikan terima kasih dan gunakan awalan ‘menyetujui’ ketika menjawab pertanyaan atau merespon sanggahan penguji. Misal “betul apa yang Bapak sampaikan tentang X. Di sisi lain, ada fenomena yang berbeda sehingga bla bla”
- Tugasmu bukan untuk membantah penguji tetapi untuk membuktikan bahwa kamu benar, dengan cara yang tidak mempermalukan siapapun. Maka berlatihlah untuk meyampaikan kebenaranmu, bukan sekedar membantah kebenaran orang lain.
Author: Andi Arsana
Sekali-sekali, bapak juga perlu digampar!
Sebagai seorang bapak, kadang tak mudah memadukan antara cita-cita ideal tentang masyarakat luas dan cara mendidik ‘kecil’ yang bisa jadi pengingat. Yang merasa kegampar, maafkan 🙂
- Mau membuat bagsa ini disiplin? Coba tertibkan diri dan anak sendiri untuk mandi tepat waktu dan nyuci piring sendiri. Rasakan sulitnya.
- Mau membuat generasi bangsa ini bisa berpikir kritis? Coba pastikan diri dan anak sendiri punya kebiasaan membaca buku, bukan hanya tenggelam chat di gawai. Rasakan tantangannya.
- Mau jadi motivator kelas dunia? Coba bangkitkan semangat isteri untuk mencoba usaha baru setelah di-PHK, atau daftar beasiswa lagi setelah gagal berkali-kali. Nikmati kerumitannya.
- Ingin agar generasi muda kita mandiri dan tidak tergantung bangsa lain? Pastikan anak bisa bangun pagi tanpa drama berlebihan. Rasakan sensasinya.
- Ingin menjadi pendidik visioner yang berdedikasi dengan kesabaran yang mumpuni? Coba ajarin isteri nyetir mobil sampai bisa, tanpa banyak bertengkar. Rasakan adrenalinnya.
- Mau memenangkan Nobel Perdamaian? Coba selesaikan konflik ibumu dan istrimu yang berkepanjangan. Nikmati ketegangannya.
- Mau menjadi pencerah agama yang berkharisma? Dengarkan ocehan mertua yang kian lanjut usia tentang semua hal yang jarang ada benarnya sambil tersenyum takzim. Nikmati gejolaknya.
- Ingin agar para punggawa negeri bekerja serius sesuai aturan? Pastikan posisi kunci mobil, sepatu, dasi, buku, laptop, charger HP di tempatnya sehingga tidak ada tragedi-komedi setiap pagi. Atau nikmati dramanya.
- Ingin memastikan pemerintah bekerja dengan tuntas? Pastikan membawa piring dan gelas kotor dari depan TV ke dapur lalu mencucinya sendiri. Setiap hari. Rasakan nikmatnya atau beratnya.
- Mau memastikan partai politik dan para politisi tidak saling menyalahkan untuk hal2 yang tidak prinsipil? Pastikan kamu tidak sering-sering bertengkar dengan pasangan gara-gara bungkus shampoo yang tergeletak di lantai kamar mandi. Rasakan pergulatan bathinnya.
Kawah candradimuka, sekolah dan universitas yang sesungguhnya adalah keluarga. Kesimpulan untuk diri sendiri, masih lebih banyak gagal dibandingkan berhasilnya.
PS. Jika suka tulisan ini, mungkin Anda juka suka dengan tulisan lama ini.
Satu Pesawat dengan Pak Dosen
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, har ini aku kembali ke tanah air dari Taiwan. Keluarga di rumah tentu menunggu dengan gelisah dan tidak sabar. Sekian lama menunaikan tugas mencari rejeki, akhirnya aku pulang. Belahan jiwa sudah menunggu tak sabar, video call tak mau berhenti sampai-sampai aku ditegur pramugari.
Doa untuk Para Pejuang Ilmu
Untukmu aku berdoa.
Untukmu yang bangun di pagi buta di Negeri Formosa untuk menyiapkan sahur bahkan ketika kehidupan kota belum dimulai. Terima kasih untuk hidangan bagi keluarga kecilmu yang akan berpuasa enam belas jam lamanya, jauh dari suara bedug, jauh dari kumandang adzan yang kamu rindukan hingga ubun-ubun. Doaku untukmu yang trengginas meracik sahur dan melupakan sejenak setumpuk paper yang makin dibaca makin membuatmu bingung dan bertanya ‘apa yang aku lakukan di sini?”.
Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi
Hari Rabu selalu penuh perjuangan. Selepas mengajar tiga kelas dari jam 9.30 sampai jam 5 sore, saya masih harus bercengkerama dengan bimbingan skripsi dan tesis. Hari ini adalah salah satu dari hari yang penuh tantangan itu. Here I am, menghadapi empat orang mahasiswa yang setengah desperate karena sisa waktu kian menipis.
Orang Seperti Apa yang Dicari oleh Pewawancara?
Suatu hari ada seorang mahasiswa bertanya pada saya terkait seleksi kerja atau beasiswa “orang seperti apa yang Bapak cari ketika mewawancarai seorang kandidat?” Setelah berpikir agak lama, saya mengatakan “orang yang bisa menggabungkan kepercayaan diri dan kerendahan hati dengan baik”. Saya jelaskan dalam 7 butir berikut.
Continue reading “Orang Seperti Apa yang Dicari oleh Pewawancara?”
Cinta ‘kan Membawa Kita Kembali
Aku mengatakan “tidak takut” dengan ketegasan sikap, sama sekali bukan karena angkuh, apalagi jumawa dan merasa tak tersentuh mara bahaya. Sama sekali tidak. Aku mengatakan “tidak takut” karena aku mencintai nuraniku dan menyayangi kehidupan. Takut hanya akan membunuh kesempatanku untuk bersahabat dengan nurani dan merayakan kehidupan. Terror boleh ditebar tapi keresahan adalah perihal keputusan. Mengutip kalimat Cypher Raige di After Earth, bahaya memang nyata, tetapi rasa takut adalah soal pilihan dan aku memutuskan untuk tidak takut.
Menyingkap Rahasia Beasiswa Australia
Saya tidak bisa menjamin Anda bisa mendapatkan beasiswa Australia. Memang tidak ada yang bisa. Bersyukur, saya mendapatkan tiga Beasiswa Australia dalam hidup saya: ADS, ALA dan ASA. Saya belajar di dua perguruan tinggi Australia dan menikmaati susah senang hidup di Negeri Kangguru itu selama kurang lebih satu dekade. Waktu sepuluh tahun sudah cukup untuk mengenal banyak hal.
“For Andi”
Ada perasaan aneh ketika saya memasuki ruangan Prof. Clive Shofield di Gedung ANCORS, University of Wollongong. Rasa yang dulu pernah ada, terkait erat dengan kekhawatiran akan masa depan S3 saya, seperti muncul lagi. Pertanyaan klise yang mengerikan selalu muncul ketika itu: bisa lulus nggak? Kini setelah beberapa tahun berlalu sejak ijazah saya dapatkan, perasaan itu seperti menghampiri lagi.
“So, where is your chapter 4?” kata Clive berkelakar namun sanggup membangkitkan desiran aneh di tubuh saya. Memang ada bagian-bagian traumatik dalam perjalanan meraih gelar doktor. Harus diakui. Clive tahu betul, kalimat-kalimat tertentu memang bisa mengingatkan saya pada masa perjuangan di masa lalu. Saya tertawa mendengar kelakar itu. “Really?” kata saya menyambut, “from what I remember, you didn’t ask me about my thesis at the beginning of our conversation. You touched the thesis issue only when I was about to disappear while the door was closing.” Kami berdua tertawa. Mungkin banyak mahasiswa PhD yang tidak tahu kalau percakapan mahasiswa dan pembimbingnya sering kali atau lebih sering tidak terkait dengan thesisnya. Ingatan saya melayang lagi ke masa lalu.
“So what brought you Down Under?” tanya Clive penasaran. Saya pun jelaskan duduk perkaranya, saya ada di Sydney sebagai anggota delegasi RI untuk Indonesia-Australia Dialogue. Dan blah blah blah, tidak begitu penting. Di menit-menit berikutnya saya sampaikan pandangan saya tentang perjanjian batas maritim antara Australia dan Timor Leste lalu bagaimana Indonesia merespon itu. “I need to present something” kata saya sambil menyiapkan laptop. “I know you will not function well without your animation” katanya penuh pemahaman. Maka tenggelamlah kami dalam diskusi.
“Hey, how much do I owe you for maps?” tanyanya tiba-tiba. “Well I don’t know, I don’t calculate it anymore” kata saya setengah ragu karena tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu. Saya memang membuat banyak peta untuk dia selama ini, seperti halnya yang saya lakukan ketika menjadi mahasiswanya dulu. Biasanya dia bayar tetapi belakangan saya tidak menghitungnya lagi. “Well just give me a return ticket to Sweden, I will forget everything” kata saya berkelakar. Clive memang akan mendapatkan pekerjaan baru di World Maritime University di Swedia dan tentu menyenangkan jika bisa bekerja sama dan berkunjung ke sana.
“How about these?” katanya sambil mengangkat setumpuk buku berwarna merah. Mata saya nanar, setengah tidak percaya. Tumpukan buku itu adalah “International Maritim Boundaries”, dan merupakan ‘The Bible’ bagi penekun batas maritim internasional. Di buku itulah semua batas maritim dunia dicatat dan dibabahas. Ada tujuh buku sejak volume pertama dan harganya mahal sekali. Empat belas tahun menekuni bidang ini, belum terbeli juga buku itu. Alasan pertama, harganya mahal sekali, alasan kedua, buku itu selalu tersedia di perpustakaan atau bisa saya pinjam dari Clive. Kenyamanan memang bisa menghambat perjuangan.
“Really?” tanya saya hampir tak percaya melihat enam buku merah itu. “For you!” katanya pelan tapi tegas. Dia tahu perasaan saya. “Oh I cannot thank you enough” lanjut saya sambil mencoba mengumpulkan kesadaran dan takut kalau-kalau itu bukan kenyataan. Saya tahu, jika harus membeli maka harga yang saya bayar lebih dari USD 3000. Betul, tiga ribu Dolar Amerika Serikat! Jumlah yang sangat besar untuk enam buah buku. Tak berlebihan jika saya terharu.
Ingatan saya melayang ke 14 tahun lalu. Saya ingat, ketika pertama kali datang ke Australia sebagai mahasiswa yang baru saja memulai hidup, saya berjalan menuju ruangan Clive sesuai permintaannya. Di depan ruangan itu saya melihat sebuah kardus bekas yang berisi piring, sendok, garpu, gelas dan alat masak lainnya. Perasaan saya hari ini mirip dengan perasaan ketika melihat selembar kertas putih di kardus itu yang bertuliskan “for Andi”.
Padang Rumput di Depan Perpustakaan
Matahari menikam namun tak sanggup membuat murid-murid padepokan beranjak pergin. Sinarnya tak cukup tajam untuk mengganggu apalagi membuhuh gairah para muda yang bersenda gurau. Mereka duduk-duduk penuh kelakar, seakan tak peduli pada matahari yang berusaha sekuat tenaga hingga setengah putus asa. Mereka menikmati.
Aku duduk tanpa alas, tepat di atas rumput tipis yang hijau menghampar. Kupilih bagian yang dilindungi bayangan pohon peneduh di pinggir lapangan. Aku tak semuda mereka. Aku seorang lelaki dari bumi tropis yang memang tak perlu berpeluh di terik matahari untuk alasan kesenangan, apalagi life style. Tidak perlu.