Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi


Hari Rabu selalu penuh perjuangan. Selepas mengajar tiga kelas dari jam 9.30 sampai jam 5 sore, saya masih harus bercengkerama dengan bimbingan skripsi dan tesis. Hari ini adalah salah satu dari hari yang penuh tantangan itu. Here I am, menghadapi empat orang mahasiswa yang setengah desperate karena sisa waktu kian menipis.

Tak lama setelah obrolan seputar skripsi dimulai, adzan berkumandang. Saatnya berbuka puasa dan ini memang sudah kami rencanakan sejak pagi tadi. Bimbingan hari ini memang akan disisipi berbuka puasa. Tak ingin merepotkan pembimbingnya, keempat mahasiswa bimbingan saya telah berbekal kolak, tak hanya untuk mereka yang berpuasa, juga untuk saya yang sebenarnya tidak perlu berbuka. Mereka tahu, pembimbungnya tidak puasa tetapi pasti lapar juga.

Di bulan Ramadhan, saya memang lebih sering tidak makan siang. Selain karena tidak mudah mencari makan siang, kadang merasa tidak nyaman kalau harus makan di antara teman-teman yang berpuasa. Jika itu kadang terjadi, seperti beberapa hari lalu, pastilah itu karena saya lupa.

Ketika kami menikmati kolak di kantor sambil berdiskusi soal tesis dan skripsi, hadir Bapak Wakil Rektor UGM, Pak Paripurna, yang kebetulan lewat, entah dari mana. “Wah selamat berbuka puasa” kata beliau akrab ramah dan renyah, khas Pak Parip. Belum sempat saya menjawab, beliau sudah melanjutkan “Wah ini bimbingan skripsi ya?” tanyanya penasaran. Kami mengiyakan dan beliau melanjutkan lagi “ini luar biasa. Bimbingan tetap jalan, lalu jeda untuk berbuka.” Pak Parip tentu tahu pasti, saya tidak berpuasa. “Sini ‘ta foto dulu” kata beliau setengah berkelakar. Sambil mengambil gambar, beliau mengatakan, “memang seperti itulah seharusnya universitas berdasarkan Pancasila. Saling menghormati, saling menjaga.” Kami semua manut saja. Berbagai perkara positif lalu-lalang di kepala saya.

Sejurus kemudian Pak Parip mengirimkan gambar hasil dokumentasi beliau melalui WA ke saya. Di bawah foto yang menunjukkan kami sedang menikmati kolak itu, ada tulisan “Break buka puasa bersama dosen pembimbing.. Inilah universitas dengan jati diri Pancasila..” Entah mengapa, ada rasa haru yang tiba-tiba muncul. “Wah terharu Pak … matur nuwun” balas saya lalu dijawab beliau “Nderek berbangga Bli..” dan saya lanjutkan dengan “Matur nuwun Pak. Sentuhan kecil yg istimewa :)” Percakapan biasa tetapi terasa begitu melegakan.

Pembicaraan kami berlanjut dan hal-hal teknis segara mengganti haru biru soal toleransi dan Pancasila. Sejurus kemudian, ada satu pesan baru masuk melalui WA dan ternyata dari Asti, isteri saya. Tertegun saya membaca “Yah, klo boleh pendapat, bulan puasa ini tdk usah bimbingan sampe malam2 utk menghormati mereka buka puasa beribadah dan tarawih. Jam kantor kan skg sampai jam 2.30 saja… setelah itu saja dipakai bimbingan.” Penghormatan memang seharusnya demikian, berasal dari kesadaran orang-orang terdekat yang kita cintai.

PS.
Siapapun yang ada di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, cara seperti ini bisa ditempuh. Pasti ampuh dan efektif, terutama bagi para suami yang takut isteri. Eh 🙂

PSS.
Untuk para istri, kalimat ini bisa dicopas dan dikirim ke suami dengan modifikasi seperlunya untuk memberi instruksi halus agar suami tidak pulang malam.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Antara Isteri, Skripsi, dan Toleransi”

  1. setuju pak. Toleransi sangat penting apalagi untuk Indonesia yang kaya perbedaan. Btw, senang liat layout blognya pak made sekarang. Lebih rapi dan udah adaptable di berbagai platform.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s