One Should not Lose Hope: Sebuah Obituari untuk Stephen Hawking


Stephen Hawking, salah seorang ilmuwan paling berpengaruh dalam beberapa dekade terakhir, meninggal dunia di usia 76 tahun. Hawking istimewa, tidak saja karena teori yang dikemukakannya terkait fisika dan jagat raya tetapi juga karena kondisi fisiknya yang tidak biasa. Hawking mengidap apa yang disebut motor neuron disease yang menyebabkan kelumpuhan total dan suaranya lenyap. Untunglah otaknya tidak lumpuh dan dengan itulah dia kemudian menjadi ilmuwan pilih tanding.

 

Agak berbeda dengan ilmuwan pada umumnya yang hidup ‘menyepi’ di lab dan cenderung jauh dari hiruk pikuk dunia selebritas, Hawking adalah juga seorang selebriti, walaupun mungkin disengajanya. Hawking kerap muncul sebagai cameo dalam film dan tidak jarang ditampilkan dalam seni popular seperti film kartun dan bahkan film layar lebar. Hawking menunjukkan satu hal menarik: a nerd does not have to be boring. Dalam dunianya yang tanpa suara, Stephern Hawking bisa menjadi seorang yang lucu.

Bukunya, “A Brief History of Time” bahkan dinobatkan sebagai buku best seller dunia, sesuatu yang tidak lazim bagi sebuah buku ilmiah populer dengan topik bahasan yang berat. Oleh karena itu juga mungkin Hawking sering berkelakar, predikat yang tepat untuk bukunya sebenarnya adalah “buku paling populer yang tidak dibaca orang”. Faktanya, memang tidak banyak orang yang konon menuntaskan membaca buku ‘keramat’ tersebut.

Kepergian Hawking adalah kehilangan besar, tidak saja bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi bagi kehidupan dunia. Hawking adalah perlambang pejuang yang tidak menyerah pada keterbatasan. Hawking adalah bukti hidup bahwa seseorang bisa saja lemah di satu sisi tetapi bersinar terang di sisi lainnya. Hawking juga yang mengingatkan kita bahwa semestinya kita fokus pada kelebihan lalu mengasahnya hingga cemerlang, bukan pada kelemahan yang akan membawa kita pada keterpurukan. Semua hal bisa saja hilang dan mati tetapi selama ada harapan maka kita masih punya masa depan.

Dalam salah satu pernyataannya dia mengatakan bahwa dia memang menderia motor neuron disease tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk bisa memiliki keluarga bahagia dan sukses dalam karir profesionalnya. Maka dari itu, katanya, kita semestinya tidak pernah kehilangan harapan.

Selamat jalan Steve!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s