Sebelumnya saya pernah membuat posting di blog ini terkait cara membuat video aktivitas layar komputer untuk kepentingan tutorial atau presentasi. Saya lengkapi informasi tersebut dengan video seperti di bawah ini. Silakan dinikmati.
Di atas langit ada langit
Apapun yang saya lakukan, akan ada dua kemungkinan reaksi dari orang-orang di sekitar saya: suka atau tidak suka. Yang tidak peduli, tentu saja tidak jadi soal. Dalam menulis juga demikian, pasti ada yang tidak suka dan tentu ada juga yang suka. Bagaimana prosentase keduanya? Perlu penelitian yang serius soal ini dan sampai kini saya tidak memiliki data. Yang pasti, akan selalu ada yang suka pada apa yang saya buat dan sebaliknya ada yang tidak. Dalam hal karya, akan ada yang memerlukannya, ada juga yang sama sekali tidak memerlukannya.
25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth
Kemarin saya membaca sebuah cerita mengharukan. Seorang pemuda yang sudah berpisah dengan orangtuanya selama 25 tahun akhirnya berhasil menemukan ibunya setelah berusaha menjelajahi tempat kelahirannya dengan Google Earth. Terjadilan pertemuan yang mengharukan setelah perpisahan seperempat abad itu. Saya membuat sebuah video rekonstruksi, bagaimana orang ini berhasil menggunakan Google Earth untuk menemukan Ibunya. Silakan baca kisah selengkapnya di bawah.
Continue reading “25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth”
Berbekal mimpi, keliling dunia walau tuna netra
Masih segar dalam ingatan saya saat berkenalan dengan Mas Taufiq Effendi beberapa waktu lalu. Mas Taufiq adalah penyandang tuna netra yang akhirnya bisa menunjungi berbagai negara untuk menimba ilmu dengan beasiswa. Mas Taufiq adalah bukti hidup sebuah ucapan “jangan pernah menyerah” atau “impossible is nothing” atau “the harder I work the more luck I seem to have”. Silakan baca kisahnya yang inspiratif di Motivasi Beasiswa. Saya sudah lama tidak menangis membaca sebuah tulisan, kini saya mengalaminya lagi setelah membaca kisah Mas Taufiq.
Jualan tanah lewat peta
Saya menyebut cerita ini sebagai “aspek geospasial dalam komunikasi rumah tangga”. Belakangan ini kami, saya dan Asti, istri saya, mencari-cari lokasi tanah yang dijual. Setelah sekian lama numpang di tempat mertua, mungkin sudah saatnya berpikir kemandirian meskipun titik terang sepertinya masih sangat jauh. Tapi sebagai orang optimis, saya setuju dengan Obama, we will get there. Tapi ini bukan cerita tetang Obama, apalagi tentang Pondok Mertua Indah, sama sekali bukan.
Menjadi Minoritas
Teman saya yang tidak beragama Hindu kadang keliru mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada saya. Tentu saja itu tidak jadi soal dan saya tidak perlu kecewa. Saya yakin Tuhan juga tidak kecewa, apalagi marah pada kekeliruan remeh temeh seperti itu. Ucapan itu, salah atau benar, begitu menyentuh karena disampaikan dengan tulus. Itu sudah lebih dari cukup. Saya terharu banyak teman Muslim, Budhis atau Nasrani yang dengan terbata-bata mengatakan ‘rahajeng nyangra Rahiha Nyepi’, misalnya. Saya yakin ini tidak mudah bagi mereka dan munculnya kata-kata itu adalah hasil kesungguhan.
Prosa Sembilan tahun

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.
Earthquake in the west of Sumatera
Inilah Pusat Gempa Aceh 11 April 2012 menurut USGS
Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!

Sejak sekolah di Australia, banyak teman atau saudara, terutama anak-anak muda, yang bertanya bagaimana caranya bisa ke Australia untuk bekerja. Jika saja pertanyaannya untuk liburan tentu saja tidak sulit menjawabnya. Visa turis adalah jalan keluarnya, meskipun hanya untuk tiga bulan. Untuk bekerja, urusannya tidak sesederhana itu. Umumnya, untuk bisa bekerja di Australia, seseorang harus menggunakan visa kerja atau visa pelajar. Sebagai pelajar, seseorang bisa bekerja 20 jam seminggu. Sementara itu, visa kerja biasanya bisa diperoleh jika sudah ada tawaran kerja dari perusahaan. Ini tentu saja tidak mudah. Di sisi lain, tidak banyak teman-teman dan saudara saya yang bisa datang ke Australia dengan status pelajar karena memang sangat mahal.
Mulai setahun atau dua tahun lalu, Australia mengeluarkan satu jenis visa baru yang disebut Working and Holiday Visa. Visa jenis ini berkode 462 dan selanjutnya saya sebut sebagai Visa 462. Dengan Visa 462 ini, seseorang bisa masuk ke Australia dengan tiga tujuan yaitu liburan, bekerja dan belajar pada saat yang sama. Pemegang visa 462 bisa berada di Australia selama satu tahun, bekerja pada satu perusahaan yang sama selama enam bulan dan belajar selama maksimal empat bulan. Selama setahun itu, pemegang Visa 462 bisa liburan di berbagai tempat/state di seluruh Australia.
Continue reading “Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!”

