Masih segar dalam ingatan saya saat berkenalan dengan Mas Taufiq Effendi beberapa waktu lalu. Mas Taufiq adalah penyandang tuna netra yang akhirnya bisa menunjungi berbagai negara untuk menimba ilmu dengan beasiswa. Mas Taufiq adalah bukti hidup sebuah ucapan “jangan pernah menyerah” atau “impossible is nothing” atau “the harder I work the more luck I seem to have”. Silakan baca kisahnya yang inspiratif di Motivasi Beasiswa. Saya sudah lama tidak menangis membaca sebuah tulisan, kini saya mengalaminya lagi setelah membaca kisah Mas Taufiq.
Jualan tanah lewat peta
Saya menyebut cerita ini sebagai “aspek geospasial dalam komunikasi rumah tangga”. Belakangan ini kami, saya dan Asti, istri saya, mencari-cari lokasi tanah yang dijual. Setelah sekian lama numpang di tempat mertua, mungkin sudah saatnya berpikir kemandirian meskipun titik terang sepertinya masih sangat jauh. Tapi sebagai orang optimis, saya setuju dengan Obama, we will get there. Tapi ini bukan cerita tetang Obama, apalagi tentang Pondok Mertua Indah, sama sekali bukan.
Menjadi Minoritas
Teman saya yang tidak beragama Hindu kadang keliru mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada saya. Tentu saja itu tidak jadi soal dan saya tidak perlu kecewa. Saya yakin Tuhan juga tidak kecewa, apalagi marah pada kekeliruan remeh temeh seperti itu. Ucapan itu, salah atau benar, begitu menyentuh karena disampaikan dengan tulus. Itu sudah lebih dari cukup. Saya terharu banyak teman Muslim, Budhis atau Nasrani yang dengan terbata-bata mengatakan ‘rahajeng nyangra Rahiha Nyepi’, misalnya. Saya yakin ini tidak mudah bagi mereka dan munculnya kata-kata itu adalah hasil kesungguhan.
Prosa Sembilan tahun

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.
Earthquake in the west of Sumatera
Inilah Pusat Gempa Aceh 11 April 2012 menurut USGS
Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!

Sejak sekolah di Australia, banyak teman atau saudara, terutama anak-anak muda, yang bertanya bagaimana caranya bisa ke Australia untuk bekerja. Jika saja pertanyaannya untuk liburan tentu saja tidak sulit menjawabnya. Visa turis adalah jalan keluarnya, meskipun hanya untuk tiga bulan. Untuk bekerja, urusannya tidak sesederhana itu. Umumnya, untuk bisa bekerja di Australia, seseorang harus menggunakan visa kerja atau visa pelajar. Sebagai pelajar, seseorang bisa bekerja 20 jam seminggu. Sementara itu, visa kerja biasanya bisa diperoleh jika sudah ada tawaran kerja dari perusahaan. Ini tentu saja tidak mudah. Di sisi lain, tidak banyak teman-teman dan saudara saya yang bisa datang ke Australia dengan status pelajar karena memang sangat mahal.
Mulai setahun atau dua tahun lalu, Australia mengeluarkan satu jenis visa baru yang disebut Working and Holiday Visa. Visa jenis ini berkode 462 dan selanjutnya saya sebut sebagai Visa 462. Dengan Visa 462 ini, seseorang bisa masuk ke Australia dengan tiga tujuan yaitu liburan, bekerja dan belajar pada saat yang sama. Pemegang visa 462 bisa berada di Australia selama satu tahun, bekerja pada satu perusahaan yang sama selama enam bulan dan belajar selama maksimal empat bulan. Selama setahun itu, pemegang Visa 462 bisa liburan di berbagai tempat/state di seluruh Australia.
Continue reading “Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!”
Kebetulan

Orang bijak mengajarkan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Yang ada adalah serangkaian kejadian yang keterkaitannya seringkali tidak atau belum kita pahami. Saya pernah mengalami beberapa kejadian yang sulit untuk dikatakan bukan sebagai kebetulan.
Suatu hari di akhir tahun 2011 saya sedang liburan di Bali sama Asti dan Lita, istri dan anak saya. Suatu sore kami berkunjung ke rumah nenek, ibu dari ibu saya. Sudah menjadi tradisi, kami berkunjung ke rumah saudara di beberapa rumah. Saat asik berbincang-bincang ringan tiba-tiba terdengar telepon berdering dari kamar tamu. Sore itu kami duduk di teras rumah sambil ngobrol. Salah seorang bibi saya bergegas menjawab telepon tersebut. Saya tidak mengikuti pembicaraannya dengan seksama meskipun samar-samar terdengar. Yang saya tangkap adalah bibi saya ini berbicara dengan orang asing dengan nada yang sopan, meggunakan Bahasa Bali halus. Beberapa saat kemudian dia tergesa keluar dan menyerahkan telepon itu pada saya. “Ada yang mau bicara” katanya dengan nada agak ragu-ragu. Saya tentu saja terkejut. Dengan pandangan mata ragu dan gerakan tidak yakin saya menyambut telepon itu. Jika Anda tidak sadar mengapa saya ragu-ragu, saya sarankan membaca ulang paragraf ini, terutama konteks saya di Bali yang sedang liburan dan bahwa saya ada di rumah itu dalam rangka berkunjung.
Pak Rektor yang Bersahaja

Rabu tanggal 4 April 2012, ANCORS, pusat studi tempat saya belajar S3, kedatangan tamu istimewa. Vice-Chancellor atau yang kalau di Indonesia setara dengan Rektor, datang berkunjung. Selanjutnya saya akan sebut saja beliau sebagai Rektor. University of Wollongong memiliki Rektor baru bernama Paul Wellings dan dalam beberapa minggu terakhir aktif “turun ke lapangan” melihat situasi sesungguhnya. Agak berbeda dengan di Indonesia, adalah sangat biasa bagi sebuah universitas di Australia memiliki rektor yang berasal dari luar kampus. Paul sebelumnya adalah Vice-Chancellor Lancaster University. Meskipun secara hukum hal ini dimungkinkan di Indonesia, saya belum pernah tahu ada universitas negeri besar yang rektornya berasal dari luar universitas tersebut.
Someone to rely on

Cooking is something good for hobby but it certainly can be a burden when you have to do it every day. I have learnt something by being alone in Australia that I appreciate Asti, my wife, even more for her cooking. No matter what, the show must go on and I have to cook. Buying meals everyday is undoubtedly not a financially good idea when you live in Australia. There you go, I cook. Another problem is that I am not very good at cooking. Whom do I come to when I have recipe questions? Asti is certainly one of the very first options. However, with all my respect and love to Asti, my mother sometime fits this role even better. Whenever and wherever I face cooking issue, I just dial her number and ask. She will always come with brilliant and specific answer. The good thing that I like about this ‘distance recipe’ is that my mother always says “that’s OK” whenever I said “but I don’t have that ingredient, I have only this”. With her advice, anything seems to be good enough to produce quality food.

