Penjor Galungan

galungan

Pak Wayan Sukantra, guru Agama Hindu kami saat SD, pernah bercerita. Jangan memperlakukan orang seperti penjor, katanya. Penjor itu, bagian lurusnya kita tanam tenggelamkan, bagian bengkoknya kita umbar pamerkan. Katanya, itu artinya kita lebih memerhatikan keburukan orang lain dan cenderung mengabaikan kebaikannya. Saya masih SD, usia belum genap duabelas tahun sehingga belum mampu memahami apa yang dimaksud Pak Wayan Sukantra. Bagi saya, cerita itu mengganggu karena selama ini penjor menjadi simbol kemeriahan hari raya. Penjor selalu ditemukan di jalanan di Bali ketika hari raya, terutama saat Galungan dan Kuningan. Ingatan di masa kecil tentang penjor salah satu yang membuat saya selalu rindu pulang.

Continue reading “Penjor Galungan”

Peta Krisis Google untuk Bencana Kebakaran di NSW, Australia

Sebenarnya kebakaran bukanlah sesuatu yang baru di Australia. Kehidupan mereka memang akrab dengan kebakaran hutan/semak. Kebakaran bagi Australia, mungkin mirip dengan gempa bumi bagi Indonesia. Kebakaran adalah sesuatu yang terjadi berulang kali, terutama pada musim panas seperti sekarang ini. Karena sudah sering terjadi, pemerintah sepertinya cukup siap menghadapi bencana ini. Peringatan kepada warga dan penyebaran informasi dilakukan dengan sangat baik. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa bencana kebakaran ini masih kadang menelan korban. Kadang bencana kebakaran juga lebih besar dari yang diantisipasi. Saat ini, giliran New South Wales yang mengalami bencana itu dan pemerintah berusaha keras menganggulangi.

Sementara itu, Google membantu menyediakan peta krisis dengan data yang diperoleh dari sumber resmi yakni NSW Rural Fire Service. Berikut adalah Peta Krisis Google untuk Bencana Kebakaran di NSW, Australia. (Peta interaktif ada di sini)
nsw

Herlina, malaikat [tak] bersayap

Lina dan Lita
Lina dan Lita

Dewi Lestari bisa jadi benar, terkadang malaikat tidak selalu hadir bersayap. Saya melihat sosok malaikat pada Putri Herlina yang belakangan sempat membuat sebagian penduduk dunia maya tertegun terpesona penuh haru. Putri Herlina, yang saya panggil Lina, adalah seorang perempuan cantik tanpa tangan yang baru saja menikah dengan seorang lelaki baik hati bernama Reza. Yang membuat haru, Reza adalah seorang pemuda tampan yang normal secara fisik dan berasal dari keluarga berada dan terhormat sementara Lina adalah seorang gadis yang tinggal di panti asuhan. Bukan. Ini bukan sebuah dongeng dari negeri antah berantah. Ini adalah sebuah kisah nyata yang mengingatkan kita bahwa keajaiban itu masih terjadi.

8 Juli 2000
Teriakan anak-anak panti asuhan cacat ganda Sayap Ibu membahana menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Wajah-wajah mereka sumringah. Nampak keceriaan dan rasa senang karena sebentar lagi mereka akan menikmati kue. Sementara itu di dekat lilin yang masih menyala tersenyum simpul seorang gadis dua puluhan tahun, menunggu saatnya meniup Lilin. Gadis itu adalah Asti, pacar saya, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Setelah sekitar dua tahun melakukan kunjungan rutin ke Panti Asuhan Sayap Ibu, Asti ingin merayakan ulang tahunnya bersama anak-anak penghuni sayap ibu. Memang tidak begitu lazim. Teman-teman saya waktu itu bahkan kadang berkelakar mengejek “pacaran kok di panti asuhan”.

Continue reading “Herlina, malaikat [tak] bersayap”

Let’s visit CERN Lab for FREE!

If you are a big fan of particle physics, you might want to visit the CERN Laboratory in Geneva, Switzerland. Have you been there? If not, you may want to visit the lab virtually before paying a real visit next time. Thanks to Google Street View, now you can visit CERN Lab. anytime you want without appointment. You do not have to put any safety equipment/uniform either. Enjoy!

Sugianto

Gambar dari http://djinar.wordpress.com

“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.

Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.

Continue reading “Sugianto”

Ketika Anies Baswedan Turun Tangan

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.

Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.

Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.

Continue reading “Ketika Anies Baswedan Turun Tangan”

Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang

Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang menemuimu lagi seperti tahun lalu. Alasanku hanya satu: aku rindu. Aku merindukan aroma pagi yang basah oleh embun dan tunduk oleh dingin kabut saat subuh. Aku merindukan teriakanmu yang dulu salah kupahami ketika menarik selimutku dan mengancamku untuk bersujud pada Sang Khaliq. Aku rindu gigil pagi saat dingin air tanah menampar wajahku yang ragu-ragu berbasuh wudhu. Aku rindu Ibu.

mubarak

Puasaku tahun ini aku niatkan untuk berserah diri tapi sejatinya ada pintaku. Aku ingin lewatkan Ramadhan untuk bersegera menemuimu. Padamu aku menemukan kasih Tuhan yang mengejawantah dalam pikir, kata dan laku. Aku tak pintar mencerna ayat-ayat suci, engkau tahu itu tapi aku tak pernah dirundung ragu akan keEsaan-Nya. Ada penegasan tentang Sang Keberadaan, tidak saja dari sentuhan hangatmu, tetapi juga dari kepedulian yang kau sembunyikan dalam kemarahanmu. Aku merindukan kemarahanmu, seperti ketika aku kecil saat menduga bahwa merafalkan ayat-ayat suci adalah siksaan di fajar buta. Aku terlambat Ibu, tapi aku menyadarinya kini.

Continue reading “Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang”

Belajar Public Speaking ala Marty Natalegawa

Saya pernah menulis tips dan trik untuk menjadi pembicara publik atau public speaker, di blog ini. Saya memang bukan pembicara publik professional tetapi punya sedikit pengalaman dan tips yang saya berikan berdasarkan pengalaman itu. Selain dari pengalaman sendiri, saya juga menuliskan hasil pengamatan saya terhadap pembicara publik lain yang menurut saya menarik. Saya pernah menulis rangkaian tips, memberikan contoh presentasi dan juga pernah mengajak pembaca belajar dari pidato Agus Yudhoyono. Kali ini saya ingin mengajak pembaca sama-sama menikmati dan belajar public speaking dari seorang diplomat senior Indonesia: Dr. Marty Natalegawa. Ada beberapa hal dari dari Pak Marty yang masih terus saya pelajari sampai kini.

Continue reading “Belajar Public Speaking ala Marty Natalegawa”

Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan

kafka-kecilPagi itu saya sedang mengantri di kantor post Kingsford, Sydney untuk mengambil paket kiriman. Rumah sedang kosong ketika paket itu diantar ke rumah sehingga saya mendapat pesan untuk mengambilnya di kantor pos. Tepat ketika saya maju karena tiba giliran untuk dilayani, seorang lelaki berusia senja menepuk bahu saya dan dia meminta dilayani lebih dulu. Hal ini tidak biasa terjadi di Australia karena umumnya orang-orang mengantri dengan tertib. Tidak terbiasa dengan kejadian demikian, saya terperangah bengong. Tidak hanya saya, petugas kantor pos juga terlihat terkejut. Secara spontan perempuan muda, petugas itu, hendak mengingatkan si bapak tua untuk membiarkan saya dilayani terlebih dahulu. Melihat itu, saya memberi isyarat agar lelaki itu dilayani duluan. “It’s okay!” kata saya tersenyum untuk meyakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Dari gaya bicaranya, saya duga lelaki tua itu seorang imigran. Dari wajahnya, kemungkinan besar dia berasal dari dari Eropa Timur.

Continue reading “Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan”

Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa

Foto oleh Jerico Pardosi
Dr. Marty Natalegawa, foto oleh Jerico Pardosi

Tidak biasanya saya mengenakan setelan jas saat berada di Australia. Negeri ini penuh dengan suasana informal dalam hal penampilan, terutama untuk mereka yang berstatus mahasiswa seperti saya. Makanya, mengenakan jas adalah keistimewaan. Jika bukan karena menghadiri acara penting, mungkin jas itu tidak akan menjalankan tugasnya hari ini. Pagi-pagi sekitar jam 10, saya sudah melaju dengan kereta dari Central Station menuju Macquarie University, Sydney. Hari ini istimewa, Macquarie University akan menganugerahkan gelar doktor kehormatan di bidang sastra (Dr Honoris Kausa) kepada Dr. Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Indonesia. Saya ingin menyaksikan sejarah itu.

Continue reading “Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa”