Silakan menikmati persembahan saya yang pasti tidak bagus 🙂 Now and Forever dari Richard Marx adalah lagu pertama yang saya bisa mainkan saat belajar main gitar 17 tahun lalu.
Category: Inspirasi
Mari Kita Ganyang Malaysia
Perselisihan dua bangsa serumpun ini sepertinya tidak habis-habis. Inilah sepuluh alasan mengganyang Malaysia:
Pirku malang pirku tersayang

Sore tadi saya membeli buah pir di sebuah pusat perbelanjaan di Wollongong. Mungkin lagi musimnya, ada begitu banyak pir yang dipajang, semuanya segar dan ranum. Warnanya yang hijau merekah mengundang selera. Rasanya ingin membeli semuanya tapi saya hidup sendiri. Tidak ada perlunya membeli buah pir lebih dari lima biji.
Saat mendekati sebuah keranjang, saya berpikir sejenak. Ternyata tidak mudah memilih lima biji pir dari ratusan yang bagus. Sulit menemukan yang cacat, semuanya istimewa dan nampak manis menggoda. Saya sentuh satu per satu, semuanya segar. Pir itu mengkal dan padat, matangnya pas mantap. Satu disentuh, yang lain seakan berteriak “mengapa bukan aku?!”. Begitu tangan saya berpindah ke yang berteriak, yang ditinggalkan menjerit “mengapa tidak jadi memilihku?!”. Kalau saja pir itu bisa berbicara, pastilah suasana akan riuh oleh tawa, pertengkaran, teriakan dan tangisan yang mengumandang.
Trikaya Parisudha

Suatu sore saya mendapat sms dari ibu mertua “Yah, Lita mau belajar Agama sama ayah jam 7 ya!” Dari semua sms yang ada, ini termasuk salah satu yang menegangkan. Segaul-gaulnya seorang Bapak, ketika tiba saatnya, maka dia harus mengajarkan agama kepada anaknya. Di titik inilah dia akan bertanya pada dirinya, seberapa paham dia tentang agama yang dianutnya.
Rok Mini

Suatu siang di bulan September, di belahan bumi utara.
“Eh sorry banget gue telat” Sarah datang beringsut, wajahnya agak tegang.
“Ya nih, nggak biasanya lu telat. Dari mana?” Rina yang sudah menunggu menyambut dengan pertanyaan.
“Ya, tadi gue nemenin si Rama tuh ke mall. Keliling nyari bahan bubur buat anaknya.”
“Lo, kenapa lu yang nyari, si Astrid ke mana?”
“Justru itu, tadi tiba-tiba si Astrid telpon gue buat bantuin si Rama beli bubur. Dianya lagi ada tugas ke Washington katanya.”
Cuci piring

Saat kecil saya terbiasa mendapat tugas mencuci piring dan menyiram tanaman. Sementara itu, kakak saya ditugaskan mencuci baju, ngepel, dan menyapu halaman rumah. Seingat saya, tugas itu kami lakukan sejak usia 6 tahun. Tentu saja tidak ada yang istimewa karena kebanyakan teman-teman saya juga demikian, membantu orang tua sejak usia belia. Saya mencuci piring di sungai dekat rumah. Piring dan peralatan dapur lain yang kotor ditempatkan dalam sebuah jembor, sejenis ember, yang terbuat dari aluminium. Saya menjunjungnya dari rumah ke tempat pencucian. Pembersihnya adalah sabun colek Wings Biru dengan penggosok dari sabut kelapa.
Dua Jam Bersama Hajriyanto Y. Thohari: Introspeksi, Retrospeksi dan Prospeksi Indonesia

Jika belakangan kita sering mendengar studi banding wakil rakyat yang tidak semestinya dan ditunggangi kepentingan pribadi, maka kisah tentang Hajriyanto Y. Thohari nampaknya berbeda. Dalam perjalanan pribadinya terkait studi putrinya di Sydney, Bapak Hajriyanto Y. Thohari yang adalah Wakil Ketua MPR dari Fraksi Golkar justru menyempatkan mengemban misi negara. Hal ini terlihat dari aktivitas beliau menghadiri berbagai acara, termasuk diskusi dengan mahasiwa Indonesia di Sydney tanggal 21 Mei 2012 di Konsulat Jenderal RI Sydney. Luhur Korsika, kawan yang duduk di sebelah saya berkelakar, “ini namanya perjalanan pribadi yang ‘ditunggangi’ kepentingan bangsa, bukan perjalanan negara yang ditunggangi kepentingan pribadi”. Saya kira ini tepat digunakan untuk menyimpulkan apa yang terjadi malam itu. Diskusi yang dipandu oleh Pak Nico, seorang diplomat KJRI Sydney, berlangsung menarik.
Kiprah seorang Hajriyanto bisa dilihat di media massa lewat tulisan dan pernyataan oralnya. Beliau juga memanfaatkan media sosial Twitter untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan memiliki situs pribadi www.hajriyanto.com. Penggunaan media komunikasi modern ini mengindikasikan niat beliau untuk berinteraksi dengan konstituennya. Sebagai seorang yang terlibat dalam memperjuangkan keterbukaan informasi publik, seorang Harjriyanto telah menjadi contoh yang layak ditiru.
Penghargaan kecil
Suatu malam saya diminta teman untuk membantu memasak dalam rangka sebuah pesta ulang tahun. Saya tersanjung sekali mendapat kehormatan ini karena ini adalah bentuk kepercayaan. Malam itu ada seorang kawannya yang ulang tahun dan mereka ingin menikmati malam dengan nyaman sehingga perlu orang lain untuk membantu memasak. Pekerjaan itu saya lakukan dengan senang hati. Bukan saja karena dibayar layak, pengalaman itu memperkaya dan menyempurnakan cerita saya bersekolah di negeri orang.
Pekerjaan kami sangat mudah, tinggal membakar atau menggoreng adonan yang sudah disiapkan sebelumnya. Yang lebih menyenangkan adalah para tamu sangat menikmati sajian kami. Saat pesta berlangsung, satu dua orang mendekat. Inilah yang menyentuh. “You guys, did the best job in the world” kata seorang lelaki mendekat dan mengajak kami ngobrol. Sama sekali tidak ada kesan perbedaan tukang masak dan tamu terhormat. Itulah yang menyenangkan di negeri Kangguru ini. Sebentar kemudian seorang perempuan datang dengan sate yang baru dihabiskannya setengah dan berteriak hampir histeris “oh my God, this is superb!” sambil mengangkat jempolnya. Entah berapa belas orang datang memuji malam itu, saya jadi bersemangat.
Video porno anggota DPR
Dari statistik harian, saya paham bahwa pembaca blog saya umumnya berkunjung ke sini karena alasan mulia yaitu mencari informasi seputar beasiswa luar negeri, terutama beasiswa ADS, atau tentang pengalaman sekolah di luar negeri. Sebagian lain berkunjung ke sini karena ingin membaca perihal disiplin geospasial. Singkatnya, bagaimana memanfaatkan peta untuk berbagai tujuan. Sebagian kecil lainnya tertarik pada cerita kontemplatif terkait pengalaman hidup saya dan keluarga. Mengetahui hal ini, posting saya biasanya bertema sekitar itu, hal-hal yang memang diminati pembaca blog ini.
Pagi ini saya dikejutkan sebuah berita tentang video porno yang pemerannya mirip anggota DPR bernama Karolin. Rupanya ini sudah agak lama beredar dan saya baru tahu. Mungkin karena memang tidak tertarik pada hal yang demikian (betul, ini murni pencitraan). Lebih mengejutkan lagi, saya mendapat kiriman seorang yang tidak dikenal yang ternyata adalah link video dimaksud. Meskipun saya tahu para pembaca tidak akan menyukai video semacam ini, tidak ada salahnya saya bagi link tersebut di sini.
Kalaupun Anda memutuskan untuk menontonnya itu pastilah karena alasan ilmiah dan ideal, misalnya untuk mengetahui keaslian video, atau untuk dijadikan pelajaran bahwa ketika nanti menjadi pejabat tidak akan melakukan hal yang sama, atau dalam rangka menyiapkan sebuah opini di koran terkait moral Anggtoa DPR yang sedemikian mengenaskan. Apapun itu, semoga ada manfaatnya. Yang pasti, penyebaran link ini tidak pernah dimaksudkan untuk menghina seseorang apalagi mengecewakan. Jika kemudian ada yang tersinggung, terhina atau kecewa, besar kemungkinan itu terjadi karena kesalahan sendiri dan telah salah mengambil langkah.
Silakan nikmati video ini untuk alasan ideal seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Klik: Karolin-DPR-RI
Cinta Segitiga
Orang Bali punya pepatah, “bukit johin katon rawit” yang mirip dengan ungkapan Jawa “sawang sinawang”. Ungkapan ini kira-kira bermakna bahwa yang terlihat dari jauh kadang selalu mulus, indah dan halus. Kenyataannya belum tentu demikian. Hal ini sedang saya alami bersama keluarga.
Beberapa saat lalu kami bergembira karena Asti berhasil memenangkan beasiswa ADS yang bergengsi itu, saat ini kami dihadapkan pada situasi yang tidak satu keluargapun mengidam-idamkannya. Malam ini Asti terbang ke Bali untuk mengikuti pelatihan, saya masih berjuang di Wollongong dan Lita ditemani mbahnya sekolah di Jogja. Saat menulis ini saya melihat Asti dan Lita berkemas di Jogja lewat Skype Video Chat. Dalam kelakar saya menyebutnya sebagai “cinta segitiga: Bali, Jogja, Wollongong”. Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak, rasanya tidak perlu saya kisahkan dengan kata-kata betapa tidak mudahnya ini semua. Yang muda dan belum menikahpun saya kira bisa mereka-reka. Semua orang pernah jadi seorang anak, setidaknya.
