Penghargaan kecil


Suatu malam saya diminta teman untuk membantu memasak dalam rangka sebuah pesta ulang tahun. Saya tersanjung sekali mendapat kehormatan ini karena ini adalah bentuk kepercayaan. Malam itu ada seorang kawannya yang ulang tahun dan mereka ingin menikmati malam dengan nyaman sehingga perlu orang lain untuk membantu memasak. Pekerjaan itu saya lakukan dengan senang hati. Bukan saja karena dibayar layak, pengalaman itu memperkaya dan menyempurnakan cerita saya bersekolah di negeri orang.

Pekerjaan kami sangat mudah, tinggal membakar atau menggoreng adonan yang sudah disiapkan sebelumnya. Yang lebih menyenangkan adalah para tamu sangat menikmati sajian kami. Saat pesta berlangsung, satu dua orang mendekat. Inilah yang menyentuh. “You guys, did the best job in the world” kata seorang lelaki mendekat dan mengajak kami ngobrol. Sama sekali tidak ada kesan perbedaan tukang masak dan tamu terhormat. Itulah yang menyenangkan di negeri Kangguru ini. Sebentar kemudian seorang perempuan datang dengan sate yang baru dihabiskannya setengah dan berteriak hampir histeris “oh my God, this is superb!” sambil mengangkat jempolnya. Entah berapa belas orang datang memuji malam itu, saya jadi bersemangat.

Saya yakin hidangan itu memang enak dan enaknya menjadi lebih istimewa karena setiap orang menyampaikan apresiasinya. Ketika malam sudah beranjak larut, kawan yang ulang tahun datang, menjabat tangan saya dan melihat mata saya lekat-lekat. Dia berkata “Andi, I do not know how to thank you, but you did great, Mate. I definitely owe you something. I really really appreciate what you have done.” Ketika saya bilang saya juga senang melakukannya dia menambahkan “whenever you have a party, whatever it is, let me know, I will cook for you, Really!” Saya tahu ini adalah budaya dan bagian dari sopan santun tapi saya melihat kesungguhan pada ucapannya.

Beberapa saat kemudian, istrinya melakukan hal yang sama. Memberi apresiasi yang sangat tulus. Jika peka, kita sesungguhnya tahu kapan orang berkata tulus kapan tidak. Selain itu, yang juga sangat menarik adalah hampir semua orang yang datang ke dapur menyempatkan diri ngobrol dan bertanya kegiatan saya, sekolah saya dan seterusnya. Mereka menunjukkan ketertarikan yang tidak dibuat-buat. Saat tahu saya sekolah S3, banyak yang tertarik ngobrol lebih jauh. Yang membuat saya terkesan adalah kerelaan mereka memberi kesempatan kepada saya untuk berekspresi dengan cara bertanya sehingga saya sempat menjelaskan diri. Tidak sulit menjumpai keadaan sebaliknya di kebudayaan lainnya, bahwa para tamu memilih untuk tidak berinteraksi dengan tukang masak. Saya juga yakin para tamu demikian itu tidak sombong hanya saja itu bukan bagian dari budaya mereka dalam berinteraksi. Di Indonesia, secara umum, hal ini mudah dijumpai. Tamu yang menyantap makanan dalam acara pesta umumnya hanya mengambil makanan dan tidak berinteraksi dengan penjaga stand makanan. Tidak aneh, karena memang demikianlah kebiasaan yang berlaku di Indonesia. Seringkali para tamu lupa akan keberadaan para penjaga stand makanan itu. Dengan memposisikan diri sebagai tukang masak, saya bisa melihat situasi dengan perspektif lain yang lebih kaya.

Kerelaan berbicara pada orang-orang pada posisi demikian, misalnya tukang jaga makanan dalam pesta atau tukang masak, sesungguhnya adalah bentuk penghargaan. Bagi saya, ini bentuk kasat mata dari prinsip egalitarianisme. Hanya orang dengan semangat egalitarianisme yang mendarah daging saja yang melakukannya. Sementara itu, orang Australia memang dididik dengan prinsip seperti itu, maka sikap para tamu malam itu pada saya tentu saja tidak istimewa bagi mereka. Hanya saja, bagi saya itu mengandung sejuta pelajaran.

Di saat pekerjaan memasak sudah hampir kelar, satu per satu tamu datang menghampiri dan mengajak kami untuk bergabung dalam pesta, ikut menikmati hidangan dan minuman. Ini juga salah satu bentuk penghargaan yang sangat menyentuh. Menyentuh bagi saya, lagi-lagi, meskipun itu hal yang barangkali biasa saja bagi mereka. Mereka memang hidup dengan kebiasaan sosial seperti itu. Maka saya ingin meninjau lagi satu pandangan bahwa orang bule seringkali meremehkan dan merendahkan orang-orang Asia. Saya curiga jangan-jangan akar persoalannya adalah pada kami, orang-orang Asia ini, yang terlanjur menganggap para bule lebih tinggi. Orang yang minder mudah dihinggapi kecurigaan.

Beberapa saat lalu saya juga mendapat email dari seorang kawan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dia menunjukkan sebuah email dari atasannya yang memberi apresiasi atas hal kecil yang dilakukannya. Sederhana tetapi menyentuh. Dengan mengetahui rasanya menjadi tukang masak dan dipuji oleh para tamu, saya bisa bayangkan betapa positif dampak email pujian itu bagi kawan saya. Dengan tidak tutup mata pada kelemahan yang terjadi, rasanya dunia akan lebih baik jika setiap orang memulai interaksi dengan orang lain dengan melihat kebaikannya. Akan lebih manis lagi jika kita terbiasa menyatakan penghargaan dengan tulus, betapapun kecilnya. Dan hal kecil ini akan menjadi istimewa jika kita lakukan juga pada orang paling dekat dalam hidup. Setelah ini saya akan mengirimkan sms kepada Asti, istri saya, betapa berterimakasihnya saya dengan segala dukungannya. Juga kepada Lita, anak saya, yang dalam usia sangat belia sudah bisa memahami situasi orang tuanya yang terpencar-pencar menggapai cita-cita. Siapa yang akan Anda beri penghargaan hari ini?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

10 thoughts on “Penghargaan kecil”

  1. Pak, I found your blog when I was searching for ADS information and tips. I do thanks for your willing to share. It means a lot for me and of course others ads applicants… Btw, which one do you think have bigger chance to be selected, coursework, research, or combination? thankyou…^^

  2. Pak, I found your blog when I was searching for ADS information and tips. I do thanks for your willing to share. It means a lot for me and of course others ads applicants… Btw, which one do you think have bigger chance to be selected, coursework, research, or combination? thankyou…^^

  3. Jangan pernah remehkan penghargaan kecil..karena efeknya sangat luar biasa! Hmmmm…saya jadi teringat kisah SMA. Saat itu…perempuan kecil dari kampung ini bersekolah di kota dan berkumpul dengan komunitas anak-anak borjouis, dan seorang teman berkata…”kamu gak bakal punya teman di sini, karena kamu cuma anak kampung yang sekolah naik sepeda”. Sedih hati ini mendengarnya….dan seperti biasa…seorang ibu yang bijaksana menenangkan putrinya…dengan berujar “nduukkk….niatmu itu khan sekolah….nggolek ilmu…supaya pinter ..itu yang penting,apapun yang mereka lakukan tetaplah ramah dan tulus kepada teman dan tetap menjadi diri sendiri”. Seiring berjalannya waktu…ketakutan ditinggalkan teman karena kesederhanaan yang saya miliki…terhapus sudah…karena anak kampung yang sederhana ini…kemudian terpilih menjadi ketua OSIS…(suatu kepercayaan yang tidak mungkin diterima tanpa dukungan banyak teman). Sebuah “penghargaan kecil” tak terlupakan yang diberikan teman-teman dan terus membekas di hati ini adalah …sapaan bunyi klakson dari mobil dan motor teman-teman sekolah ketika berpapasan di jalan….saat saya sedang mengayuh sepeda sambil bersimbah peluh, meskipun hal itu terlihat sepele dan remeh temeh….namun…artinya sangat luar biasa bagi saya. karena…ini adalah pengakuan terhadap eksistensi dan keberadaan diri saya.Dari hal tersebut saya belajar bahwa suatu hal yang penting…dari diri kita …adalah..”apa” dan “bagaimana” kita…. bukan karena apa yang kita bawa dan miliki…

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s