Titanic: Lebih dari sekedar romantika


Generasi muda yang menghabiskan masa remajanya di pertengahan atau akhir 1990 mungkin mengingat Titanic sebagai sebuah film box office yang memenangkan sebelas penghargaan Oscar. Sebagian mungkin mengaitkan Titanic dengan adegan saat Rose DeWitt Bukater berteriak histeris “Jack I’m flying” saat Jack Dowson mendekapnya dari belakang di anjungan sebuah kapal. Meskipun banyak yang paham bahwa film Titanic memang didasarkan pada kisah nyata, banyak yang tidak tahu bahwa kecelakaan yang menimpa Titanic merupakan salah satu insiden maritim terpenting dalam sejarah modern umat manusia.

Titanic adalah kisah nyata dan perjalanannya juga nyata. Mereka yang menyukai sejarah pasti paham hal ini. Tanggal 10 April 1912, Titanic memulai pelayarannya dari Southampton menuju New York, AS. Titanic membawa orang-orang terkaya di dunia dan para imigran yang mencoba meraih kehidupan yang lebih baik di Amerika Utara. Titanic dianggap sebagai kapal yang paling mutakhir di masa itu dengan teknologi paling canggih. Konstruksinya menghabiskan waktu selama tiga tahun dengan dana sekitar ASD 7,5 juta, melibatkan sekitar 3000 pekerja. Singkat kata, Titanic adalah kapal penumpang yang paling mewah di masa itu. Sungguh mengejutkan karena berikutnya Titanic dikenang sebagai kecelakaan kapal yang paling mengenaskan sepanjang sejarah.

Untuk memperingati 100 tahun tragedi Titanic di bulan April 2012, dunia mengenang Titanic dengan berbagai cara. Industri hiburan merilis ulang film Titanic yang bisa dinikmati dalam format 3 Dimensi. Orang-orang geospasial yang bergelut dengan peta merekonstruksi rute perjalanan Titanic dengan media geospasial berbeda-beda, terutama peta online. Misalnya, ada versi perjalanan Titanic yang bisa dinikmati di Google Earth dan Google Maps. ESRI, sebuah perusahaan perangkat lunak sistem informasi geografis yang bermarkas di AS, juga membuat peta berbasis web yang menunjukkan jalur pelayaran kapal Titanic 100 tahun lalu. Dengan ini, pengguna bisa memperoleh informasi jalur pelayaran dan informasi rinci para penumpangnya.

Untuk ambil bagian dalam peringatan 100 tahun perjalanan Titanic, Australian National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollongong, Australia menggelar seminar tanggal 13 April 2012. Satu-satunya pembicara malam itu adalah Dr. John Mansell, seorang ahli dari New Zealand. Dr. Mansell adalah penasihat maritim utama untuk Maritime New Zealand dan master mariner yang sebelumnya merupakan seorang nakhoda kapal. Dia juga meraih gelar PhD dari ANCORS tahun 2007. Yang membuat malam itu istimewa adalah bahwa pembicara bukanlah sekedar seorang ahli dalam hal teori, dia adalah juga praktisi. Dr. Manshell, seperti dijelaskan oleh Direktur ANCORS malam itu, telah menyelesaikan pelayaran tunggal menempuh jalur yang dilalui Titanic. Sangat mengesankan! Menyimak Dr. Manshell sesungguhnya belajar dari seseorang yang telah melakukan apa yang diucapkannya.

Salah satu implikasi tragedy Titanic adalah bahwa dunia menjadi lebih peduli terhadap keselamatan dan keamanan laut. Tragedi yang menelan sekitar 1500 jiwa itu memantik berbagai pertanyaan terkait standar keselamatan yang berlaku. Salah satu langkah penting dalam merespon bencana itu adalah diadopsinya konvensi internasional tentang keselamatan jiwa di laut atau Safety of Life at Sea (SOLAS) pada tahun 1914 oleh dunia internasional. Tujuan utama Konvensi SOLAS adalah untuk meningkatkan keselamaan kapal niaga di laut. SOLAS tahun 1914 merupakan versi pertama, diikuti oleh SOLAS kedua tahun 1929, SOLAS ketiga tahun 1948, SOLAS keempat tahun 1960 dan yang kelima, atau yang terkini tahun 1974. SOLAS terkini diadopsi tanggal 1 November 1974 dan berlaku secara hukum tanggal 25 Mei 1980. Konvensi ini dianggap sebagai perjanjian internasional yang terpenting terkait keselamatan kapal niaga.

Indonesia juga merupakan negara anggota (contracting state) bagi Konvensi SOLAS. Indonesia menandatangani konvensi tanggal 7 Februari 1981 dan meratifikasinya tanggal 17 Mei 1981. Sejak itu, Indonesia wajib patuh pada segala ketentuan SOLAS. Sebagai Negara kepulauan, 2/3 wilayah dan yurisdiksi Indonesia berupa laut sehingga SOLAS sangatlah penting maknanya bagi Indonesia. Kegiatan pelayaran juga sangat sesensial bagi ekonomi Indonesia sehingga, konsekuensinya, keselamatan jiwa di laut menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Menjadi negara anggota Konvensi SOLAS merupakan keputusan yang tepat bagi Indonesia. Salah satu konsekuensinya adalah bahwa Indonesia harus patuh pada aturan International Ship and Port Facility Security Code atau ISPS code. Praktisnya, pelabuhan Indonesia harus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan ISPS code. Pelabuhan Belawan, misalnya, sudah memenuhi criteria ISPS code tetapi banyak pelabuhan lainnya yang masih belum. Ada banyak hal yang harus dikerjakan untuk memastikan kepatuhan itu. Meskipun isu-isu lain seperti belum tuntasnya batas maritim dan penangkapan ikan illegal merupakan agenda penting bagi Indonesia, nampaknya keselamatan dan keamanan maritim juga sama-sama penting.

Saya bukanlah ahli keselamatan dan keamanan luat tetapi telah belajar sesuatu setelah mengikuti seminar di ANCORS. Menarik sekali melihat dunia belajar tentang keselamatan dan keamanan laut dengan cara berdarah-darah karena tragedi Titanic. Tragedi yang menelan 1500 korban jiwa 100 tahun lalu akhirnya menjadi alasan paling kuat bagi dunia untuk melengkapi dirinya dengan instrumen legal dan teknis. Kini saya menjadi lebih yakin bahwa Titanic memang bukan sekedar persoalan romantika. Tragedi Titanic terutama adalah fondasi bagi keselamatan dan keamanan maritim yang kita nikmati dewasa ini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s