Kisanak, jujur saja padaku. CobaΒ Kisanak menjawab pertanyaan ini dengan cara membayang-bayangkan menggunakan akal sehat yang wajar. Apakah semua orang di Indonesia berhati baik dan mulia ketika bangsa ini berjuang di tahun 1940an? Apakah semua orang di saat itu berkarakter emas seperti yang kita baca di buku-buku sejarah saat ini? Betulkah ketika bangsa ini mengusir penjajah semua orang bersatu padu rela berkorban demi bangsa dan negara? Kita semua tabu jawabannya. TIDAK! Tidak semua orang ketika itu berjiwa pahlawan seperti yang mungkin dibayangkan kebanyakan dari kita. Tidak semua orang layak mendapat doa dalam hening cipta kita tiap hari Senin.
Category: Geodesi UGM
Mahasiswa Senior VS Mahasiswa Baru
Kini masanya Mahasiswa Baru masuk kampus. Bagaimana dengan Mahasiswa Senior? Ayo kita simak bagaimana sebaiknya agar sama2 baik π
- Mahasiswa Senior jangan galak berlebihan sama Mahasiswa Baru, tujuh tahun lagi, mereka bisa jadi bos kamu. Yang wajar2 saja ya π
- Mahasiswa Senior yang paling galak saat orientasi, jangan sampai jadi yang paling gagap saat ditanya Mahasiswa baru soal mata kuliah nantinya π
- Mahasiswa Senior kadang perlakukan Mahasiswa Baru seakan mereka bod*h, lupa kalau diantara mereka ada pemenang Olimpiade dan mungkin akan lulus duluan.
- Tips hadapi Mahasiswa Senior, hubungi dengann amat sopan penuh hormat, Mahasiswa baru bisa tanya PR yang super sulit. Kadang aktivis lupa belajar π
- Mahasiswa Senior, kalian pernah jd Mahasiswa Baru. Senior seperti apa yang jadi idola? Bukan yang galak, sok kuasa, serem, tapi nggak pinter kan!?
- Kalau Mahasiswa Senior merasa perlu ditakuti Mahasiswa Baru, mungkin kalian tidak punya kebanggaan lain dalam hidup. Coba renungkan π
- Mahasiswa Senior jangan bangga bisa bikin keder Mahasiswa Baru. Tugas kalian tampil dengan PD menghadapi mahasiswa ASEAN di forum/kompetisi regional π
- Mahasiswa Senior tidak perlu berlebihan pada Mahasiswa Baru. Yang wajar2 saja agar tidak kikuk saat pinjam catatan waktu ngulang kuliah nanti π
- Mahasiswa Senior mau galak sama Mahasiswa Baru? Pikir lagi. Tujuh tahun lagi kamu bisa saja diwawancarai sama salah satunya saat mau pindah kerja π
- Mahasiswa Senior, kenapa kamu galak sama Mahasiswa Baru? Jangan-jangan karena kamu takut ditanya bahan kuliah yang kamu nggak ngerti π
- Mahasiswa Senior kenapa galak sama Mahasiswa Baru? Jangan2 karena memang tidak ada hal baik yang bisa kamu tawarkan untuk membantu mereka π
- Mahasiswa Senior, apa pendapat Mahasiswa Baru tentang kamu? A] Baik, pinter, suka membantu, sabar, cakep atau b] galak, sengak, ga pinter, sok tahu? π
- Mahasiswa Baru sadarilah psikologi Mahasiswa Senior. Kehadiranmu bisa ‘mengancam’. Pahami kalau mereka ingin kamu sopan dan hormat. Saling dukung.
- Mahasiswa Senior kadang lupa kalau Mahasiswa baru yang mereka hadapi bisa saja lebih pintar, lebih dewasa dan mungkin akan lebih cepat lulus π
- Waktu 4 tahun ini sangat cepat. Mahasiswa Baru yang diplonco Mahasiswa Senior hari ini akan mengevaluasi kinerja Mahasiswa Senior itu di dunia kerja nanti.
- Mahasiswa Senior, jika kamu benci dan kesel melihat Mahasiswa Baru, hati-hati, bisa jadi hanya karena dia lebih cantik dan lebih populer.
- Mahasiswa baru yang dibully Mahasiswa Senior dalam sebuah ospek hari ini, bisa jadi presiden Indonesia tahun 2049 nanti. Tunggu undangan inagurasinya.
- Jika Mahasiswa Senior menghadapi Mahasiswa Baru hari ini dan berniat membully, ingatlah, 12 tahun lagi kamu juga menghadap dia di kantornya, nunggu lama dan hanya ditemani satpam. Itupun tanpa suguhan.
- Mahasiswa Senior pengen jadi dosen? Hati-hati, bisa jadi Mahasiswa Baru yang kamu bully hari ini jadi pembimbing S3mu nanti.
- Mahasiswa Senior yang membully Mahasiswa Baru hari ini mungkin lupa apa yang sudah diperbuatnya tetapi percayalah, Mahasiswa Baru tidak akan lupa π
Kenapa Mahasiswa Senior yang banyak βditekanβ dalam posting ini dan bukan Mahasiswa baru? Karena yang hebat dan punya kuasa adalah yang senior. Dengan kekuatan yang lebih besar maka lahir tanggung jawab yang lebih besar pula. Thanks π
Sakit
Tahun 1999 saya pernah dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Kala itu masih mahasiswa dan demam berdarah telah menundukkan saya. Ketika ditanya oleh Ibu saya, Asti, yang ketika itu masih jadi pacar, berkata setengah berkelakar βBli Andi cuma perlu istirahat, Meβ. Kalau tidak sakit, dia tidak akan istirahatβ. Kata-kata itu saya ingat terus. Candaan itu sederhana tetapi rupanya benar berlaku pada saya. Sakit membuat saya berhenti. Tidak saja istirahat tetapi juga berpikir dan terutama merenung.
Ambalat Lagi
I MADE ANDI ARSANA
Kompas | 4 Juli 2015
Pada 2005 silam hubungan Indonesia dan Malaysia sempat memanas karena sengketa Blok Ambalat di Laut Sulawesi. Satu dekade berlalu, ternyata Ambalat mencuat lagi dan menimbulkan keresahan yang hampir sama. Perihal perbatasan memang tidak sederhana. Indonesia berbagi daratan dengan Malaysia di Borneo sebagai konsekuensi dari kolonialisasi Inggris dan Belanda. Prinsip bahwa wilayah dan batas wilayah suatu negara mengikuti penjajahnya dianut berbagai negara di dunia dewasa ini.

Meski garis batas darat sudah jelas, garis batas lautnya belum ditetapkan. Garis batas darat antara Indonesia dan Malaysia berakhir di sisi timur daratan Borneo, memotong Pulau Sebatik. Idealnya, garis batas yang memotong Pulau Sebatik inilah yang diteruskan ke arah Laut Sulawesi sehingga menjadi pembagi kawasan laut bagi kedua negara. Sayangnya, garis ini belum kunjung terwujud sehingga pembagian laut di Laut Sulawesi belum tuntas hingga kini.

Pelanggaran?
Jika demikian, mengapa ada berita pelanggaran? Mengapa kita bisa yakin menuduh Malaysia memasuki wilayah Indonesia di Ambalat? Perlu dipahami bahwa meskipun Indonesia dan Malaysia belum bersepakat tentang pembagian kawasan laut, kedua negara sudah mencoba mengklaim secara sepihak. Tidak saja mengklaim, sejak 1960-an Indonesia bahkan sudah menetapkan kawasan konsesi dengan membuat kavling/blok dasar laut yang mengandung minyak atau hidrokarbon lainnya. Blok konsesi ini dieksplorasi perusahaan profesional yang mendapat izin. Salah satu kavling tersebut bernama Ambalat (1999) dan satu lagi bernama East Ambalat (2004).

Malaysia tidak protes secara eksplisit, seakan-akan menyetujui. Meski demikian, pada 1979 Malaysia mengajukan klaim sepihaknya melalui sebuah peta yang tumpang tindih dengan klaim Indonesia. Indonesia menganggap Malaysia salah karena mengklaim apa yang sudah diklaim Indonesia. Namun, perlu diingat, di Laut Sulawesi belum ada garis batas maritim yang disepakati sehingga belum jelas secara hukum internasional kawasan laut milik Indonesia maupun Malaysia. Keadaan memburuk ketika pada 2005 Malaysia memberikan konsesi atas blok yang sebelumnya sudah dikonsesikan Indonesia. Pecahlah kasus Ambalat jilid 1.
Perlu diingat lagi, Ambalat adalah blok dasar laut, bukan pulau, bukan daratan. Nama Ambalat ini diberikan Indonesia, sedangkan Malaysia menyebutnya ND6 dan ND7. Milik siapa blok tersebut? Indonesia mengklaimnya, Malaysia juga. Keduanya belum bersepakat karena pembagian kawasan laut di Laut Sulawesi belum tuntas. Sampai kini Indonesia dan Malaysia masih merundingkannya secara intensif.
Maju, tetapi belum tuntas
Sejak 2005 sekitar 30 perundingan sudah dilakukan. Ada kemajuan, tetapi belum tuntas. Memang tidak mudah menetapkan batas maritim. Indonesia dan Vietnam perlu 25 tahun, dengan Singapura bahkan hingga 41 tahun untuk batas maritim yang relatif pendek. Jika melihat peta NKRI tahun 2015, tampak bahwa Indonesia menganggap Blok Ambalat adalah bagian dari NKRI. Sementara itu, menurut peta Malaysia 1979, Blok Ambalat dianggap bagian dari Malaysia. Tumpang susun peta Indonesia dan Malaysia memperlihatkan klaim tumpang tindih. Itulah yang saat ini dirundingkan.
Indonesia tentu punya argumen kuat akan klaimnya. Malaysia mungkin punya keyakinan yang sama. Mengapa tidak dibagi dua saja dengan garis tengah? Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) sebagai dasar hukum tidak mengatur secara eksplisit metode yang harus digunakan. UNCLOS mewajibkan dua negara bersengketa untuk mencapai “solusi yang adil”, yang artinya “terserah” kepada kedua negara. Maka, peran negosiator sangat penting. Jika tidak selesai dalam negosiasi, kasus ini bisa dibawa ke lembaga peradilan, seperti Mahkamah Internasional atau International Tribunal for the Law of the Sea meski tanda-tandanya belum ada.
Untuk menyelesaikan kasus perbatasan dengan Malaysia, Indonesia menunjuk utusan khusus, yaitu Duta Besar Eddy Pratomo. Tugasnya tidak hanya menyelesaikan kasus Ambalat di Laut Sulawesi, tetapi juga kawasan lain yang belum tuntas: Selat Malaka, Selat Singapura, dan Laut Tiongkok Selatan. Kini kedua negara harus mempercepat penyelesaian batas maritim dan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan provokatif di kawasan yang masih dalam sengketa. Media juga bertanggung jawab menyajikan berita obyektif agar masyarakat tidak mudah tersulut.
Membela bangsa itu wajib, tetapi tidak dengan menebar kebencian kepada bangsa lain. Membela bangsa harus dengan nasionalisme yang cerdas dan terhormat.
DOSEN TEKNIK GEODESI UGM, PENELITI ISU PERBATASAN INTERNASIONAL
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juli 2015, di halaman 7 dengan judul “Ambalat Lagi”.
Spaghetti tahun 1995
Kuta Bali, tahun 1995
βIni to Ketua OSISnya? Kok Kecil?β kata lelaki usia empat puluhan tahun itu berkelakar. Dua kawanku tersenyum saja. Aku tidak menjawab, hanya menyalami dengan senyum sopan. Lelaki itu, kalau tidak salah, adalah seorang manajer di hotel ini. Hotel besar yang terkenal di Bali. Aku hanya bisa kagum. Betapa hebatnya lelaki ini, menjadi orang penting di sebuah hotel berbintang. Penampilannya nampak perlente, professional dan elegan. Sementara itu aku gugup luar biasa, tak terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Aku Ketua OSIS, terbiasa memimpin pasukan di lapangan atau memimpin rapat dengan sesama pengurus OSIS tetap tidak pernah dilatih berinteraksi dengan seorang professional sekelas manajer hotel dalam suasana yang mewah dan mentereng. Nyaliku ciut.
Harvard

Mejanya terlihat biasa saja. Di atas meja itu tergeletak sebuah piring kertas yang padanya terkapar pisau dan sendok plastik berlumuran saos. Kotor, tidak rapi dan mengenaskan. Di sebelahnya terhampar selembar kertas tisu, melambai-lambai terpapar desiran angin yang halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh selidit. Barang-barang itu tentu tidak istimewa.
Mataku menerawang, melihat lelaki dan perempuan muda yang bergerak cekatan, lincah dan trengginas. Beberapa dari mereka nampak berjingkat bergegas, sementara yang lainnya memegang segepok makanan dan menggigitnya sambil berlalu tergesa. Aku menyaksikannya saja. Di pojok yang agak jauh, ada sekelompok lelaki dan perempuan, membuka kotak pizza dengan antusias dan menyantapnya dengan penuh semangat. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki yang tubuhnya ada di sana tetapi jiwanya entah ke mana. Sepotong sandwich yang digenggamnya, lenyap potong demi potong menyelinap ke dalam mulutnya bahkan mungkin tanpa dia sadari. Jiwanya sedang tenggelam bersama bacaannya yang memendarkan cahaya redup dari sebuah tablet yang nangkring di atas meja. Mungkin pikirannya telah tersandera kisah misteri cerdas sekelas karya John Grisham, atau melayang-layang bersama percikan rumus-rumus Kimia atau Fisika yang seakan beterbangan di sekitar kepalanya, atau hanyut bersama kasus-kasus hukum internasional yang diputuskan di gedung mentereng Mahkamah Internasional di The Hague. Entahlah, apa isi bacaan lelaki itu. Dia tenggelam sempurna dan tidak terusik oleh apa yang terjadi di sekitarnya.
Indonesia Laris Manis
Hampir setahun terlibat di Kantor Urusan Internasional UGM, kesibukan yang paling menyita perhatian dan waktu adalah menerima tamu. Setiap minggu, hampir tidak pernah tidak ada tamu dari luar negeri. Kawan sering berkelakar βkamu jadi kepala kantor atau among tamu sih?β Meski kadang lelah, selalu ada hal baru yang dipelajari dari masing-masing tamu. Yang sama dari hampir semua tamu adalah tujuan mereka untuk menjalin kerjasama dengan UGM. Sebagian besar dalam keadaan βngebetβ untuk menjadi mitra UGM. Ini menarik dan berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya.
Setangkai mawar pengingat
Kisanak, jika kamu melintas di depan toko bunga itu, berhentilah sejenak. Sempatkanlah menikmati ranum mawar yang wanginya menawan, lalu pilihlah setangkai. Ambillah dengan niat penuh seluruh dan tukarlah dia dengan selembar uang pengganti keringatmu, lalu ciumlah penuh sukacita. Silakan bergegas pergi dan niatkanlah dalam hatimu akan sebuah nama dan sebentuk wajah. Jadikanlah nama dan wajah yang tak asing itu sebagai penerima persembahanmu.
Tidak usah menunduk apalagi bersimpuh berlutut. Kisanak tidak perlu lakukan itu. Berikanlah setangkai mawar putih itu kepadanya. Kepada dia yang menunggumu di balik pintu, tak peduli seberapa terlambat dirimu kembali menjumpai rumah. Kepada dia yang tak peduli dingin atau panas, menebar senyum saat dirimu turun dari pelana kuda seraya menambatkannya di samping pondokan. Kepada dia yang menipu kantuknya sendiri demi menyambutmu di temaram lampu yang terpedaya oleh ketulusannya. Kepada dia yang di saat tertentu hanya punya satu kata: dukung.
Kuliah di Jurusan atau Fakultas yang Tidak Populer? Santai Saja!
Saat ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa, saya ditanya terkait jurusan atau fakultas yang tidak populer. Singkatnya, mahasiswa ini merasa galau karena kuliah di tempat yang menurutnya tidak populer dan khawatir tidak akan bisa berperan optimal saat lulus nanti. Saya bisa memahami, pertanyaan seperti ini pasti juga disampaikan oleh banyak anak muda lain terkait jurusan atau fakultasnya. Ini jawaban saya yang sebelumnya disampaikan dalam bentuk kultwit di Twitter.
Continue reading “Kuliah di Jurusan atau Fakultas yang Tidak Populer? Santai Saja!”
Diplomasi Cabai

Ini cerita tentang cabai, bukan cabai cabaian. Cabai yang sebenarnya, cabai yang pedas. Sebagian orang menyebutnya cabe, sebagian lain mengatakan lombok. Berbeda nama tetapi toh rasanya sama: pedas. Pasalnya, tidak semua orang tahu bahwa cabai ini pedas. Itulah yang saya pahami dari interaksi saya dengan beberapa orang yang berasal dari luar Indonesia.
Kawan saya, seorang ahli hukum perikanan dari Australia, memberi saya pelajaran penting tetang cabai. Ketika itu, kami sama-sama berbicara di suatu forum di Bali. Panitia menyediakan gorengan dengan segala perlengkapannya. Tentu saja di dalam paket itu ada cabai hijau yang segar dan mengundang selera. Di antara gorengan itu ada tempe, ada bakwan, ada tahu dan segala rupa lainnya.