Diplomasi Cabai


http://cdn.klimg.com/merdeka.com/

Ini cerita tentang cabai, bukan cabai cabaian. Cabai yang sebenarnya, cabai yang pedas. Sebagian orang menyebutnya cabe, sebagian lain mengatakan lombok. Berbeda nama tetapi toh rasanya sama: pedas. Pasalnya, tidak semua orang tahu bahwa cabai ini pedas. Itulah yang saya pahami dari interaksi saya dengan beberapa orang yang berasal dari luar Indonesia.

Kawan saya, seorang ahli hukum perikanan dari Australia, memberi saya pelajaran penting tetang cabai. Ketika itu, kami sama-sama berbicara di suatu forum di Bali. Panitia menyediakan gorengan dengan segala perlengkapannya. Tentu saja di dalam paket itu ada cabai hijau yang segar dan mengundang selera. Di antara gorengan itu ada tempe, ada bakwan, ada tahu dan segala rupa lainnya.

Tiba-tiba saja saya mendengar sedikit kegaduhan, kawan saya ini mengeluh setengah berteriak. Rupanya dia menggigit dan mengunyah lalu menelan setengah biji cabai. Pasalnya, cabai itu digigit secara mandiri, polos dan sendirian tanpa ditemani tahu atau gorengan atau bakwan yang seharusnya menjadi kawan karibnya. Kontan dia tersiksa karena menahan pedas yang teramat sangat. Kulit putih kaukasiannya sontak menjadi merah dan keringatnya bercucuran. Saya lalai untuk memberitahu bagaiamana tatacara makan cabai yang seharusnya menemani gorengan. Lagipula, tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran saya bahwa untuk makan cabai dan gorengan saja ada orang yang memerlukan petunjuk khusus.

Karena sopan, kawan saya ini tidak membuang cabai yang sudah terlanjur di mulutnya dan dia memaksa diri menelan semuanya. Sopan santun yang begitu tinggi kadang membuat seseorang rela melakukan kekonyolan yang menyiksa diri. Alhasil, wajahnya terlihat seperti kepiting laut yang direbus: merah. Keringat tak henti-hentinya mengucur. Itu berlangsung selama 30 menit dan membuatnya menjadi peserta konferensi paling pasif di ruangan itu selama hampir sejam. Begitulah, cabai bisa menjadi urusan yang serius jika kita tidak paham.

Lima tahun setelah kejadian itu, saya menyaksikan hal yang mirip. Beberapa hari lalu saya membuka sebuah acara yang melibatkan mahasiswa Jepang di UGM. Saat istirahat, saya mendengar kegaduhan. Seorang mahasiswa Jepang melakukan hal yang persis seperti yang dilakukan kawan Australia saya di Bali setengah dekade silam. Si mahasiswa berteriak-teriak dan berlari serta melompat lompat karena menahan pedas. Berbeda dengan kawan saya di Bali dulu, mahasiswa ini lebih ekspresif, dia tidak sungkan memuntahkan sisa cabai yang masih di mulutnya dan tak canggung membuat kegaduhan. Jiwa muda kadang membuat seseorang lebih jujur, meski kejujuran itu menimbulkan keributan.

Tak berselang lama, kami menerima tamu beberapa professor dari Jepang. Di sela-sela diskusi serius tentang program pascasarjana yang bisa kami kolaborasikan, seorang professor asing menyantap penganan kecil yang kami sediakan. Insiden serupa terjadi. Sang professor dengan mantap menggigit dan mengunyah cabai yang seharusnya menemani risoles yang ada di kotak penganan. Menariknya, sang professor memutuskan untuk memisahkan si resoles dengan jodoh cabainya sehingga cabai meluncur sendiri tanpa temah ke mulut sang professor lalu mengobrak-abrik kerongkongan beliau dengan rasa pedas yang menggila.

Dari wajahnya muncul senyum getir tetapi wajahnya yang memerah tak kuasa menyembunyikan penderitaannya. Beliau berusaha tidak menimbulkan kegaduhan tetapi kami paham apa yang sedang terjadi. Satu dari kami segera berlari ke luar ruang rapat mengambil air putih untuk menolong sang professor. Satu lagi jiwa malang yang telah menjadi korban cabai. Sesungguhnya bukan korban cabai tetapi korban ketidaktahuan dan korban kegagalan komunikasi. Yang lebih penting, kecelakaan itu terjadi karena kegagalan mereka yang paham untuk memahami ketidakpahaman orang lain. Bagi kami, cabai bahkan tidak menarik didiskusikan karena merupakan keseharian tetapi bagi kawan-kawan saya dari Australia atau Jepang, cabai bisa menjadi insiden serius yang ‘mematikan’. Seperti bencana lainnya, cabai memerlukan early warning system alias sistem peringatan dini.

Cabai, diketahui atau tidak, dipercaya atau tidak, tetap saja pedas. Dia tidak menuntut kepercayaan dari orang, tidak juga memerlukan pengakuan. Pedasnya niscaya. Di sisi lain, insiden cabai adalah pertanda sederhana pentingnya pemahanan lintas budaya. Hal-hal besar yang disajikan dengan tabel, rumus dan analisis mendalam tentang perbedaan dua budaya kadang mendominasi persiapan diplomasi antarbangsa. Kita mudah lupa hal-hal kecil yang menjadi keseharian. Kita lupa bahwa apa yang kita tahu dengan fasih, bisa jadi merupakan pengetahuan langka dan penting bagi kawan kita di seberang benua. Kita lupa mengingatkan pada kawan kita bahwa cabai itu pedas dan dia tidak semestinya diceraikan dari pasangan setianya: gorengan. Seringkali, diplomasi kita bersifat absrak, tinggi dan mengawang-awang. Kita lupa diplomasi cabai.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Diplomasi Cabai”

  1. Kren tulisannya mas…pertama melihat judulnya saya teringat kasus yang baru2 ini terjadi yaitu Eksekusi terpidana dari Australia dan lebih menghebohkan lagi dikumplkannya koin untuk abbot…

  2. cabai, diketahui atau tidak, dipercaya atau tidak, tetap saja pedas. kok saya merasa cabai ini seperti Tuhan, diketahui atau tidak,dipercaya atau tidak,tetap saja Dia ada.

    #Tuhan ampuni aku telah menyamakan Engkau drngan cabai…

  3. Menarik sekali, dari cabai bisa jadi bahan pemikiran tentang early warning. Mungkin berikutnya harus ada peringatan dini di samping piring gorengan, “Caution: It’s hot” atau “Eat at your own risk”. Hehehe..

  4. Swastyastu Pak Made,

    Benar-benar tulisan yang sangat menarik sekali untuk di simak, saya mohon ijin untuk membagi tulisan Bapak karena pastinya sangat berguna bagi saya dan teman-teman saya.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s