Sudah cukup lama Google memiliki fitur pencarian dengan suara manusia. Berikut demonya.
Category: Geodesi UGM
Wollongong-California, Tiada Jarak di Antara Kita

Suatu malam saya menerima sebuah email dari seseorang dari California, US. Si pengirimnya tidak saya kenal, sepertinya seorang perempuan, jika dilihat dari namanya. Pasalnya sangat menarik, dia adalah seorang guru yang diminta menyiapkan pengajaran secara online menggunakann Facetime untuk murid-murid di kawasan pedalaman di California. Yang menarik, dia minta saya berbagi soal ini. Rupanya dia membaca beberapa tulisan saya tentang mengajar online yang pernah saya lakukan.
Beberapa menit setelah email itu, kami sudah bercakap-cakap lewat video menggunakan Facetime. Just in case you don’t know, Facetime adalah video chat dari Apple. Dia mirip dengan Skype, hanya saja tidak bersifat lintas platform, khusus barang Apple. Percakapan saya dengan orang ini adalah contoh sederhana dari kuliah jarak jauh karena saya harus menjelaskan sesuatu dengan diagram sambil diskusi lewat video. Sepertinya dia sangat tertarik. Ada sumringah di wajahnya karena sepertinya dia sudah punya rencana-rencana yang ingin segera diwujudkan. Saya menjelaskan proses kuliah online ini seperti yang saya lakukan dengan Pak Imam Baihaqi  atau dengan Pak Ali Hapsah beberapa waktu lalu.
Yang menarik, saya baru saja berbagi tentang penggunaan Apple untuk kuliah online kepada seorang guru yang berasal dari Apple Capital City of the World. Apple, kalau teman-teman lupa, berkantor pusat di California. Kalau orang Bali justru belajar lontar dan sastra Bali dari Museum di Belanda, maka tidak aneh jika orang Amerika belajar kuliah online dengan Facetime dari orang Indonesia. Seperti itulah dunia saat ini.
PS. Tulisan saya terkait kuliah online ini masuk final Lomba Menulis Telkom Solution. Jika tertarik dan suka, silakan LIKE di laman FB Telkom Solution ya 🙂
Sukailah saya!

UPDATE: Saya tidak berhasil jadi juara dalam lomba ini 🙂 Terima kasih atas dukungan teman-teman semua.
Rasanya memang maksa banget kalau saya harus katakan “sukailah saya!” Namun memang demikianlah kompetisi dewasa ini. Pemenang ditentukan oleh seberapa banyak yang menyukai sesuatu. Dalam bahasa Facebook: “like”.
Saya ikut lomba menulis Telkom Solution dan ternyata tulisan saya masuk final. Pemenang akan ditentukan berdasarkan jumlah “likes” yang diperoleh oleh masing-masing tulisan. Jika teman-teman merasa tulisan saya layak untuk jadi pemenang, silakan klik “like” di link ini:Â https://www.facebook.com/TelkomSolutionID. Saya adalah finalis #4 dengan judul tulisan “Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani”. Kalaupun bukan untuk menyukainya, silakan membaca tulisan tersebut, semoga berguna.
Jadi, istilahnya mungkin bukan “sukailah saya” tetapi, “berikanlah apresiasi teman-teman jika memang tulisan saya layak disukai”. Terima kasih 🙂
ASEAN vs China in The South China Sea
Just in case you wonder, like my other friends, yes, this animation was made using Power Point only. Nothing else. Yes, nothing else. I know, now you wonder even more. Enjoy aja 🙂
Diterima beasiswa ADS: DIJAMIN!
Apakah Anda salah satu dari 5-6000an orang hebat Indonesia yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)? Mudah-mudahan Anda tidak tergoda membaca tulisan ini gara-gara judulnya demikian. Silakan kecewa karena tidak ada yang bisa menjamin Anda diterima beasiswa luar negeri.
Saya sering mendapatkan pertanyaan atau curhat terkait beasiswa luar negeri, terutama ADS. Ada yang bertanya “seberapa besar peluangnya?” Ada yang ingin tahu “layakkah saya?” Tidak sedikit yang bahkan pesimis, merasa tidak mungkin diterima. Membayangkan ada 5000an orang yang mendaftar untuk kuota yang hanya 400, kita mudah sekali tergoda untuk merasa tidak mampu bersaing. Mudah sekali untuk berpikir “saya pastilah bukan salah satu dari 400 orang terbaik dari 5-6000an orang itu. Saya bukan siapa-siapa.”
Tulisan ini bukan motivasi yang membuat Anda tiba-tiba berubah jadi semangat lalu berdiri tegak siap menghadapi air bah dan menjadi tidak realistis. Bukan! Saya tidak punya kapasitas itu dan saya memang tidak bisa menjamin seseorang bisa diterima beasiswa. Saya hanya ingin ingatkan bahwa syarat beasiswa ADS itu adalah TOEFL 500 dan IP di atas 2,9. Jika tidak ada yang bisa bisa menjamin seseorang lolos beasiswa maka tidak boleh ada satu orang pun di muka bumi ini yang berhak mendikte “kamu pasti tidak lolos” jika memang Anda memenuhi syarat.
Kita adalah para pejuang. Tugas kita hanya satu: berusaha dengan segenap upaya. Tugas kita bukan menghakimi, apalagi menghakimi diri sendiri. Bahwa IMPOSSIBLE bisa jadi adalah I’M POSSIBLE yang kita baca secara salah. Selamat berjuang, kawan!
Melaporkan untuk Ocean TV
Suatu hari saya diminta membantu professor untuk menyiapkan bahan kuliah bagi aparat keamanan laut dari 21 negara. Dia diminta mengajar berbagai skenario insiden (pembajakan, perampokan) di laut dan terutama bagaimana reaksi aparat keamanan laut dari berbagai negara. Misalnya, ada kapal bergerak dari sebuah teluk di negara A menuju negara B dan melewati kawasan perairan negara C. Jika di kawasan laut C terjadi perampokan oleh segerombolan perampok yang bermarkas di negara D dan perampok itu lari ke negara E, apa yang terjadi? Siapa yang bertanggung jawab, apa dasar hukumnya, apa yang bisa dilakukan oleh siapa dan seterusnya.
Saya diminta memvisualisasi skenario itu. Tidak hanya itu, saya harus membuat peta dunia tiruan agar tidak menggambarkan negara-negara yang ada di dunia. Sang professor juga meminta saya mengisi efek suara (deru mesin kapal, ledakan, teriakan). Animasi, audio dan visual effect ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan topik S3 saya. Selain karena diminta oleh professor, saya merasa tertantang dan mengiyakan permintaan itu. Akibatnya memang bisa parah: riset tertunda.
Demi iMac, antri dari jam 5 pagi

Saat tinggal di New York tahun 2007 silam, saya sering melihat antrian panjang di toko produk Apple alias Apple store. Sulit memahami mengapa ada orang yang rela melakukan hal itu hingga berjam-jam. Saya bukan penggemar Apple ketika itu. Bahkan tidak kenal iPod yang waktu itu dinobatkan sebagai sebuah fenomena baru mendengarkan musik. Singkatnya, saya tidak melihat pentingnya harus antri hingga berjam-jam untuk mendapatkan sebuah produk IT.
Keyakinan itu tumbang beberapa hari lalu. Saya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam demi sebuah produk Apple bekas: iMac produksi 2008. Sulit dipercaya tapi demikianlah kenyataannya. Tulisan ini sangat panjang, semata-mata untuk merekam pengalaman saya secara utuh.
Suatu saat ada kawan yang mengirimkan berita ke milis PPIA Wollongong bahwa akan ada penjualan iMac inventaris laboratorium yang akan diremajakan. Spesifikasinya, menurut teman yang tahu, cukup bagus dan yang penting harganya hanya AUD 300. Beberapa kawan lain yang sempat melakukan riset mengatakan harga produk serupa di pasaran masih sekitar AUD 700-800. Artinya, itu barang murah. Saya tidak maniak apple tetapi harga yang murah memang godaan luar biasa.
Adalah hal biasa universitas di Australia melakukan penjualan dengan cara ini untuk barang-barang yang akan diremajakan. Informasi dibuka untuk umum dan mereka yang datang pertama yang akan mendapatkannya. First come first served, istilah pare bule itu. Ini akan jadi pengalaman saya yang pertama setelah melewatkan cukup banyak kesempatan sebelumnya karena memang kurang tertarik.
Pengembara Geospasial
Saya penah dihubungi seseorang dari Jakarta. Beliau memerlukan bantuan karena putranya akan bersekolah di Wollongong. Seperti biasa, sayapun membantu sebisanya dengan informasi yang saya punya. Yang cukup mengejutkan adalah ketika beliau tiba di Wollongong. Sepertinya hafal dengan semua jalan dan lingkungan, padahal baru pertama kali ke Wollongong. Ketika saya tanya, ternyata beliau sudah melakukan kunjungan virtual dengan Google Maps sebelum kunjungan sebenarnya. Saya menyebut orang-orang seperti ini sebagai “pengembara geospasial”, mereka yang melakukan perjalanan dengan persiapan geospasial yang matang. Peta adalah andalan mereka.
Bagaimana Ilmu Geodesi Menjelaskan Qiblat?
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat Muslim di seluruh dunia. Semoga puasanya lancar hingga akhir nanti. Dalam rangka menyambut Ramadhan dan menghormati sahabat Muslim yang berpuasa, saya coba jelaskan perihal arah Qiblat dari kacamata Geodesi. Video berikut ini murni pemahaman saya secara ilmiah berdasarkan ilmu terkait di Geodesi.
Jika ada hal yang kurang tepat dari pemaparan saya di video ini, semata-mata karena kesalahan pribadi. Mohon kesediaan Anda menghubungi saya jika menemukan kesalahan sehingga bisa dikoresksi. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat.
Lihat juga posting sebelumnya tentang program Excel untuk menentukan Qiblat.
Menentukan Qiblat dengan Ms Excel dan Google Earth
Sebelum membaca ini, sebaiknya Anda membaca posting lain di blog ini.
Saya membuat sebuah program Macro Excel untuk menentukan Qiblat secara praktis dan menghasilkan file KMZ yang bisa dibuka dengan Google Earth. Jangan lupa, Sesuaikan penggunaan titik atau koma untuk detik pada sudut. Jika settingnya bahasa Indonesia, gunakan koma, jika Bahasa Inggris, pakai titik. Silakan unduh program tersebut di sini dan simak video petunjuknya di bawah.