Ngepel Lantai

hambaallah92.wordpress.com

Saat SD, saya sering mendapat tugas ngepel lantai rumah. Kakak dan ibu saya yang biasanya mengajari saya melakukan pekerjaan seperti itu dengan baik. Untuk hal seperti ini, ibu saya termasuk ‘kejam’ dalam mengajari saya. Hasilnya, saya mengikuti prosedur dan tatacara ngepel lantai yang beliau ajarkan.

Langkah pertama adalah menyapu lantai dengan sapu ijuk agar sampah-sampah besar sirna dari lantai. Berikutnya, lantai diperciki air berisi pembersih lantai secara keseluruhan, disusul dengan menggosok lantai menggunakan lap yang juga dibasahi dengan air berisi pembersih lantai itu. Kami tidak memiliki alat pel, semua itu dilakukan manual dengan tangan. Yang paling saya ingat, saya harus jongkok dan bergerak mundur, memastikan tidak menginjak lantai yang sudah digosok. Hal ini kadang dilakukan secara berulang jika lantai kotor sekali. Tahap akhir adalah mengeringkan lantai agar benar-benar bersih.

Karena satu alasan, kadang saya harus mengulangi atau mendatangi bagian-bagian tertentu yang terlewati. Di saat itulah saya menginjak lantai yang sudah dipel tadi dan selalu merasa lantai itu masih kotor. Setiap bagian lantai yang saya injak terasa kotor oleh reman-remah pasir atau debu dan masih licin tidak kesat. Saya terpaksa mengulangi langkah terakhir yaitu mengeringkan bagian yang saya injak itu. Ini bisa berlangsung berulang sampai saya merasa lantai benar-benar bersih. Sering kali mengalami hal serupa, saya amati satu hal. Lantai akan terasa bersih jika kaki saya sudah kering dari sisa-sisa air licin untuk ngepel itu. Jika kaki saya masih basah oleh air yang bercampur pembersih lantai maka setiap bagian lantai yang saya injak akan terasa kotor dan licin. Yang kotor rupanya bukan lantainya tetapi kaki saya.

Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia

G. Washington, the surveyor!

Di tanah Afrika, saya bertemu lelaki ini. Dia seorang surveyor seperti saya. Dia kelahiran Somalia, seorang lelaki berkulit hitam layaknya orang Afrika yang saya pahami. Perawakannya tinggi langsing, lelaki ini sudah matang dalam usia. Dia adalah satu dari hanya dua orang sarjana geodesi di negeri itu. Dua surveyor itu menamatkan pendidikan sarjana geodesi di Polandia hingga jenjang magister. Bertemu Salihi, demikian namanya, adalah bertemu dengan makhluk langka di negeri Somalia.

Somalia telah lama menderita, porak poranda dilanda perang saudara. Kini negeri ini bangkit perlahan, geliat kehidupan mulai nampak di Kota Mogadishu ketika saya berkunjung ke sana. Pembangunan nampak berjalan meski tidak cepat, reruntuhan akibat perang mulai berganti rumah-rumah yang bermunculan. Di sela-sela puing kendaraan atau bangunan yang runtuh dibinasakan kejamnya perang saudara, kini mulai muncul gedung-gedung yang akan mengakomodasi geliat bisnis. Investasi mulai datang, para penanam modal melirik Somalia penuh gairah.

Di negeri yang mulai bangkit itu, ada persoalan kedaulatan dan wilayah yang rumit dan pelik. Tak jelas hingga di mana kedaulatannya. Territori dan yurisdiksi menjadi misteri. Di tengah ketidakpastian itulah sang presiden memerlukan panduan. Presiden perlu garis yang tegas untuk menerjemahkan rasa nasionalisme yang diperiharanya sejak lama. Tuan presiden adalah pemimpin konsititusional pertama sejak lebih dari dua dekade. Dia merupakan presiden yang diakui dunia termasuk Amerika Serikat dan rakyat menaruh harapan padanya.

Continue reading “Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia”

Herlina, malaikat [tak] bersayap

Lina dan Lita
Lina dan Lita

Dewi Lestari bisa jadi benar, terkadang malaikat tidak selalu hadir bersayap. Saya melihat sosok malaikat pada Putri Herlina yang belakangan sempat membuat sebagian penduduk dunia maya tertegun terpesona penuh haru. Putri Herlina, yang saya panggil Lina, adalah seorang perempuan cantik tanpa tangan yang baru saja menikah dengan seorang lelaki baik hati bernama Reza. Yang membuat haru, Reza adalah seorang pemuda tampan yang normal secara fisik dan berasal dari keluarga berada dan terhormat sementara Lina adalah seorang gadis yang tinggal di panti asuhan. Bukan. Ini bukan sebuah dongeng dari negeri antah berantah. Ini adalah sebuah kisah nyata yang mengingatkan kita bahwa keajaiban itu masih terjadi.

8 Juli 2000
Teriakan anak-anak panti asuhan cacat ganda Sayap Ibu membahana menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Wajah-wajah mereka sumringah. Nampak keceriaan dan rasa senang karena sebentar lagi mereka akan menikmati kue. Sementara itu di dekat lilin yang masih menyala tersenyum simpul seorang gadis dua puluhan tahun, menunggu saatnya meniup Lilin. Gadis itu adalah Asti, pacar saya, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Setelah sekitar dua tahun melakukan kunjungan rutin ke Panti Asuhan Sayap Ibu, Asti ingin merayakan ulang tahunnya bersama anak-anak penghuni sayap ibu. Memang tidak begitu lazim. Teman-teman saya waktu itu bahkan kadang berkelakar mengejek “pacaran kok di panti asuhan”.

Continue reading “Herlina, malaikat [tak] bersayap”

Anak-anak Bola

Evan Dimas, kapten tim nasional U-19 Indonesia menjadi pembicaraan orang. Setelah 22 tahun laksana kemarau, akhirnya Evan bersama kawan-kawan menjadi pelepas dahaga dengan membawa kemenangan bagi Indonesia di ajang AFF untuk kategori usia di bawah 19 tahun. Saya bukan penggemar sepak bola tetapi rasanya tidak rela melewatkan begitu saja gegap gempita Bangsa Indonesia yang seperti dipersatukan kembali dengan sepak bola. Tanggal 12 Oktober 2013 lalu, Evan dan kawan-kawan kembali membawa berita bahagia. Bitang-bintang muda Garuda berhasil menundukkan tim Gangnam Style (atau sebut saja K-Pop) dari Korea Selatan. Evan lagi-lagi menjadi pahlawan dengan mencetak ketiga gol bagi Indonesia.

Continue reading “Anak-anak Bola”

Menulis untuk Kebaikan, bersama Ahmad Fuadi

fuadi
A. Fuadi, penulis Trilogi #Negeri5Menara

Malam tanggal 23 September 2013 ada satu kecelakaan yang membahagiakan. Saya bertemu dengan Bang Ahmad Fuadi, penulis trilogi novel laris Negeri 5 Menara (N5M), Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara. Saya sebut kecelakaan karena pertemuan ini memang tidak direncanakan jauh-jauh hari. Sore tadi, tiba-tiba saja Asti, istri saya, bertanya “Ayah kenal Fuadi?” dan itu sanggup menghentikan aktivitas saya seketika. Tentu saja saya kenal beliau walaupaun Bang Fuadi kemungkinan besar tidak mengenal saya. Singkat cerita, Bang Fuadi sedang ada di Sydney untuk satu urusan dan teman-teman Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) Sydney menodong beliau untuk bersilaturahim, berbagi soal kepenulisan. Saya langsung memutuskan datang.

Saya tiba di lantai tiga squarehouse UNSW, Sydney sekitar pukul 20.05 AEST, sedikit terlambat dari yang dijadwalkan. Sebelumnya saya telah terlanjur mengundang seorang kawan untuk makan malam di rumah dan demi Bang Fuadi, kawan ini terpaksa saya tinggalkan :). Saat tiba, saya lihat Bang Fuadi sudah ada di ruangan bercakap-cakap dengan panitia. Beberapa kawan mahasiswa dan keluarga terlihat antusias menunggu acara ditemani berupa-rupa penganan kecil dan minuman. Ini daya tarik lain mengikuti acara bersama KPII. Peserta tidak begitu banyak karena dua alasan. Pertama, acaranya memang mendadak dan hari-hari ini adalah saatnya penyelesaian tugas kuliah dan ujian. Meski demikian, masih cukup banyak yang mengambil risiko datang meskipun besoknya akan ujian. Kedatangan mereka adalah testimoni tersendiri bagi keampuhan daya tarik Bang Fuadi.

Continue reading “Menulis untuk Kebaikan, bersama Ahmad Fuadi”

Ketika Anies Baswedan Turun Tangan

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.

Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.

Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.

Continue reading “Ketika Anies Baswedan Turun Tangan”

Selamat Ulang Tahun, Lita

ultahlita8Lita, kami ingin mencertikatan sesuatu kepadamu. Di usiamu yang genap sewindu ini, banyak hal yang terjadi dan tidak sedikit yang tidak terjadi. Kami ingin minta maaf untuk yang tidak terjadi. Untuk ketidakbersamaan keluarga yang cukup lama dan untuk ketidakberhasilan kami menjadikan Jarak dan waktu sebagai sesuatu yang biasa seperti layaknya keluarga. Untuk keterceraiberaian, untuk waktu yang tidak dihabiskan dengan minum teh bersama di sore hari dan untuk sentuhan yang lebih sering tiada dari waktu ke waktu. Kami menginginkan semua itu. Pecayalah.

Continue reading “Selamat Ulang Tahun, Lita”

Hebat karena diremehkan

Saya pernah menonton acara penjaringan bakat seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, X Factor, atau acara serupa versi luar negeri. Yang paling saya suka adalah saat audisi pertama, ketika para kandidat memperlihatkan bakatnya untuk pertama kali di depan juri dan penonton. Suasana dan kesan dramatis akan muncul kalau ada kandidat yang mengejutkan penampilannya. Kandidat seperti ini biasanya istimewa karena ternyata penampilannya begitu hebat, jauh lebih hebat dari dugaan penonton dan juri.

Continue reading “Hebat karena diremehkan”

Lelucon cerdas ala Ernest Prakasa

Belakangan ini saya cukup sering menikmati Standup Comedy yang dibawakan oleh comic (standup comedian) Indonesia. Saya selalu percaya bahwa melucu sendiri tanpa lawan interaksi itu paling sulit. Perlu kemampuan luar biasa untuk menjadi lucu dengan monolog dan menggerakkan orang untuk tertawa dan terlibat. Indonesia sudah punya cukup banyak comic yang menurut saya bagus. Ernest Prakasa, selain Pandji adalah salah satu yang saya suka. Kedua orang ini agak berbeda dengan beberapa orang lain yang saya tahu karena leluconya mengandung muatan pembelajaran dan nilai kebangsaan yang cukup tinggi.

Continue reading “Lelucon cerdas ala Ernest Prakasa”

Dari Hati ke Hati dengan Profesor Hasjim Djalal

Djalal2013
Sydney, 2013

Sydney, 13 Agustus 2013
Hari beranjak sore, matahari masih terik menikam wajah kami yang duduk di bangku dengan satu meja di depan sebuah cafe. Saya bisa melihat matanya memecing-micing tanda silau, tetapi tidak nampak keluhan. Dingin winter yang masih terasa membuat terik matahari sore itu seperti penawar yang tepat kadarnya. Tidak jauh dari situ, saya lihat atap Sydney Opera House yang memantulkan sinar matahari begitu menawan. Sesekali burung camar melintas, hinggap di pagar besi tidak jauh dari kami. Di sisi kiri agak jauh, terlihat lengkungan Sydney Harbour Bridge yang khas itu. Sore ini saya ditemani oleh Profesor Hasjim Djalal. Mereka yang menekuni hukum laut dan belajar diplomasi Indonesia, tentu mengenal siapa beliau. Lelaki inilah, berasama Prof. Mochtar Kusumaatmadja, yang menjadi pahlawan Indonesia saat memperjuangkan status Indonesia sebagai negara kepulauan. Karena kegigihannya saat merundingkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS), laut di antara pulau-pulau Indonesia yang tadinya adalah laut bebas, akhirnya diakui dunia sebagai bagian dari kedaulatan Indonesia.

Sore begitu istimewa, saya berkesempatan berbincang-bincang dari hati ke hati dengan Pak Hasjim, begitu kami memanggil beliau, selepas acara lokakarya terkait Laut China Selatan. Pak Hasjim diundang oleh Australian Strategic Policy Institute (ASPI) untuk berbicara tentang confidence building measures di Laut China Selatan. Beliau adalah orang yang tepat untuk berbicara hal ini karena merupakan penggagas usaha mediasi konflik di Laut China Selatan. Selepas acara resmi, beliau berkenan berbincang-bincang tentang banyak hal di luar hukum laut. Meskipun sudah berkali-kali bertemu dan berbicara dengan Pak Hasjim, baru kali ini saya merasa begitu dekat dan bisa berbicara dari hati ke hati. Tadinya kami berbicara tentang hukum laut, batas maritim, sejarah perundingan dengan negara tetangga dan lain-lain, akhirnya topik melebar ke mana-mana dan justru itulah yang mengesankan.

Continue reading “Dari Hati ke Hati dengan Profesor Hasjim Djalal”