
Saat SD, saya sering mendapat tugas ngepel lantai rumah. Kakak dan ibu saya yang biasanya mengajari saya melakukan pekerjaan seperti itu dengan baik. Untuk hal seperti ini, ibu saya termasuk ‘kejam’ dalam mengajari saya. Hasilnya, saya mengikuti prosedur dan tatacara ngepel lantai yang beliau ajarkan.
Langkah pertama adalah menyapu lantai dengan sapu ijuk agar sampah-sampah besar sirna dari lantai. Berikutnya, lantai diperciki air berisi pembersih lantai secara keseluruhan, disusul dengan menggosok lantai menggunakan lap yang juga dibasahi dengan air berisi pembersih lantai itu. Kami tidak memiliki alat pel, semua itu dilakukan manual dengan tangan. Yang paling saya ingat, saya harus jongkok dan bergerak mundur, memastikan tidak menginjak lantai yang sudah digosok. Hal ini kadang dilakukan secara berulang jika lantai kotor sekali. Tahap akhir adalah mengeringkan lantai agar benar-benar bersih.
Karena satu alasan, kadang saya harus mengulangi atau mendatangi bagian-bagian tertentu yang terlewati. Di saat itulah saya menginjak lantai yang sudah dipel tadi dan selalu merasa lantai itu masih kotor. Setiap bagian lantai yang saya injak terasa kotor oleh reman-remah pasir atau debu dan masih licin tidak kesat. Saya terpaksa mengulangi langkah terakhir yaitu mengeringkan bagian yang saya injak itu. Ini bisa berlangsung berulang sampai saya merasa lantai benar-benar bersih. Sering kali mengalami hal serupa, saya amati satu hal. Lantai akan terasa bersih jika kaki saya sudah kering dari sisa-sisa air licin untuk ngepel itu. Jika kaki saya masih basah oleh air yang bercampur pembersih lantai maka setiap bagian lantai yang saya injak akan terasa kotor dan licin. Yang kotor rupanya bukan lantainya tetapi kaki saya.





