Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia

Koreksi terakhir: Selasa, 27 Nov 12 @9.36 WIB

Silakan langsung lompat ke inti diskusi jika tidak ingin membaca rangkaian cerita sebelum diskusi.

Pak Mahfud dan moderatornya 🙂

Saya mendapat kesempatan berharga, diminta menjadi moderator sebuah diskusi istimewa dengan Profesor Mahfud MD. Nadia, ketua PPIA NSW tiba-tiba menghubungi saya lewat email menanyakan kesediaan untuk acara tersebut. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lebih dari semenit untuk mengatakan ‘ya’, tawaran itupun saya terima dengan senang hati, meski sedikit grogi.

Stasiun North Wollongong, 24 November 2012 @ 7.40 pagi
Saya telah berdiri di pinggir rel kereta mengenaan batik lengan pendek. Hari ini adalah hari yang ditunggu, saya akan meluncur ke Sydney melakukan tugas istimewa mengantarkan diskusi bersama tokoh terkemuka Indonesia: Mahfud MD di Konsulat Jenderal RI di Sydney. Diskusi memang belum akan dimulai sebelum jam 11.00 tetapi jarak Wollongong ke Sydney ditempuh setidaknya 1,5 jam dengan kereta dan perjalanan dari Stasiun Central ke KJRI memakan waktu minimal setengah jam. Sementara itu, frekuensi jadwal kereta dari Wollongong ke Sydney adalah sejam sekali. Saya tidak boleh terlambat.

Continue reading “Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia”

Fungsi tambahan

TALOS Editor

Saya pernah menulis “Marketing in Venus” di blog ini tentang bagaimana sesuatu atau seseorang menjadi ‘laku’ bukan karena fungsi atau keahlian utamanya tetapi karena fungsi tambahannya. Saya mengalami hal ini berkali-kali, saya yakin Andapun demikian.

Sejak tahun 2011 saya secara resemi dilibatkan dalam revisi sebuah dokumen penting dalam bidang hukum laut dan terutama batas maritim. Dokumen itu bernama TALOS, sebuah buku manual yang menjelaskan aspek teknis dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Singkatnya, UNCLOS, sebagai produk hukum, dipenuhi muatan teknis yang tidak mudah dipahami oleh orang non teknis. Aspek teknis ini begitu rumit, sementara sebuah konvensi bahkan tidak memuat ilustrasi atau penjelasan tambahan. Agar pemahaman terhadap aspek teknis ini bisa berjalan baik maka sekelompok pakar teknis (geodesi, hidrografi) berinisiatif membuat buku manual yang menjelaskan. Jadi, TALOS adalah ‘suplemen’ UNCLOS yang menjelaskan segala hal teknis yang ada di UNCLOS.

Continue reading “Fungsi tambahan”

Bertemu Presiden

Bersama Hassan Wirajuda

Kadang saya bertemu orang-orang penting, para pejabat negeri, justru saat ada di negeri orang. Kalau sedang di tanah air, mungkin kesempatan makan malam atau ngobrol dengan menteri atau wapres akan terasa sulit. Isitimewakah kesempatan itu? Saya serahkan saja bagi pembaca untuk menilainya, tapi bagi saya, jelas ini bukan kesempatan sehari-hari. Kalau demikian, bolehlah dia kita anggap istimewa.

Seorang kawan bertanya ’bagaimana caranya bisa punya kesempatan bertemu orang-orang penting itu?’ Saya harus akui, tidak ada cara sistematis yang saya tempuh dan ini bukanlah cita-cita. Yang pasti, tidak pernah ada tes psikologi apalagi IELTS untuk bisa bertemu menteri. Tidak juga ada wawancara. IP juga tidak berpengaruh, apalagi jumlah publikasi ilmiah. Tidak ada.

Continue reading “Bertemu Presiden”

Tidak bisa bahasa asing? Tidak masalah!

Google Translate

Dalam sebuah perjalanan di Eropa tahun 2010 silam, saya ada di Brussels suatu pagi. Hari itu saya akan menemui Bapak Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Dubes Arif Hafas Oegroseno. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Antwerpen ke Brussels, saya tiba di sebuah halte bus bernama Chien Vert. Saya menunggu bus dan tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu. Bagaimana kalau bus di sini seperti di Kota Sydney yang tidak mau menerima pembayaran cash di dalam bus dan hanya mengangkut penumpang yang sudah memiliki tiket? Saya bertanya-tanya dalam hati sambil khawatir. Selain itu, kalaupun saya harus membeli tiket (pre-pass), sayapun tidak tahu harus membeli di mana. Saya harus bertanya kepada orang lain.

Di sebuah kursi, saya melihat seorang ibu-ibu duduk menunggu bus dan sayapun mendekatinya. “Excuse me, Ma’am! Can we buy tickets in the bus?” saya bertanya sopan. Perempuan itupun menjawab dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Sangat singkat tetapi memberi kesan dia tidak mengerti pertanyaan saya. Rupanya perempuan itu tidak paham Bahasa Inggris dan membuat saya menjadi agak panik. Di situ terasa, bisa Bahasa Inggris saja belum tentu bisa menyelesaikan persoalan komunikasi internasional, terutama kalau saya sedang kebingungan di sebuah halte bus di Brussels. Saya membayangkan, seandainya saja saya bisa Bahasa Belanda, Perancis atau Jerman, tentu semua akan beres. Ketiga bahasa ini adalah bahasa resmi di Belgia. Dengan menguasai salah satu dari ketiga Bahasa ini saya pastilah bisa mendapatkan informasi penting yang saya mau. Sementara itu, waktu terus berjalan, bus selanjutnya akan datang pada pukul 9.16, sekitar empat menit lagi.

Continue reading “Tidak bisa bahasa asing? Tidak masalah!”

Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne

Pemilu ketua PPIA di Melbourne

Saya sedang berada di Kota Melbourne suatu sore untuk bertemu seorang kolega di sebuah gedung di Melbourne University. Sesaat setelah turun dari tram, saya mulai mereka-reka. Kebetulan tidak membawa peta dan iPhone tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak bisa menemukan gedung yang dimaksud dengan cepat. Sementara itu saya melihat puluhan mahasiswa berlalu lalang di sekitar saya.

Continue reading “Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne”

Benarkah bisa lulus sekolah di Australia tanpa ujian?

Bersama Prof. C. Rizos, pembimbing S2

Orang Indonesia umumnya membayangkan gelar kesarjanaan, baik itu S1, S2, maupun S3 diperoleh setelah melalui ujian tugas akhir. Di Indonesia, umum kita ketahui, misalnya, lulus S1 harus melalui ujian skripsi. Ada yang menyebutnya pendadaran, ada yang mengistilahkan seminar. Di tingkat S2 dan S3 juga sama, selalu ada ujian untuk mempertahankan hasil karya tugas akhir (tesis maupun disertasi). Bagaimana dengan di Australia?

Continue reading “Benarkah bisa lulus sekolah di Australia tanpa ujian?”

Pidato Kemenangan Barack Obama 2012

I have to admit that Barack Obama is one of my inspirations in public speaking and, more importantly, leadership. I have creatively translated his victory speech he delivered after winning a reelection in 2012. When I said ‘creatively’ it means that the translation might not reflect exactly the literal meaning of every part of the speech. Here is Obama’s speech in Bahasa Indonesia.

Continue reading “Pidato Kemenangan Barack Obama 2012”

“Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal

dari: http://www.foyle.eu/

Saya pernah menulis tentang pre-departure training (PDT) bagi calon penerima Australian Development Scholarship (ADS) di blog ini. Calon penerima beasiswa ADS memang wajib mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di IALF Bali atau Jakarta yang dikenal juga dengan English for Academic Purposes (EAP). Singkatnya, seorang calon penerima beasiswa ADS harus mencapai nilai IELTS minimal 6,5 untuk bisa berangkat belajar di universitas Australia. Dalam beberapa kasus tertentu, nilai IELTS bahkan harus lebih tinggi.

Continue reading ““Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal”

Didanai Jepang, Riset di Australia dan Amerika

Gedung Putih di US

Saya menulis ini tanggal 2 April 2007 sambil sesekali memandang gemerlap lampu di kejauhan. Suasana malam ini sangat indah terlihat dari tempat tinggal saya di lantai 3 sebuah apartemen yang berada di Crown Street, Wollongong, NSW, Australia. Sudah beberapa hari ini saya berada di Wollongong Australia untuk melakukan sebuah penelitian. Hal inilah yang akan saya ceritakan kepada Anda saat ini. Mungkin tidak berguna bagi semua orang, tetapi bisa jadi memberi sedikit inspirasi bagi sebagian pembaca. Bagi Anda yang ingin mendapatkan kesempatan seperti ini, mungkin ada baiknya Anda simak.

Continue reading “Didanai Jepang, Riset di Australia dan Amerika”

Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya telah menonton puluhan video Anies Baswedan melalui Youtube. Oleh karena itu, sejatinya tidak banyak hal baru yang bisa diperoleh saat menyimaknya langsung di Grha Sabha Pramana (GSP), UGM beberapa hari lalu. Meski begitu saya tak kalah terpana dibandingkan menyimak puluhan videonya. Meski telah lama mengikuti pemikirannya, saya memang baru pertama kali menyaksikan Anies Baswedan tampil langsung memberi inspirasi.

Seorang anak muda yang duduk di sebelah saya bertanya apa yang membuat saya datang ke acara Road Show Indonesia Mengajar (IM) di Jogja. Saya paham maksudnya karena 90% lebih dari ribuan pengunjung adalah anak muda duapuluhan tahun. Saya memang datang ke GSP sore itu bukan untuk mendapatkan informasi bagaimana caranya menjadi pengajar muda karena usia saya sudah kadaluarsa. Kedatangan saya adalah untuk belajar, menyimak gagasan besar dan menuai inspirasi dari orang-orah hebat. Dari Anies Baswedan tentu yang utama.

Continue reading “Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar”