Aku ingin datang lagi ke kota kecil itu. Kota yang dijaga sekelompok mercusuar di pantainya yang menawan. Mercusuar yang terlalu berwibawa untuk ditundukkan angin dan terlalu angkuh untuk menyerah pada godaan desah burung camar yang manja. Aku ingin datang ke kota kecil itu lagi, untuk mengenang lagi debar-debar saat menyelesaikan tugas kuliah dari para guru yang bijaksana. Aku ingin mengajakmu, seperti dulu saat kita luluh lantak tertimbun bahan bacaan yang menggunung lalu melarikan diri sesaat mengintip camar yang bermesraan di taman dekat pantai. Aku ingin mengajakmu berteduh di bawah bayangan mercusuar sambil membaca berlembar-lembar pustaka yang seakan tak habis.
Subuh-subuh dia sudah harus bangun. Meskipun tidak salat, dia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk kedua anak lelakinya yang masih bocah. Harus disediakannya makan dan minum untuk sarapan mereka. Di rumah mereka hanya ada empat orang. Pekerjaan lelaki itu membuatnya tidak mampu membayar pembantu. Dia dan istrinya harus mengerjakan semuanya sendiri.
Selepas mencuci piring dan gelas yang kotor, dia harus mengangkat kantong sampah dan membawanya ke tempat penampungan di dekat rumahnya yang sepi dan dingin. Sementara itu istrinya menyiapkan bekal untuk makan siangnya nanti. Kedua anak-anak itu akan diantar ke sekolah dan tempat penitipan anak karena istrinyapun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Pernahkah Anda mendengar nama “Universitas Katolik Widya Mandira” ? Jika Anda tidak berasal dari NTT dan kurang gaul seperti saya, mungkin jawabannya adalah “tidak”. Terus terang saya belum pernah mendengar nama universitas ini sampai akhirnya saya bertemu Cilla. Nama lengkapnya Priscilla Maria Assis Hornay. Just in case you are wondering, YES, there is an ‘a’ between ‘n’ and ‘y’ in her last name, so shut it and let’s get down to business! 🙂
Pertemuan saya dengan Cilla di Sydney mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang saya terima perihal beasiswa luar negeri, terutama beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Pertanyaan itu adalah “bisakah alumni dari universitas swasta yang tidak terkenal mendapatkan beasiswa untuk S2 atau S3 di luar negeri?” Jawabannya tentu saja “bisa” dan pertemuan saya dengan Cilla menegaskan itu.
Hotel Le Meridien, Suatu ketika tahun 2002, Saya seperti orang hilang di tengah kerumunan itu. Ada rasa sepi menghinggapi di tengah hiruk pikuk suasana. Setiap orang nampak antusias berkeliling melihat-lihat stand pameran siang itu. Tidak sedikit yang terlibat percakapan dengan penunggu stand pameran, bersemangat bertanya ini dan itu, menunjukkan gairah mereka untuk mengetahui lebih jauh dan lebih dalam. Lelaki dan perempuan usia 30an tahun nampak penuh perhatian memberikan informasi kepada pengunjung yang mendekat ke stand masing-masing. Keramahan dan pengetahuan yang mumpuni nampak berpadu dengan apik pada wajah dan senyum mereka. Sementara itu, saya memandang dari satu sudut yang agak jauh, terkesima melihat geliat orang-orang yang antusias melapangkan jalan menimba ilmu. Siang itu saya sedang menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Hotel Le Meridien Jakarta.
Ada rasa ragu ketika berjalan mendekati beberapa stand pameran dan melihat nama-nama universitas terpandang yang terpampang di setiap stand. Beberapa nama universitas itu sudah pernah saya dengar dan sebagian lain nampak asing. Meski tertarik, tidak mudah untuk memulai percakapan dengan penunggu stand pameran karena ada keraguan. Perihal apa yang paling tepat ditanyakan, saya tidak tahu. Maka saya memilih untuk mengamati saja. Di berbagai titik terlihat anak-anak muda berpenampilan mentereng, kadang ditemani ayah ibunya. Mereka bertanya penuh selidik, melapangkan jalan bersekolah di luar negeri. Sejujurnya, ada perasaan malu kalau harus datang ke sebuah stand dan bertanya “apakah universitas ini menyediakan beasiswa bagi yang tidak punya uang seperti saya?”
Di tanah Afrika, saya bertemu lelaki ini. Dia seorang surveyor seperti saya. Dia kelahiran Somalia, seorang lelaki berkulit hitam layaknya orang Afrika yang saya pahami. Perawakannya tinggi langsing, lelaki ini sudah matang dalam usia. Dia adalah satu dari hanya dua orang sarjana geodesi di negeri itu. Dua surveyor itu menamatkan pendidikan sarjana geodesi di Polandia hingga jenjang magister. Bertemu Salihi, demikian namanya, adalah bertemu dengan makhluk langka di negeri Somalia.
Somalia telah lama menderita, porak poranda dilanda perang saudara. Kini negeri ini bangkit perlahan, geliat kehidupan mulai nampak di Kota Mogadishu ketika saya berkunjung ke sana. Pembangunan nampak berjalan meski tidak cepat, reruntuhan akibat perang mulai berganti rumah-rumah yang bermunculan. Di sela-sela puing kendaraan atau bangunan yang runtuh dibinasakan kejamnya perang saudara, kini mulai muncul gedung-gedung yang akan mengakomodasi geliat bisnis. Investasi mulai datang, para penanam modal melirik Somalia penuh gairah.
Di negeri yang mulai bangkit itu, ada persoalan kedaulatan dan wilayah yang rumit dan pelik. Tak jelas hingga di mana kedaulatannya. Territori dan yurisdiksi menjadi misteri. Di tengah ketidakpastian itulah sang presiden memerlukan panduan. Presiden perlu garis yang tegas untuk menerjemahkan rasa nasionalisme yang diperiharanya sejak lama. Tuan presiden adalah pemimpin konsititusional pertama sejak lebih dari dua dekade. Dia merupakan presiden yang diakui dunia termasuk Amerika Serikat dan rakyat menaruh harapan padanya.
Malam tanggal 23 September 2013 ada satu kecelakaan yang membahagiakan. Saya bertemu dengan Bang Ahmad Fuadi, penulis trilogi novel laris Negeri 5 Menara (N5M), Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara. Saya sebut kecelakaan karena pertemuan ini memang tidak direncanakan jauh-jauh hari. Sore tadi, tiba-tiba saja Asti, istri saya, bertanya “Ayah kenal Fuadi?” dan itu sanggup menghentikan aktivitas saya seketika. Tentu saja saya kenal beliau walaupaun Bang Fuadi kemungkinan besar tidak mengenal saya. Singkat cerita, Bang Fuadi sedang ada di Sydney untuk satu urusan dan teman-teman Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) Sydney menodong beliau untuk bersilaturahim, berbagi soal kepenulisan. Saya langsung memutuskan datang.
Saya tiba di lantai tiga squarehouse UNSW, Sydney sekitar pukul 20.05 AEST, sedikit terlambat dari yang dijadwalkan. Sebelumnya saya telah terlanjur mengundang seorang kawan untuk makan malam di rumah dan demi Bang Fuadi, kawan ini terpaksa saya tinggalkan :). Saat tiba, saya lihat Bang Fuadi sudah ada di ruangan bercakap-cakap dengan panitia. Beberapa kawan mahasiswa dan keluarga terlihat antusias menunggu acara ditemani berupa-rupa penganan kecil dan minuman. Ini daya tarik lain mengikuti acara bersama KPII. Peserta tidak begitu banyak karena dua alasan. Pertama, acaranya memang mendadak dan hari-hari ini adalah saatnya penyelesaian tugas kuliah dan ujian. Meski demikian, masih cukup banyak yang mengambil risiko datang meskipun besoknya akan ujian. Kedatangan mereka adalah testimoni tersendiri bagi keampuhan daya tarik Bang Fuadi.
Saya tidak akan membicarakan hubungan pacaran jarak jauh tetapi hubungan antaranggota keluarga yang terpisah Jarak jauh. Tidak semua orang beruntung bisa selalu bersama-sama keluarga ketika harus menempuh studi atau bekerja dan kami adalah salah satu yang kurang beruntung itu. Karena berbagai alasan, kami hidup terpisah. Saya dan Asti, isteri, di Sydney, Lita, anak kami di Jogja. Ini bukan model keluarga ideal dan tidak direkomendasikan untuk siapapun. Namun, jika harus mengalaminya, toh kita harus tetap bertahan. Saya ingin berbagi pengalaman sederhana bagi yang sedang atau akan mengalami hal yang sama.
Selamatkan komunikasi dengan teknologi.
Dewasa ini, cara pandang kita terhadap jarak dan waktu jauh berbeda dengan dua dekade lalu. Saya masih ingat, pernah berdebar-debar menunggu surat dari sahabat pena selama sebulan lebih di awal tahun 1990an. Sekarang, whatsapp yang tidak dibalas lebih dari dua menit sudah terasa lama dan bisa menjadi alasan untuk marah. Teknologi membuat jarak menjadi pendek dan ini yang sebaiknya dimanfaatkan. Lita, anak saya, sudah kami ajari cara berkomunikasi dengan email dan Skype ketika berumur lima tahun. Waktu itu dia belum lancar menulis tetapi sudah mulai memahami cara berkomunikasi. Saya kadang mengirimkan gambar lewat email ketika kami bercakap-cakap dengan Skype sehingga saya bisa mengajari dia cara membuka gambar dari email. Ini adalah komunikasi multimedia dalam satu waktu.
Menggunakan teknologi untuk pemantauan.
Kita tahu, teknologi tidak selalu bagus untuk kita. Untuk meminimalisir efek buruk teknolgi, kami memasang alat pemantau di komputer Lita di Jogja agar kami tahu jika dia sedang online. Hal paling sederhana adalah dengan memastikan Skype akan online otomatis jika komputer dinyalakan sehingga kami akan tahu dia sedang di depan komputer. Hal lain adalah memasang alat pemantau seperti Team Viewer sehingga saya bisa melihat layar komputer di Jogja dari Sydney. Ini tentu tidak akan menghilangkan semua dampak buruk tetapi tentu bisa meminimalkannya. Continue reading “Pengalaman LDR – Long Distance Relationship”
Saya pernah menonton acara penjaringan bakat seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, X Factor, atau acara serupa versi luar negeri. Yang paling saya suka adalah saat audisi pertama, ketika para kandidat memperlihatkan bakatnya untuk pertama kali di depan juri dan penonton. Suasana dan kesan dramatis akan muncul kalau ada kandidat yang mengejutkan penampilannya. Kandidat seperti ini biasanya istimewa karena ternyata penampilannya begitu hebat, jauh lebih hebat dari dugaan penonton dan juri.
Tembuslah kabut yang membuatmu menggigil di jalanan Antwepen dan masuklah ke stasiun kereta itu. Kita melaju menembus lansekap Eropa yang seperti perawan menuju warna-warni Luxembourg yang berhias pepohonan di musim gugur. Kita akan duduk sejenak membiarkan ujung jari kaki menyentuh air di sungai kecil di tengah belantara yang bersahabat lalu beranjak duduk di sebuah kursi untuk menikmati perbekalan. Di sekeliling kita warna warni dunia yang terpantul lewat daun-daun yang ikhlas bergururan. Terpejamlah dan menyatu dengan keberadaan.
Esok hari kita jelajahi Brussels yang mentereng, menapaki sebuah jalanan sempit yang selalu penuh sesak dengan umat manusia. Mereka terpesona dengan patung bayi yang menyemburkan urinnya di tepi sebuah perempatan. Dan heranlah, mengapa patug kecil nan sederhana itu menggetarkan orang-orang meski dia tidak ada apa-apanya dengan Garuda Wisnu Kencana yang megah di Selatan Bali. Tapi kawan, di situlah kamu akan mengerti bahwa ukuran itu bukan segalanya. Patung kecil itu telah menyerap sejarah berabad lamanya dan kini memancarkannya dalam bentuk wibawa yang memukau orang-orang seperti kita.
Kita akan masuki sebuah kasino megah Monte Carlo, di Monaco bukan untuk berjudi tetapi untuk menikmati imajinasi yg dituangkan dalam peradaban kota. Kita menyusuri jalan-jalan yang sekali waktu digunakan untuk Formula Satu lalu menikmati kapal-kapal mewah yang berbaris rapi di pelabuhan itu. Pemiliknya adalah kaum borjuis yang kekurangan tempat menyimpan uangnya maka mereka simpan di kapal-kapal itu, yang harganya lebih mahal dari rumah yang mereka tinggali. Jika lapar dan rindu santapan tanah air, berjalanlah selama tujuh menit maka kita akan tiba di sebuah rumah makan Asia di Perancis. Garis batas antarnegara tidak terasa, tidak ada ada yang pusing memeriksa visa dan passport kita. Atau naiklah kereta dan bercengkramalah dengan seorang gadis yang tinggal di Prancis dan bekerja di Monaco lalu 17 menit kemudian kita sudah minum kopi di sebuah kafe di Italia. Lihatlah pemuda tampan itu, terampil membuat kopi dan gadis cantik itu akan menghidangkannya untuk kita. Adakah yang lebih berkesan dari secangkir kopi Italia yang dinikmati di sebuah kafe di Ventimiglia?