Kita tahu, semua tahu, bahwa kita tidak boleh menyerah. Hanya saja tidak banyak contoh nyata yang bisa menginspirasi dan dijadikan teladan. Nasihat “jangan menyerah” yang datang dari mereka yang tidak pernah gagal tentu saja tidak bernyawa. Nasihat “pantang menyerah” dari mereka yang hidupnya selalu dilayani tentu saja tanpa taksu, tidak berbisa untuk menyulut semangat. Malam ini, kita menyaksikan satu dari sedikit teladan tentang ketekunan dan pantang meneyerah itu. Dialah Regina, sang Indonesian Idol 2012.
Suatu saat saya berkendara bersama beberapa kawan mahasiswa riset di University of Wollongong. Saya sedang asik nyetir ketika terjadi kasak kusuk di jok belakang antara dua orang teman. Keduanya cewek, satu dari Pasifik dan satu lagi orang Asia. “What are you guys doing?” kata saya terusik dengan berisik itu. Yang ada bukan jawaban, hanya gelegar tawa, seakan mereka baru saja melakukan hal yang sangat lucu. Namun di balik tawa itu saya menangkap ada yang mencurigakan. Entahlan apa itu.
Belakangan, salah seorang membongkar rahasia kasak kusuk itu. Ternyata, teman Asia memberikan beberapa bungkus kondom kepada teman Pasifik. Di jok belakang mobil saya baru saja terjadi sebuah “transaksi dewasa” melibatkan alat kontrasepsi. Sementara teman yang memberikan kondom itu malu-malu merah mukanya ketika rahasia itu terbongkar. Saya hanya tertawa saja mendengarnya.
Rupanya, baru saja ada pembagian kondom di asrama mahasiswa tempat dia tinggal. Karena dia lajang dan tidak merasa memerlukannya, maka dia berikan kondom itu kepada kawan lain yang sudah bersuami. Kebetulan saja transaksi itu terjadi di jok belakang mobil saya dan dilakukan dengan cara yang agak menggelikan. Rupanya teman saya yang mendapatkan kondom gratis ini merasa risih kalau transaksi tersebut ketahuan. Tepatnya, dia malu. Tidak lebih tidak kurang. “Come on, grow up!” saya lalu meledeknya. Kamipun semua tertawa sementara muka teman saya masih agak merah. Rasanya ini cukup umum terjadi pada orang Asia.
“Hey Andi, what are you doing here? Go home and have fun!” Aku hampir hafal ucapan senada ini yang meluncur dari mulutnya hampir setiap sore. Dia selalu datang ke ruang kerjaku di Innovation Campus, University of Wollongong. Di tangan kanannya tergenggam sebuah sapu dan tangan kirinya mengepit serok untuk mengumpulkan sampah. Di kantong celananya berjuntai selembar lap kain dan di kantong satu lagi tergantung botol penyemprot berisi cairan pembersih. Wajahnya selalu riang penuh senyum dan percaya diri. Gadis manis itu adalah tukang sapu. Dia bernama Kathy. Sepertinya nama aslinya adalah Katharina atau sejenis itu, aku tidak begitu peduli. Kathy adalah keturunan Macedonia yang lahir besar dan menjadi warga negara Australia. Konon Ibu Bapaknya migrasi ke Australia beberapa puluh tahun silam.
Sementara aku hanya senyum saja membalas celotehnya, Kathy mulai beraksi. Ditelitinya jengkal demi jengkal lantai di ruanganku dan dilapnya setiap senti meja di sekitar ruangan sehingga bersih dari debu. Sekali waktu aku dengar suara semprotan cairan kimia dari botol itu ketika dia menemukan noda yang sulit dibersihkan. Sementara aku tetap mengetik atau mengerjakan apa saja yang sedang aku kerjakan di komputer. Sekali waktu kami bercakap-cakap untuk menghabiskan waktu. Terutama ketika dia harus menghentikanku dari aktivitas saat membersihkan debu dan sampah di mejaku.
Untuk melamar sekolah dan beasiswa, kita kadang diharapkan mengajukan proposal penelitian/riset (research proposal) untuk tesis atau disertasi. Hal ini wajib bagi mereka yang akan sekolah S3 atau S2 dengan penelitian (master by research). Banyak yang bertanya perihal proposal riset ini pada saya. Saya biasanya menjawab sesuai pengalaman saja, tidak ada teori berlebihan. Satu hal yang selalu saya sampaikan, meskipun pernah diterima, proposal saya juga pernah ditolak. Anggap saja tulisan ini pelengkap dari pencarian teman-teman yang sudah sangat intensif. Jika ini adalah tulisan pertama tentang proposal riset yang dibaca, jangan percaya begitu saja, silakan baca tulisan lainnya.
Ibu saya, meskipun tidak sekolah, sering penasaran dengan apa yang saya lakukan. Beliau rajin menanyakan istilah-istilah asing seperti konferensi, proposal, seminar, presentasi dan sebagainya. Tentu saja heran karena beliau tidak pernah menyiapkan anaknya bergaul dengan hal-hal aneh seperti itu. Saya bilang, proposal ini adalah usul. Kalau kita punya satu maksud maka kita perlu sampaikan dalam bentuk usulan. Tujuannya agar pihak lain mengerti dan kemudian mendukung usulan itu. Proposal riset juga demikian.
Sore tadi saya membeli buah pir di sebuah pusat perbelanjaan di Wollongong. Mungkin lagi musimnya, ada begitu banyak pir yang dipajang, semuanya segar dan ranum. Warnanya yang hijau merekah mengundang selera. Rasanya ingin membeli semuanya tapi saya hidup sendiri. Tidak ada perlunya membeli buah pir lebih dari lima biji.
Saat mendekati sebuah keranjang, saya berpikir sejenak. Ternyata tidak mudah memilih lima biji pir dari ratusan yang bagus. Sulit menemukan yang cacat, semuanya istimewa dan nampak manis menggoda. Saya sentuh satu per satu, semuanya segar. Pir itu mengkal dan padat, matangnya pas mantap. Satu disentuh, yang lain seakan berteriak “mengapa bukan aku?!”. Begitu tangan saya berpindah ke yang berteriak, yang ditinggalkan menjerit “mengapa tidak jadi memilihku?!”. Kalau saja pir itu bisa berbicara, pastilah suasana akan riuh oleh tawa, pertengkaran, teriakan dan tangisan yang mengumandang.
“Gila panas banget ya!?” Dewi mengibas-ngibaskan tangannya kegerahan. “Ya, aku juga merasa gerah banget! Ndak tahan aku” Mera menimpali. “sudah panas, lembab lagi. Jadinya keringetan gini. Aku pengen cepet-cepet balik jadinya.” “Kapan mau balik ke Melbourne?” “Tadinya bulan depan tapi kayaknya aku mau majukan aja tiketnya. Ndak kuat!” “Aku juga balik minggu depan. Mending liburan di Christchurch aja, adem.” “Ya bener. Di sini bikin stress aja. Belum lagi orang-orangnya pada ndak bener semua!” “Kenapa?”
Untuk kepentingan sekolah atau kerja dalam waktu lama, kita pasti memerlukan rumah untuk tempat tinggal di luar negeri. Memang bisa saja meminta teman untuk mencarikan rumah jika mereka sempat atau minta tolong staf Konjen setempat jika kita anak pejabat tapi tidak semua orang memiliki ‘kemewahan’ itu. Yang kita obrolkan sekarang adalah mencari rumah dengan usaha sendiri. Seperti inilah orang geospasial, para pecinta peta mencari rumah untuk tempat tinggal di luar negeri. Jika belum, baca juga pengalaman saya tahun 2008 silam.
Akhirnya apa yang saya impikan sejak lama terwujud sudah. Dari dulu saya ingin membuat tutorial pengisian formulir beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) dalam bentuk video. Saya sempat mencoba tahun lalu tetapi gagal karena berbagai alasan. Kini saya menyempatkan diri dan akhirnya terwujud. Dari segi sinematografi, video ini jauh dari bagus karena dikerjakan oleh orang yang sama sekali tidak profesional di bidang audio visual 🙂 Meski demikian, saya yakin video singkat yang berjumlah 8 buah ini bisa memberikan gambaran umum bagi pejuang Beasiswa ADS untuk mengisi formulir perndaftaran tahun ini. Mudah-mudahan video ini datang tepat waktu, dua bulan sebelum tenggat waktu penyerahan berkas lamaran ADS. Semua ini adalah persembahan saya untuk Anda semua, rasa terima kasih saya kepada Australia dan wujud cinta saya bagi Indonesia. Selamat menikmati dan selamat berjuang.
Saat kecil saya terbiasa mendapat tugas mencuci piring dan menyiram tanaman. Sementara itu, kakak saya ditugaskan mencuci baju, ngepel, dan menyapu halaman rumah. Seingat saya, tugas itu kami lakukan sejak usia 6 tahun. Tentu saja tidak ada yang istimewa karena kebanyakan teman-teman saya juga demikian, membantu orang tua sejak usia belia. Saya mencuci piring di sungai dekat rumah. Piring dan peralatan dapur lain yang kotor ditempatkan dalam sebuah jembor, sejenis ember, yang terbuat dari aluminium. Saya menjunjungnya dari rumah ke tempat pencucian. Pembersihnya adalah sabun colek Wings Biru dengan penggosok dari sabut kelapa.
Salah satu dokumen mendukung untuk melamar beasiswa ADS 2013 adalah Referee Report. Ketentuan tentang ini bisa dibaca secara rinci di Handbook ADS (halaman 12) yang bisa diperoleh dari website resmi ADS. Formulir Referee Report ini juga disediakan di Handbook tersebut dalam format PDF di halaman 51. Untuk memudahkan para pelamar, saya buatkan versi Ms Word-nya sehingga mudah diisi. Silakan unduh formulir tersebut di sini. Selamat berjuang!
New: Sebuah form yang sama hasil kreasi Sdr. Priadi Asmanto bisa diunduh di Mediafire
Punya pertanyaan seputar Beasiswa ADS? Coba baca ADS 2013 dulu, mungkin pertanyaan Anda sudah terjawab di sana.