Kondom


semuadablog.blogspot.com

Suatu saat saya berkendara bersama beberapa kawan mahasiswa riset di University of Wollongong. Saya sedang asik nyetir ketika terjadi kasak kusuk di jok belakang antara dua orang teman. Keduanya cewek, satu dari Pasifik dan satu lagi orang Asia. “What are you guys doing?” kata saya terusik dengan berisik itu. Yang ada bukan jawaban, hanya gelegar tawa, seakan mereka baru saja melakukan hal yang sangat lucu. Namun di balik tawa itu saya menangkap ada yang mencurigakan. Entahlan apa itu.

Belakangan, salah seorang membongkar rahasia kasak kusuk itu. Ternyata, teman Asia memberikan beberapa bungkus kondom kepada teman Pasifik. Di jok belakang mobil saya baru saja terjadi sebuah “transaksi dewasa” melibatkan alat kontrasepsi. Sementara teman yang memberikan kondom itu malu-malu merah mukanya ketika rahasia itu terbongkar. Saya hanya tertawa saja mendengarnya.

Rupanya, baru saja ada pembagian kondom di asrama mahasiswa tempat dia tinggal. Karena dia lajang dan tidak merasa memerlukannya, maka dia berikan kondom itu kepada kawan lain yang sudah bersuami. Kebetulan saja transaksi itu terjadi di jok belakang mobil saya dan dilakukan dengan cara yang agak menggelikan. Rupanya teman saya yang mendapatkan kondom gratis ini merasa risih kalau transaksi tersebut ketahuan. Tepatnya, dia malu. Tidak lebih tidak kurang. “Come on, grow up!” saya lalu meledeknya. Kamipun semua tertawa sementara muka teman saya masih agak merah. Rasanya ini cukup umum terjadi pada orang Asia.

Cerita pembagian kondom gratis itu bukan sesuatu yang baru. Ketika saya jadi mahasiswa baru di UNSW Sydney delapan tahun silam, paket ospek berisi dua bungkus kondom, beberapa majalah FHM dan lembaran voucher untuk minum bir. Selain itu tentu saja ada buku tips belajar efektif, kalender akademik, buku harian dan petunjuk singkat penggunaan perpustakaan. Paket informasi dari kelompok penggiat keagamaan juga ada. Dalam tas itu, aliran kiri dan aliran kanan lengkap tersedia. Istilah ‘kiri’ dan ‘kanan’ itupun muncul dari pemikiran saya yang subyektif. Mana kiri dan kanan, mungkin bisa menimbulkan perdebatan tersendiri.

Tentu ada perasaan risih menerima kondom dalam paket ospek. Mengapa kondom harus dibagikan? Tentu saja itu adalah iklan produk kondom tertentu sekaligus kampanye untuk safe sex. Mengapa tidak diisi dengan Injil atau Bhagawad Gita atau Alquran atau Tripitaka, misalnya? Bukankah kitab suci itu berisi semua ajaran untuk menghindarkan manusia dari perilaku tidak baik? Alasannya mungkin sederhana saja, Bhagawad Gita lebih berat dan lebih mahal sehingga akan rugi kalau paket ospek diisi kitab suci. Bagi saya yang bersekolah bersama istri, pembagian kondom itu menjadi wajar. Saya juga mendapat banyak hadiah kondom dari teman lajang yang tidak perlu menggunakannya.

Mendapat pembagian kondom gratis, awalnya saya sempat membayangkan kehidupan mereka seperti kaum barbar. Saya duga orang melakukan hubungan suami istri semaunya, dengan siapa saja dan di mana saja. Benarkah demikian? Dua tahun di Sydney, saya ternyata tidak melihat gejala yang demikian. Sementara itu hampir tiap bulan mendapat berita dari kampung, ada pernikahan yang hampir selalu didahului dengan kehamilan. Perceraian, pemerkosaan dan kejahatan juga mewarnai berita dari tanah air yang hadir lewat portal berita online. Tentu saja itu tidak mewakili Indonesia karena Indonesia terdiri dari 240 juta orang, 33 provinsi dan lebih dari 500 kabupaten. Namun kenyataannya, berita demikian memang lebih banyak. Atau mungkin karena situs berita tahu kesukaan saya dalam membaca berita. Entahlah.

Rasanya banyak yang setuju, terutama para orang tua, bahwa idealnya seorang anak manusia berlaku seperti yang tertuang dalam Dasa Dharma Pramuka. Bahwa anak manusia itu harus bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan seterusnya bla bla bla hingga suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Jika ini bisa ditanamkan, indah sekali kehidupan, saya yakin. Namun kenyataannya berbeda. Zaman mengalami perkembangan dan perilaku masyarakat berubah sedemikian rupa, terutama anak muda. Entah salah siapa, janji surga dan ancaman neraka rupanya tak mampu lagi membangun kepercayaan sebagian besar anak muda di negara maju.

Sementara itu ada fakta yang tidak bisa dibantah bahwa jika memiliki anak dalam keadaan tidak siap secara usia dan psikologis akan terjadi goncangan. Bahwa orang bisa kehilangan semangat hidup jika masa mudanya tiba-tiba terampas karena harus menikah dengan terpaksa tanpa persiapan. Ketika hal-hal ideal yang dipesankan kitab suci tidak diindahkan maka pilihannya adalah: membiarkan mereka terjerumus atau berusaha menyelamatkan dengan cara yang lain?

http://www.justsymbol.com

Rupanya sebagian orang di negara maju memilih untuk menyelamatkan generasi dengan berbagai cara. Karena paham betul bahwa nasihat kitab suci kadang tidak mempan bagi anak muda, mereka membuat benteng pertahan lain dengan tidak menabukan penggunaan kondom. Bagi saya, ini mirip dengan melengkapi rambu-rambu lalu lintas yang berupa symbol dengan penjelasan berupa kalimat keterangan. Misalnya, tanda ‘panah ke kanan dicoret’ diberi keterangan “dilarang belok ke kanan”. Bagi yang hafal makna symbol, keterangan itu tentu saja tidak perlu tetapi pasti ada orang lain yang akan terbantu karenanyanya. Menariknya, kadang ada pihak yang hafal makna symbol mengusulkan “hentikan penulisan keterangan pada symbol karena itu bisa membuat orang malas belajar menghafalkan makna symbol”. Yang model begini akan selalu ada.

Pembagian kondom juga tidak membuat mereka menjadi penjahat seketika dan melakukan hubungan suami istri dengan siapa saja. Nilai-nilai yang dianut soal gender justru sangat baik. Saya melihat, penghargaan terhadap kaum perempuan sangat tinggi. Tidak saja pada tingkat norma tetapi juga pada ranah hukum. Kondom yang gratis bisa jadi merangsang kebebasan tetapi itu ternyata tidak membuat mereka tidak terkendali.

Pembagian kondom ternyata tetap membuat mereka tekun sekali belajar dan tenggelam dalam tumpukan buku saat membuat paper. Perpustakaan selalu penuh dengan gairah belajar. Yang bertato, yang rambut gondrong, yang pakai yukensi, yang gimbal, yang culun, yang beringas, yang tampan, yang cantik, yang urakan, semuanya tertib ketika di perpustakaan dan berargumentasi dengan cerdas saat diskusi kelompok. Kondom memang diciptakan untuk menangkal sesuatu tapi dia ternyata tidak untuk menangkal kecerdasan.

Pembagian kondom juga tidak membuat mereka urung membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. Mereka tetap tersenyum dan menyapa “how are you mate?” ketika bertemu orang asing di lift. Mereka juga mengantar orang baru yang tersesat di kampus. Meski menerima pembagian kondom gratis, mereka tetap membukakan pintu bagi orang lain saat masuk sebuah toko dan mempersilakan orang tua atau anak kecil lewat duluan di jalan yang sempit. Rupanya kondom memang untuk menutupi sesuatu tetapi dia tidak untuk menutupi kebaikan hati.

Saya kadang bertanya diam-diam. Apakah Tuhan akan menghukum mereka yang menjalani hidup dengan membantu orang lain dan tidak membuat sedikitpun kekacauan di dunia? Apakah Tuhan akan menghukum mereka dan memasukkannya ke neraka karena mereka bercinta dengan orang yang disukainya atas dasar persetujuan tanpa paksaan? Saya yakin banyak orang akan menjawab “ya”. Kenyataannya, agama apapun tidak membenarkan hubungan suami istri sebelum menikah. Bagi sebagian orang, mereka tentu adalah orang-orang yang disalahkan Tuhan. Tapi bisa jadi mereka memang tidak tertarik dengan susu, madu dan bidadari cantik yang dijanjikan di surga karena mereka tidak suka susu dan madu. Mungkin mereka juga tidak suka mendengarkan lagu-lagu merdu yang dijanjikan di surga karena mereka memang penggemar musik underground yang keras, garang dan sangar. Para lelaki itu mungkin tidak merasa perlu menunggu masuk surga untuk bisa mencumbu bidadari. Jika mau, mereka telah berkenalan dengan “bidadari” sejak usia 18 tahun di cafe, pub, taman kampus atau perpustakaan. Tidak hanya soal romansa, bidadari itu juga bisa menjadi lawan diskusi yang sepadan saat mengerjakan tugas dari dosennya.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Tentu ada yang berpendapat, kita tidak perlu pembagian kondom gratis bagi para lajang karena mereka tidak melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Betulkah demikian? Tentu saja betul karena agama melarang itu dan semua orang menganut agama di Indonesia. Kondom memang tidak perlu bagi para lajang. Akan ada yang percaya bahwa kitab suci agama pasti mampu menghindarkan anak-anak muda dari segala maksiat. Para pemuka agama biasa menyampaikan kebaikan setiap saat untuk mengingatkan umat manusia. Mereka diidolakan seperti artis dan gelaran nasihatnya seperti konser musik yang semarak. Video Dharma Wacana mereka beredar luas dan sloka-sloka ajaran agama beredar lewat media sosial. Dengan menyampaikan kenikmatan surga dan penderitaan neraka, jelas anak-anak muda akan menjalankan hidup penuh kebajikan. Anak muda lajang tidak memerlukan kondom, apalagi yang gratis. Do you believe that? Tentu saja percaya karena kita semua bertaqwa kepada Tuhan, bla bla bla  serta suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

18 thoughts on “Kondom”

  1. memang sulit mencari solusi dan berargumen bila berada pada areal abu-abu seperti ini Bli…kalau saya pribadi, saya cenderung memiliki minimalis gejolak sosial…jika memang di Indonesia “sense of religious” lebih dominan dengan asumsi kondom hanya untuk yang sudah menikah..mungkin ada baiknya ikuti kecenderungan itu. Untuk itu tanggung jawab terbesar kembali kepada orang tua dan generasi tua..jika mereka ingin generasi setelah mereka juga ingin menjunjung tinggi nilai agama artinya semua sistem, pola didik juga harus sejalan dengan nilai-nilai yang dianggap benar tersebut.

  2. Wah, soal ospek di Oz, pengalaman saya kayaknya lebih parah, Mas Andi. Biasalah, krn banyak stands yg memberi barang2 gratis, saya dan seorang teman Indonesia (cowok nih) rajin antri di tiap stand. Waktu kami berdua antri di salah satu stand, teman Indo yg lain pada cengar-cengir dan menolak ikut antri di situ. Ternyata kami antri di Stand para Queer (saat itu kami belum tahu artinya)…. Hahaha…. makanya teman2 yg lain pada senyum2 semua!

  3. iya sih ya…waktu masih di sloka dibagiin kondom sama mb’ @lodegen utk semua kru sloka, tapi sampe sekarang tersimpan manis di laci…ada tanda * di kemasannya: partner dibagikan terpisah
    :p

  4. Senang membacanya, belum banyak orang yang punya pandangan seperti Mas Andi. Saya bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dan semakin lelah mendengar opini keliru tentang kondom, terutama dari mereka yang “berbaju religi”, hehehe…, terima kasih banyak atas tulisannya yang pasti akan memberi pencerahan untuk para pembaca blog Mas Andi. Thx a lot!

  5. good piece as usual Andi! Perbedaan mencolok antara pembagian kondom penerimaan msh baru di OZ dan pembagian kondom dalam rangka pekan kondom nasional itu adalah: di OZ pemberian kondom dilakukan dengan tertutup (diam2), di Jakarta dilakukan dengan terbuka dan serba heboh, sehingga anak2pun (mungkin) bisa ambil (kasus di Citos). Edukasi safe sex harus dilakukan dengan sabar dan sebaiknya dilakukan melalui1) institusi pendidikan; 2) terarah pada daerah2/cluster yang rentan prilaku unsafe sex. Menurut saya, yang pekan ini terjadi adalah strategi yang tidak dipikirkan dengan matang. Penting sekali dilakukan simulasi efek dari pelaksanaan aksi yang sepenting ini sebelum benar2 diimplementasikan.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s