Tukang Sapu itu Bernama Kathy


Maid in Manhattan

Hey Andi, what are you doing here? Go home and have fun!” Aku hampir hafal ucapan senada ini yang meluncur dari mulutnya hampir setiap sore. Dia selalu datang ke ruang kerjaku di Innovation Campus, University of Wollongong. Di tangan kanannya tergenggam sebuah sapu dan tangan kirinya mengepit serok untuk mengumpulkan sampah. Di kantong celananya berjuntai selembar lap kain dan di kantong satu lagi tergantung botol penyemprot berisi cairan pembersih. Wajahnya selalu riang penuh senyum dan percaya diri. Gadis manis itu adalah tukang sapu. Dia bernama Kathy. Sepertinya nama aslinya adalah Katharina atau sejenis itu, aku tidak begitu peduli. Kathy adalah keturunan Macedonia yang lahir besar dan menjadi warga negara Australia. Konon Ibu Bapaknya migrasi ke Australia beberapa puluh tahun silam.

Sementara aku hanya senyum saja membalas celotehnya, Kathy mulai beraksi. Ditelitinya jengkal demi jengkal lantai di ruanganku dan dilapnya setiap senti meja di sekitar ruangan sehingga bersih dari debu. Sekali waktu aku dengar suara semprotan cairan kimia dari botol itu ketika dia menemukan noda yang sulit dibersihkan. Sementara aku tetap mengetik atau mengerjakan apa saja yang sedang aku kerjakan di komputer. Sekali waktu kami bercakap-cakap untuk menghabiskan waktu. Terutama ketika dia harus menghentikanku dari aktivitas saat membersihkan debu dan sampah di mejaku.

Aku harap para pembaca, terutama yang laki-laki, tidak buru-buru mencari Macedonian girls di Google karena bisa jadi mendapatkan kesan keliru tentang Kathy. Kalau soal cantik dan menarik, tidak disangkal lagi.

Dulu, ketika bertemu di saat-saat awal, aku rajin bertanya. Terus terang, awalnya merasa agak janggal melihat seorang Kathy menjadi tukang sapu di ruang kerjaku. Meski sudah pernah menjadi tukang sapu dan tukang pel, tetap saja aku adalah seorang yang ndeso. Orang yang masih tergagap-gagap dan terkaget-kaget memahami profesi dan strata sosial. Aku masih terkesima saat Kathy misalnya tiba-tiba berkomentar tentang carbon tax yang menjadi kebijakan tidak populer Pemerintah Australia di bawah kendali Julia Gillard. Mungkin karena diam-diam ada bagian dari diriku yang menganggap bahwa tukang sapu tak semestinya pintar. Dia mengkritik kebijakan itu dan berbicara soal downsizing alias pemutusan hubungan kerja akibat penurunan produksi. Sambil tetap menggerakkan tangannya membersihkan meja-meja berdebu, dia mengeluhkan soal harga property yang melambung dan jeratan mortgage yang melilit banyak orang Australia. Dia bicara soal resesi ekonomi.

Siapa sebenarnya gadis manis tukang sapu ini?

Aku sering bertanya demikian pada awalnya. Akhirnya percakapan kami yang tambah sering membuat aku memahami, Kathy adalah lulusan S1 University of Wollongong di bidang ekonomi. Tadinya aku kecewa dan bertanya mengapa lulusan universitas ini harus jadi tukang sapu? Adakah pembaca berpikir sepertiku? Selang beberapa waktu kemudian aku akhirnya tahu, Kathy juga bekerja di sebuah perusahaan produksi baja terkemuka: BlueScoop Steel Australia yang berkedudukan di Wollongong. Sebuah pekerjaan keren di tempat yang mentereng tentu saja.

Kathy bekerja di BlueScoop pagi hingga sore lalu datang ke kantorku untuk menyapu dan ngelap meja. Rupanya ini adalah pekerjaan keduanya. Menjadi seorang pekerja kantoran di perusahaan mentereng dan jadi tukang sapu di sebuah kampus adalah dua hal yang tidak pernah aku bayangkan bisa bersatu pada diri seseorang. Lebih tidak bisa lagi, jika seseorang itu adalah perempuan muda usia 23 tahun yang cantik layaknya Macedonian girl. Sekali lagi, jangan coba-coba Google!

Ketika suatu ketika aku tanya, dia menjawab “I have mortgage to pay, Andi.” Rupanya perempuan muda pekerja keras ini sudah membeli rumah di usia yang sangat belia dan dia harus melunasinya dengan membanting tulang. Usianya baru 23 tahun dan rumahnya pastilah tidak lebih murah dari 3,5 miliar jika dirupiahkan. Inilah yang membuatnya bekerja di dua tempat dan mengombinasikan dua pekerjaan yang menurut sebagian orang sepertinya berbeda kasta itu.

Pikiranku langsung melayang ke tempat asalku dan mencoba mencari-cari wajah secantik dia dan sedang membersihkan lantai sebuah kantor sambil bergumam perlunya bemigrasi dari BBM ke listrik atau BBG. Atau menanggapi dengan cerdas apa sesungguhnya makna “negara gagal” dan membedakannya dengan “strong state”, “weak state”, dan “collapsed state”. Atau mengkritisi politisi dagelan yang latah berteriak Ganyang Malaysia tanpa paham makna kedaulatan, hak berdaulat, teritori dan yurisdiksi. Tidak mudah menemukan yang demikian.

Kadang aku mengamati dari lantai dua, saat Kathy berlalu dengan sedan mewahnya lalu menghilang di sebuah belokan tak jauh dari gedung-gedung mentereng di Innovation Campus. Diam-diam aku jadi lebih memahami sinetron Indonesia. Bahwa gadis cantik tampang artis yang jadi pembantu rumah tangga atau tukang sapu itu bisa jadi bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Namun aku masih susah membayangkan sinetron berjudul Cinta Kathy, apalagi Kathy yang Tertukar. Semoga tidak terjadi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

28 thoughts on “Tukang Sapu itu Bernama Kathy”

  1. di UK sini jg banyak Kathy-kathy yg lain mas. susah memang membayangkan hal itu terjadi di negara berkembang seperti indonesia. mungkin memang tata sosialnya jelas2 berbeda, gap antara kaya dan miskin lebih lebar di indonesia sementara tingkat kesejahteraan masih terbilang rendah, jadi strata kerja masih terlalu terkotak-kotak. tukang sapu ya tukang sapu, lack of education, dari golongan ekonomi bawah etc. kelas menengah saja mungkin membuang muka kalau disuruh kerja jadi tkg sapu apalagi yg cantik dan berpendidikan seperti kathy. tapi ah sudahlah, dua negara beda memang seperti beda planet ya mas. maaf jadi panjang 🙂

    1. Ya mbak Nayarini.
      Memang berbeda sekali. Saya kira anak2 muda Indonesia perlu tahu hal2 begini agar terinspirasi. Mungkin tidak serta merta berubah tapi jadi lebih terbuka dlm melihat sesuatu 🙂

  2. Andi, aku juga pernah ketemu Kathy waktu disana, sempat ngobrol dan jawabannya persis dengan jawabannya ke dirimu. Rupanya pikiran kita yang kadang merasa mentereng dengan tanggung jawab yang tidak seberapa di kantor atau dimanapun membuat kita merasa malu begitu tau latar belakang Kathy yang sebenarnya.

  3. I just randomly got here and this is awesome!
    Salam kenal oom, tulisan2 Anda menarik, salah satunya yang ini.
    Perbedaan kultur terlihat jelas sekali ya, padahal kita tetanggaan sama Australia cuma nyeberang aja hehe.
    Inilah, mungkin, bedanya antara kerja keras dan kerja cerdas 🙂 Kathy menunjukkan keduanya.
    Makasih udah bagi ceritanya oom! Keep on writing!

  4. esai Bli Andi inspiratif skali…ini seperti kejutan saya pikir, seperti orang cantik yang pekerjaanx seharusnya jadi model atau pegawai bank tp malah jadi tukang sapu. dan Bli Andi menuliskannya dengan mengalir. saya langsung ingat penjual buku di shoping yang ayu tenan…btw, foto yang disiipkan itu filmnya memang keren bli..salam

  5. Jleb banget Pak. emang nilai positif inilah yang harusnya ditiru generasi saya dari barat, bukan hanya niru yang negatifnya saja. semoga ini bisa mengugah dan menginspirasi generasi muda pak 🙂

  6. Cerita yang menarik Bli Andi. Sangat menggugah untuk orang2 Indonesia yang sering menilai orang berdasarkan stereotype. Izin Share ya.

  7. Aakkkkk Kathy is the real of me, ku pikir aku “aneh” selama ini memiliki 2 pekerjaan sekaligusyang berbeda “kasta”, pagi aku bekerja disebuah majalah dan malam atau hari libur aku part time menjadi assistant rumah tangga, the nanny, SPG event, waitress, contributor etc… 😀

  8. dulu saya punya housemother (waktu homestay) bekerja di 2 tempat. pagi beliau bekerja sebagai konsultan SDM dan sore sampai malam menjadi waiter di sebuah cafe.
    kalau di Indonesia mungkin tidak ada ya yang seperti ini?

  9. Ini beda sekali dengan planet Indonesia, apalagi jika dikaitkan dengan PNS di negara kita. Saya jadi teringat dengan rekan kerja saya, sebut saja Mr. X. Suatu saat dia pernah bercerita bahwa dulu dia adalah seorang OB, yang diantara tugasnya adalah membersihkan WC, menyediakan minum buat org2 kantor, menyapu lantai dan melap meja. Sesekali dia disuruh org kantor untuk membelikan sesuatu atau memfoto kopy dokumen, dan tentu saja akan ada imbalannya. Singkat cerita berkat ke gigihan, ketekunan dan tentu saja nasib baik, diangkatlah Mr. X menjadi PNS, dan yang membanggakan dia sekarang sudah sederajat dengan saya dalam hal pendidikan S-1 (Sarjana) dan baru saja di setarakan golongannya. . . .tapi ada hal yang membuat saya sedih. . . .karena ternyata Mr. X tidak memiliki keahlian tambahan setelah strata sosialnya baik pendidikan maupun golongannya meningkat, tetap saja disuruh2 memfotocopi dokumen atau mengantar dokumen. . .(Capek DEH. . . . .), Maaf ya pak Andi sekedar curhat sekelumit kenyataan negeri ini

  10. Saya sedih tidak bisa kuliah, lalu akhirnya menikah dg co jerman dan kursus b. Jerman, ditempat kursus dipertemukan irony, seorang lulusan insinyur bangunan yg jadi cleaning service, sdh lupa akan ilmunya krn tdk pernah bekerja dibidangnya.
    Dan seorang kenalan sudah punya ijazah akademi perhotelan, tapi kerja sebagai cleaning service, padahal dia dapat warisan rumah tingkat 4, utk ukuran jerman yg rata rata ngontrak, dia termasuk org kaya, tapi sebagai ibu rumah tangga, waktunya harus flexibel, cuma cleaning service pekerjaan yang dia pilih dan dia tidak peduli apa komentar miring tetangganya.
    Di Indonesia, pengemis aja lebih suka mengemis daripada jadi cleaning service

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s