100 tahun bangsa bahari

//www.thejakartapost.com/jakartapost_logo.jpg“Nenek moyangku orang pelaut/Gemar mengarung luas samudera/Menerjang ombak tiada takut/Menempuh badai sudah biasa ….”

(Our ancestors were sailors/ They sailed across the oceans/ Challenged the waves fearlessly/Surfed the storm familiarly.)

In the early 1990s or before, the above song was popular in Indonesia. I wonder whether Indonesian children nowadays still sing this song. One thing for sure, children seem to be more interested in drawing mountain views rather than seas. Does it indicate a degradation of the maritime spirit? Let us go back a while.

Continue reading “100 tahun bangsa bahari”

Petengkaran

//i17.photobucket.com/albums/b64/lope-mizz-ya/tear.jpgPertengkaran bukanlah hal biasa, dan dia tidak boleh menjadi biasa. Meskipun pada dasarnya pertengkaran adalah salah satu bentuk diskusi dan komunikasi yang sangat tua umurnya, pertengkaran, bagaimanapun juga, bukanlah cara terbaik menyelesaikan suatu perkara.Dalam pertengkaran ada kesedihan, setidaknya sesudahnya. Dalam pertengkaran ada air mata karena tekanan dan kemarahan yang tidak selalu sehat dampaknya. Dalam pertengkaran, bahkan mungkin muncul dendam jika tidak disikapi dengan besar hati. Dendam adalah makhluk paling berbahaya dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya.

Continue reading “Petengkaran”

Melanggar hukum demi cinta

Saya bukanlah orang yang bersih dari pelanggaran lalu lintas. Meskipun sudah mencoba, kadang pelanggaran masih tetap terjadi. Sekali-sekali saya masih menerobos lampu merah, umumnya karena kendaraan di belakang berkecepatan sangat tinggi dan seakan yakin bahwa saya akan melanggar. Daripada menjadi sasaran empuk mobil di belakang saya, pelanggaran akhirnya menjadi pilihan. Ironis memang.

Meski begitu, untuk yang satu ini saya mencoba berkomitmen: tidak melakukan gerakan U TURN (berbelok 180°) ketika ada tanda dilarang memutar. Hal ini sudah menjadi kebiasaan walaupun tentunya saya harus menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang. Setelah menjadi kebiasaan, menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang ini ternyata menyenagkan juga. Saya tidak mengalami masalah apapun.

Continue reading “Melanggar hukum demi cinta”

Beda Generasi

Genjo terhempas dalam duduknya yang dalam dan letih. Seharian menunaikan dharwa mulia sebagai penyelamat dan penunjuk jalan bagi generasi baru yang sedang berburu masa depan. Genjo sumringah sejak pagi tadi karena hutang budinya terasa terbalas kini. Dua belas tahun lalu, Genjo adalah generasi baru. Gelap sepertinya alam ketika itu saat Genjo memasuki altar suci perguruan termasyur tempatnya berdharma saat ini. Adalah seorang abang yang menjadi penyelamatnya ketika itu, tidak akan pernah dilupakannya. Kini kesempatan membalas budi itu datang juga, tentu saja tidak kepada sang abang tetapi kepada adik dari generasi yang jauh di depan. Pay Forward, begitulah memang sebaiknya perjalanan kebaikan itu. Genjo membayar ke depan, bukan ke belakang.
Continue reading “Beda Generasi”

Setengah dekade

Waktu memang seperti terbang. Time flies, kata orang bule untuk menggambarkan betapa seringnya kita terlena dan akhirnya tertinggal oleh waktu. Banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan dan target tidak terpenuhi ketika kita mendapati waktu tidah tersisa lagi. Sejarah klasik ini berulang lagi dan lagi.

Ketika diri ini alpa tidak menikmati dan lalai menyimak waktu dengan seksama maka keterperanjatanlah yang dihadiahkannya. Keterperanjatan akan kenyataan bahwa waktu begitu sadis menggilas keluguan ataupun keculasan, semua sama tak diampuni. Tak peduli sang aku yang bijaksana atau berperangai pecundang, sang waktu tetap berlaku adil, seadil-adilnya. Hanya ada 24 kali pergantian jam setiap harinya, lain itu tidak ada. Maka begitulah ketika perayaan setengah dekade ini jatuh pada masanya, semua terasa tiba-tiba dan perhelatan besar sepertinya baru kemarin sore. Hari ini, lima tahun yang lalu, dua anak manusia mengikat janji.

Continue reading “Setengah dekade”

Sebuah pena

Hari ini aku membaca lagi. Membaca kisah-kisah yang pernah kutuliskan dulu saat penaku masih tajam untuk puisi. Saat itu, ada seribu satu alasan untuk mencipta keindahan karena engkau menjelma menjadi kupu-kupu, salju, bajing di tepi jalan dan bahkan dingin tak bersuara yang memberikan apresiasi. Aku rindu pujian itu. Aku rindu tangisan cerdas yang oleh matamu menjadi istimewa sehingga layak didramakan. Begitulah dulu ketika penaku masih tajam untuk puisi.

Subuh-subuh tadi, tiba-tiba saja pena itu kutemukan lagi. Entahlah setajam apa dia sekarang. Lusuh ia diantara buku harianku yang telah lama tidak berkisah tentang cinta. Aku tersenyum setiap hari dan bercinta dengan waktu yang tak perhah kulewatkan dengan sia-sia. Tetapi itu berbeda. Masih sering kurindukan kupu-kupu yang hinggap liar di indahnya bunga matahari untuk kemudian terbang melesat entah ke mana. Keliaran mimpiku lama tak menemukan lahannya yang subur untuk bertumbuh. Imajinasiku memerlukan pasangannya yang berkelebat datang dan pergi tanpa pesan, mengajakku berkelakar di lembah-lembah temaram yang terlarang nan memikat. Ingin kuraut lagi penaku agar tajamnya menjadikan tetes air, suara angin, jatuhnya daun dan sepinya malam sebagai puisi yang menawarkan dahagaku.

Makan Malam

Di hari yang istimewa ini, Jogja hujan seperti hari-hari kemarin. Meski harus rela berbasah-basah walaupun sudah mengenakan jas hujan, saya tetap harus melaju. Ada janji makan malam istimewa dengan istri hari ini, untuk memperingati hari yang juga istimewa. Berdua kami melaju di atas Vega R kesayangan dengan masing-masing mengenakan jas hujan. Inilah bedanya ketika sudah bersuami istri dengan ketika pacaran. Waktu pacaran, lebih menyenangkan dengan satu jas hujan, perjalanan bisa lebih dinikmati. Tapi ini bukan cerita tentang jas hujan.
Hari ini kami sengaja memilih resto yang agak mewah, tidak seperti biasanya di warung tenda batagor di depan pom bensin Sagan, langganan kami sejak tahun 1997. Resto ini terlihat mewah, sebenarya tidak cocok dengan selera kami, tak juga cocok dengan kantong saya, itu yang pasti. Tapi begitulah naluri hidup yang kadang liar dan bisa saja sedikit lepas kendali.

Otonan

Sepuluh ribu sembilan ratus dua puluh adalah angka yang menunjukkan umurku dalam hari, tepatnya hari ini, 4 April 2008. Apa yang istimewa dengan ini? Bagi mereka yang menghitung waktu hanya dengan kalender masehi, jumlah hari ini tentu saja tidak penting. Hari ini bukan ulang tahunku, itu pasti. Tetapi hari ini adalah birthdayku. Apa bedanya ulang tahun dengan birthday? Ada bedanya, walaupun tidak terlalu banyak tapi bisa sangat prinsipil. Ulang tahun adalah peringatan hari kelahiran setiap tahun menurut perhitungan kalender masehi. Artinya, ulang tahun adalah birthday juga. Meski begitu, tidak semua birthday adalah ulang tahun, tergantung basis perhitungannya. Hari kelahiran yang diperingati dengan kalender lunar, misalnya, tentu adalah juga birthday, walaupun tidak akan sama dengan ulang tahun dalam konteks masehi. Hari kelahiran yang diperingati berdasarkan pasaran dalam budaya Jawa, misalnya, adalah juga birthday, tetapi berbeda dengan ulang tahun dalam masehi ataupun birthday menurut kalender lunar/bulan.

Dua Puluh

Tanggal 12 April tiga tahun silam saya berjingkrak di depan komputer, girang bukan kepalang. Pasalnya, untuk pertama kalinya tulisan saya dimuat di The Jakarta Post (JP), koran internasional yang terbit di Jakarta. Kini JP telah berusia setengah abad, menulis pun menjadi langganan bagi saya. Mesti jujur harus diakui bahwa saya tidak pernah lagi menemukan perasaan segembira mendapati tulisan pertama ketika menyaksikan satu demi satu tulisan saya bermunculan di halaman JP, pencapaian ini juga layak dicatat.

Iseng-iseng, ketika tulisan saya tentang Global Warming dipublikasikan di penghujung Maret 2008, saya menghitung jumlah tulisan saya di JP. Ternyata jumlahnya sudah mencapai 20, ya dua nol, double digit, big two o, kalau mengutip gaya Alex the Lion di Madagascar. Bagi seorang kawan penulis kolom Analisis di KR, angka 20 pastilah bukan apa-apa karena baru saja dia memberitakan kalau artikelnya sudah mencapai 150-an di koran tersebut. Bagi Gede Prama yang sudah menulis puluhan buku dan ratusan artikel, angka 20 juga pastilah bukan berita. Tapi bagi saya ini berita. Berita yang tidak kecil bahkan.

Harus diakui bidang ilmu geospasial (geodesi dan geomatika) bukanlah sesuatu yang populer. Tidak mudah menjumpainya di media umum seperti koran, dan tentu saja tidak selaris berita pemerkosaan atau bencana alam. Berhasil menuliskannya sebanyak 20 artikel dalam waktu kurang dari 3 tahun rasanya tidak berlebihan jika disyukuri. Tulisan ini saya kira boleh dijadikan bukti bahwa saya tidak sedang bermarturbasi ilmiah. Banyak peneliti yang kadang meriset sesuatu sendiri, menuliskannya sendiri kemudian mempublikasikannya di media sendiri yang eksklusif untuk dibaca oleh kolega dari kalangan sendiri sehingga yang mengalami kepuasan pun adalah kalangan sendiri yang terbatas. Tidak beda dengan bermarturbasi.

Banyak yang bertanya, bagaimana strateginya agar bisa produktif berkarya. Jawabannya sederhana saja. Saya selalu menyiapkan setidaknya dua jenis publikasi untuk satu tema. Sebagai bagian dari masyarakat ilmiah, saya tentunya harus mempublikasikan penelitian saya dalam bentuk makalah yang ditujukan kepada masyarakat ilmiah (jurnal, konperensi, seminar, dll). Di saat yang sama saya akan membuat tulisan berisi 1000 kata yang sifatnya populer untuk tema yang sama. Meski tidak selalu berhasil diterbitkan di media massa, setidaknya tulisan itu nampang di blog saya yang dikunjungi setidaknya 100 orang setiap harinya dari 100 lebih negara. Ini juga termasuk publikasi efektif saya kira.

Apa yang saya dapat dari semua ini? Banyak. Banyak sekali. Saya tidak mengatakan angka 12 juta dari honor tulisan tentu saja. Itu belum apa-apa.

22222

Belakangan saya jarang memperhatikan jumlah pengunjung blog ini. Jangankan mencermati pengunjungnya, posting pun kadang ‘libur’ bisa lebih dari sau minggu karena kesibukan. Subuh ini, iseng saya perhatikan counter, ternyata angkanya istimewa: 22222. Detik ketika saya lihat alat penghitung, blog saya sudah dikunjungi oleh dua puluh dua ribu dua ratus dua puluh dua pengunjung yang berasal dari 117 negara.

Saya tahu, ada banyak sekali blog yang dikunjugi lebih banyak orang karena kuantitas dan kualias informasi yang disajikannya. Blog ini, seperti yang pernah saya tulis, tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi favorit orang-orang, tidak juga bersikeras menarik banyak pengunjung. Saya tidak menjual apa-apa di blog ini. Kalaupun ada, itu hanya buku yang gambarnya dipajang di sisi atas dan kanan. Seperti yang saya sampaikan ke mahasiswa, tidak ada yang wajib membeli buku saya. Beli tidak beli, kita tetap berteman. Kalaupun ada mahasiswa yang memilih membeli pulsa dibandingkan buku pegangan kuliah, saya kira itu adalah sikap hidup yang layak dihormati. Salah atau benar itu? Saya tidak akan perna

Kembali ke masalah blog, saya menghargai siapa saja yang berkunjung dan membaca gagasan sederhana saya. Membawa manfaat ataupun tidak, bagi saya tulisan, betapapun sederhananya tetaplah bermakna. Sebaliknya, apresiasi, betatapun kecilnya, tetap membangkitkan semangat. Selamat datang, selamat membaca dan terima kasih.