
Saat ini, memiliki website pribadi bukanlah sesuatu yang luar biasa. Setiap orang bisa dengan mudah memiliki website dengan domain customised dengan ekstensi bermacam-macam: dot com, dot info, dot org, dll. Menariknya, domain dan hosting kini semakin murah. Dengan dana 200-an ribu setahun, kita sudah bisa memilki domain sendiri (http://www.namasaya.info, misalnya) dengan kuota ruang (hosting space) yang memadai. Selain itu, jika Anda bekerja di sebuah institusi yang cukup besar, Anda biasanya mendapat jatah domain dan space untuk website pribadi.
Persoalan yang kadang muncul adalah bagaimana membuat website yang cukup baik. Untuk ini, memiliki domain dan hosting saja tidak cukup, kita perlu merancang dan mengelola isi website tersebut. Banyak cara dilakukan untuk ini. Kita bisa membeli rancangan website dari teman atau profesional, bisa juga mulung di dunia maya. Sangat banyak template gratisan yang berserakan di internet. Gratisan ini disediakan oleh amatiran maupun professional. Salah satu yang bagus untuk dicoba adalah yang disediakan oleh wordpress.org. Ingat, dot org, bukan dot com 🙂 Bagaimana caranya menggunakan wordpress untuk website pribadi? Berikut tutorialnya.
I Made Andi Arsana, seorang dosen muda di Universitas Gadjah Mada, meninggal dunia tepat di usianya yang ke-30. Andi, begitu anak dari tiga bersaudara ini biasa dipanggil, meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tidak ada indikasi apapun sebelum kepergiannya. Andi sehat dan tidak pernah mengeluh soal apapun perihal kondisi fisik dan psikologisnya. Seakan tidak ingin meresahkan siapapun, Andi menghembuskan nafas terakhirnya ketika semua orang-orang yang dicintainya dibuai oleh tenangnya malam Jogja yang dingin.
Jika ada pengguna internet yang mengaku tidak tahu Google, hanya ada dua kemungkinan: orang itu berbohong atau dia mengenal internet kurang dari seminggu. Seperti itulah seorang kawan mengilustrasikan keterkenalan Google. Mungkin penyataan ini tidak bisa diartikan secara harafiah tetapi setidaknya saya sendiri setuju bahwa Google memang sangat terkenal. Google bahkan sejak lama sudah menjadi kata kerja. Pengguna internet sudah terbiasa dengan istilah googling, sedang google, digoogle saja, dan sebagainya.
Perjalanan saya dengan kereta api Gajayana dari Malang ke Jogja beberapa waktu lalu terasa menyenangkan. Meskipun akhirnya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta jam 11 malam, perjalanan itu terasa cepat. Pasalnya di sepanjang perjalanan saya membaca buku yang sangat menarik. Malang, telusuri dengan hati, begitu judul buku tersebut. Buku bertebal 200 halaman ini sebenarnya adalah buku tentang sejarah Malang. Berbeda dengan buku sejarah pada umumnya yang dipenuhi huruf berjejal membosankan, buku ini memikat dengan foto dan gambar warna-warni yang memenuhi hampir setiap halaman. Meski demikian, kekuatan deskripsinya nampak jelas dengan keseriusan penelusuran sumber sejarah yang bisa dirasakan.
Awalnya, hari ini saya ingin menulis sesuatu tentang pendidikan nasional karena memang diperingati di tanah air. Saya urungkan karena pastilah sudah ratusan orang membahasnya dari berbagai segi. Saya dan Anda bisa dengan mudah mendapatkan tulisan tentang pendidikan nasional Indonesia yang kono katanya kian memprihatinkan. Sebagai seorang guru, saya juga pasti ikut bertanggung jawab atas “dosa” ini.
Sekitar tiga tahun yang lalu, saya menulis sebuah renungan dengan judul “