Awalnya, hari ini saya ingin menulis sesuatu tentang pendidikan nasional karena memang diperingati di tanah air. Saya urungkan karena pastilah sudah ratusan orang membahasnya dari berbagai segi. Saya dan Anda bisa dengan mudah mendapatkan tulisan tentang pendidikan nasional Indonesia yang kono katanya kian memprihatinkan. Sebagai seorang guru, saya juga pasti ikut bertanggung jawab atas “dosa” ini.
Bukan dalam rangka menghindar dari tuduhan bersalah, saya hanya ingin menyampaikan hal lain hari ini. Saya akan membahas hal yang sedikit teknis: Global Positioning System, GPS. Bagi yang belum paham apa itu GPS, biarlah saya beri sedikit penjelasan. GPS adalah sebuah sistem penentuan posisi di permukaan bumi dengan bantuan satelit. Singkatnya, dengan sebuah perangkat tertentu yang biasanya sebesar HP (disebut receiver GPS, atau GPS saja) Anda bisa menentukan posisi (koordinat) di permukaan bumi dengan sekali pencet. Prinsip di balik teknologi ini adalah penentuan posisi dengan perpotongan jarak. Satelit dalam hal ini merupakan titik ikat. Untuk memahami ini lebih jauh, Anda perlu belajar geodesi atau setidaknya surveying. Atau kalau sabar, tunggu buku GPS populer dari saya 🙂
Sekitar tiga tahun yang lalu, saya menulis sebuah renungan dengan judul “
“Nenek moyangku orang pelaut/Gemar mengarung luas samudera/Menerjang ombak tiada takut/Menempuh badai sudah biasa ….”
Pertengkaran bukanlah hal biasa, dan dia tidak boleh menjadi biasa. Meskipun pada dasarnya pertengkaran adalah salah satu bentuk diskusi dan komunikasi yang sangat tua umurnya, pertengkaran, bagaimanapun juga, bukanlah cara terbaik menyelesaikan suatu perkara.Dalam pertengkaran ada kesedihan, setidaknya sesudahnya. Dalam pertengkaran ada air mata karena tekanan dan kemarahan yang tidak selalu sehat dampaknya. Dalam pertengkaran, bahkan mungkin muncul dendam jika tidak disikapi dengan besar hati. Dendam adalah makhluk paling berbahaya dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya.
Genjo terhempas dalam duduknya yang dalam dan letih. Seharian menunaikan dharwa mulia sebagai penyelamat dan penunjuk jalan bagi generasi baru yang sedang berburu masa depan. Genjo sumringah sejak pagi tadi karena hutang budinya terasa terbalas kini. Dua belas tahun lalu, Genjo adalah generasi baru. Gelap sepertinya alam ketika itu saat Genjo memasuki altar suci perguruan termasyur tempatnya berdharma saat ini. Adalah seorang abang yang menjadi penyelamatnya ketika itu, tidak akan pernah dilupakannya. Kini kesempatan membalas budi itu datang juga, tentu saja tidak kepada sang abang tetapi kepada adik dari generasi yang jauh di depan. 