Kekhawatiran akan kesulitan mendapatkan makanan Indonesia selama di Australia memang tidak ada. Kalau tinggal di Mebourne, Brisbane, Adelaide, Sydney atau Wollongong, semuanya beres. Di setiap kota tersebut, toko makanan Asia mudah sekali dijumpai. Satu-satunya isu yang sering menjadi masalah adalah harga.
Aku yang gemar sekali makan sambel matah berbahan sere, kerap menjumpai masalah ini. Sere, yang dalam bahasa inggris disebut lemon grass, memang mahal sekali di sini. Oh ya, in case ada yang tidak tahu, sere terdiri dari dua suku kata. Suku kata pertama adalah se diucapkan seperti pada kata serentak, sedangkan suku kata kedua yaitu re diucapkan seperti pada kata mereka sehingga pengucapannya menjadi seré. Ini merupakan sejenis rumput yang dalam bahasa latin disebut Cymbopogon citratus. Bagian ini jujur saja diinspirasi oleh Laskar Pelanginya Andrea Hirata yang selalu menuliskan nama latin tumbuhan yang dibicarakannya.
Masih terngiang percakapan terakhir di desa sebelum keberangkatan ke Australia. Malam setelah meninggalnya Mangku Kompyang, kerabat banjar berkumpul melek seperti layaknya tradisi yang bejalan entah sudah berapa lamanya. Orang selalu berkerumun di manapun aku berada, mereka ingin mendengar cerita luar negeri. Wayan Koncong, salah seorang sahabat lama, bertanya ”di Australi ada beras nggak?” Belum lagi sempat aku menjawab, Mangku Ngurah yang memang terkenal vocal memotongnya ”Nasi? yang bener aja. Australi kan gak makan nasi. Orang makan roti di sana. Namanya juga luar negeri. Itupun bahannya gandum.” Aku sendiri tersenyum saja mendengar perdebatan keduanya. Keduanya antusias, keduanya tidak pernah ke luar negeri dan keduanya hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SMP. Menurut buku geografi kita jaman dulu yang diterbitkan oleh PT Intan Pariwara atu Ganesha Ecaxt Bandung, orang Australia memang makan gandum. Memang buku SD atau SMP kita gemar sekali menjeneralisasi 🙂
Habis sudah masa bersuka cita menikmati nostalgia karena telah kembali ke Australia, kini urusan sesungguhnya mulai nampak. Hal pertama dan utama adalah bagaimana mendapatkan tempat tinggal secepat mungkin. Tidak mudah melakukan ini di Australia dan tidak akan pernah mudah, meskipun sudah berkali-kali datang dan pernah tinggal lama di negeri kangguru ini. Yang sedikit berubah hanya satu. Ya satu saja, kini aku tidak terlalu khawatir dibandingkan ketika datang ke sini pertama kali.
Made Suama, sebut saja begitu yang tentunya bukan nama sebenarnya, adalah satu dari sedikit kawan kecilku yang gaul pada jamannya. Suama adalah satu-satunya siswa SMP di kelas yang mengendari motor ke sekolah. Selain itu, dia selalu memiliki cerita yang seru untuk teman-temannya. “Di luar negeri, remaja itu menganut seks bebas lo”, katanya suatu hari memulai ceritanya. Kontan saja semua teman mengerubunginya, termasuk aku yang masih malu-malu kucing. “Kondom dibagikan gratis untuk remaja sehingga mereka bisa menggunakannya kapan saja”, Suama menambahkan. Ceritanya berlangsung lama dan sangat seru dengan beberapa hal detail yang hanya bisa kami banyangkan. Singkat cerita, Suama berhasil membuat kami membayangkan betapa beringasnya perilaku remaja luar negeri. Mereka tentu akan melakukan hubungan seks kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja yang mereka inginkan. Kami hanya bisa menduga-duga bagaimana rasanya menjalani kehidupan seperti itu.
Jalan desa yang mulai tak halus membuat kijang tua melaju tak cepat. Layaknya mengendarai kuda, tubuh lelahku berguncang kecil mengikuti cekungan dan gundukan jalan yang gelap. Desa sudah sepi ketika perjalanan dimulai. Hari ini aku akan meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Asti dan Lita termangu tanpa suara, entah kesedihan entah rasa penasaran yang menguasai, mereka tak banyak bersuara sepanjang perjalanan. Asti bahkan tertidur karena kelelahan yang menguasai beberapa hari ini. Lita sendiri dipangku niniknya dan perlahan namun pasti jatuh tertidur juga. Aku yang mengendalikan mobil menghiasi jalan panjang dengan cerita. Bapak yang setia mendengarkan, sekali waktu menimpali. Percakapan terakhir barangkali di tahun 2008, kami sangat menikmatinya.
“Mungkin Ayah tidak akan mendapatkan banyak hal dari buku ini. Walaupun sedikit, mungkin ada yang bisa menambah atau sekedar mengingatkan.” Begitu Asti berucap saan memberikan sebuah buku hadiah ulang tahun saya beberapa hari lalu.