Sebuah Obituari


I Made Andi Arsana, seorang dosen muda di Universitas Gadjah Mada, meninggal dunia tepat di usianya yang ke-30. Andi, begitu anak dari tiga bersaudara ini biasa dipanggil, meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tidak ada indikasi apapun sebelum kepergiannya. Andi sehat dan tidak pernah mengeluh soal apapun perihal kondisi fisik dan psikologisnya. Seakan tidak ingin meresahkan siapapun, Andi menghembuskan nafas terakhirnya ketika semua orang-orang yang dicintainya dibuai oleh tenangnya malam Jogja yang dingin.

Di usia yang masih muda, Andi telah menghasilkan 80 an publikasi dalam karirnya sebagai dosen dan peneliti. Namun begitu, Andi, di mata ibu dan bapaknya, tetaplah seorang anak layaknya seorang anak. Andi istimewa di mata mereka, sekaligus tetap sederhana dan terjangkau oleh pemikiran dan harapan kedua orang tuanya yang tidak sempat mengenyam pendidikan SMP. Sebagai seorang anak penambang batu padas, Andi telah melambungkan kebanggaan orang tuanya hingga ke Gedung PBB di New York. “Biarkanlah kami bangga dengan cara yang sederhana untuk Andi” demikian ayahnya berujar sambil tertunduk dalam.

Ketika ditanyakan tentang kepergian suami tercintanya, Asti, sambil meneteskan air mata bergumam “Ayah adalah sosok lelaki penuh cinta. Semangat dan kreatifitasnya menginspirasi orang-orang di sekitarnya”. Senada dengan ini, Lita yang baru berusia 2 tahun 7 bulan berujar sambil terisak “Ayah…jangan pergi… nanti dek Ita mandi bola sama siapa?”

Selimut kelabu tidak hanya membuat rumah duka jadi muram tetapi juga Teknik Geodesi UGM tempat Andi bekerja. Ketua jurusan, dalam pesan perpisahannya mengatakan “Saya sangat terkesan dengan Pak Andi. Masih muda tetapi sangat produktif dalam berkarya. Jurusan telah kehilangan seorang dosen yang sangat potensial”. Senada dengan itu, semua dosen merasa sangat kehilangan.

Mahasiswa tidak kalah terpukul dengan kepergian Andi. “Bagi saya, Pak Andi adalah seorang dosen yang luar biasa. Tidak saja pintar dalam mengajar, beliau juga menjadi sumber inspirasi untuk berkreativitas. Beliau adalah sosok kebanggan kami. Selamat jalan Pak Andi” demikian ucap seorang mahasiswi ketika ditanyai.

Seorang alumni teknik Geodesi UGM yang menjadi pejabat di Bakosurtanal mengatakan, “Saya pernah sampaikan kapada Mas Andi bahwa beliau adalah salah satu harapan kita di masa depan. Saya sangat terkejut mendengar kepergiannya yang mendadak. Kita telah kehilangan salah satu kader ahli batas wilayah Indonesia.” Masih dari alumni Teknik Geodesi UGM, komentar lain bermunculan. “Mas Andi adalah salah satu yang membuat kami bangga sebagai alumni geodesi. Kemampuannya untuk menuliskan geodesi secara populer di media massa membuat eksistensi kami semakin kuat. Selamat jalan Mas Andi” demikian ucap seorang alumni yang bekerja di perusahaan swasta.

Andi yang pernah bekerja di Astra dan Unilever mendapat ucapan belasungkawa yang dalam. “Made selalu membuat suasana jadi bergairah dan ceria. Meskipun sudah 6 tahun meninggalkan kami, Made seperti tetap menjadi keluarga.” Seroang karyawan putri di Astra menegaskan.

Andi, sang muda telah berpulang. Persiapannya untuk berangkat sekolah S3 di Australia harus terhenti. Kepergiannya menebarkan aroma duka bagi siapa saja yang pernah mengenalnya. Tidak saja dia adalah seorang guru, Andi adalah juga seorang inspirator. Perilakunya telah menyebarkan virus kreativitas bagi orang-orang di sekelilingnya. Selamat jalan Andi. Jejakmu yang berserak lewat ratusan karya tulis, pesan singkat, dan bahkan kelakar akan terus hidup menginspirasi semakin banyak orang. Tersenyumlah dari alam sana karena semua orang di dunia mendoakan moksa bagimu.

Catatan:
Jangan serius banget dong bacanya. Obituari ini hanya guyon aja kok. Lagi pula banyak hal yang belum terwujud. Karenanya, ini adalah doa seorang I Made Andi Arsana di ulang tahunnya yang ke-30. Btw, seperti apa obituari yang Anda inginkan?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

19 thoughts on “Sebuah Obituari”

  1. waduh….

    ini “ide gila” nih topik postingan nya…..

    btw, met ultah pak. semoga panjang umur dan semakin sukses dalam hidup dan berkehidupan..

    *dibagus-bagusin ucapannya, sapa tahu di traktir :p*

  2. merinding bacanya Ndi…kok ngalup awake dhewe…ojok mati sek toh…msh byk yg bs kamu perbuat…
    Slamat Ulang Tahun…makin sukses!

  3. Thanks mb Lid…
    Wah komentar yang menyejukkan dari Canada. Apa kabar?
    Kata orang [tak] bijaksana, tak apa berkelakar tentang kematian dan kehidupan 🙂 Bayang2 tentang kematian justru lebih efektif mengingatkan kita, katanya.

  4. gila nich si Andi, awalnya sedih, belakangan ngakak. BTW, terima kasih atas tulisannya, tetap ada “palajaran” di dalamnya, terutama kalimat di paling akhir, “seperti apa obituari yang Anda inginkan?!” dalam Islam mau Khusnul Khatimah atau Su’ul Khatimah. Sehingga kita dianjurkan untuk mengingat kematian, sehingga kita akan terus berkarya untuk mempersembahkan yang terbaik, sebelum kematian menjemput….. great posting ….semoga sukses selalu…

  5. Tanjobi omedetto gozaimazu Bli Made….Happy birthday….all the best for u. Nice post n tetep berkarya. Saya masih berhutang,thanks for all waktu di Astra n Jogja.Thanks juga buat ajaran “Magic”nya 🙂

  6. Mas Andi… ndherek mangayubagya… selamat ulang tahun ya, semoga sukses selalu dan diberi umur yang bermanfaat…

  7. Wadaow..kalo reuni kayanya susah dech…Bli Made kan super sibuk,apalagi mau study di Aussie.Wish u reuni in Aussie 😀

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s