Tips menulis (sebuah percakapan di bandara)

Misteri IELTS
Misteri IELTS

Pembicaraan atau pelajaran penting memang tidak harus selalu terjadi di ruang kelas. Seperti kata orang bijaksana, membaca pun tidak salalu berarti membaca buku, duduk diam di meja belajar dan tidak mau diganggu. Membaca yang sesungguhnya justru adalah membaca tanda-tanda jaman, katanya.

Pagi ini saya mengantar seorang kawan baik yang akan meninggalkan Australia untuk kembali ke tanah air karena sudah menyelesaikan tugasnya. “Mungkin aku akan kembali dan sekolah di sini. Sekarang mau belajar IELTS dulu”, katanya setengah berkelakar. “Eh, ada tips gak, gimana caranya mendapatkan skor IELTS yang tinggi, terutama untuk menulis?” tiba-tiba kawan saya ini bertanya agak serius. Pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat usang, saya sudah dengar ribuan kali. Entah berapa orang sudah menanyakan ini di milis beasiswa, misalnya atau ketika saya dikarantina di Jakarta 5 tahun lalu.

Continue reading “Tips menulis (sebuah percakapan di bandara)”

Gubernur Bali

Sang Gubernur
Sang Gubernur

Saya tidak memiliki ketertarikan politik yang tinggi. Meskipun beberapa kawan saya adalah penggiat politik dan tahu persis percaturan politik Bali, tanah kelahiran saya, tetap saja saya bukanlah penyimak aktif. Saya memang mendengar bahwa Mangku Pastika adalah salah satu kandidat kuat. Itu saja. Selebihnya tidak banyak yang saya pahami.

Di luar urusan politik, saya mengagumi Mangku Pastika sebagai orang yang pintar dan berkaliber Internasional. Tidak mengecewakan memang kalau akhirnya Mangku terpilih sebagai Gubernur Bali untuk periode lima tahun ke depan. Meski demikian, saya tidak merasa perlu ikut pesta lawar atas kemenangan ini. Bukan karena saya anti pesta, semata-mata karena tidak merasa terlibat secara emosi dengan proses pilkada. Satu syukur yang perlu saya panjatkan adalah karena pilkada Bali berjalan lancar tanpa kerusuhan yang tak perlu.

Continue reading “Gubernur Bali”

Kebaikan sederhana

Saya adalah pencinta film, terutama yang patriotik. Saya mungkin sudah menonton film “a few good men” belasan kali dan menghafalkan dengan sempurna pidato Presiden Amerika di “Independence day” atau pembelaan memikat Endrew Shepherd di “The American President” Dari film saya belajar banyak hal, tidak saja hal besar, juga hal kecil. Khusus untuk “a few good men”, film ini, entah mengapa, selalu mengingatkan saya akan kebaikan-kebaikan yang sederhana yang dilakukan oleh sedikit orang di muka bumi.

Continue reading “Kebaikan sederhana”

Form ADS 2009 format Ms Word

Formulir ADS yang saya posting sebelumnya disediakan oleh seorang kawan. Form tersebut dalam file pdf yang bisa diedit tetapi tidak mudah untuk disimpan meskipun bisa langsung dicetak. Dalam beberapa hal, ini sedikit menyulitkan karena belum tentu seorang pelamar bisa mengisi formulir dalam satu waktu dan langsung mencetaknya. Umumnya pengisian formulir memerlukan waktu beberapa lama.

Sebenarnya masalah ini juga bisa diatasi dengan menyimpan jawaban dalam file terpisah (misalnya Ms Word) dan melakukan copy/paste ke formulir pdf tersebut di atas setelah semua beres sehingga tinggal dicetak. Kalau Anda merasa cara ini lebih baik, silahkan digunakan.

Alternatif lain, saya juga sudah siapkan formulir dalam format Ms Word. Dengan formulir ini tidak ada trik khusus, Anda bisa isi kapan saja dan edit kapan saja sebelum dicetak. Silahkan download dari:

  1. WordPress
  2. Rapidshare

Semoga membantu dan Good luck!

Childcare, Imunisasi dan Centrelink

Dear Liz,

I hope this finds you well.
I am writing to inform you that I will not be in tomorrow as I have to be in Sydney. I have to see Dr. Judith Salmon regarding immunisation certificate for Lita, my daughter. We need the certificate for her to be admitted in West Wollongong Preschool and also for getting childcare benefit from Centrelink. For anything I miss from your class, I will catch up from other members of the class.

Thank you, Liz. I will see you on Thursday.

Sincerely yours,
Andi

Aku buru-buru log off dari komputer di ruanganku dan berjalan setengah berlari ke stasiun kereta North Wollongong. Tujuh belas menit lagi kereta ke Sydney akan berangkat, biasanya aku memerlukan waktu sekitar 13-15 menit dari kampus ke stasiun itu.

Continue reading “Childcare, Imunisasi dan Centrelink”

Desak Made Sukri: Rest In Peace

Desak Made Sukri, meninggal di usianya yang sekitar 80 tahun. Memang tidak seorangpun mengetahui usianya yang sesungguhnya. Nenek tua ini memang lahir di suatu masa saat orang-orang di sekitarnya tidak mengerti dan merasa perlu tentang makna penanggalan masehi. Begitulan jaman itu, saat ‘tegak oton’ menjadi cukup untuk mengenal kelahiran seorang manusia.

Setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan psikis agak lama, Desak Made Sukri menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2008 pukul 5.42 WITA di rumah kediamannya yang tenang di Desa Tegaljadi, Tabanan, Bali. Tidak banyak yang dipesankannya saat kepergiannya karena beliau memang sudah tidak mampu berbicara sejak beberapa lama. Kepergiannya yang tenang di pagi yang sepi rupanya sudah diantisipasi oleh semua kerabat, terutama anak, menantu, cucu dan cicitnya. Tidak ada yang terlalu terkejut, pun tidak merasa perlu menangis. Bukan karena kepergian sang tua diharapkan kerabatnya, semata-mata karena semuanya bersepakat bahwa dharma bhaktinya telah paripurna.

Continue reading “Desak Made Sukri: Rest In Peace”

Form ADS 2009- editable

Kesempatan memang selalu ada dan datang setiap saat. Tahun ini, kesempatan untuk mendaftar beasiswa master dan doktor di Australia dibuka kembali. Bagi yang tertarik silahkan kunjungi websitenya dan unduh formulirnya. Seorang kawan yang alumni ADS, Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St, telah berbaik hati membuat formulir ADS yang semula tidak bisa diisi langsung secara digital menjadi editable. Formulir ini akan membuat para pelamar lebih mudah mengisi formulirnya dengan komputer.

Continue reading “Form ADS 2009- editable”

Berandalan itu buang sampah pada tempatnya

Pagi yang dingin, kami bertiga baru saja turun dari kereta yang membawa kami dari Wollongong ke Sydney. Suasana Sydney tentu saja lebih semarak dibandingkan Wollongong yang dingin. Sydney memang lebih happening kata temenku. Orang lalu lalang, kendaraan berisik, gedung tinggi, burung dara beterbangan, semuanya menambah suasana menjadi lebih hidup. Railway Square masih seperti dulu ketika kami tinggalkan dua tahun lalu.

Ini perjalanan keluarga pertama berlibur ke Sydney, Ode berjanji akan menjemput di Quay Street. Aku Asti dan Lita bergegas menuju Basement Book di lorong bawah tanah sambil menunggu saatnya ketemu Ode. Basement Book berada di bawah bus stop di Railway Square dan menjual berbagai buku. Ada yang bekas dan sangat murah, yang baru juga banyak. Sambil lalu aku menggamit sebuah novel merah, hanya $1. Meskipun belum yakin akan isisnya, nampaknya $1 terlalu sayang untuk dilewatkan.

Continue reading “Berandalan itu buang sampah pada tempatnya”

Ketika musim dingin tiba

Winter sesungguhnya belum lagi mulai. Barbara, seorang guru di kelasku bahkan mengatakan, “it is very hot today, isn’t it?” Dia tidak berkelakar karena dia berasal dari Skotlandia, tempat yang sangat dingin. Namun begitu, tidak demikian adanya untuk kami yang mayoritas dari Asia Pasifik. Kecuali Aero, Charlie, Fang dan Shane yang dari China, semuanya dengan setia berjaket tebal di kelas. Aero bahkan becanda, ”I am wearing my spring cloths during winter here!”

Meski sudah pernah tinggal di Australia beberapa lama dan sempat menikmati dramatisnya musim salju di New York, winter bagiku tetaplah winter. Dinginnya tak terampunkan. Pagi setelah mandi kukayuh sepeda di Robson Road yang berbukit. Tidak hanya angin yang menjadikan semuanya lebih tragis, hujan bahkan turun tak memberi ampun, menandai datangnya musim baru. Sudah menjadi kebiasaan, datangnya winter akan ditandai dengan hujan hampir setiap hari. Minggu lalu bahkan tidak ada hari tanpa hujan. Bagiku yang bersepeda ke kampus, cuaca seperti tidaklah bersabahat.

Continue reading “Ketika musim dingin tiba”

Teman-temanku se-Asia Pasifik

Sebelum memasuki dunia universitas yang sebenarnya, hampir semua universitas di Australia mensyaratkan mahasiswanya mengikuti dan menyelesaikan pelajaran Bahasa Inggris pada level tertentu. Entah bagaimana ceritanya, aku harus terdampar lagi di kelas yang sesungguhnya sudah bosan aku ikuti. Kelas serupa pernah diikuti di Jakarta tahun 2003 dan di Sydney tahun 2004. Isinya juga tidak banyak berubah: critical thinking, article review, writing structure, presentation, powerpoint lesson dan sejenisnya. Meskipun tidak ahli-ahli amat, rasanya semua itu sudah aku tahu dengan cukup baik. Meski demikian, belajar dan belajar lagi memang tidak pernah ada salahnya. Kalau membuka diri terhadap segala sesuatu, banyak hal baru yang sesungguhnya bias diperoleh dari pelajaran yang diulang-ulang sekalipun. Kali ini aku lebih tertarik membahas teman-temanku yang berasal dari berbagai negara di Asia Pasifik.

Continue reading “Teman-temanku se-Asia Pasifik”