
Pembicaraan atau pelajaran penting memang tidak harus selalu terjadi di ruang kelas. Seperti kata orang bijaksana, membaca pun tidak salalu berarti membaca buku, duduk diam di meja belajar dan tidak mau diganggu. Membaca yang sesungguhnya justru adalah membaca tanda-tanda jaman, katanya.
Pagi ini saya mengantar seorang kawan baik yang akan meninggalkan Australia untuk kembali ke tanah air karena sudah menyelesaikan tugasnya. “Mungkin aku akan kembali dan sekolah di sini. Sekarang mau belajar IELTS dulu”, katanya setengah berkelakar. “Eh, ada tips gak, gimana caranya mendapatkan skor IELTS yang tinggi, terutama untuk menulis?” tiba-tiba kawan saya ini bertanya agak serius. Pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat usang, saya sudah dengar ribuan kali. Entah berapa orang sudah menanyakan ini di milis beasiswa, misalnya atau ketika saya dikarantina di Jakarta 5 tahun lalu.
Continue reading “Tips menulis (sebuah percakapan di bandara)”

Formulir ADS yang saya posting
Dear Liz,
Pagi yang dingin, kami bertiga baru saja turun dari kereta yang membawa kami dari Wollongong ke Sydney. Suasana Sydney tentu saja lebih semarak dibandingkan Wollongong yang dingin. Sydney memang lebih happening kata temenku. Orang lalu lalang, kendaraan berisik, gedung tinggi, burung dara beterbangan, semuanya menambah suasana menjadi lebih hidup.
Winter sesungguhnya belum lagi mulai. Barbara, seorang guru di kelasku bahkan mengatakan, “it is very hot today, isn’t it?” Dia tidak berkelakar karena dia berasal dari Skotlandia, tempat yang sangat dingin. Namun begitu, tidak demikian adanya untuk kami yang mayoritas dari Asia Pasifik. Kecuali Aero, Charlie, Fang dan Shane yang dari China, semuanya dengan setia berjaket tebal di kelas. Aero bahkan becanda, ”I am wearing my spring cloths during winter here!”