Murah senyum


Ketika bersekolah SD di desa pertengahan ’80an dulu, sangat mudah mendapatkan informasi dari guru bahwa Indonesia adalah bangsa yang sopan santun, ramah dan penuh toleransi. Terlebih sebagai orang desa, Ibu Guru waktu itu dengan sukses meyakinkan bahwa orang desa lebih baik karena mengenal tetangga dengan baik, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di kota besar. Anggapan seperti ini cukup lama saya pegang dan percayai. Indonesia mungkin memang adalah bangsa yang santun dan baik hati, penuh toleransi.

Selain membanggakan diri sendiri, tidak lupa juga para guru dan termasuk orang tua menghina dan menjelek-jelekkan orang asing, orang barat. Katanya mereka tidak kenal dengan tetangga, sangat individualistis, melakukan pergaulan bebas, tidak mengenal sopan santun, menganut perilaku seks bebas dan semua yang tidak baik untuk budaya timur. Seperti halnya tentang Indonesia, sayapun dulu percaya apa yang diceritakan guru tentang orang barat, walaupun tidak paham benar, siapa orang barat yang dimaksud.

Pagi kemarin kami sekeluarga berjalan-jalan di Centenial Park (CP), di pinggiran Sydney untuk sekedar ngobrol dan olah raga. Lita sangat menikmati bermain di taman kota yang dilengkapi arena bermain anak. Beda dengan permainan di mall-mall Indonesia yang umumnya berbayar, permainan anak di taman kota di Sydney gratis-tis. Tempat bermain seperti ini juga sangat mudah ditemukan di setiap ruang terbuka di setiap suburb.

Dalam perjalanan ke CP kami berjalan kaki dan harus menyebrangi beberapa jalan. Pengalaman menarik banyak terjadi. Sebuah Holden putih tiba-tiba saja berhenti, mengurungkan niatnya berbelok dan melambaikan tangannya pertanda mempersilahkan kami menyebrang jalan. Pak supir yang bule (baca: orang barat) tersenyum menunggu dengan sabar. Kamipun berlalu dengan tergesa, tidak ingin menghentikan si Holden putih terlalu lama, seraya meneriakkan “Thank you!”.

Ketika pulang dari CP, kami juga menyebrangi jalan yang sama. Hal serupa terjadi. Dua orang lelaki dan perempuan yang mengendari mobil menghentikan kendaraannya dan memberikan kode agar kami melintas. Lita yang naik sepeda, bergaya ultraman mengangkat tangan menyetop mobil tersebut dengan tersenyum. Kedua orang ini secara spontan melambaikan tangannya dan tertawa geli melihat Lita. Mereka nampak bahagia dan sangat tulus.

Barangkali memang banyak hal tidak baik di dunia barat jika dilihat dari kacamata orang timur tetapi satu hal yang saya yakini, sangat banyak hal baik yang bisa kita tiru dari mereka. Dengan melihat banyak senyum dan kebaikan hari ini, setidaknya saya berpikir ulang untuk mengklasifikasikan mereka sebagai orang yang tidak sopan, individualistis, dan tidak punya toleransi. Masih banyak [kalau tidak boleh disebut sebagian besar] dari mereka yang murah senyum.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Murah senyum”

  1. Stuju Bli. Rata2 orang Sydney memang murah senyum dan helpful (soalnya pernah mbandingin mereka dengan orang2 Singapore dan Jakarta), he he…
    Jadi kangen Sydney nich…..

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s