Kembali ke Selatan


Jalan desa yang mulai tak halus membuat kijang tua melaju tak cepat. Layaknya mengendarai kuda, tubuh lelahku berguncang kecil mengikuti cekungan dan gundukan jalan yang gelap. Desa sudah sepi ketika perjalanan dimulai. Hari ini aku akan meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Asti dan Lita termangu tanpa suara, entah kesedihan entah rasa penasaran yang menguasai, mereka tak banyak bersuara sepanjang perjalanan. Asti bahkan tertidur karena kelelahan yang menguasai beberapa hari ini. Lita sendiri dipangku niniknya dan perlahan namun pasti jatuh tertidur juga. Aku yang mengendalikan mobil menghiasi jalan panjang dengan cerita. Bapak yang setia mendengarkan, sekali waktu menimpali. Percakapan terakhir barangkali di tahun 2008, kami sangat menikmatinya.

Entahlah karena alasan apa, check-in yang seharuanya cepat, malam itu berjalan lambat. Tidak harus menjadi negara berkembang untuk melakukan kesalahan konyol birokrasi, Australia yang hebatpun bisa sangat menyedihkan dalam urusan ini. Untunglah kesabaran dan doa mengatasi semuanya, tepat pulul 11.55 malam, Garuda GA714 melesat ke udara. Lambaian tangan Bapak, Meme’, Ibu, Paulien dan Kadek mengantarkan kepergian jauh itu.

Semua berjalan baik, kantuk yang tak tertahan membuat kami bertiga lelap dalam tidur selama hampir seluruh waktu perjalanan. Lita sangat mengerti perjalanan yang tidak mudah ini, dia tidak menambah satu pun kesulitan.

Sydney sudah pagi ketika pesawat menjejakkan kakinya di Bandara Kingsford Smith. Semua masih seperti dulu, tidak banyak perubahan yang mencengangkan. Dingin mulai terasa, winter segera datang mengganti musim gugur yang tinggal secuil. Lamat-lamat kuperhatikan pepohonan mulai meranggas menjatuhkan daunnya yang konon menjadi pintu pemborosan air di musim ini. Bandara sibuk, imigrasi tetap seperti dulu dengan senyum dinginnya. Profesional, cepat, tersenyum, tetapi minim kehangatan. Selamat datang di Australia.

Melewati pemeriksaan barang bawaan selalu menjadi bagian yang paling menegangkan. Kelalian menyatakan sesuatu yang kecil bisa mendatangkan urusan panjang. Pernah seorang kawan lupa menyatakan bahwa dia membawa sebiji alpukat. Dia harus mengosongkan koceknya yang berisi ratusan dolar untuk denda. Begitulah negara maju melindungi bangsanya, mereka memang sedang protecting their border. Kalau ragu, nyatakan saja “yes”, aku selalu mengingat tips ini ketika harus mengisi formulir pernyataan membawa barang-barang aneh. Meskipun ada barang yang tidak boleh, hukuman tidak akan diberlakukan kalau sudah dinyatakan. Sanksinya ringan, barang tersebut harus ditinggal di bandara, tidak boleh masuk Australia.

Syukurlah saat menegangkan itu lewat. Semua berlalu tanpa cerita yang berarti. Kamipun menuju taksi. Seorang sopir berkebangsaan Afganistan menyapa dengan ramah. “Kensington, please!” aku memberi request. Setelah meyakinkan bahwa aku tahu ke mana kami menuju, sang sopir memulai tugas mulainya. Kensington hanya sekitar 20 menit dari bandara, tidak rumit, sangat sederhana. Sejumlah 37.50 dolar uang melayang untuk perjalanan singkat ini. Tidak apa-apa, sebuah kenyamanan dan ketepatan waktu memang harus dibayar.

Wulan menyambut dengan sumringah, saudara jauh telah datang. Apartemennya di Darling Street juga masih seperti dulu. Masih tidak percaya rasanya, semuanya berjalan seperti diharapkan. Kami tiba kembali di rumah yang ditinggalkan dua tahun lalu. Semua begitu cepat dan janjiku untuk kembali kepada balkoni dan tembok yang bisu telah aku tepati. Aku kini kembali.

Aku sempatkan melongok ke luar balkoni mendapati sebuah pot yang tak asing di mata. Di pot itu tumbuh sejenis tanaman berdaun putih hijau panjang berjuntai. Di dalam tanah di bawahnya tersembunyi ari-arinya lita yang ditanam hampir tiga tahun lalu. Takjub rasanya membayangkan semua masih seperti semula, tidak banyak yang berubah. Entah Lita sempat berjanji entah tidak, sebelum tiga tahun, sudah dilihatnya kembali adiknya. Luar biasa.

Cemara yang sama, dapur yang sama, tetasan air di sink yang sama, karpet yang sama dan aroma yang nyaris sama. Semuanya mengadirkan rekaman yang sempat disimpan selama 2 tahun. Para sopir kendaraan masih sopan, suara lampu tanda menyebrang yang masih khas, para ibu muda yang masih berjalan dengan troli bayinya dan winter yang masih dingin. Sepertinya kami tidak perlu belajar lagi untuk mengingat semuanya.

Kami telah kembali, kembali ke selatan di mana tidak ada pohon kelapa yang menjulang dan pohon pisang yang menghiasi semak pinggir jalan. Berada jauh dari katulistiwa, kami akan rajut permadani menuju masa depan yang semoga gemilang.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Kembali ke Selatan”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s