Neraka bertobat

Dahulu, malam yang dingin dan angin yang lirih adalah alasan yang bijak untuk melantunkan puisi. Kesendirian dan pergulatan pikir yang tiada bertepi adalah paduan nan digdaya untuk meceritakan keindahan cinta. Tapi itu dulu. Di masa lampau ketika masih tersisa sebaris misteri di lorong-lorong hati yang penasaran. Dahulu kala, ketika jiwa masih muda dan liar bergairah. Ketika itulah, tatapan menjelma menjadi sabda, dan kata-kata tak kurang dari hukum yang padanya segenap nyawa dan belantara bersimpuh memohon ampun.

Continue reading “Neraka bertobat”

A Great Speech of Dino Patti Djalal

Dino Patti Djalal, the new Ambassador of Indonesia for the United States of America, delivered his speech during a welcome dinner organised by USINDO. In my opinion, this is one of the best speech delivered by an Indonesian about America. The speech is realistic and optimistic at the same time. It was delivered with elegant language, depicting respects of Indonesia to the United States, but at the same time also properly asking the US to show the same, not just to Indonesia but also the world. Dino is a young, dynamic and nationalist Indonesian, yet an open-minded and internationally-knowledgeable leader. Here is his speech.

Back for good

putrahermanto.wordpress.com

“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.

Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.

Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.

”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.

Continue reading “Back for good”

Perspektif

Dalam sebuah acara arisan…

“Aduh, sudah lama sekali kita tidak ketemu ya Jeng.”

“Ya Mbak Yu. Sudah enam bulan lebih ya. Apa kabar Mbak Yu?”

“Baik Jeng. Saya baru saja datang nengok cucu di Batam.”

“Oh ya, gimana kabar putra Mbak Yu dan keluarganya di Batam?”

“Aduh, saya kasihan banget sama anak laki-laki saya itu. Hidupnya menderita betul, kelihatannya.”

“Oh ya, kenapa Mbak Yu?”

Continue reading “Perspektif”

Tukang cuci motor

dari : http://olx.co.id/

Saya memperhatikan dengan seksama anak muda belasan tahun di depan saya yang tekun mencuci motor saya yang kumalnya sudah berlebihan. Beginilah enaknya hidup di Indonesia, seseorang yang tidak kaya sekalipun bisa memerintahkan orang lain untuk mencucikan motornya hanya dengan delapan rubu rupiah saja. Tinggal menunggu sambil baca koran, dalam waktu beberapa menit saja motor sudah kembali kinclong. Meski begitu, cerita ini bukanlah tentang motor, apalagi tentang uang. Sama sekali bukan.

Continue reading “Tukang cuci motor”

Mengucapkan salam

Menjelang hari raya seperti Idul Fitri ini, dunia maya dipenuhi oleh lalu lintas ucapan salam dan selamat. Teknologi Informasi memang telah mengubah cara kita bertegur sapa dan mengucapkan salam. Dengan Facebook, mengucapkan selamat ulang tahun kini bukan perkara sulit. Mengingat hari ulang tahun puluhan teman yang 20 tahun lalu memerlukan usaha yang tidak sederhana, kini sangat mudah dilakukan. Facebook dan jejaring sosial lainnya melakukan dengan dengan senang hati untuk kita, tanpa bayaran. Sekretaris paling handal dan tidak pernah mengeluh dewasa ini mungkin bernama Facebook.

Continue reading “Mengucapkan salam”

Wayan

Made Kondang tergopoh-gopoh menemui Nak Lingsir, mengabarkan berita yang menggemparkan. Seorang pemuda di desanya diterima bekerja di kapal pesiar.

“Wayan diterima bekerja Nak Lingsir, sebulan lagi dia berangkat ke Amerika.”
”Astungkara” Nak Lingsir mengucap syukur lalu melanjutkan. ”Wayan memang berbeda dengan kebanyakan anak muda di kampug ini. Banyak orang yang tidak suka melihat kelakuanya, tetapi aku tahu, suatu saat dia akan berhasil. Saat masih kecil dia dikenal sangat kreatif. Dia biasa membuat sabung ayam tiruan dari daun keladi dan taji duri salak. Cerdas sekali bukan? Wayan juga sudah menunjukkan sifat mandiri dan berani mengambil keputusan sendiri. Di saat teman-temannya menangkap capung dengan getah kamboja, dia sudah menggunakan getah nangka, meskipun waktu itu dilarang orang tuanya. Dia juga berani mengambil risiko, pernah mengusir bebek Kak Wi yang terkenal galak itu dari kolamnya. Dia tetap tenang walaupun akhirnya dimarahi. Pemberani sekali dia. Wayan memang sudah menunjukkan kelasnya dari dulu. Saat teman-temannya masih menggunakan sepeda gayung, dia sudah berhasil meyakinkan bapaknya untuk membelikannya motor. Memang luar biasa si Wayan. Aku turut senang mendengar berita ini.”

Continue reading “Wayan”

Tanjung Berakit dalam Video

Jika isunya adalah kedaulatan, banyak orang yang mudah sekali terusik. Tidak saja mereka jadi lebih berani untuk melakukan sesuatu, seringkali akal sehat menjadi nomor dua. Demikian pula situasi di Indonesia saat ini yang sedang hangat karena insiden di perbatasan Tanjung Berakit yang melibatkan Malaysia. Entah untuk keberapa kali sudah, jargon “Ganyang Malaysia” diteriakkan lagi. Masih bagus, kali ini tidak dilanjutkan dengan kalimat tidak penting lainnya seperti “selamatkan Siti Nurhalisa”.

Sebagai sumbangan saya untuk membuat situasi jadi lebih baik, saya membuat sebuah video yang mengilustrasikan insiden ini agar orang awam yang tidak mendalami persoalan perbatasan dan hukum laut bisa memahami dengan baik. Selamat menyaksikan.

Misteri Ilahi

Saya pernah menulis di blog ini soal pergulatan batin saya ketika membuat sebuah keputusan penting. Tulisan itu adalah sebuah kontemplasi yg bagi saya sangat mendalam, meskipun bagi orang lain mungkin biasa saja. Keputusan penting itu adalah masalah kebajikan, setidaknya demikian saya memahaminya.

Kisah itu bercerita tentang berbagai kegagalan, terutama bagi Asti, istri saya, dalam mendapatkan beasiswa. Di saat yang sama, saya bersemangat membantu banyak orang untuk mendapatkan beasiswa yang sama. Saya sampai pada satu pertanyaan penting: perlukah dalam hidup membantu sesama, jika ternyata kebaikan itu tidak perpihak pada keluarga saya? Saya telah memenangkan sebuah pertarungan penting: kebajikan harus tetap dijalankan, meskipun di saat yang tidak membahagiakan. Kebaikan idealnya adalah investasi tanpa pamerih, seperti halnya doa yang adalah puja, doa bukan tuntutan untuk sebuah imbalan. Meski sering kali gagal menjalankannya, rasanya nasihat ini sangat layak diperjuangkan.

Continue reading “Misteri Ilahi”

Berbagi laut dengan Tetangga

Selat Singapura & Tg. Berakit

Peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini ditandai dengan sebuah huru-hara. Tiga orang pegawai Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia. Meski sesungguhnya penangkapan ini erat kaitannya dengan tindakan pegawai KKP yang menangkap tujuh nelayan Malaysia yang konon mencuri ikan di perairan Indonesia, berita di media massa nampaknya lebih berkonsentrasi pada nasib ketiga karyawan KKP. Bisa dimengerti.

Continue reading “Berbagi laut dengan Tetangga”