Bakat

Saya sedang jalan-jalan di sebuh swalayan di Jogja. Asti perlu membeli beberapa barang untuk keperluan laboratorium. Sebagai pengantar, saya dan Lita hanya mengikuti di belakang, sampai pada satu lokasi. “Ayah, wait for second” Lita tiba-tiba berteriak dan berhenti. Dia menunjuk satu barang dan mulai nyerocos “You know what, that is Rinso. If we use only soap, the dirt won’t get off, but if we use Rinso, the dirt will get off our shirt” Saya melongo saja melihat Lita yang sudah jadi ‘korban’ iklan. The very very happy victim, kalau boleh saya bilang. Belum lagi sempat saya tanya lebih jauh, dia sudah menunjuk barang lain dan nyerocos. “This is called Molto ultra. If we use Molto Ultra, the cloth will smell nice all the day!” Gubrak! Saya kaget bukan kepalang. Benar-benar deh Lita jadi korban iklan.

Continue reading “Bakat”

Salah duga

 

Apple

Di tepi jalan di Jati Mulya, Bekasi, saya melihat berbagai jenis buah dijajakan dan tertarik. Terlihat seorang bapak-bapak dengan peci dan baju koko sedang memindahkan biji-biji salak dan diterima oleh seorang pemuda gaul, rambut spike, celana jeans dan sepatu keren yang memegang tas plastik. Rupanya pemuda ini menyukai salak, dia membeli hampir satu tas penuh. Saya menduga-duga. Tanpa banyak berpikir saya mampir dan bertanya “pepayanya berapa Pak?” seraya memandang wajah si Bapak yang masih sibuk memindahkan salak ke tas plastik. Dia memandang saya, tidak menjawab. “Duabelas ribu sekilo Mas” kata pemuda gaul itu. Di dunia yang semakin maju ini, kadang kala tidak mudah membedakan penjual dan pembeli. Hanya dengan melihat penampilan dan ditambah asumsi, seringkali saya salah menduga.

Continue reading “Salah duga”

Circle Crop: Antara Fakta, Ilmu dan Misteri

Courtesy: Lab Fotri dan Inderaja Teknik Geodesi UGM

Saya bukanlah pemerhati, apalagi ahli Unidentified Flying Object (UFO). Saya juga bukan penggemar cerita-cerita misteri atau ahli yang bisa memahami makna symbol-simbol yang langka. Sayapun kadang merenung, bagaimana seseorang bisa menjadi pengamat atau pemerhati, apalagi ahli, sesuatu yang ‘unidentified’ yang tidak dikenali. Apakah pemahaman saya terhadap istilah ‘ahli’ berbeda dengan pemahaman orang lain terhadapnya?

Continue reading “Circle Crop: Antara Fakta, Ilmu dan Misteri”

Satu Rahasia

Berlin Reunion - http://www.nippertown.com/

Jujurlah bahwa sesungguhnya pernah ada urusan yang tertunda diantara kita. Saat gelayut waktu mengijinkan pertemuan itu maka tak kuasa kausembunyikan rahasia. Sebuah kisah yang rapi tersimpan, terpupuk hanya oleh rasa kagum dan galau yang menjadi satu. Ada pertanyaan yang tak pernah terjawab, mengapa waktu tidak meluluskan semua doa tentang harapan-harapan yang terasa hebat di masa muda? Tapi itulah maha karya sang waktu. Misterinyalah yang menjadikannya sempurna.

Continue reading “Satu Rahasia”

Merenungi 2010

Sebenarnya semua penggal waktu bisa menjadi istimewa. Sebaliknya, semua periode bisa jadi tidak istimewa jika dibiarkan berlalu begitu saja. Tahun 2010 tidak ada bedanya, dia istimewa, sekaligus juga tidak. Tergantung masing-masing orang melihatnya. Bagi saya, setiap penggal waktu itu bermakna.

Januari 2010, buku populer pertama saya terbit di Jakarta oleh Lingkar Pena. Setelah lama sekali berproses dan mengalami ketidakmenentuan, akhirnya buku itu terbit juga. Cincin Merah di Barat Sonne (CMBS), demikian judulnya dan mulai beredar bulan Januari 2010. Tentu saja saya sangat bahagia dan bangga, meskipun buku itu tidaklah sedasyat Laskar Pelangi atau buku-buku laris lainnya. Setidaknya saya mengerti betapa tidak mudahnya menerbitkan sebuah buku populer.

Continue reading “Merenungi 2010”

Bola

Made Kondang ragu-ragu mengangkat tangannya dan berteriak. Ada yang tidak pas karena tidak biasanya dia begini, bersemangat dan berdebar-debar menyaksikan bola tergelincir di lapangan hijau dan mengungsi dari kaki ke kaki. Ini jelas bukan dirinya. Bukan Kondang yang dikenal banyak orang kalau lelaki itu lalu menjadi orang biasa yang berteriak, histeris dan berdebar karena sebutir bola.

Namun bola itu kini istimewa. Istimewa karena dia menjadi satu-satunya pusaka kebersamaan desa pekraman yang lama ditinggalkan Kondang. Saat kelihan banjar, nak lingsir, tukang angon dan penyiang gulma sudah kehilangan dan tidak bisa menjadi teladan, bola itu seperti malaikat, datang tiba-tiba dan menyatukan.

Continue reading “Bola”

Tips Beasiswa: Tes IELTS dan Wawancara ADS

http://www.businesspundit.com/

Saya masih berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ketika saya mendapat panggilan dari AusAID perihal wawancara Australian Development Scholarship (ADS) di bulan November 2002 silam. Dalam panggilan itu, ada sepucuk surat dengan berbagai lampiran jadwal ujian wawancara dan ujian IELTS serta satu buku panduan yang cukup tebal. Saya masih ingat, warnanya merah bata. Bagi banyak orang di Indonesia, surat ini adalah berkah luar biasa, telah ditunggu berbulan-bulan dalam ketegangan. Ada teman yang berkelakar beberapa tahun setelahnya bahwa jika mendapat surat dengan amplop besar dari AusAID artinya lolos wawancara. Jika amplopnya kecil, artinya hanya berisi surat permohonan maaf alias penolakan. November 2002, saya memang mendapat amplop besar dan tebal.

Continue reading “Tips Beasiswa: Tes IELTS dan Wawancara ADS”

Tips Beasiswa: Surat Rekomendasi

http://shutterstock.com

Surat rekomendasi ini hampir selalu diperlukan dalam perburuan beasiswa. Tidak hanya untuk mendapatkan beasiswa, untuk mendaftar sekolah (S2, S3) pun surat rekomendasi ini perlu. Dalam bahasa lain, surat rekomendasi dikenal dengan recommendation letter, atau reference letter. Untuk singkatnya, kita sebut saja SR sebagai pengganti surat rekomendasi.

Mendapatkan surat rekomendasi ini ternyata tidak mudah. Selain itu, seringkali pelamar beasiswa tidak tahu persis kepada siapa harus meminta SR. Pun setelah menemukan calon pemberi SR, tidak sedikit dari mereka yang tidak yakin atau tidak tahu format SR yang sesuai.

Continue reading “Tips Beasiswa: Surat Rekomendasi”

Terpasung di perempatan

taken from http://sunnytarotblog.blogspot.com/

Aku berkelana di sebuah desa, menyusuri jalanan yang terjalin dari bebatuan berukir ulah manusia yang fana. Gelap jalanan itu, berhias temaram lampu minyak. Di tepinya berderet gapura-gapura dan benteng ringkih yang melindungi istana-istana kecil yang mengenaskan. Penjaja hidangan bersemu sendu mematung di sudut-suduh jalan bercahayakan lentera yang juga temaram. Lehernya kurus, keriput dan panjang, wajahnya tirus lesu namun menatap tajam. Rambutnya putih pucat terurai hingga bahu. Telinganya panjang berjuntai menyentuh pundaknya yang telanjang dan keriput. Sesekali dia menyeringai, giginya kehitaman, sisa-sisa tembakau bersembunyi lekat berbaur dengan sirih dan gambir yang pekat dan pucat. Wajah itu tak kan kaulihat di sembarang tempat. Aku melihatnya karena aku adalah sang waktu yang selalu melihat dan mencatat.

Continue reading “Terpasung di perempatan”

Tampang

http://images.appleinsider.com

Awal Juni 2006, hampir jam 12 malam

Saya mengendari motor butut saya, melaju dari kampus menuju rumah. Memang hari telah larut, saya terlibat dalam tim penanggulangan gempa Jogja yang menghebohkan itu sehingga bekerja sampai larut malam. Apalagi kalau bukan utak atik peta dan sistem informasi geografis. Sampai di pintu gerbang teknik (portal), saya tertegun karena portal sudah terkunci. Selarut itu, orang tidak saja dilarang masuk Fakultas Teknik, mereka juga tidak bisa keluar. Parahnya lagi, penjaga tidak ada. Saya kebingungan dengan tampang lusuh, jaket kumal dan motor tak terawat.

Saya beranjak mendekati KPTU Teknik UGM, melihat ada seorang lelaki petugas keamanan yang sedang membersihkan plaza. Saya menyatakan maksud saya untuk keluar. “Wah, sudah tutup dari tadi Mas!” kata si bapak dengan wajah yang agak terheran melihat ketidaktahuan saya. “Saya baru saja selesai kerja di kampus Pak. Gimana ya?” saya mencoba meminta pendapat sekaligus bantuannya dengan harap-harap cemas. “Sudah nggak bisa. Sudah tutup gerbangnya Mas!” katanya mulai agak kesal sambil tidak berhenti menyapu. “Kok tutup sih Pak?” lagi-lagi saya bertanya polos karena benar-benar tidak tahu kalau kini Fakultas Teknik ditutup malam-malam. Saya memang baru saja pulang dari Australia setelah dua tahun sekolah di Sydney. “Lho, ndak tahu to!? Sudah lama! Kamu anak mana to?” si bapak bertanya, kali ini dengan tampang sedikit galak.

Continue reading “Tampang”