Surat rekomendasi ini hampir selalu diperlukan dalam perburuan beasiswa. Tidak hanya untuk mendapatkan beasiswa, untuk mendaftar sekolah (S2, S3) pun surat rekomendasi ini perlu. Dalam bahasa lain, surat rekomendasi dikenal dengan recommendation letter, atau reference letter. Untuk singkatnya, kita sebut saja SR sebagai pengganti surat rekomendasi.
Mendapatkan surat rekomendasi ini ternyata tidak mudah. Selain itu, seringkali pelamar beasiswa tidak tahu persis kepada siapa harus meminta SR. Pun setelah menemukan calon pemberi SR, tidak sedikit dari mereka yang tidak yakin atau tidak tahu format SR yang sesuai.
Aku berkelana di sebuah desa, menyusuri jalanan yang terjalin dari bebatuan berukir ulah manusia yang fana. Gelap jalanan itu, berhias temaram lampu minyak. Di tepinya berderet gapura-gapura dan benteng ringkih yang melindungi istana-istana kecil yang mengenaskan. Penjaja hidangan bersemu sendu mematung di sudut-suduh jalan bercahayakan lentera yang juga temaram. Lehernya kurus, keriput dan panjang, wajahnya tirus lesu namun menatap tajam. Rambutnya putih pucat terurai hingga bahu. Telinganya panjang berjuntai menyentuh pundaknya yang telanjang dan keriput. Sesekali dia menyeringai, giginya kehitaman, sisa-sisa tembakau bersembunyi lekat berbaur dengan sirih dan gambir yang pekat dan pucat. Wajah itu tak kan kaulihat di sembarang tempat. Aku melihatnya karena aku adalah sang waktu yang selalu melihat dan mencatat.
Saya mengendari motor butut saya, melaju dari kampus menuju rumah. Memang hari telah larut, saya terlibat dalam tim penanggulangan gempa Jogja yang menghebohkan itu sehingga bekerja sampai larut malam. Apalagi kalau bukan utak atik peta dan sistem informasi geografis. Sampai di pintu gerbang teknik (portal), saya tertegun karena portal sudah terkunci. Selarut itu, orang tidak saja dilarang masuk Fakultas Teknik, mereka juga tidak bisa keluar. Parahnya lagi, penjaga tidak ada. Saya kebingungan dengan tampang lusuh, jaket kumal dan motor tak terawat.
Saya beranjak mendekati KPTU Teknik UGM, melihat ada seorang lelaki petugas keamanan yang sedang membersihkan plaza. Saya menyatakan maksud saya untuk keluar. “Wah, sudah tutup dari tadi Mas!” kata si bapak dengan wajah yang agak terheran melihat ketidaktahuan saya. “Saya baru saja selesai kerja di kampus Pak. Gimana ya?” saya mencoba meminta pendapat sekaligus bantuannya dengan harap-harap cemas. “Sudah nggak bisa. Sudah tutup gerbangnya Mas!” katanya mulai agak kesal sambil tidak berhenti menyapu. “Kok tutup sih Pak?” lagi-lagi saya bertanya polos karena benar-benar tidak tahu kalau kini Fakultas Teknik ditutup malam-malam. Saya memang baru saja pulang dari Australia setelah dua tahun sekolah di Sydney. “Lho, ndak tahu to!? Sudah lama! Kamu anak mana to?” si bapak bertanya, kali ini dengan tampang sedikit galak.
Saat akan ke Monaco, saya melewati imigrasi di Bandara Sydney. Seperti biasa, ada pemeriksaan paspor. Saya menuju ke loket dengan petugas yang nampak berwajah Asia, kemungkinan besar Filipina. Sebelum saya bicara apa-apa dan sebelum dia memeriksa passpor saya dia mengeluarkan satu kalimat yang tidak saya mengerti artinya. Saya tahu itu Bahasa Tagalog. Dia pastilah menduga saya asli Filipina, seperti dirinya.
“Maaf Pak?” saya balik bertanya kepada dia, kali ini dalam Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. Tentu saja dia tidak mengerti apa yang saya bilang, tetapi segera yakin saya bukan orang Filipina.
“Oh, I thought you are a Philippino!” katanya dengan ringan sambil tersenyum.
Tentu saja tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Perlakuan seperti ini sering saya alami di luar Indonesia. Petugas keamanan Gedung PBB di New York juga melakukan hal yang sama ketika saya memasuki gedung itu. Banyak satpam di sana berasal dari Filipina dan tanpa pikir panjang berbicara dalam Bahasa Tagalog dengan saya. Ada asumsi yang bermain di sini. Lebih sering saya tidak hiraukan, tetapi sekali waktu saya merasa agak terganggu juga. Saya menduga ini adalah bentuk sederhana dari sikap ‘stereotyping’ atau ‘generalising’ secara berlebihan. Sangat berbahaya bermain dengan asumsi karena kita tahu, “assumption is the mother of all f**k ups!” Kadang merasa perlu untuk melayani permainan asumsi ini.
Dalam sebuah sambutannya pada acara pameran di Jakarta Convention Center tahun 2006, Dr Kusmayanto Kadiman yang adalah Menteri Riset dan Teknologi ketika itu mengatakan bahwa Indonesia adalah ‘supermarket bencana alam’. Meski disampaikan setengah berkelakar, ucapan ini tidaklah salah.
Di Indonesia, hampir semua jenis bencana alam ada. Apa yang terjadi sebulan terakhir menjadi bukti kebenaran ucapan itu. Sebagian bencana memang bisa dicegah seperti banjir, sebagian lain harus diterima apa adanya, misalnya letusan gunung berapi. Untuk yang terakhir ini, Indonesia konon berada di sebuah cincin api atau ‘ring of fire’ yang menyimpan berbagai potensi bencana.
Sebagai orang Geodesi, saya merasa bahwa munculnya Google Earth dan Google Maps merupakan suatu revolusi yang mengubah pandangan orang (awam) terhadap data dan informasi geospasial berupa peta. Google telah membuat peta menjadi sesuatu yang akrab dengan berbagai kalangan, tidak hanya orang teknis. Munculnya Google Maps ini melengkapi revolusi sebelumnya dengan ketersediaan GPS, Global Positioning System.
Terima kasih… terima kasih… terima kasih banyak semuanya.
Selamat pagi!
Saya sangat senang berada di sini, di Universitas Indonesia. Kepada staf, dosen dan mahasiswa serta kepada Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri, terima kasih banyak atas keramahtamahannya.
Assalamualaikum dan salam sejahtera.
Terima kasih atas sambutan yang sangat mengesankan. Terima kasih kepada masyarakat Jakarta. Dan terimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia. Pulang kampung, nih!
Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari puncak Gunung Merapi?
Gunakan:
[+] untuk memperbesar tampilan peta (zoom in)
[-] untuk memperkecil tampilan peta (zoom out)
[tanpa panah] untuk menggeser tampilan peta
Klik pada tiap lingkaran untuk melihat keterangan radius (15, 20, 25, 30 dan 35 kilometer dari Gunung Merapi)
Jika ingin melihat peta dengan ukuran lebih besar, silakan klik di sini
Bagi Anda yang memiliki informasi terkait Bencana Merapi yang ingin dibagi kepada khalayak, silakan kunjungi Peta Partisipatif yang dikembangkan oleh UGM.
Ibu saya selalu mengingatkan, teman sangatlah penting artinya dalam hidup. Pengalaman beliau menjalani usaha kecil di dunia properti membuatnya yakin bahwa teman adalah kekayaan yang sangat penting artinya. Teman lah yang seringkali menyelamatkan kita dalam kegentingan, teman juga yang mengingatkan kita dalam kekhilafan. Tentu saja ibu saya juga percaya, teman yang dimaksudnya bukanlah teman untuk berkolusi apalagi berkorupsi dan bernepotisme.
Dalam bahasa lebih seram yang sering saya dengar dalam beberapa tahun terakhir, istilah pertemanan yang tadinya sederhana itu berganti dengan istilah lain yang lebih canggih dan rumit: networking. Jejaring atau networking adalah istilah lain untuk menjelaskan perlunya kita memiliki teman baik dalam jumlah yang banyak. Meski sebaiknya tidak boleh didasari dengan suatu niat untuk mengambil keuntungan secara berlebihan, memiliki semakin banyak teman tentu samakin baik. Kenyataannya memang demikian.