It has been a while for me to be an amateur consultant of scholarship. I am puzzled why. Some people asked me tips on getting scholarship for studying overseas, especially Australia. While I am always happy to share whatever I know, deep inside, I still believe that getting a scholarship is a mystery. There is no guarantee that one will get a scholarship no matter how good she/he is. However, there are steps that one can follow; there are requirements that need to be met.
Dadong Eka seorang pemangku. Layaknya pemuka agama tradisional di desa, Dadong Eka tidak melalui sertifikasi untuk menjadi pemangku. Beliau jadi pemanggu karena dipingit, karena Ida Betara menghendaki. Dadong Eka menjalankan tugasnya tidak dengan surat ijin tetapi dengan keyakinan segenap kerabat yang dilegitimasi dengan pewintenan. Tak ada yang menghormatinya berlebihan, karena Dadong Eka toh manusia biasa saja. Selepas merafalkan mantra-mantra, beliau tetap sibuk ngalih dagdag, menyelusuri sungai dan parit untuk memastikan babi piaraannya tidak kelaparan. Di saat lain, beliau berbusana centang perenang dan menghunus sabit. Layaknya perempuan Bali tradisional, Dadong Eka tetap menyiangi padi, meski panggilan untuk muput karya, mengantarkan kerabat bertemu Sang Pencipta, sudah di ambang waktu.
Tulisan ini bukan tentang tips belajar Bahasa Inggris. Jika itu yang Anda cari, silakan untuk tidak melanjutkan. Kisah ini diceritakan oleh seorang kawan. Bapaknya memiliki semangat yang hebat, beliau memulai kursus Bahasa Inggris saat usia sudah tidak muda lagi. Layaknya belajar Bahasa Inggris di Indonesia, semua dimulai dengan huruf dan kosakata. Sang Bapak belajar melafalkan huruf lalu berlanjut pada kata ganti orang. Beliau mulai memahami kata ganti orang untuk berbagai subyek. Bahwa, misalnya, she itu adalah untuk cewek, he itu untuk cowok, mereka diganti they, saya itu I dan seterusnya.
Setelah beberapa saat mengikuti kurus, tibalah saatnya guru melakukan pengujian sederhana dengan melemparkan pertanyaan. Satu per satu murid disuguhi pertanyaan sederhana, misalnya “what is your name?” atau “how old are you?” ataupun sekedar “how are you?”. Melihat satu peserta kursus yang sudah berumur, sang guru memberikan pertanyaan yang agak berbeda kepada Bapak kawan saya ini, “how many children do you have?” Bagi sang Bapak, pertanyaan ini tidaklah sulit. Tentu saja beliau bisa menjawab dengan mudah bahwa anaknya ada empat. Untuk menunjukkan kemampuannya, beliau bahkan berniat mengelaborasi bahwa beliau memiliki dua anak cowok dan dua anak cewek. Dengan mantap dan percaya diri dijawablah, “four! two she two he.” Moral of the story: kemampuan kosakata boleh bagus, yang juga penting adalah konteks makna.
Saya sedang jalan-jalan di sebuh swalayan di Jogja. Asti perlu membeli beberapa barang untuk keperluan laboratorium. Sebagai pengantar, saya dan Lita hanya mengikuti di belakang, sampai pada satu lokasi. “Ayah, wait for second” Lita tiba-tiba berteriak dan berhenti. Dia menunjuk satu barang dan mulai nyerocos “You know what, that is Rinso. If we use only soap, the dirt won’t get off, but if we use Rinso, the dirt will get off our shirt” Saya melongo saja melihat Lita yang sudah jadi ‘korban’ iklan. The very very happy victim, kalau boleh saya bilang. Belum lagi sempat saya tanya lebih jauh, dia sudah menunjuk barang lain dan nyerocos. “This is called Molto ultra. If we use Molto Ultra, the cloth will smell nice all the day!” Gubrak! Saya kaget bukan kepalang. Benar-benar deh Lita jadi korban iklan.
Di tepi jalan di Jati Mulya, Bekasi, saya melihat berbagai jenis buah dijajakan dan tertarik. Terlihat seorang bapak-bapak dengan peci dan baju koko sedang memindahkan biji-biji salak dan diterima oleh seorang pemuda gaul, rambut spike, celana jeans dan sepatu keren yang memegang tas plastik. Rupanya pemuda ini menyukai salak, dia membeli hampir satu tas penuh. Saya menduga-duga. Tanpa banyak berpikir saya mampir dan bertanya “pepayanya berapa Pak?” seraya memandang wajah si Bapak yang masih sibuk memindahkan salak ke tas plastik. Dia memandang saya, tidak menjawab. “Duabelas ribu sekilo Mas” kata pemuda gaul itu. Di dunia yang semakin maju ini, kadang kala tidak mudah membedakan penjual dan pembeli. Hanya dengan melihat penampilan dan ditambah asumsi, seringkali saya salah menduga.
Courtesy: Lab Fotri dan Inderaja Teknik Geodesi UGM
Saya bukanlah pemerhati, apalagi ahli Unidentified Flying Object (UFO). Saya juga bukan penggemar cerita-cerita misteri atau ahli yang bisa memahami makna symbol-simbol yang langka. Sayapun kadang merenung, bagaimana seseorang bisa menjadi pengamat atau pemerhati, apalagi ahli, sesuatu yang ‘unidentified’ yang tidak dikenali. Apakah pemahaman saya terhadap istilah ‘ahli’ berbeda dengan pemahaman orang lain terhadapnya?
Jujurlah bahwa sesungguhnya pernah ada urusan yang tertunda diantara kita. Saat gelayut waktu mengijinkan pertemuan itu maka tak kuasa kausembunyikan rahasia. Sebuah kisah yang rapi tersimpan, terpupuk hanya oleh rasa kagum dan galau yang menjadi satu. Ada pertanyaan yang tak pernah terjawab, mengapa waktu tidak meluluskan semua doa tentang harapan-harapan yang terasa hebat di masa muda? Tapi itulah maha karya sang waktu. Misterinyalah yang menjadikannya sempurna.
Sebenarnya semua penggal waktu bisa menjadi istimewa. Sebaliknya, semua periode bisa jadi tidak istimewa jika dibiarkan berlalu begitu saja. Tahun 2010 tidak ada bedanya, dia istimewa, sekaligus juga tidak. Tergantung masing-masing orang melihatnya. Bagi saya, setiap penggal waktu itu bermakna.
Januari 2010, buku populer pertama saya terbit di Jakarta oleh Lingkar Pena. Setelah lama sekali berproses dan mengalami ketidakmenentuan, akhirnya buku itu terbit juga. Cincin Merah di Barat Sonne (CMBS), demikian judulnya dan mulai beredar bulan Januari 2010. Tentu saja saya sangat bahagia dan bangga, meskipun buku itu tidaklah sedasyat Laskar Pelangi atau buku-buku laris lainnya. Setidaknya saya mengerti betapa tidak mudahnya menerbitkan sebuah buku populer.
Made Kondang ragu-ragu mengangkat tangannya dan berteriak. Ada yang tidak pas karena tidak biasanya dia begini, bersemangat dan berdebar-debar menyaksikan bola tergelincir di lapangan hijau dan mengungsi dari kaki ke kaki. Ini jelas bukan dirinya. Bukan Kondang yang dikenal banyak orang kalau lelaki itu lalu menjadi orang biasa yang berteriak, histeris dan berdebar karena sebutir bola.
Namun bola itu kini istimewa. Istimewa karena dia menjadi satu-satunya pusaka kebersamaan desa pekraman yang lama ditinggalkan Kondang. Saat kelihan banjar, nak lingsir, tukang angon dan penyiang gulma sudah kehilangan dan tidak bisa menjadi teladan, bola itu seperti malaikat, datang tiba-tiba dan menyatukan.
Saya masih berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ketika saya mendapat panggilan dari AusAID perihal wawancara Australian Development Scholarship (ADS) di bulan November 2002 silam. Dalam panggilan itu, ada sepucuk surat dengan berbagai lampiran jadwal ujian wawancara dan ujian IELTS serta satu buku panduan yang cukup tebal. Saya masih ingat, warnanya merah bata. Bagi banyak orang di Indonesia, surat ini adalah berkah luar biasa, telah ditunggu berbulan-bulan dalam ketegangan. Ada teman yang berkelakar beberapa tahun setelahnya bahwa jika mendapat surat dengan amplop besar dari AusAID artinya lolos wawancara. Jika amplopnya kecil, artinya hanya berisi surat permohonan maaf alias penolakan. November 2002, saya memang mendapat amplop besar dan tebal.