New Zealand-ASEAN Scholars (NZ-AS) Awards terbuka untuk calon yang memenuhi syarat dari pemerintahan, swasta dan masyarakat sipil. NZ-AS Awards bertujuan untuk memberdayakan individu-individu dengan pengetahuan, keterampilan, dan kualifikasi tertentu agar bisa berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan politik dalam negara ASEAN.
Seorang kawan pernah bercerita tentang kerabatnya. I Ngamyar namanya, orang Bali asli yang menurut kebanyakan orang, sederhana tingkah polahnya. Meski nampaknya tidak termasuk dalam daftar kosakata Bahasa Bali baku, ‘ngamyar’ sendiri menyisakan kesan makna nanggung, terserak, tidak tegas dan atau tercecer tak teratur. Entahlah, apa demikian memang maksud orangtuanya ketika memberi nama kepada I Ngamyar. Atau bisa saja Ngamyar hanyalah nama panggilan yang sesungguhnya berbeda jauh dengan nama aslinya. Tidak jarang orang Bali dipanggil dengan sebutan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama sebenarnya. Simaklah, Putu Sudiartama bisa menjadi Bagong, atau Wayan Mertayasa bisa menjadi Toblo. Barangkali demikian pula nasib I Ngamyar. Namun kisah ini bukanlah tentang nama. Continue reading “I Ngamyar yang menimal”
Sudah lama sekali saya tidak berurusan dengan cita-cita. Saya mungkin telah lupa atau menyangka bahwa cita-cita itu hanya milik anak kecil saja. Maka ketika usia beranjak dewasa, pembicaraan atas cita-cita menjadi sirna. Dalam alam bawah sadar saya mungkin telah terpatri satu doktrin bahwa deretan cita-cita yang boleh dan sah adalah seperti yang diajarkan ketika kecil: menjadi dokter, menjadi perawat, menjadi arsitek, menjadi insinyur dan lain-lain yang hebat.
Seorang kolega senior tiba-tiba mendatangi saya bertanya seraya menunjukkan HPnya. “Mas Andi, be-te-we itu artinya apa ya?” tanya beliau dengan polosnya. Saya jadi tergagap, antara takut salah dengar dan ingin spontan tertawa. “Ya Pak…” saya menjawab nanggung dan ragu. “Ini lo ada mahasiswa yang sms saya, pakai istilah be-te-we. Saya nggak ngerti. Anak-anak sekarang bahasanya aneh-aneh saja” beliau meneruskan sambil sedikit curhat. Saya baru paham tetapi berhasil menguasai diri untuk tidak tertawa. “Oh, be-te-we itu singkatan dari by the way, Pak” jawab saya kalem, seakan itu pertanyaan biasa yang memerlukan jawaban biasa saja. Beliau menjawab “Oh, saya kira artinya batas wilayah, bidang yang Mas Andi tekuni” Dalam hati saya terpingkal, what the, dan ingin berguling-guling di lantai.
Made Kondang mencoba merenung-renungkan apa saja yang baru dibacanya di koran. Negara yang bertetangga bisa berseteru. Indonesia dan Malaysia sering berselisih. Belum tuntas itu, dua Korea bersaudara beradu senjata. Belum sampai kelar keduanya, kini Thailand dan Kamboja bersitegang. Tak saja materi, nyawa telah menjadi bayaran ketegangan antar tetangga. Kondang tak habis pikir mengapa tetangga bisa begitu rupa.
Kawan, kalau saja keberhasilan itu seperti kuat arus (I) yang memang harus kamu capai, maka kamu punya Voltase (V) dan Resistensi (R) yang harus dikelola. Voltase itu kemampuanmu dan Resistensi itu segala hambatan yang harus kamu hadapi. Tahukan engkau kawan, Voltase itu bertengger di atas dan Resistensi itu nangkring di bawah. I = V/R, demikianlah dunia menyepakati. Makin besar kekuatan yang kamu miliki maka makin besar pula potensi keberhasilannmu. Sebaliknya, hambatan yang besar akan mengecilkan peluang keberhasilanmu.
Ada satu kisah menarik yang disampaikan seorang kawan. Di sebuah kantor, katanya terdapat puluhan lelaki. Suatu saat, bos di kantor itu mengumpulkan semua lelaki di gedung itu dan berucap “siapa yang merasa takut dengan istrinya, segera pindah ke sebelah kiri!” Meskipun terdengar aneh, para karyawan mengikuti perintah bos yang terkenal galak itu. Satu per satu, para lelaki itu berpindah ke sebelah kiri. Awalnya ragu-ragu dan malu, akhirnya semakin banyak yang pindah dan lambat laun mereka bergerak mantap ke sebelah kiri. Puluhan lelaki itu berlarian dari sisi kanan ke sisi kiri. Bosnya tentu saja terpana dengan kenyataan itu, ternyata sebagian besar anak buahnya takut kepada istri masing-masing. Sebuah fakta yang baginya tidak terlalu menggembirakan. Di tengah kekecewaannya itu, dia melihat ada satu lelaki tersisa di sisi kanan, duduk dengan tenang. Rupanya ada satu orang yang tidak takut dengan istrinya.
It has been a while for me to be an amateur consultant of scholarship. I am puzzled why. Some people asked me tips on getting scholarship for studying overseas, especially Australia. While I am always happy to share whatever I know, deep inside, I still believe that getting a scholarship is a mystery. There is no guarantee that one will get a scholarship no matter how good she/he is. However, there are steps that one can follow; there are requirements that need to be met.
Dadong Eka seorang pemangku. Layaknya pemuka agama tradisional di desa, Dadong Eka tidak melalui sertifikasi untuk menjadi pemangku. Beliau jadi pemanggu karena dipingit, karena Ida Betara menghendaki. Dadong Eka menjalankan tugasnya tidak dengan surat ijin tetapi dengan keyakinan segenap kerabat yang dilegitimasi dengan pewintenan. Tak ada yang menghormatinya berlebihan, karena Dadong Eka toh manusia biasa saja. Selepas merafalkan mantra-mantra, beliau tetap sibuk ngalih dagdag, menyelusuri sungai dan parit untuk memastikan babi piaraannya tidak kelaparan. Di saat lain, beliau berbusana centang perenang dan menghunus sabit. Layaknya perempuan Bali tradisional, Dadong Eka tetap menyiangi padi, meski panggilan untuk muput karya, mengantarkan kerabat bertemu Sang Pencipta, sudah di ambang waktu.
Tulisan ini bukan tentang tips belajar Bahasa Inggris. Jika itu yang Anda cari, silakan untuk tidak melanjutkan. Kisah ini diceritakan oleh seorang kawan. Bapaknya memiliki semangat yang hebat, beliau memulai kursus Bahasa Inggris saat usia sudah tidak muda lagi. Layaknya belajar Bahasa Inggris di Indonesia, semua dimulai dengan huruf dan kosakata. Sang Bapak belajar melafalkan huruf lalu berlanjut pada kata ganti orang. Beliau mulai memahami kata ganti orang untuk berbagai subyek. Bahwa, misalnya, she itu adalah untuk cewek, he itu untuk cowok, mereka diganti they, saya itu I dan seterusnya.
Setelah beberapa saat mengikuti kurus, tibalah saatnya guru melakukan pengujian sederhana dengan melemparkan pertanyaan. Satu per satu murid disuguhi pertanyaan sederhana, misalnya “what is your name?” atau “how old are you?” ataupun sekedar “how are you?”. Melihat satu peserta kursus yang sudah berumur, sang guru memberikan pertanyaan yang agak berbeda kepada Bapak kawan saya ini, “how many children do you have?” Bagi sang Bapak, pertanyaan ini tidaklah sulit. Tentu saja beliau bisa menjawab dengan mudah bahwa anaknya ada empat. Untuk menunjukkan kemampuannya, beliau bahkan berniat mengelaborasi bahwa beliau memiliki dua anak cowok dan dua anak cewek. Dengan mantap dan percaya diri dijawablah, “four! two she two he.” Moral of the story: kemampuan kosakata boleh bagus, yang juga penting adalah konteks makna.