Indonesia kehilangan seorang tokoh perintis dan pejuang Geodesi-Geomatika Indonesia. Selamat jalan Prof. Jacub Rais. Jejak langkahmu akan menjadi teladan insan geospasial Indonesia. Semoga arwahmu mendapat tempat yang layak sesuai amalmu.
Membuat Peta dengan Google Maps – Advanced
Sebelumnya saya pernah menulis petunjuk membuat peta dengan Google Maps untuk para pemula. Kali ini saya akan berbagi hal-hal yang lebih advanced (lanjut). Jika Anda baru mengenal Google Maps (GM), silakan baca tulisan saya sebelumnya. Beberapa hal yang dibahas dalam tulisan ini adalah file KML, mengkombinasikan Google Earth (GE) dan GM (ekspor impor antarkeduanya), menggunakan bantuan pihak ketiga dalam membuat peta dan berkolaborasi dalam pembuatan peta. Jika Anda belum begitu mengenal GE, silakan baca tulisan saya sebelumnya tentang terbang rendah di dunia maya yang pernah diterbitkan Suara Merdeka tahun 2006 silam.
Continue reading “Membuat Peta dengan Google Maps – Advanced”
Aksi

Tiap kali pulang ke Bali, saya sering mendapat tugas mengantarkan ibu saya ke Denpasar untuk berbagai urusan. Ada kesenangan tersendiri mengulang lagi apa yang terjadi sejak belasan tahun lalu. Momen yang saya sukai adalah bercerita sambil nyetir, membahas banyak hal yang penting dan tidak penting.
Suatu kali kami melewati sebuah kemacetan di Badung menuju Denpasar. Cuaca yang panas dan klakson yang berlomba menambah runyam suasana. Semua orang memasang tampang gelisah, tidak sedikit yang mengumpat tetapi tidak satupun berbuat apa-apa. Mengatasi kemacetan memang bukan tugas pemakai jalan, tetapi tugas polisi. Hampir semua orang meyakini begitu. Saya melihat ada satu jalan alternatif yang kosong, meskipun itu satu arah. Saya membayangkan, kalau saja kali ini aturan satu arah itu diubah sebentar saja, barang dua atau tiga jam, tentu kemacetan ini bisa diatasi. Tapi itu hanya ide, tidak ada polisi dan sayapun hanya seorang pemakai jalan biasa. Macet tetap berlangsung, tidak berkesudahan.
Beasiswa ke New Zealand
Taken from NZ Embassy | Download application form in Ms Word (doc)
New Zealand-ASEAN Scholars (NZ-AS) Awards terbuka untuk calon yang memenuhi syarat dari pemerintahan, swasta dan masyarakat sipil. NZ-AS Awards bertujuan untuk memberdayakan individu-individu dengan pengetahuan, keterampilan, dan kualifikasi tertentu agar bisa berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan politik dalam negara ASEAN.
I Ngamyar yang menimal
Seorang kawan pernah bercerita tentang kerabatnya. I Ngamyar namanya, orang Bali asli yang menurut kebanyakan orang, sederhana tingkah polahnya. Meski nampaknya tidak termasuk dalam daftar kosakata Bahasa Bali baku, ‘ngamyar’ sendiri menyisakan kesan makna nanggung, terserak, tidak tegas dan atau tercecer tak teratur. Entahlah, apa demikian memang maksud orangtuanya ketika memberi nama kepada I Ngamyar. Atau bisa saja Ngamyar hanyalah nama panggilan yang sesungguhnya berbeda jauh dengan nama aslinya. Tidak jarang orang Bali dipanggil dengan sebutan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama sebenarnya. Simaklah, Putu Sudiartama bisa menjadi Bagong, atau Wayan Mertayasa bisa menjadi Toblo. Barangkali demikian pula nasib I Ngamyar. Namun kisah ini bukanlah tentang nama.
Continue reading “I Ngamyar yang menimal”
Cita-cita
Sudah lama sekali saya tidak berurusan dengan cita-cita. Saya mungkin telah lupa atau menyangka bahwa cita-cita itu hanya milik anak kecil saja. Maka ketika usia beranjak dewasa, pembicaraan atas cita-cita menjadi sirna. Dalam alam bawah sadar saya mungkin telah terpatri satu doktrin bahwa deretan cita-cita yang boleh dan sah adalah seperti yang diajarkan ketika kecil: menjadi dokter, menjadi perawat, menjadi arsitek, menjadi insinyur dan lain-lain yang hebat.
Kitab Gaul

Seorang kolega senior tiba-tiba mendatangi saya bertanya seraya menunjukkan HPnya. “Mas Andi, be-te-we itu artinya apa ya?” tanya beliau dengan polosnya. Saya jadi tergagap, antara takut salah dengar dan ingin spontan tertawa. “Ya Pak…” saya menjawab nanggung dan ragu. “Ini lo ada mahasiswa yang sms saya, pakai istilah be-te-we. Saya nggak ngerti. Anak-anak sekarang bahasanya aneh-aneh saja” beliau meneruskan sambil sedikit curhat. Saya baru paham tetapi berhasil menguasai diri untuk tidak tertawa. “Oh, be-te-we itu singkatan dari by the way, Pak” jawab saya kalem, seakan itu pertanyaan biasa yang memerlukan jawaban biasa saja. Beliau menjawab “Oh, saya kira artinya batas wilayah, bidang yang Mas Andi tekuni” Dalam hati saya terpingkal, what the, dan ingin berguling-guling di lantai.
Hukum Fisika Tetangga
Made Kondang mencoba merenung-renungkan apa saja yang baru dibacanya di koran. Negara yang bertetangga bisa berseteru. Indonesia dan Malaysia sering berselisih. Belum tuntas itu, dua Korea bersaudara beradu senjata. Belum sampai kelar keduanya, kini Thailand dan Kamboja bersitegang. Tak saja materi, nyawa telah menjadi bayaran ketegangan antar tetangga. Kondang tak habis pikir mengapa tetangga bisa begitu rupa.
I = V / R
Kawan, kalau saja keberhasilan itu seperti kuat arus (I) yang memang harus kamu capai, maka kamu punya Voltase (V) dan Resistensi (R) yang harus dikelola. Voltase itu kemampuanmu dan Resistensi itu segala hambatan yang harus kamu hadapi. Tahukan engkau kawan, Voltase itu bertengger di atas dan Resistensi itu nangkring di bawah. I = V/R, demikianlah dunia menyepakati. Makin besar kekuatan yang kamu miliki maka makin besar pula potensi keberhasilannmu. Sebaliknya, hambatan yang besar akan mengecilkan peluang keberhasilanmu.
The power of women

Ada satu kisah menarik yang disampaikan seorang kawan. Di sebuah kantor, katanya terdapat puluhan lelaki. Suatu saat, bos di kantor itu mengumpulkan semua lelaki di gedung itu dan berucap “siapa yang merasa takut dengan istrinya, segera pindah ke sebelah kiri!” Meskipun terdengar aneh, para karyawan mengikuti perintah bos yang terkenal galak itu. Satu per satu, para lelaki itu berpindah ke sebelah kiri. Awalnya ragu-ragu dan malu, akhirnya semakin banyak yang pindah dan lambat laun mereka bergerak mantap ke sebelah kiri. Puluhan lelaki itu berlarian dari sisi kanan ke sisi kiri. Bosnya tentu saja terpana dengan kenyataan itu, ternyata sebagian besar anak buahnya takut kepada istri masing-masing. Sebuah fakta yang baginya tidak terlalu menggembirakan. Di tengah kekecewaannya itu, dia melihat ada satu lelaki tersisa di sisi kanan, duduk dengan tenang. Rupanya ada satu orang yang tidak takut dengan istrinya.