I Ngamyar yang menimal


Seorang kawan pernah bercerita tentang kerabatnya. I Ngamyar namanya, orang Bali asli yang menurut kebanyakan orang, sederhana tingkah polahnya. Meski nampaknya tidak termasuk dalam daftar kosakata Bahasa Bali baku, ‘ngamyar’ sendiri menyisakan kesan makna nanggung, terserak, tidak tegas dan atau tercecer tak teratur. Entahlah, apa demikian memang maksud orangtuanya ketika memberi nama kepada I Ngamyar. Atau bisa saja Ngamyar hanyalah nama panggilan yang sesungguhnya berbeda jauh dengan nama aslinya. Tidak jarang orang Bali dipanggil dengan sebutan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama sebenarnya. Simaklah, Putu Sudiartama bisa menjadi Bagong, atau Wayan Mertayasa bisa menjadi Toblo. Barangkali demikian pula nasib I Ngamyar. Namun kisah ini bukanlah tentang nama.

I ngamyar, adalah kisah umum orang Bali yang besar dan hidup di desa tradisional yang sudah terpapar kemajuan media. Dia gemar meniru-niru kata-kata canggih yang didengarnya di TV atau radio. Bisa menirukan kata-kata sukar itu bisa meningkatkan derajatnya, setidaknya demikian menurut orang-orang seperti I Ngamyar. I Ngamyar suka menyebut kata ‘menimal’ yang sesungguhnya berasal dari kata ‘minimal’. Seperti biasa, dia tidak paham akan maknanya, sehingga dipakainya kata itu seenak hatinya tanpa peduli tepat tidaknya. “Wah bebekku menimal,” ucapnya suatu ketika untuk menyebut bebeknya gemuk dan sehat. “Telurnya menimal,” katanya lagi untuk mengabarkan bebeknya bertelur banyak. Sama sekali tidak menggambarkan arti kata ‘minimal’ yang sebenarnya. Begitulah Ngamyar, kosakata, ketika diucapkan oleh mulutnya, menjadi bermakna bebas. Menariknya, para kerabat dan karibnya juga tidak mempersoalkan. Entah mengapa, mereka selalu tahu bahwa ‘menimal’ yang satu bisa berarti ‘gemuk dan sehat’, sementara ‘menimal’ yang lain bermakna ‘banyak’. I Ngamyar hidup di kalangan kerabat yang penuh pengertian.

Perilaku demikian ternyata tak hanya milik orang desa tak berpendidikan seperti I Ngamyar. Kebiasaan menggunakan kata-kata besar dan menyeramkan juga milik orang lain. Tak kurang dari peneliti, ahli, pendidik dan terutama politisi, menjual diri dengan kata-kata yang dramatis. Seperti ‘menimal’ yang tak pernah dipahami artinya oleh I Ngamyar, tak sedikit kata-kata sukar yang meluncur dari para pendidik, ahli, peneliti dan politisi ini tak dipahami maknanya. Yang rumit, tentu jika mereka, orang-orang hebat itu, berpraduga seperti I Ngamyar, bahwa mereka juga hidup di lingkungan orang-orang yang tidak menggugat karena penuh pengertian. Atau jangan-jangan mereka memang sedang hidup di tengah kumpulan orang yang tidak lagi memusingkan makna kata?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s