Cita-cita


Sudah lama sekali saya tidak berurusan dengan cita-cita. Saya mungkin telah lupa atau menyangka bahwa cita-cita itu hanya milik anak kecil saja. Maka ketika usia beranjak dewasa, pembicaraan atas cita-cita menjadi sirna. Dalam alam bawah sadar saya mungkin telah terpatri satu doktrin bahwa deretan cita-cita yang boleh dan sah adalah seperti yang diajarkan ketika kecil: menjadi dokter, menjadi perawat, menjadi arsitek, menjadi insinyur dan lain-lain yang hebat.


Dalam satu acara talk show, pemandu acara, yang adalah kawan baik saya, secara berkelakar meminta kepada hadirin untuk menyebutkan nama, dan cita-cita ketika mau bertanya kepada narasumber. Bagi saya ini menggelikan dan sekaligus menggelitik. Meminta orang-orang yang sudah dewasa untuk menyampaikan cita-citanya di depan umum tentu bisa runyam urusannya. Lagipula jelas-jelas mereka sudah kuliah dan atau bekerja. Yang kuliah di FISIPOL atau bekerja di Pemda tentu tidak mungkin bercita-cita jadi dokter seperti yang sangat laris ketika saya kecil. Saya merenung lama memperhatikan tingkah polah teman saya, moderator, ini. Kenakalannya membuat orang berpikir. Agak tergagap dan tersipu, para penanyapun menyampaikan cita-citanya. Ternyata, siapa pun saya dan setua apapun saya, tidak salah jika masih memendam cita-cita. Hanya saja, cita-cita itu mungkin kini tidak sedasyat ketika diucapkan saat masih balita.

Di sebuah kota dingin di Australia saya bertemu seorang kawan istimewa. Dia masih muda tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa untuk bergaul lintas generasi. ”Terus terang, tujuan besar saya adalah jadi Menkominfo Bli”, katanya suatu ketika. Saya tersentak dalam hati. Tidak begitu lazim saya mendengar orang yang sudah cukup dewasa dengan sangat lugas mengatakan cita-citanya yang mungkin bagi sementara orang lain terdengar tabu. Dengan gamblang mengatakan keinginan tulus menjadi seorang mentri memerlukan kematangan dan kekuatan sikap yang tidak sederhana. Percakapan singkat yang mungkin sudah dilupakan oleh kawan saya ini, membuat saya merenung dan mengingat lagi. Orang besar dan orang dewasapun memang masih boleh memiliki cita-cita. Mengapa perlu dikatakan kepada orang lain? Barangkali untuk berbagi energi agar semangat untuk mencapainya jadi lebih tinggi. Kawan muda ini mengingatkan saya secara tidak langsung bahwa sayapun masih boleh memiliki mimpi-mimpi besar dan sama sekali tidak salah untuk membagi kisah-kisah mimpi itu kepada teman.

Senada dengan nasihat Deepak Chopra yang saya dengar di New York hampir empat tahun silam, ada tiga hal penting yg mendasari tindakan. Ketiganya adalah: 1) percaya pada diri sendiri bahwa kita bisa mencapai sesutu, 2) lakukan tindakan untuk mewujudkan keyakinan itu, dan 3) bercerita kapada teman tentang kepercayaan dan tindakan itu. Dalam bahasa Deepak Chopra: believe that you can, take an action, and tell stories. Kawan muda saya ini rupanya sedang menerapkan nasihat mumpuni ini. Dia memiliki kepercayaan diri, tekun mengusahakan kepercayaannya itu dan rajin menceritakannya pada kawan di sekelilingnya. Maka ketika saya bertanya pada Lita, mau jadi apa dia nanti, diam-diam saya juga bertanya dalam hati: mau jadi apa saya nanti?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Cita-cita”

  1. stuju bgt mas andi.cita-cita bukan hanya berarti berani untuk diucapkan,tetapi juga berani untuk mengambil aksi untuk mewujudkannya….

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s