Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa

Foto oleh Jerico Pardosi
Dr. Marty Natalegawa, foto oleh Jerico Pardosi

Tidak biasanya saya mengenakan setelan jas saat berada di Australia. Negeri ini penuh dengan suasana informal dalam hal penampilan, terutama untuk mereka yang berstatus mahasiswa seperti saya. Makanya, mengenakan jas adalah keistimewaan. Jika bukan karena menghadiri acara penting, mungkin jas itu tidak akan menjalankan tugasnya hari ini. Pagi-pagi sekitar jam 10, saya sudah melaju dengan kereta dari Central Station menuju Macquarie University, Sydney. Hari ini istimewa, Macquarie University akan menganugerahkan gelar doktor kehormatan di bidang sastra (Dr Honoris Kausa) kepada Dr. Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Indonesia. Saya ingin menyaksikan sejarah itu.

Continue reading “Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa”

Kolak untuk Buka Puasa

http://www.tabloidbintang.com/

Saya sedang di ruang kerja di kampus Teknik Geodesi UGM sore itu di tahun 2006. Sayup-sayup saya dengar kawan-kawan mahasiswa sedang berkegiatan di luar. Jika tidak salah memahami, mereka sedang melakukan kajian-kajian keagamaan. Kala itu Bulan Ramadhan, para mahasiswa giat mendalami agama sebelum berbuka. Tidak ingin mengganggu mereka, saya tidak keluar ruangan dan masih setia di depan komputer sambil menyelesaikan beberapa hal yang masih tertunda.

Sejurus kemudian saya dengar lantunan adzan. Sesuatu yang sudah lama tidak terdengar karena dua tahun sebelumnya saya meninggalkan Jogja, ke suatu tempat yang tidak ada suara adzan. Lantunan adzan itu mengingatkan saya akan kenangan lama ketika datang ke Jogja pertama kali di tahun 1996 untuk menuntut ilmu di UGM. Suara adzan yang terdengar di setiap tempat di Jogja ketika itu mejadi salah satu penanda saya telah memasuki satu peradaban baru. Teman-teman muslim mungkin tidak merasakan betapa berkesannya suara adzan itu bagi saya. Sesuatu yang asing dengan pesan yang kuat. Pesan universal tentang ajakan untuk menghadap Sang Pencipta, apapun agama yang dipeluk si pendengarnya.

Continue reading “Kolak untuk Buka Puasa”

Diingatkan sopir taxi

http://bkpi.ung.ac.id/

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah pengalaman yang tidak terlalu baik dengan seorang sopir taxi di Sungapura. Rupanya Tuhan ingin memberi saya pengalaman lengkap selama berada di Singapura beberapa hari terutama yang terkait dengan sopir taxi. Di hari terakhir saya ada di Singapura, saya berangkat dari penginapan ke Bandara Changi dengan taxi. Saat itu hampir jam empat pagi dan hari masih gelap ketika saya menghentikan sebuah taxi di depan penginapan. Dengan sigap saya bilang “airport please” ketika memasuki taxi. Sopir taxi menyapa ramah, “good morning, Sir!” ketika saya mulai duduk. Sayapun membalas sapaan itu dengan baik. “Morning flight Sir?” tanyanya sopan dan saya iyakan. Yang menarik adalah pertanyaan dia selanjutnya, tepat saat mobil mulai bergerak. “Make sure you don’t forget your paspor Sir. Have you got it?” katanya bertanya setengah mengingatkan. Mendengar pertanyaan itu, spontan tangan saya meraba tas dan menemukan paspor ada di tempatnya. “Oh thank you, I got it” kata saya sambil tersenyum dan berterima kasih.

Saya rasa pertanyaan singkat dan sederhana dari sopir taxi ini begitu penting. Dia sesungguhnya tidak punya kepentingan apakah saya sudah membawa paspor atau tidak karena urusan saya dengan dia hanyalah perjalanan dari penginapan ke bandara. Perihal paspor saya ketinggalan atau tidak, itu tidak ada kaitanya dengan keuntungan atau kerugian baginya. Meski tidak terkait dengan dirinya langsung, sopir taxi itu memilih untuk melakukan kebaikan kecil dengan sekedar bertanya atau mengingatkan. Meskipun itu tidak penting bagi dia, bagi saya, pertanyaan itu bisa bernilai ‘satu nyawa’. Dengan melemparkan pertayaan sederhana itu dia telah menyelamatkan calon penumpangnya dari kemungkinan ketinggalan pesawat atau bahkan tidak diperkenankan masuk bandar udara.

Continue reading “Diingatkan sopir taxi”

Ketika Lita naik pesawat sendiri

http://superiorpics.com/

Lita, anak saya, mungkin tidak paham betul istilah ‘mandiri’ tapi orang-orang dewasa mungkin ‘menuduhnya’ demikian. Pasalnya, Lita berani pergi sendiri ke Bali dari Jogja naik pesawat saat usianya belum genap 7 tahun. Saat pertama kali melakukan itu, Lita berusia 7 tahun kurang satu bulan, tepatnya tanggal 12 Agustus 2012 dengan Garuda Indonesia. Banyak yang bertanya bagaimana Lita bisa melakukan itu. Saya akan berbagi kisah ini, semata-mata untuk memberi gambaran kepada para orang tua.

Sebenarnya, mengizinkan anak kecil naik pesawat sendirian masih tetap menjadi perdebatan bahkan sampai sekarang. Seorang teman baik saya bahkan tetap gigih mengingatkan saya agar ‘meninjau kembali’ keputusan untuk mengizinkan Lita terbang sendiri semalam sebelum jadwal terbangnya. Saya yakin ketulusannya dan menyadari hal itu dilakukannya semata-mata karena peduli dan menyayangi keluarga kami. Di saat seperti itulah, keberanian (atau kenekatan?) saya dipertanyakan. Jika kepedulian yang tulus dari teman saya itu berkuasa lebih dari kenekatan saya maka mungkin ceritanya akan lain. Entah apa yang membisiki saya ketika itu, saya tetap teguh pada keputusan semula. Ahhasil, Lita terbang untuk pertama kalinya ke Bali dari Jogja. Menariknya, bahkan setelah kejadian itupun masih banyak teman yang memberi komentar pesimis. Meskipun halus, saya merasa tidak sedikit yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kami mengizinkan Lita terbang sendiri. Kepada mereka semua, saya berterima kasih dan menempatkan kepedulian itu di ubun-ubun, di tempat yang terhormat. Hanya saja, untuk hal ini kita bersepakat untuk berbeda pendapat.

Continue reading “Ketika Lita naik pesawat sendiri”

Selamat menjalankan ibadah puasa

Ramadhan

Not to be raped or not to rape?

By Nur Hasyim

http://preetysocial.wordpress.com/

Once again, the news on a brutal rape case in Tasikmalaya, West Java has been shaking the nation. An eight-year-old girl was sexually abused by her boy friend and experienced serious injury on her reproductive organ. The news also reported that the Manonjaya resident found her around rail way track in a very critical condition in which her entire body was covered by blood. Luckily, she was rescued and taken to local hospital for a medical intervention (detiknews 21/5/2013).

Whenever rape case happens, the immediate question coming across our mind is why does it happen? Is it merely about inability of perpetrators, who are mostly men, to control their sexual desire? Or are there any other factors on which the criminal act is based? It also naturally begs a question: why is the sexual violence so prevalent in Indonesia, which is considered as a religious nation, and more likely to become everlasting tragedy for girls and women in the country? We also start questioning our legal system, does it effectively protect the rights of women as a human being? More importantly, do we belong to the nation where people perceive rape as normal?

Continue reading “Not to be raped or not to rape?”

Diplomasi Sopir Taxi

Saya memesan taxi untuk berangkat dari Orchard Hotel di Singapura menuju penginapan lain tidak jauh dari Bandara Changi. Sadar tidak paham lingkungan di Singapura, saya menggunakan Google Maps untuk penunjuk arah. Meskipun naik taxi, saya ingin tahu waktu tempuh dan rute perjalanan. Ketika memasuki taxi, saya jelaskan tujuan saya dengan alamat dilengkapi nama dan nomor jalan. Pak sopir lalu menanyakan daerah yang ingin saya tuju. Saya paham, bagi orang lokal, akan lebih baik diberitahu nama daerah atau kawasan, tidak sekedar nama jalan dan nomornya. Dengan Google Maps yang sudah disimpan sebelumnya saya memberitahu sang sopir. Kamipun melaju.

Di tengah jalan beberapa kali pak sopir bertanya rute yang ingin saya lewati. Di satu persimpangan, misalnya, dia bertanya apakah saya ingin lurus atau lewat kiri dengan memberi pertimbangan untung ruginya. Saya kira ini sikap yang baik. Saya pun manut saja, yang penting cepat. Meski demikian, saya tetap melihat peta navigasi di iPad.

Semua berjalan baik-baik saja hingga kami tiba di satu persimpangan. Saya lihat peta di iPad menyarankan belok kiri tetapi rupanya pak sopir hendak lurus. Saya dengan santai bilang “according to the map, we can turn left here”. Dia langsung menjawab, kalau ke kiri akan macet dan justru lebih lama. Mendengar itu, saya paham dan tidak memaksa “Oh okay, no problem” kata saya dengan santai. Dia berusaha menjelaskan situasi lalu lintas di Singapura dan saya tentu paham. Tiba-tiba dengan nada yang tidak seramah tadi, dia tanya “do you want to turn left?” Saya segera jawab “no, I am just saying. Please continue. No problem.” Entah bagaimana ceritanya, dia tidak berhenti di situ dan tetap berbicara yang menurut saya terdengar seperti membela diri secara berlebihan. Saya duga, dia mengira saya memaksa dia lewat kiri sementara dia sudah terlanjur memilih jalur lurus. Lebih jauh lagi, suaranya tiba-tiba agak naik, mengatakan bahwa kalau saya ingin belok kiri, harusnya saya mengatakan dari awal, tidak tiba-tiba di persimpangan. Untuk kalimat yang terakhir ini saya maklum, rupanya dia salah paham dengan pernyataan saya. Sadar akan hal ini saya hanya bilang “oh okay, no worries”. Saya ingin menenangkan suasana dan menghindari perdebatan yang tidak penting.

Di luar dugaan, sopir ini tidak menyudahi di situ, dia tetap berbicara banyak, menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dan tidak ingin saya ketahui. Yang lebih menyedihkan, nada bicaranya tinggi dan cenderung menyalahkan. Ada kesan bahwa dia yang tahu Singapura dan saya tidak begitu paham. Tentu saja itu benar karena dia seorang sopir taxi di Singapura dan saya hanyalah penumpang asing. Saya memilih untuk diam saja, menahan emosi yang mulai naik juga. Tidak elok berdiplomasi dengan seorang sopir taxi untuk hal-hal yang tidak akan membuat perjalanan saya jadi lebih cepat. Kamipun terdiam agak lama.

Saya berusaha mencairkan suasana dengan bertanya hal-hal lain. Saya tanyakan populasi Singapura untuk sekedar berbasa-basi. Saya terkejut bukan kepalang ketika dijawab dengan ketus nada tinggi “six millions”. Dalam hati saya tersenyum geli melihat polah sopir taxi ini tapi saya hanya mengiyakan. Saya tidak paham mengapa hal kecil itu bisa membuat dia sedemikian emosi begitu lama. Lebih parah lagi, dia mulai melaju kencang dan kasar karena sering harus ngerem mendadak di jalanan Singapura yang tidak lengang. Saya mulai tidak nyaman tetapi berusaha menahan diri agar tidak terjadi interaksi yang lebih tegang.

Suatu ketika, saya mendengar ada peringatan dari GPSnya bahwa taxi itu melaju terlalu cepat, melebihi kecepatan yang diizinkan. Saya mulai merasa tidak nyaman dan khawatir dengan keselamatan. Gerakan mobil itu terasa kasar dan grasa grusu. Saya masih diam sambil menyiapkan strategi komunikasi terbaik. Belum sampat saya berkata apa-apa, peringatan yang sama terdengar lagi dari GPS. Dengan spontan saya berkata “I think you are too fast” dan disambut dengan suara tinggi oleh pak sopir “you think 60 is too fast? What do you want? 40? It will be very slow. When will we arrive there?” Jawaban itu terus terang membuat emosi saya naik drastis. “I don’t know the rule here, Man but the GPS said that we are too fast. That’s it!” Tidak mau kalah, dia lalu bilang “there is something wrong with the GPS. The speed is only 60. It is not too fast. What do you want? 40?” lagi-lagi dia mengulang ucapannya. “Sorry I don’t know that your GPS is broken. That is what I heard and I can feel that you are too fast. Slow down a little bit” kata saya masih berusaha tenang meskipun suara saya pastilah mulai bergetar. “No, the GPS is broken” katanya masih dengan nada tinggi.

Belum lagi kami selesai berargumen, GPS mengeluarkan peringatan yang sama bahwa kami melebihi kecepatan yang diizinkan. Di situlah saya mulai kehilangan kendali kesabaran dan saya pun berteriak. “Hey, Man! You are too fast and I know that. I am not stupid. Slow down!” mendengar saya berteriak rupanya dia sedikit terkejut karena tidak menduga saya berani melakukan itu. Tapi karena terlanjur merasa di atas dari tadi, dia tidak berubah sikap. Dia tetap membela diri bahwa itu tidak terlalu cepat. Saya sudah lupa dengan segala sopan santun dan berteriak “Hey, you shut up!” tapi dia masih berucap walaupun kini dengan nada suara yang sudah agak turun. Tanpa ampun saya mengulang lagi, kali ini lebih keras dan kasar “You ******* shut up!” sambil menunjuk wajahnya dari belakang. Seketika dia tercekat dan diam. Saya melanjutkan dengan emosi yang masih menyala “I am a customer here and you are providing me with service. You know that! My concern is my safety. I don’t care your GPS is broken or not, when I say slow down you ******* slow down, OK! Who do you think you are man?! I have been very patient to listen to your lecture along the way. I could feel that you underestimated me, right?! You are wrong, Man! I know I am not from here. I am from Indonesia but I know the law and you don’t play with me, Man!” Saya bicara dengan nada sangat tinggi dan itu membuatnya terkejut luar biasa. Dengan spontan dia bilang “sorry Sir” sambil gemetar, meskipun terdengar tidak ikhlas. “What is your name?” kata saya dengan nada mengancam. Diapun menyebut satu kata dan saya tidak puas dengan itu “tell me your full name!!!” dan diapun menyebutkan nama lengkapnya. Dengan nada khawatir dia bertanya “what for Sir?” Kali ini saya ingin memberinya pelajaran kecil “you know what for. I can call your company and you don’t have to wait until tomorrow, you will lose your job tonight!” Saya bisa melihat wajahnya pucat dan kemudian berkali-kali minta maaf “I am really sorry Sir” katanya berulang-ulang, kali ini dengan nada yang memelas.

Diam-diam saya mulai kasihan pada lelaki malang itu. Meski demikian emosi saya belum reda dalam waktu yang sesingkat itu. Giliran saya memberi kuliah padanya. Saya ungkapkan semua kejadian tadi dan saya sadar betapa angkuhnya dia menanggapi saya. Saya juga tahu dia telah meremehkan saya. Saya tanya “is it because you know that I am a foreigner so you treat me that way? If this is the case and this can be very long because I will not stop it here!” Mendengar itu dia semakin takut “no Sir. I didn’t mean that. I am really sorry Sir. It was my mistake. I apologise, really!” kata-katanya memelas, sirna sudah keangkuhan yang tadi dipamerkannya. Mendengar itu, amarah saya mereda. Pelan-pelan saya menyadari situasi dan berusaha mengusir emosi. “You know what ***?!” kata saya dengan nada lebih tenang. “Yes Sir?” jawabnya santun. “I like this country because you provide friendly environment and respect foreigners like me. And what you just did does not at all reflect that. That is why I was so upset. I hope you understand that.” “Yes Sir, once again I am sorry Sir” katanya dengan nada halus dan santun. Sayapun memilih untuk diam menenangkan diri.

Mendekati tujuan, dia bertanya dengan sopan dan takut-takut karena dia ternyata tidak tahu persis alamat yang kami tuju. Memang tidak mudah menemukan nomor gedung di saat gelap seperti itu. Saya hanya bilang “just go straight, I will tell you.” Saya memang aktifkan Google Maps Navigation sehingga bisa tahu persis tujuan saya. Kamipun sampai di tempat yang saya tuju. Pak sopir kembali minta maaf dengan tulus dan kali ini saya tanggapi dengan tulus juga “that’s Ok, no worries. No problem between us, ***” Tidak berhenti di sana, saya merasa tidak tega membuat hatinya gundah gulana. Dia pasti masih sangat khawatir kalau-kalau saya akan menelpon perusahaannya atau melakukan tindakan hukum. Saya berkata “I know that I was also angry and impolite yelling at you but you know the reason.” “Yes, Sir, I understand” katanya. Saya lanjutkan, “I will not prolong this case, don’t worry. I also apologise for what I have said to you. I realise it was not appropriate”. Mendengar itu dia berkata “no, Sir, that’s fine. I am sorry once again.” Saya menjabat tangannya saat keluar dari taxi.

Saat taxi itu melaju saya dihinggapi rasa lega. Lega karena telah menggagalkan sebuah penindasan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya. Terlebih lagi, lega karena saya telah meminta maaf dengan tulus kepada seorang asing yang perasaannya mungkin saya lukai.

PS. Kejadian di atas murni insiden antara sopir taxi dan penumpangnya, tidak terkait hubungan antarnegara, apalagi nasionalisme 🙂 Komentar sebaiknya fokus pada insiden tanpa membawa-bawa nama negara 😉

Perlukah Minta Maaf?

Dato’ Noor Azis Yunan, Direktur Jenderal Maritime Institute of Malaysia (MIMA) membuka acara konferensi MIMA tentang Selat Malaka dengan mengucap kata maaf. Maaf ini disampaikan dengan nada yang begitu tulus kepada para peserta konferensi, khususnya yang berasal dari luar Malaysia. Permohonan maaf ini terkait dengan situasi Kuala Lumpur yang sedang berkabut dan berasap. Pada tanggal 24 Juni lalu, Kuala Lumpur memang tidak seramah semestinya karena kabut yang menyelimuti. Dengan Bahasa Inggris yang santun, Dato’ Yunan memohon agar para peserta memahami situasi ini dan dengan rendah hati mohon maaf jika peserta merasa teraganggu. Dato’ Yunan juga menyampaikan bahwa tahun ini asap muncul agak lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya dan ini di luar antisipasi panitia. Yang menarik perhatian saya, Dato’ Yunan sama sekali tidak meyinggung asal usul asap ini yang sesungguhnya dari Indonesia. Ucapan permohonan maaf yang tulus ini begitu berkesan bagi saya.

Di kesempatan lain, Duta Besar Tommy Koh, presiden United Nations Conference on the Law of the Sea (UNCLOS) III juga menyampaikan maaf dalam acara diskusi meja bundar di Singapura tanggal 28 Juni 2013. Kami memang merasakan ketegangan di ruangan itu sejak sehari sebelumnya. Diskusi meja bundar itu memang membahas sengketa Laut China Selatan yang kian memanas belakangan ini. Meskipun panitia berusaha keras memastikan diskusi berjalan dengan suasana akademik dan netral, ketegangan tetap tidak bisa dihindari karena yang hadir adalah para akademisi dari negara-negara yang bersengketa seperti China, Filipina, Taiwan, Malaysia, Vietnam. Prof. Koh memohon maaf bukan atas kesalahannya tetapi atas kelakar yang dibuat rekannya, Robert Beckman, yang mengatakan “infamous nine-dashed line map”. Kelakar itu memang membuat akademisi China yang hadir di sana sedikit terusik. Berbeda dengan Beckman yang menanggapi respon akademisi China dengan dingin, Prof. Koh mengambil inisiatif untuk memohon maaf dan mengharapkan akademisi China itu tidak memasukkan ke dalam hati. Yang mempelajari hukum laut akan tahu betapa besar nama Prof. Koh. Permohonan maaf untuk perihal kecil yang keluar dari mulutnya terdengar begitu istimewa. Beliau bahkan memohon maaf untuk kelakar kecil yang dibuat oleh temannya. Sungguh menarik.

Di lain kesempatan, saya juga membaca berbagai komentar negatif saat Presiden SBY mohon maaf terkait asap yang menggangu Malaysia dan Singapura. Agak berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Dato’ Yunan dan Prof. Koh, banyak orang di Indonesia yang melihat ucapan maaf yang disampaikan oleh Presiden SBY sebagai tindakan lemah. Benarkah demikian? Saya tidak paham politik luar negeri. Yang saya pahami adalah maaf diucapkan seseorang yang telah mengganggu orang lain dan maaf hanya bisa disampaikan oleh mereka yang besar hatinya. Maaf ini tentu saja berbeda dengan maaf-nya mpok Minah di Bajai Bajuri yang bahkan tidak dihayatinya. Maaf adalah pertanda adab, penciri kebesaran dan kemampuan menangani satu perkara dengan bijaksana.

Dalam percakapan saya dengan teman-teman di Malaysia dan Singapura, semua orang mengagumi sikap Presiden SBY. Di sisi lain, mereka juga sadar sesadar-sadarnya bahwa beberapa perusahaan yang terlibat dalam kebakaran atau pembakaran lahan di Indonesia berasal dari Malaysia dan Singapura. Mereka tahu bahwa kedua negara itu tidak bebas dari ‘dosa’ yang mengakibatkan tragedi lingkungan itu. Setiap kali saya sampaikan “I am sorry that the haze brings you troubles”, mereka dengan cepat menjawab “we know this is our problem and Malaysia [or Singapore] is also involved”. Mungkin mereka tidak mewakili keseluruhan bangsa mereka tetapi cukup melegakan mengetahui kesadaran itu ada pada sebagian orangMalaysia dan Singapura yang saya jumpai.

Perlukah kita mohon maaf? Tidak perlu jika kita tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Tidak perlu jika kita merasa bahwa maaf yang tulus itu akan merendahkan sang peminta maaf. Tidak perlu jika kita tidak paham bahwa maaf itu hanya bisa disampaikan dengan tulus oleh mereka yang tidak tertindas harga dirinya dan sadar bahwa perbaikan harus dilakukan. Lepas dari perlu tidaknya mohon maaf, yang penting adalah memastikan adanya perbaikan. Indonesia adalah bangsa besar yang tidak boleh takut pada bangsa apapun di muka bumi tanpa alasan yang jelas. Meski demikian, Indonesia juga bukan bangsa rendah diri yang melihat permohonan maaf sebagai pertanda kelemahan. Maafkan jika tulisan ini memuat gagasan yang berbeda dengan yang Anda yakini.

The Power of Visualisation

What will you do if you are asked to explain how the world has transformed in terms of life expectancy and income from 200 years ago up until the present time and you are only given four minutes? You can visualise instead of describing it by only text or words. See how Hans Rosling does it. It is to me, amazing! This is what I call the power of visualisation.

Hans has been dedicating his time and energy in statistics. He has come up with a brilliant idea that in order for people to understand data better we have to present the data in such a way that is easy to understand and entertaining. People love visualisation and everybody tends to pay attention more to something moving. Hence, Hans animates his data. Ses this amazing presentation: 200 Countries, 200 Years, 4 Minutes.

Hans Rosling has developed software/website to visualise and animate statistic data he calls GapMinder. Please feel free to visit his website: www.gapminder.org and animate your data.

Beasiswa sekolah di Singapura

Pemerintah Singapura memberi beasiswa selama 4 tahun untuk anak-anak Indonesia usia 14-16 tahun untuk bersekolah di Negeri Singa. Silakan lihat di sini.