Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri

i4talksposter

Ketika hampir menyelesaikan pendidikan di luar negeri, dia mendapat suatu pelatihan yang menurutnya aneh. Pelatihan itu bertema persiapan pulang kampung. Dia tidak habis pikir, mengapa untuk pulang kampung saja harus menyiapkan diri. Jika persiapan sebelum berangkat ke luar negeri dulu dilakukan begitu serius, dia paham karena akan datang ke tempat baru. Namun persiapan serius untuk pulang ke rumah sendiri ini terasa agak berlebihan. Akibatnya dia tidak mengikuti pelatihan itu dengan serius. Baginya tidak begitu penting. Dia tidak merasa perlu diajari bersikap di rumah sendiri, di negeri sendiri. Tidak akan ada yang mengejutkan di lingkungan budaya yang dia kenal sejak lahir. Itulah keyakinannya.

Continue reading “Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri”

Sebelas

Lukisan Lita :)
Lukisan Lita 🙂

Kami belum apa-apa. Tak layak menegakkan dagu apalagi menepuk dada jumawa. Tapi hati kami masih diliputi sombong maka kadang-kadang kami berpuas diri, berhenti sejenak dari lari. Karena kami makhluk biasa maka kami berhenti tak saja untuk istirahat tetapi untuk menikmati butir-butir kecemerlangan yang kami artikan sendiri. Di penggal perjalanan ini, telah berpelukan antara duka nestapa dan sumringah gembira, maka susah kami bedakan keduanya. Kami berusaha sangat untuk memelihara keterkejutan dan memanen pelajaran dari keterpurukan meski perasaan datar kadang mampir menghinggapi. Datar karena kami mulai terbiasa dengan sedu sedan duka dan tawa riang bahagia yang tak henti saling merangkul.

Continue reading “Sebelas”

Kreatif atau Mati

Jika Anda pernah bepergian dengan pesawat, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa setelah penerbangan lebih dari tiga kali maka perhatian kita terhadap instruksi keselamatan penerbangan mengalami penurunan yang serius. Petunjuk mengenakan sabuk pengaman, pemakaian baju pelampung dan masker oksigen menjadi tidak menarik lagi jika Anda sudah terbiasa naik pesawat. Sering saya perhatikan, pramugari yang memeragakan instruksi itu juga setengah hati melakukan peragaan dan penumpang juga acuh tak acuh. Intinya, semua ritual itu seperti formalitas basa-basi, tidak lebih tidak kurang. Singkat kata, membosankan.

Anggapan saya berubah saat naik Air Asia dari Kuala Lumpur ke Singapura tanggal 26 Juni 2013 lalu. Karena lelah setelah mengikuti konferensi di Kuala Lumpur, saya hampir tertidur bahkan sebelum pesawat tinggal landas. Di sela kantuk dan kegamangan itu saya dikejutkan oleh berisik penonton yang tertawa seperti dikomando. Ternyata penumpang tertawa mendengarkan instruksi keselamatan yang yang dibawakan dengan cara lucu oleh pilot atau ko-pilot (saya tidak tahu persis).

Setelah saya perhatikan, ternyata instruksi keselamatan disampaikan secara langsung oleh seorang lelaki dari ruang kendali sambil diperagakan oleh beberapa orang pramugari. Yang membuatnya tidak biasa adalah cara penyampaianya yang lucu. Seringkali lelaki itu berbicara dengan gaya bergema (echo) yang dibuat-buat. Dia juga menyampaikan komentar-komentar konyol seperti “baju pelampung ini memiliki dua pipa tiup, bukan pipa sedot” yang disambut gelak tawa penumpang. Di saat lain, lelaki itu mengatakan “if you cannot find your seatbelt, you might sit on it”. Singkat kata, penumpang dibuatnya riuh rendah tertawa dan penuh perhatian.

Ini video dari Youtube, bukan video yang saya rekam sendiri

Ini adalah contoh kreativitas. Sesuatu yang tadinya biasa dan cenderung membosankan bisa menarik lagi dan menjadi pusat perhatian. Yang diperlukan hanya satu hal: keberanian berpikir dan berbuat di luar kebiasaan. Tentu ada risikonya tetapi jika tidak dicoba, maka ritual instruksi keselamatan di pesawat akan menjadi ‘barang kuno’ padahal sesungguhnya penting tetapi diabaikan sebagian besar orang. Alangkah berbahayanya jika kita abai akan hal-hal yang penting, hanya gara-gara penyampaiannya tidak menarik dan membosankan.
Dalam banyak hal, kreativitas adalah kunci. Tanpa itu, kita akan mati dengan segera. Mati karena terlindas roda zaman yang berlari kencang dan menjadi korban mengenaskan dalam kompetisi yang kian sengit. Jadi pilihannya jelas, kreatif atau mati.

Sepuluh Tips Menjadi Moderator

Bersama Mahfud MD di Sydney
Bersama Mahfud MD di Sydney

Saya pernah menjadi moderator untuk berbagai forum yang menghadirkan berbagai jenis orang. Mulai dari mahasiswa hingga professor, mulai dari pejabat hingga diplomat, mulai dari akademisi hingga pengusaha. Saya pernah menjadi moderator diskusi bersama Prof. Mahfud MD (Ketua MK) di Sydney, Bima Arya (kini Walikota Bogor) di Perth, Havas Oegroseno (Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa) di Jogja dan forum ilmiah di Bali. Menjadi moderator itu pekerjaan yang menarik. Tidak menjadi bintang utama dalam diskusi karena bukan pembicara tetapi vital perannya karena dia menentukan jalannya diskusi. Menjadi moderator itu soal seni dan ilmu menjadi pengendali komunikasi.

Saya merasa nyaman menjadi moderator diskusi. Soal baik atau buruk, tentu bukan saya yang berhak menilai. Saya masih terus belajar. Untuk mencatat pelajaran menjadi seorang moderator saya mengumpulkan sepuluh tips.

Continue reading “Sepuluh Tips Menjadi Moderator”

Mendadak Indonesian Intellectual Summit

Pemandangan dari panggung. Ghra Sabha Pramana, UGM

Pukul 5.42 pagi, telepon saya bergetar tanpa suara. Agak lama getaran itu bercampur mimpi dini hari dan membuat saya tidak segera beranjak sampai akhirnya benar-benar tersadar. “Halo, selamat pagi”, kata saya menjawab telepon setelah setengah sadar memperhatikan nomor Jakarta tertera di layarnya. “Halo, Andi ya?” tanya suara di seberang. Ketika saya iyakan, dia mengatakan “ini Adhit, Ndi!” Saya masih setengah sadar, nyawa belum terkumpul semua. “Adhit…?” saya menyebut nama itu ragu. “Adhit yang dulu di Belanda, Ndi” “Oh, Adhit, apa kabar Dhit?” Saya baru tersedar, di Achmad Adhitya kawan saya.

Continue reading “Mendadak Indonesian Intellectual Summit”

Kembali ke Le Meridien

Hotel Le Meridien, Suatu ketika tahun 2002,
eu-aseanSaya seperti orang hilang di tengah kerumunan itu. Ada rasa sepi menghinggapi di tengah hiruk pikuk suasana. Setiap orang nampak antusias berkeliling melihat-lihat stand pameran siang itu. Tidak sedikit yang terlibat percakapan dengan penunggu stand pameran, bersemangat bertanya ini dan itu, menunjukkan gairah mereka untuk mengetahui lebih jauh dan lebih dalam. Lelaki dan perempuan usia 30an tahun nampak penuh perhatian memberikan informasi kepada pengunjung yang mendekat ke stand masing-masing. Keramahan dan pengetahuan yang mumpuni nampak berpadu dengan apik pada wajah dan senyum mereka. Sementara itu, saya memandang dari satu sudut yang agak jauh, terkesima melihat geliat orang-orang yang antusias melapangkan jalan menimba ilmu. Siang itu saya sedang menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Hotel Le Meridien Jakarta.

Ada rasa ragu ketika berjalan mendekati beberapa stand pameran dan melihat nama-nama universitas terpandang yang terpampang di setiap stand. Beberapa nama universitas itu sudah pernah saya dengar dan sebagian lain nampak asing. Meski tertarik, tidak mudah untuk memulai percakapan dengan penunggu stand pameran karena ada keraguan. Perihal apa yang paling tepat ditanyakan, saya tidak tahu. Maka saya memilih untuk mengamati saja. Di berbagai titik terlihat anak-anak muda berpenampilan mentereng, kadang ditemani ayah ibunya. Mereka bertanya penuh selidik, melapangkan jalan bersekolah di luar negeri. Sejujurnya, ada perasaan malu kalau harus datang ke sebuah stand dan bertanya “apakah universitas ini menyediakan beasiswa bagi yang tidak punya uang seperti saya?”

Continue reading “Kembali ke Le Meridien”

Nusantawa

Tiga comic dan dua MC
Tiga comic dan dua MC

Mahasiswa Indonesia di Sydney mencatat sejarah baru dengan mendatangkan standup comedian terkemuka Indonesia Pandji Pragiwaksono (@pandji), Ernest Prakasa (@ernestprakasa) dan dan Ryan Adriandhy (@adriandhy) dalam acara Nusantawa. Mereka bertiga tampil di sebuah gedung pertunjukan musik bergengesi, Sydney Conservatorium of Music (SCM) yang berlokasi tidak jauh dari Sydney Opera House yang menumental. Malam tanggal 11 Oktober 2013 itu, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia, terutama Sydney menorehkan sejarah.

Sudah lama saya tunggu momen ini karena ingin menyaksikan langsung penampilan ketiga comic andalan Indonesia. Seni melawak monolog ini termasuk masih hijau umurnya dan marak di Indonesia dalam dua atau tiga tahun terakhir. Dalam usianya yang masih muda, standup comedy sudah bisa menjadi hiburan alternatif yang diminati. Maraknya tur standup comedy yang dipelopori oleh Ernest Prakasa seperti layaknya konser musik berkeliling Indonesia adalah salah satu bukti tinginya minat masyarakat.

Continue reading “Nusantawa”

Belajar presentasi dari standup comedy

Tidak semua orang bisa lucu seperti seorang standup comedian, maka kita tidak akan belajar menjadi lucu tetapi belajar presentasi. Satu ilmu standup comedy yang bisa diterapkan oleh seorang presenter adalah kerseriusan dalam menghafalkan materi. Anda pernah melihat standup comedian tampil begitu lucu dan terkesan alami penuh improvisasi? Jangan “tertipu”, 90% dari standup comedy adalah hasil skenario dan hanya 10 persen hasil improvisasi. Hal ini ditegaskan comic Indonesia seperti Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, dua comic favorit saya. Jika Anda melihat penampilan seorang comic sekali saja, mungkin sulit untuk melihat bahwa leluconnya adalah hasil menghafalkan naskah karena nampak begitu alami. Namun jika Anda melihat lebih dari satu video mereka, Anda akan setuju dengan saya bahwa standup comedy adalah hasil belajar keras, hasil menghafalkan sebuah naskah seperti naskah film yang lengkap dengan titik, koma, intonasi, dan gerak tubuh.

Continue reading “Belajar presentasi dari standup comedy”

Membela Indonesia dalam Lima Menit

Saya sedang bersama Asti ketika bertemu seseorang di lift UNSW, Sydney. Perilaku lift yang sedikit aneh membuat kami ngobrol ‘menertawakan’ situasi. Memang agak aneh, seringkali manusia jadi akrab dengan orang asing jika ada kejadian yang tidak lazim. Kelar dari lift, kami bercakap-cakap. Perempuan itu imigran keturunan India dan sudah 20an tahun di Australia. Logatnya sudah begitu Australia. Kami bercerita tentang studi dan keluarga.

http://tribunnews.com/

Continue reading “Membela Indonesia dalam Lima Menit”

Belajar Public Speaking ala Marty Natalegawa

Saya pernah menulis tips dan trik untuk menjadi pembicara publik atau public speaker, di blog ini. Saya memang bukan pembicara publik professional tetapi punya sedikit pengalaman dan tips yang saya berikan berdasarkan pengalaman itu. Selain dari pengalaman sendiri, saya juga menuliskan hasil pengamatan saya terhadap pembicara publik lain yang menurut saya menarik. Saya pernah menulis rangkaian tips, memberikan contoh presentasi dan juga pernah mengajak pembaca belajar dari pidato Agus Yudhoyono. Kali ini saya ingin mengajak pembaca sama-sama menikmati dan belajar public speaking dari seorang diplomat senior Indonesia: Dr. Marty Natalegawa. Ada beberapa hal dari dari Pak Marty yang masih terus saya pelajari sampai kini.

Continue reading “Belajar Public Speaking ala Marty Natalegawa”