
- diambil dari http://www.wildnatureimages.com
Aku ingin melukismu. Itulah mimpi yang belum sempat aku wujudkan sejak lama. Bukan karena aku tak sempat, semata-mata karena kanvas yang tak kunjung kutemukan. Tinta emasku runtuh, pucat binasa dan lenyap cantiknya. Demikianlah setiap kali aku hendak melukismu. Kuas yang bergururan, tinta yang runtuh dan kanvas yang tak pernah cukup halusnya, semua itu tak pernah sepadan untukmu.
Lama aku bertanya tapi tidak seperti pujangga kenamaan itu. Aku tak mencegat rumput yang menari atau bintang yang bersinar jenaka. Aku tak mau seperti itu karena kutahu mereka tak kan mampu mngisahkanmu. Aku perlu yang magis dan mistis. Aku perlu asap dupa yang mengepul dan bersatu dengan merahnya senja, sepertimu yang datang dan pergi, tak kurang misteri yang tersisa. Aku perlu bintang yang jatuh memberi harapan dan lenyap sesaat sebelum sempat kupeluk. Seperti itulah anganku tentangmu yang nampak dan sirna silih berganti. Aku tak cukup menjadi seniman kebanyakan untuk menuangkan wajahmu dalam puisi. Tak akan tega bulan melantunkan tembangnya karena ia pun pasti merasa hina. Seperti itulah sulitnya berpuisi tentangmu.






