Dua perintah berbeda


Jam 10.37 malam

Andi, mop the floor please! Use the pink chemical and only hot water. We have to make sure all part of the floor is clean and properly moped. You cannot go home until you finish the moping, OK.” Seorang gadis Thailand berdiri di pintu memandang ke arahku yang bergegas mengambil ember dan alat pel tergantung di pintu.

Jam 11.42 malam

Hi, Andi! I am in SING at the moment, still preparing the lecture for tomorrow. Could you please make a small amendment to the slides that you made for me? I want you to generate another equidistance line between MR and INA’s PBt by ignoring SL. We will see then that the line lies to the south of SL so that it can be justifiable that MY may use SL as its basepoint. If you can make the amendment, please email it to me before the lecture tomorrow morning. Thank you very much.

Sesampai di rumah sehabis kerja di restoran Thailand, aku mendapat sebuah email dari supervisor. Dia diundang pemerintah Singapore untuk memberikan pandangan terhadap delimitasi batas maritim di Selat Singapura. Aku membantunya melakukan anailisis dan terutama ketika membuat animasi dengan power point. Hm.. punya waktu hanya beberapa jam sebelum pagi menjelang. Tak hanya power point, analysis ini memerlukan aplikasi GIS dengan CARIS LOTS dan sedikit matematika. Aku harus menyelesaikannya dalam hitungan jam.

Dua perintah berbeda di atas sekarang menjadi sesuatu yang biasa. Menjadi seorang pendulang ilmu di negeri orang memang banyak cerita menariknya. Seorang kawan di belahan selatan Australia pernah berkelakar “gimana ya caranya membagi waktu antara, riset, ngajar, cleaning, nulis di koran, dan keluarga?” Memang demikianlah kehidupan para scholars Indonesia di rantau, terutama di Australia. Kalau dibilang menderita, mungkin bisa terlihat demikian tapi kalau dilihat asiknya, asik sekali memang.

Yang terpenting, hal seperti ini tidak semestinya dilihat sebagai suatu tekanan. Saya kadang bertanya atau memarahi diri sendiri. “Siapa suruh kerja di restoran segala. Kan mendingan tidur, toh uang beasiswa tidak kurang! Siapa suruh menawarkan diri membantu professor untuk membuat bahan kuliah? Itu sama saja dengan menjemput kesusahan!” Intinya, banyak sekali pekerjaan, kesibukan, keruwetan yang memang kita ciptakan sendiri dalam hidup. Tanpa itu, kita sebenarnya tak akan mati kok. Tapi begitulah, hidup ternyata tidaklah selalu tentang boolean logic antara hidup dan mati. Ada banyak alasan lain yang membuat kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ada juga yang menyebut ini sebagai aktualisasi diri. Mungkin ngepel lantai sebuah restoran Thailand dan membuat animasi yang berkisah tentang kedaulatan bangsa-bangsa adalah bagian dari aktualisasi diri.

Apakah tanpa itu saya akan mati? Mungkin tidak mati, tetapi mandul. Mandul sebagai seorang yang orang lain menyebutnya intelektual (meskipun jauh dari intelek) tetapi tidak berkarya. Mandul karena gagal menuangkan gagasan untuk menjadi pencerahan kepada orang yang membutuhkan. Mandul karena tidak mampu (mau) berbagi satu-satunya kekayaan berupa ilmu. Mandul karena bangsa sendiri tidak berhasil menikmati buah pengetahuan yang bertumbuh dan besar di lahannya.

Atau kalaupun tidak mandul, saya akan menjadi pelaku masturbasi ilmiah yang paling hina. Bekerja keras sendiri, lelah sendiri, dan nikmat sendiri. Tak ingin mandul, dan tak ingin juga bermarturbasi ilmiah, saya memilih untuk menikmati dan menjalani kedua perintah berbeda itu dengan tersenyum saja.

Saya jadi ingat guyon seorang kawan “Kalau ada keinginan pasti ada jalan. Kalau nggak ada keinginan pasti banyak alasan.” Benar rupanya kelakar ini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

7 thoughts on “Dua perintah berbeda”

  1. Hmmm…..kalau di Bali malah hampir semua kerjaan diambil. Kuliah, praktikum, bimbingan, penelitian, pengabdian masyarakat, ‘ngayah’ di banjar, ‘odalan’, ‘menyama-braya’ dll. Yah begitulah Ndi. Terutama kewajiban ‘menyama- braya’, gak kenal tuh kata PhD. Maaf…jadi curhat.

  2. jadi tersenyum sendiri baca artikel ini, saya dulu juga pernah mengalami dua kehidupan yang jauh berbeda…. antara latihan dan kuliah. Latihan penuh keringat, kotor, panas, … siangnya kuliah magister di ruang AC dan wajib pakaian resmi (soalnya s2 nya juga bukan s2 olahraga),….antara dunia olahraga dengan akademis, sempat stress juga menjalani dua kehidupan seperti itu tapi ternyata kuat juga, hehehe…

    pak Andi, if you think im just kidding, an S2 Magister Psikologi who also an athlete, is that kind of person are really exist ??? may be if you have time you can read my old blogs http://www.kruxkrux.multiply.com

    thanks

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s