Gubernur Bali


Sang Gubernur
Sang Gubernur

Saya tidak memiliki ketertarikan politik yang tinggi. Meskipun beberapa kawan saya adalah penggiat politik dan tahu persis percaturan politik Bali, tanah kelahiran saya, tetap saja saya bukanlah penyimak aktif. Saya memang mendengar bahwa Mangku Pastika adalah salah satu kandidat kuat. Itu saja. Selebihnya tidak banyak yang saya pahami.

Di luar urusan politik, saya mengagumi Mangku Pastika sebagai orang yang pintar dan berkaliber Internasional. Tidak mengecewakan memang kalau akhirnya Mangku terpilih sebagai Gubernur Bali untuk periode lima tahun ke depan. Meski demikian, saya tidak merasa perlu ikut pesta lawar atas kemenangan ini. Bukan karena saya anti pesta, semata-mata karena tidak merasa terlibat secara emosi dengan proses pilkada. Satu syukur yang perlu saya panjatkan adalah karena pilkada Bali berjalan lancar tanpa kerusuhan yang tak perlu.

Bagi Australia, salah satu tetangga terdekat Indonesia di selatan Bali, Pastika adalah pilihan tunggal. Harian The Age, misalnya, mengulas Pastika dengan sangat positif ketika dia mencalonkan diri. “Charismatic, aspiring Bali governor sends his regards” demikian terbaca pada salah satu halamannya tanggal 28 Juni 2008.

Kini pemilihan sudah berlalu, dan sejarah mencatat bahwa jendral polisi yang berlatar belakang keluarga miskin itu kini dinobatkan sebagai orang nomor satu di Bali. Pertanyaan yang selalu muncul setelah pemilu di kepala saya adalah “akankan dia sebaik janjinya ketika berkampanya?” Pertanyaan ini selalu muncul dan lebih sering saya kecewa dengan hampir semuanya. Maka dari itu, kini saya tidak akan berharap banyak.

Kemarin ketika menelpon orang tua di desa di Tabanan, saya menangkap kesan yang berbeda. Meme’ saya yang hanya tamat SD bicara tentang pilkada. Beliau gembira menceritakan kemenangan jagoannya. Bapak saya yang bahkan tidak sempat menamatkan SD tak kalah riangnya. “Bapak ikut menyukseskan pilkada di desa” katanya setengah guyon. Semua ini menarik sekali bagi saya. Bapak menegaskan, suara bulat di banjar kami untuk Pastika. Hebat sekali.

Yang menarik, seorang kelihan banjar sekaliber Bapak saya turut menjadikan kemenangan itu sebuah kenyataan. Saya yakin, beliau bukanlah seorang partisan politik, tidak juga pintar berpolitik. Yang terpenting, beliau sendiri tidak gila uang dan tidak mudah tergiur oleh janji-janji materi. Itu, saya jaminkan. Kesimpulan saya, jika Bapak dan Meme’ saya bisa mengerahkan energinya untuk mendukung seseorang dalam sebuah pilkada, pastilah orang ini tidak sembarangan.

Ketika saya tanya, apa yang telah dilakukannya, bapak saya menjawab, “Bapak hanya menyampaikan apa yang Bapak pahami tentang Pastika seperti yang disampaikan orang-orangnya. Bapak sendiri tidak punya kepentingan pribadi untuk memenangkan Pastika karena Bapak juga tidak mendapat keuntungan materi apapun. Bapak tidak mengajak untuk memilih seseorang tetapi mencoba menyadarkan masyarakat bahwa ketika orang-orang di atas berpolitik, kita pun harus bisa berpolitik, jangan sampai dibodohi. Prinsip Bapak, kalau kita sebagai rakyat bisa bersatu, maka kita akan lebih kuat. Oleh karena itulah Bapak menghimbau masyarakat untuk bersatu dan sebisa mungkin membulatkan suara. Biarpun kandidat kita tidak menang nantinya, setidaknya persatuan kita akan membuat orang lain memperhitungkan kita.” Saya terpukau mendengar penjelasan Beliau.

Lelaki hampir enampuluh tahun ini, yang dulu fasih menambang padas dan menanam bawang atau membajak sawah, kini bicara politik. Nampak jelas dia menaruh harapan pada sosok Pastika.

Dia melanjutkan. Setelah pilkada ini, Bapak akan kembali berlaku sebagai kelihan banjar yang tidak memihak partai. Semua adalah saudara kita, jadi tidak boleh dibeda-bedakan. Meskipun kita berharap pada Mangku Pastika, dia tidak akan bisa berbuat banyak untuk kita tanpa dukungan kita semua.” Ibu saya, mengutip kalimat yang biasa saya sampaikan, berujar “untuk jadi baik, semua harus baik. Jangan hanya berharap Gubernur jadi baik, rakyatpun harus baik. Jangan menghujat gubernur kalau sebagai suplayer bahan bangunan saja kita suka menipu. Jangan mengharap gubernur adil kalau sebagai petani suka mencuri air di irigasi.” Demikian katanya sambil tertawa kecil. Saya terharu.

Pak Mangku, saya tidak paham politik dan tidak juga mengerti caranya jadi Gubernur. Satu yang ingin saya sampaikan bahwa kebaikan itu ada di dalam hati. Dengarkanlah hati nurani agar orang-orang seperti Wayan Karma dan Nyoman Mariani di Desa Tegaljadi tidak bertambah susah hidupnya. Selamat bertugas Pak Gubernur.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Gubernur Bali”

  1. Belum selesai bli.. masih menunggu pelantikan gubernur. Pihak2 yg kalah dalam pilkada kemarin sekarang menanyakan dan ingin mengusut status Pak Mangku Pastika sebagai polisi aktif pada saat pilkada.

    Mudah2an tidak membuat situasi Bali menjadi tidak kondusif. Semoga semua pihak lebih fokus terhadap kemajuan dan kesejahteraan Bali ketimbang kepentingan politik golongan tertentu saja. Semoga.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s