Bertemu Presiden

Bersama Hassan Wirajuda

Kadang saya bertemu orang-orang penting, para pejabat negeri, justru saat ada di negeri orang. Kalau sedang di tanah air, mungkin kesempatan makan malam atau ngobrol dengan menteri atau wapres akan terasa sulit. Isitimewakah kesempatan itu? Saya serahkan saja bagi pembaca untuk menilainya, tapi bagi saya, jelas ini bukan kesempatan sehari-hari. Kalau demikian, bolehlah dia kita anggap istimewa.

Seorang kawan bertanya ’bagaimana caranya bisa punya kesempatan bertemu orang-orang penting itu?’ Saya harus akui, tidak ada cara sistematis yang saya tempuh dan ini bukanlah cita-cita. Yang pasti, tidak pernah ada tes psikologi apalagi IELTS untuk bisa bertemu menteri. Tidak juga ada wawancara. IP juga tidak berpengaruh, apalagi jumlah publikasi ilmiah. Tidak ada.

Continue reading “Bertemu Presiden”

Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne

Pemilu ketua PPIA di Melbourne

Saya sedang berada di Kota Melbourne suatu sore untuk bertemu seorang kolega di sebuah gedung di Melbourne University. Sesaat setelah turun dari tram, saya mulai mereka-reka. Kebetulan tidak membawa peta dan iPhone tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak bisa menemukan gedung yang dimaksud dengan cepat. Sementara itu saya melihat puluhan mahasiswa berlalu lalang di sekitar saya.

Continue reading “Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne”

[Bukan] tabrak lari

dirawat setelah ditabrak

Pagi itu tanggal 13 September 2012, mobil saya ditabrak oleh sebuah mobil saat berhenti di sebuah perempatan yang padat lalu lintasnya. Pagi itu saya mengantar Lita, anak saya, ke sekolah di Jogja bersama mbah putrinya dan harus berhenti karena perempatan sangat padat. Saya lihat polisi sibuk mengatur lalu lintas dengan cekatan. Di depan saya terlihat sebuah mobil berhenti dan sayapun berhenti pada jarak sekitar dua meter di belakangnya. Saya yakin ini posisi aman karena jalannya tidak terlalu menanjak. Untuk kondisi wajar, tidak akan terjadi apa-apa, saya yakin.

Continue reading “[Bukan] tabrak lari”

Pidato Kemenangan Barack Obama 2012

I have to admit that Barack Obama is one of my inspirations in public speaking and, more importantly, leadership. I have creatively translated his victory speech he delivered after winning a reelection in 2012. When I said ‘creatively’ it means that the translation might not reflect exactly the literal meaning of every part of the speech. Here is Obama’s speech in Bahasa Indonesia.

Continue reading “Pidato Kemenangan Barack Obama 2012”

Kebanggan kita adalah manusia, bukan alam

dipinjam dari http://www.lampahkacakna.org/

Sejak beberapa tahun terakhir Bapak saya giat bercocok tanam, berkebun berbagai jenis tanaman di Desa Tegaljadi. Yang paling umum adalah buah-buahan dan sayuran. Kami memiliki cukup banyak pisang, pepaya, pare, ketela, keladi, labu siam, dan lain-lain. Bapak memelihara semua tanaman itu di sebuah lahan yang peruntukan utamanya sejatinya bukan untuk itu. Dengan kata lain, semua produksi itu adalah sambilan saja. Menariknya, produksinya berlimpah dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Alhasil, banyak yang diberikan secara cuma-cuma kepada tetangga. Ada kepuasan tersendiri melakukan semua itu.

Continue reading “Kebanggan kita adalah manusia, bukan alam”

Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya telah menonton puluhan video Anies Baswedan melalui Youtube. Oleh karena itu, sejatinya tidak banyak hal baru yang bisa diperoleh saat menyimaknya langsung di Grha Sabha Pramana (GSP), UGM beberapa hari lalu. Meski begitu saya tak kalah terpana dibandingkan menyimak puluhan videonya. Meski telah lama mengikuti pemikirannya, saya memang baru pertama kali menyaksikan Anies Baswedan tampil langsung memberi inspirasi.

Seorang anak muda yang duduk di sebelah saya bertanya apa yang membuat saya datang ke acara Road Show Indonesia Mengajar (IM) di Jogja. Saya paham maksudnya karena 90% lebih dari ribuan pengunjung adalah anak muda duapuluhan tahun. Saya memang datang ke GSP sore itu bukan untuk mendapatkan informasi bagaimana caranya menjadi pengajar muda karena usia saya sudah kadaluarsa. Kedatangan saya adalah untuk belajar, menyimak gagasan besar dan menuai inspirasi dari orang-orah hebat. Dari Anies Baswedan tentu yang utama.

Continue reading “Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar”

Meminjamkan mata hati

dinazhar.multiply.com

Suatu pagi, saya mengantar Lita ke sekolah. Kami melewati sebuah pasar yang ramai bukan main sehingga saya harus melaju sangat pelan. Di depan saya terlihat seorang anak SMA perempuan yang berjalan agak di tengah. Sepertinya anak ini kurang menghiraukan lalu lintas yang padat. Dia telah menambah keruwetan pasar pagi itu. Tak ayal lagi, motor dan mobil membunyikan klakson membuat suasana jadi riuh rendah. Sebuah mobil yang berjalan tepat di belakang anak SMA itu bahkan membunyikan klaksonnya dengan keras dan panjang karena anak itu tidak menghentikan langkahnya. Selanjutnya anak itu terlihat panik dan justru berjalan agak ke tengah jalan sehingga nyaris bertabrakan dengan mobil yang saat itu sudah melintas di sampingnya. Mobil itupun secara tiba-tiba berhenti, orang-orang di pasar berteriak histeris. Saya berharap-harap cemas, apa yang akan terjadi. Terbayang si bapak sopir akan berteriak memaki anak SMA yang tidak tahu aturan itu.

Continue reading “Meminjamkan mata hati”

Tips presentasi: skenario, bukan talking points!

Karena berbagai alasan, saya sering berbicara di berbagai forum. Konferensi adalah yang paling sering karena pekerjaan saya sebagai seorang peneliti dan mahasiswa S3. Sebagian besar dari semua itu harus saya sampaikan dalam Bahasa Inggris. Syukurlah, hingga sekarang saya melakukannya dengan cukup baik. Biasanya saya merasa puas setelah menyampaikan pemikiran saya, sebagai tanda keberhasilan. Penilaian ini tentulah subyektif.

Continue reading “Tips presentasi: skenario, bukan talking points!”

Terang Bulan

Saat berada di Bali, saya menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Tidak saja menemani Asti belajar, saya juga berperan sebagai tukang antar ibu saya kalau sedang melakukan aktivitas terkait bisnis kecilnya. Suatu hari saya datang dari sebuah proyek pembangunan properti di Tabanan dan mampir membeli gorengan dalam perjalanan pulang. Pedagang kali lima itu berjualan di depan sebuah toko bernama Wijaya di Jalan Kapten Tendean, di Tanah Bang (atau Pemenang, saya kurang yakin). Lokasinya tidak terlalu jauh di sebelah utara Rindam IX Udayana di Kediri, Tabanan.

Continue reading “Terang Bulan”

Susu Nasional

http://s3.amazonaws.com/

Sore tadi saat menjemput Lita dari sekolah, saya membeli empat gelas susu. Namanya Susu Nasional, dijajakan oleh penjual yang mengayuh gerobak sepeda berwarna dominan biru. Jika pernah tinggal di Jogja, Anda akan tahu lengkingan pengeras suara yang melantunkan penggalan lagu “susu murni nasional”. Sejak tahun 1990an akhir, saya sudah mengenal susu ini dan sudah menyukainya. Sore tadi saya bernostalgia.

Beda dengan belasan tahun lalu, kini saya memperhatikan lebih serius. Saya ajak mas penjual susu untuk ngobrol sebentar. Saya mulai bertanya produksi susunya, bagaimana sistem upah dan lain-lain. Awalnya dia menjelaskan dengan agak ragu. Mungkin tidak sering menjumpai pembeli yang banyak tanya seperti saya. Susu Nasional diproduksi di Salatiga dan dikirim ke Jogja setiap hari. Tempat penampungannya di Jalan Kaliurang. Pekerja seperti dia mendapat tempat tinggal di penampungan susu sehingga tidak perlu sewa tempat tinggal. Saya pikir ini lumayan untuk dia.

Continue reading “Susu Nasional”