Setangkai mawar pengingat

Kisanak, jika kamu melintas di depan toko bunga itu, berhentilah sejenak. Sempatkanlah menikmati ranum mawar yang wanginya menawan, lalu pilihlah setangkai. Ambillah dengan niat penuh seluruh dan tukarlah dia dengan selembar uang pengganti keringatmu, lalu ciumlah penuh sukacita. Silakan bergegas pergi dan niatkanlah dalam hatimu akan sebuah nama dan sebentuk wajah. Jadikanlah nama dan wajah yang tak asing itu sebagai penerima persembahanmu.

Tidak usah menunduk apalagi bersimpuh berlutut. Kisanak tidak perlu lakukan itu. Berikanlah setangkai mawar putih itu kepadanya. Kepada dia yang menunggumu di balik pintu, tak peduli seberapa terlambat dirimu kembali menjumpai rumah. Kepada dia yang tak peduli dingin atau panas, menebar senyum saat dirimu turun dari pelana kuda seraya menambatkannya di samping pondokan. Kepada dia yang menipu kantuknya sendiri demi menyambutmu di temaram lampu yang terpedaya oleh ketulusannya. Kepada dia yang di saat tertentu hanya punya satu kata: dukung.

Continue reading “Setangkai mawar pengingat”

Menemani Pasangan Sekolah di Luar Negeri

Ada banyak orang yang bertanya terkait keikutsertaannya untuk berangkat ke luar negeri bersama pasangannya yang sekolah S2 atau S3. Pertanyaan itu umumnya berisi kebingungan dan keraguan apakah itu merupakan keputusan tepat. Saya bisa memahami keraguan ini, terutama jika yang sekolah adalah sang istri dan suaminya harus menemani. Meski demikian, kegalauan serupa juga bisa saja terjadi untuk kasus sebaliknya. Berikut ini hal-hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan:

Continue reading “Menemani Pasangan Sekolah di Luar Negeri”

Ibu Guru Kasih

Desa Tegaljadi, akhir dekade 1980an

Sepeda tua itu melaju dengan tersendat, dikayuh seorang anak kecil berusia belum sepuluh tahun. Keringatnya mengucur deras, tubuh kecilnya ditikam terik matahari. Panas tak membuatnya terhenti, atau mungkin bahkan tidak dirasakannya. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, dia sedang mengemban tugas mulai dari ibu gurunya. Ibu Kasih, nama beliau.

Si murid diminta untuk menyerakan kain hasil bordir kepada juragan border yang berlokasi cukup jauh dari sekolah. Ibu guru Kasih, selain menjalankan kewajiban dengan baik mengajar anak muridnya, juga berprofesi sebagai tukang bordir, membuat pola berenda warna warni pada kain yang kemudian dijadikan pakaian. Kala itu, bordir merupakan pekerjaan banyak perempuan muda dan dewasa di Desa Tegaljadi. Ibu Guru Kasih tidak berasal dari sana tetapi beliau melihat itu sebagai peluang dan memutuskan untuk menjadi salah satu pekerja lepas. Selepas mengajar, beliau biasanya membawa pulang beberapa orderan bordir untuk dikerjakan di rumah dan dikembalikan kepada juragan bordir setelah menyelesaikannya. Ibu Kasih menaiki sepeda tuanya dari desanya di Tatag ke Desa Tegaljadi setiap hari. Mungkin karena alasan ekonomi, Bu Kasih merasa perlu untuk mengerjakan order bordir selain mengajar sebagai guru di SD 1 Tegaljadi.

Continue reading “Ibu Guru Kasih”

Kejutan untuk Ibu

memeIbu saya mudah kagum dengan orang pintar, sedikit tergagap-gagap dengan kemewahan dan mudah merasa lebih rendah dari orang lain. Sempat bersekolah hanya enam tahun dalam hidupnya, ibu saya hidup dalam kesederhanaan pikir, kata dan laku. Meski begitu, sosoknya penuh perhatian dan peduli pada kegiatan anaknya yang mungkin lebih sering tidak dipahaminya. Ibu saya sulit membayangkan bahwa ada orang yang bisa hidup dan menhidupi keluarganya hanya dari berbicara dan presentasi di depan orang, misalnya. Itu tidak masuk dalam kamus tipisnya yang minim pendidikan formal. Meski begitu, Ibu saya tidak pernah ketinggalan menunggu cerita saya tentang presentasi atau konferensi. Menceritakan konferensi tentang sengketa antarnegara di Laut China Selatan, misalnya, bukan sesuatu yang mudah, jika pendengarnya adalah ibu saya. Tak menyerah dengan ketidakterdidikan, Ibu saya gemar bertanya tentang Ambalat, Quick Count, Exit Poll atau tentang kata kata sulit seperti “check list“, “down payment” atau “marketing“. Kami sangat menikmati ngobrol hingga lama.

Dua minggu lalu beliau ke Jogja untuk menengok cucunya. Saya sibuk luar biasa, lebih dari biasanya. Di saat beliau ada di Jogja, saya harus tinggal ke Bandung, ke Magelang atau sekedar lembur di kampus sampai jam 11 malam. Parah nian saya menjadi anak. Namun begitulah kenyataannya. Hidup harus terus bergerak. Ibu saya menghibur “kamu kan memang sibuk sejak kecil dan kesibukan itu yang membuatmu merasa hidup”. Beliau tahu betul anaknya. Pernah ketika SMA, saat menjadi ketua OSIS, ibu saya berkelakar “kaya’ dapat gaji sejuta saja” saat menyaksikan anaknya jarang pulang. Sejuta memang jumlah yang sangat besar. Tidak pernah ada larangan, tidak pernah ada arahan harus begini atau begitu. Yang ada hanya satu: kepercayaan.

Continue reading “Kejutan untuk Ibu”

Perkelahian yang sangat laki­-laki

Bandara Ngurah Rai, 1 Mei 2014.
Hari masih pagi, saya sudah memasuki ruang keberangkatan domestik. Tubuh agak lelah dan mata masih mengantuk karena perjalanan dari Desa Tegaljadi ke Bandara Ngurah Rai cukup jauh. Malang, tiba-tiba lampu bandara mati. Suasana gelap dan calon penumpang berteriak kompak. Saya diam, mengamati suasana yang mulai panas. Dalam gelap kami berdesakan, suasana makin riuh, emosi mudah meningkat.

Lama tidak ada perubahan, saya mencoba mengabarkan lewat Twitter. Saya ambil sebuah foto suasana penumpang yang berdesakan dalam gelap lalu mengunggahnya lewat Twitter. Saya melaporkan kejadian itu kapada PLN dan ditembuskan kepada akun Dahlan Iskan. Responnya tidak buruk, dalam beberapa menit twit saya dibalas oleh PLN meskipun bentuknya hanya pertanyaan dan konfirmasi. Akun twitter memang tidak bisa menyelesaikan persoalan itu seketika.

Continue reading “Perkelahian yang sangat laki­-laki”

Bodoh, Baru dan Pemula

Kami sekeluarga datang ke sebuah studio foto di Tabanan. Tidak sering dalam hidup keluarga besar kami bisa berkumpul secara lengkap. Meski tidak merayakan Idul Fitri, libur lebaran menjadi alasan keberasamaan ini. Kami mengunjugi sebuah studi sederhana dengan tujuan membuat foto keluarga yang professional.

Lepas mencoba berbagai gaya, proses administrasipun berjalan. Di saat itulah kami merasa tidak mendapat pelayanan yang baik. Seoang ibu, yang mungkin adalah pemilik studio itu, memasang wajah tidak bersahabat bahkan sejak kami masuk studio. Semua pertanyaan yang saya ajukan dijawabnya dengan nada yang datar bahkan cenderung agak ketus. Pandangan matanya tidak bersahabat sejak awal. Semangat melayangi tidak ada. Kesannya, perempuan itu tidak membutuhkan kehadiran kami sebagai konsumen. Dia tidak bersikap sebagai penyedia jasa tetapi seakan akan pemberi sedekah kepada kami yang membutuhkan bantuan. Saya bahkan sempat berbicara dengan nada agak tinggi karena satu perkara. Ibu, kakak, dan adik saya melihat itu dan mereka merasakan kekecewaan yang sama.

Continue reading “Bodoh, Baru dan Pemula”

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂

Thank You, Terima Kasih …

While writing the thesis as a whole was challenging, this acknowledgement part is the one I wrote nervously for there are too many parties I owe thanks to in the completion of this journey. First and foremost I sincerely thank my wife, Asti, for her enduring support that I can never describe in words. I understand that Asti’s decision to support my academic journey and put her career second is one of the toughest decisions she has ever made. I also thank my daughter, Lita, for her amazing support for behaving well during my absence due to the study. For both Asti and Lita, I dedicate this work. They are the reason I am.

Clive Schofield is the one who introduced me to this fascinating world of maritime boundaries. Clive, you are more than a good supervisor to me. Thank you for unlocking so many doors of opportunities by introducing me to many great scholars in this field. I felt welcome and it makes this journey enjoyable. I have enjoyed making maps for you and thank you for providing space for me to further develop my professional cartographic career to introduce the power of maps to a global audience. I also acknowledge Prof. Martin Tsamenyi for his support along the way. Martin, you have directly and indirectly taught me the way to communicate complicated issues such as maritime boundaries in a manner that is understandable by a non-expert audience.

Continue reading “Thank You, Terima Kasih …”

Menjelaskan Quick Count, Exit Poll dan Margin of Error kepada Ibu Saya

http://amazon.com/

Sudah jadi tradisi, kami bercerita tentang apa saja. Jangankan untuk hal hal penting, kisah serial MacGyver di tahun 1990an saja saya ceritakan setiap hari Jumat malam pada Ibu saya, meskipun mungkin beliau tidak tertarik. Setiap selesai nonton serial itu dari TV tetangga, saya akan bangunkan ibu untuk menceritakan kisahnya. Tradisi itu yang melekat dan berjalan terus hingga sekarang.

“Sebenarnya apa yang terjadi” demikian Ibu saya bertanya ketika menyimak kedua calon presiden menyatakan kemenangannya. Tentu saja beliau tidak sendiri. Sebagian masyarakat yang tidak memahami politik secara mendalam tentu akan bingung dengan perilaku calon presiden kita. Saya kemudian mengatur strategi untuk menjawab pertanyaan Ibu saya. Hal pertama yang mengkhawatirkan adalah pengetahuan formal saya terhadap pemilu yang mungkin tidak mumpuni karena saya memag tidak mempelajarinya secara resmi. Kedua, Ibu saya hanya lulus SD di tahun 1960an dan bukan pembaca buku atau koran. Perlu penggunaan bahasa yang sederhana agar beliau paham dengan gamblang.

Continue reading “Menjelaskan Quick Count, Exit Poll dan Margin of Error kepada Ibu Saya”

Dari Solo hingga Oslo

Aku tatap koper yang masih belum dikemasi dengan baik, tergeletak di lantai. Sebagian baju dan celana sudah di dalam, sebagian lain berserakan. Aku masih di depan komputer, mengetikkan kalimat-kalimat yang harus dituangkan. Sekali waktu jendela Twitter dan Facebook mengganti Ms Word di layar laptop. Pagi berjalan malas. Saat kulihat koper yang tergeletak itu, melambung ingatanku ke masa lalu.

Terminal Ubung, Januari 1995,
Aku bergegas menjinjing sebuah tas besar. Di dalamnya berupa-rupa pakaian dan peralatan mandi. Ada makanan beragam jenis. Tas berukuran cukup besar itu berat dan merepotkan. Di sebuah bangku aku lihat Mbak Eva, kakak kelasku yang duduk tenang tersenyum ramah. Dia santai, pakaiannya tidak seperti pakaianku yang rapi dan cenderung formal: kaos berkerah di masukkan ke dalam celana kain yang licin disetrika. Rapi atau ndeso? Mungkin yang kedua. Di belakangku menyusul Meme’ dan Bapak yang melangkah ragu menyusul tanpa tahu apa yang akan terjadi pada anaknya.

Itu kali pertama aku ke Jawa, dipercaya sekolah untuk mengikuti lomba cerdas tangkas dan keterampilan Kimia di Surabaya bersama Mbak Eva, Jimmy dan Sri. Sejak dua minggu sebelumnya seisi rumah gelisah, harap-harap cemas apa yang akan terjadi nanti. Jawa begitu jauh bagi kami, terutama bagi Meme’. Tiga minggu sebelumnya, aku diantar membeli tas besar. Bukan kopor! Tas itu ada tali jinjingnya, bukan juga tas punggung yang bisa digendong. Entah apa yang ada di pikiran kami saat itu. Segala sesuatunya tidak mendukung sebuah perjalanan jauh meskipun perjalanan itu telah membuat resah berminggu-minggu sebelumnya. Berbeda dengan Mbak Eva, Sri dan Jimmy yang santai, aku yang paling ndeso dengan bawaan yang membuatku tergopoh-gopoh dan jauh dari keren.

Seminggu sebelumnya, sebagian warga desa heboh saat aku bersembahyang berpamitan dan mohon restu ke hampir seluruh Pura di desa. Kerabat dekat bertanya tentang perjalananku. Semuanya memberi doa dengan wajah yang gundah tak jelas, sebagian lain mendoakan dengan tetesan air mata. Pergi ke Jawa adalah perjalanan jauh sejauh-jauhnya pikiran mereka bisa menjangkau. Bekal doa dan nasihat adalah hal minimal yang mereka berikan. Aku duduk khusu’ sembahyang memohon keselamatan dan pencerahan bagi perjalananku yang masih penuh misteri itu.

“Ndi, katanya mau ke Prancis, jadi nggak?” teriakan ibu mertua membuyarkan aku dari lamunan. Aku segera melesat ke kamar mandi setelah memasukkan beberapa potong baju dan celana ke dalam koper lalu menutupnya dengan cepat. Berpergian di masa lalu dan kini memang berbeda. Mungkin ini yang namanya globalisasi, ketika pergi ke Paris tidak berbeda dengan pergi ke Pare atau terbang ke Oslo tak ubahnya pergi ke Solo. Diam-diam ada kerinduan pada perasaan was-was dan terutama gembira saat harus bepergian (Cebu, Filipina, 18 Juni 2014, 00.31 dini hari)