
Badan masih terasa lelah, kantuk belum pergi sempurna ketika saya melangkah menuju pesawat Garuda yang akan menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta. Dari kejauhan nampak sesosok tubuh yang tak asing. Mas Anies Baswedan, saya segera mengenalinya. Beliau mendekati tangga dan termasuk dalam kelompok penumpang terakhir. Saya menyusul di belakangnya. “Mas Anies”, demikian saya sapa dan beliau menoleh lalu memberi sambutan hangat khas seorang Anies Baswedan. Jabatan yang erat bertenaga, pandangan yang antusias menatap mata dan air muka yang sumringah bukan buatan. Tentu bukan karena saya yang istimewa tetapi karena memang demikianlah Anies Baswedan. Seorang pemimpin alami yang karakternya memancar dari hal-hal kecil seperti itu. “Apa kabar Mas Andi?” sapanya serius dengan nada antusias.
Kami ternyata duduk di deretan kursi yang sama, bernomor 45, hanya beda lajur. Kami sama-sama di lorong sehingga cukup dekat untuk ngobrol tetapi masih cukup jauh untuk menjaga interaksi yang elegan. Di sepanjang jalan menuju kursi kami, banyak sekali yang menyapa Mas Anies. Tentu sulit mencari orang Indonesia, yang biasa naik Garuda, yang tidak mengenal Anies Baswedan. Mas Anies menyalami dan membalas sapaan banyak orang dengan alami. Saya menikmati suasana itu dari belakang. Hangat, antusias dan sederhana. Itulah tiga kata yang menggambarkan lelaki ini.
Continue reading “Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral”




