Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral

Bersama Anies Baswedan
Bersama Anies Baswedan

Badan masih terasa lelah, kantuk belum pergi sempurna ketika saya melangkah menuju pesawat Garuda yang akan menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta. Dari kejauhan nampak sesosok tubuh yang tak asing. Mas Anies Baswedan, saya segera mengenalinya. Beliau mendekati tangga dan termasuk dalam kelompok penumpang terakhir. Saya menyusul di belakangnya. “Mas Anies”, demikian saya sapa dan beliau menoleh lalu memberi sambutan hangat khas seorang Anies Baswedan. Jabatan yang erat bertenaga, pandangan yang antusias menatap mata dan air muka yang sumringah bukan buatan. Tentu bukan karena saya yang istimewa tetapi karena memang demikianlah Anies Baswedan. Seorang pemimpin alami yang karakternya memancar dari hal-hal kecil seperti itu. “Apa kabar Mas Andi?” sapanya serius dengan nada antusias.

Kami ternyata duduk di deretan kursi yang sama, bernomor 45, hanya beda lajur. Kami sama-sama di lorong sehingga cukup dekat untuk ngobrol tetapi masih cukup jauh untuk menjaga interaksi yang elegan. Di sepanjang jalan menuju kursi kami, banyak sekali yang menyapa Mas Anies. Tentu sulit mencari orang Indonesia, yang biasa naik Garuda, yang tidak mengenal Anies Baswedan. Mas Anies menyalami dan membalas sapaan banyak orang dengan alami. Saya menikmati suasana itu dari belakang. Hangat, antusias dan sederhana. Itulah tiga kata yang menggambarkan lelaki ini.

Continue reading “Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral”

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂

Memetakan Anies Baswedan

surveyor_anies
Anies Baswedan di kerumunan surveyor 🙂

Melihat Anies Baswedan di Mata Najwa, berbagai talk show di TV, atau di koran tentu biasa. Melihat Anies Baswedan hadir di Ruang Kuliah III.4 Teknik Geodesi UGM tentu bukan hal yang biasa. Mungkin ada yang bertanya, sejak kapan Mas Anies mengajar pemetaan? Sejak kapan beliau menekuni remote sensing atau GPS? Ternyata tidak demikian pasalnya. Mas Anies Baswedan hadir di kampus Teknik Geodesi UGM untuk berbicara tentang kepemimpinan. Acara itu bernama “Leadership Talk bersama Anies Baswedan” yang digagas dan diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi (KMTG) bersama Geodetic English Club (GEC). Pagi itu, Teknik Geodesi heboh sejadinya. Banyak yang mengakui, acara itu adalah satu dari sedikit hal tak lazim dalam sejarah perjalanan Teknik Geodesi UGM.

Continue reading “Memetakan Anies Baswedan”

Guru Baik Hati

Januari hampir berakhir di tahun 2004, musim panas masih segar, belum ada tanda-tanda berakhir. Ketika itu saya memulai kuliah S2 di University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia. Pagi itu saya mendapat email dari supervisor, Clive, untuk mengajak saya bertemu. Menariknya, di bagian akhir email itu dia menyampaikan “tapi kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali.” Saya yang memang masih sibuk lalu menjelakan bahwa saya masih mengikuti kelas persiapan kuliah dan sedang mencari tempat tinggal permanen. Balasannya menenangkan hati, “baiklah, tidak apa-apa. Kamu pasti lagi repot nyari tempat tinggal dan nanti mengisi perabotan. Kamu pasti perlu alat-alat dapur juga. Silakan bereskan semua urusan, setelah itu kita bertemu”

Continue reading “Guru Baik Hati”

Kritis sejak muda, berani sejak lama

Ketika mononton video tentang Mas Anies Baswedan di masa-masa hidupnya sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, saya mengingat tulisan saya tahun 2010. Saya membuat catatan tentang gerakan mahasiswa di Australia dan membandingkannya dengan gerakan mahasiswa di Indonesia. Lebih jauh, saya bernostalgia mengenang gegap gempita gerakan mahasiswa di tahun 1990an yang berbeda dengan kini.

Tanpa menghakimi mana yang lebih bagus, gerakan mahasiswa di tahun 1990an memiliki agenda yang nampaknya lebih besar. Jika harus turun ke jalan, mahasiswa menentang tirani kekuasaan negara. Jika harus berorasi, mahasiswa tidak meminta penurunan SPP tetapi penuruhan presiden yang otoriter. Jika harus berteriak di gelanggang mahasiswa, mahasiswa tidak mempertanyakan dekannya yang korupsi anggaran tetapi keculasan keluarga istana yang tebal muka mendominasi program mobil nasional. Urusannya memang beda. Dan yang lebih penting, aktivis mahasiswa menjunjung tinggi kata mahasiswa maka dari itu mereka mendasarkan akvitisme dengan tradisi berpikir dan pergulatan gagasan.

Mahasiswa masa kini mungkin memang tidak perlu turun ke jalan menurunkan presiden karena presidennya mungkin baik-baik saja. Mahasiswa sekarang mungkin tidak perlu menentang tirani penguasa karena rejim yang berkuasa saat ini mungkin baik-baik saja. Tapi mahasiswa tidak boleh lupa kebesaran dirinya. Bahwa urusannya bukan sekedar konflik antarangkatan yang remeh temeh tetapi sengketa teritorial antarbangsa. Bahwa urusannya tak sekedar bisa beli pulsa HP tetapi mengingatkan penyelenggara negeri tak mematikan rakyat dengan korupsi. Bahwa urusannya tak melulu soal deretan angka bagus di transkrip tetapi soal membangun karekter.

Menyimak video Mas Anies ini, saya dihadapkan seorang pemimpin yang kritis sejak muda dan berani sejak lama. Lebih jauh, saya mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa berharap orang lain akan datang menyelesaikan masalah kita. Seperti kata Gandhi, kita yang harus menjadi perubahan yang ingin kita saksikan. Atau dalam bahasa Obama, kitalah perubahan yang sudah kita tunggu sejak lama.

Mengingat 2013

Selamat tahun baru 2014
Selamat tahun baru 2014

Ada satu resolusi yang saya sampaikan saat menghakhiri tahun 2012 yaitu menyelesaikan PhD. Perjalanan panjang itu akhirnya sampai di penggal terakhir dan saya berhasil menyelesaikan thesis di akhir tahun 2013. Meskipun masih harus menunggu hasil final, saya bersyukur ada hal yang telah terselesaikan. Saya mencatat ini sebagai sebuah titik terpenting dalam hidup saya di tahun 2013 ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin menuliskan ingatan saya tentang tahun 2013.

Januari
Saya pindah dari Wollongong untuk tinggal di Sydney. Ini istimewa karena alasan kepindahan ini adalah Asti yang memulai sekolah S2nya di UNSW, Sydney dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Kembalinya saya ke Sydney seperti pulang ke rumah lama karena saya kembali ke suburb yang saya tinggali tahun 2004-2006 silam. Secara akademik, Januari menjadi awal yang baik bagi kolaborasi saya dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technology University (NTU) Singapura karena saya diundang untuk terlibat dalam penelitian. Selain itu saya juga dilibatkan dalam rencana publikasi bekerjasama dengan ANU, Australia.

Continue reading “Mengingat 2013”

Menjadi Mandela

Nelson Madela telah tiada. Dunia melepas kepergian salah satu simbol kepemimpinan luhur yang pernah dimiliki peradaban manusia. Sulit menemukan orang yang memiliki ketertarikan terhadap kepemimpinan dan sejarah peradaban manusia yang tidak mengenal sosok Mandela. Dia luar biasa dan, bagi saya, dia melampaui kata-kata. Bersusah payah menjelaskan Mandela dengan kata-kata, saya khawatir, justru hanya akan mengurangi kemuliaannya.

Continue reading “Menjadi Mandela”

Guru Sederhana

http://guru.or.id/

Subuh-subuh dia sudah harus bangun. Meskipun tidak salat, dia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk kedua anak lelakinya yang masih bocah. Harus disediakannya makan dan minum untuk sarapan mereka. Di rumah mereka hanya ada empat orang. Pekerjaan lelaki itu membuatnya tidak mampu membayar pembantu. Dia dan istrinya harus mengerjakan semuanya sendiri.

Selepas mencuci piring dan gelas yang kotor, dia harus mengangkat kantong sampah dan membawanya ke tempat penampungan di dekat rumahnya yang sepi dan dingin. Sementara itu istrinya menyiapkan bekal untuk makan siangnya nanti. Kedua anak-anak itu akan diantar ke sekolah dan tempat penitipan anak karena istrinyapun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Continue reading “Guru Sederhana”

Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri

Pernahkah Anda mendengar nama “Universitas Katolik Widya Mandira” ? Jika Anda tidak berasal dari NTT dan kurang gaul seperti saya, mungkin jawabannya adalah “tidak”. Terus terang saya belum pernah mendengar nama universitas ini sampai akhirnya saya bertemu Cilla. Nama lengkapnya Priscilla Maria Assis Hornay. Just in case you are wondering, YES, there is an ‘a’ between ‘n’ and ‘y’ in her last name, so shut it and let’s get down to business! 🙂

Pertemuan saya dengan Cilla di Sydney mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang saya terima perihal beasiswa luar negeri, terutama beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Pertanyaan itu adalah “bisakah alumni dari universitas swasta yang tidak terkenal mendapatkan beasiswa untuk S2 atau S3 di luar negeri?” Jawabannya tentu saja “bisa” dan pertemuan saya dengan Cilla menegaskan itu.

Continue reading “Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri”

Bédog

cockfight by Affandi – http://www.artvalue.com/

Lelaki itu bernama Bédog, tentu saja tidak penting apakah dia punya surname atau tidak dan apakah Bédog itu itu nama asli atau bukan. Bédog jelas tidak punya paspor dan sangat mungkin tidak punya KTP. Lelaki sederhana itu tidak sempurna tubuhnya, kulitnya penuh benjolan. Anak-anak kecil yang melihatnya bisa lari karena takut. Kulit hitamnya yang legam, wajahnya yang tidak bersahabat dan benjolan di sekujur tubuhnya menyempurnakan nestapa itu.

Meski buruk rupa, Bédog disukai para bobotoh penyabung ayam di desa kami. Pasalnya, dia bisa diperintah untuk melakukan apa saja tanpa mengeluh dan tanpa pernah menolak. Bédog tidak pernah bernegosiasi soal upah kerja. Para bobotoh di desa kami menjadikan Bédog orang kepercayaan untuk membersihkan ayam pecundang yang binasa dalam sebuah pertempuran. Bédog terampil mencabuti bulu ayam malang itu dan membersihkan isi perutnya. Dalam pagelaran sabung ayam yang ramai, Bédog harus merampungkan pekerjaan untuk lebih dari lima ekor ayam. Karena dikerjakan sendiri, dia nampak sibuk dan kerap kelebihan beban. Meski begitu, tidak ada yang membantunya. Bédog bekerja sendiri.

Continue reading “Bédog”